Senin, 07 Juni 2010

Kewirausahaan Semester2

BAB I
KARAKTERISTIK KEWIRAUSAHAAN

1. Konsep Inti Kewirausahaan

Untuk memahami seseorang yang memiliki karakteristik kewiraushaan , coba sdr. amati orang yang berprestasi dan menjadi juara kelas, guru teladan, pengusaha yang berhasil, atlet yang berprestasi, bupati yang sukses membangun daerahnya dan sebagainya. Pertanyaannya mengapa mereka berhasil? Apa yang dilakukan mereka? Bagaimana komitmen mereka? Bagaimagana motivasi mereka? Tujuan apa yang ingin dicapai mereka? Bagaimana cara mencapai tujuan tersebut? Kemampuan apa yang mereka miliki ? Pertanyaan-pertanyaan tersebut untuk memudahkan kita merumuskan konsep atau pengertian kewirausahaan. Pengertian kewirausahaan sebenarnya melekat pada ciri-cirinya , yaitu setiap orang yang pandapi meraih dan menciptakan peluang. Peluang-peluang tersebut diciptakan melalui penciptaan nilai nilai tambah barang atau jasa (usaha untuk hidup) dengan cara menerapkan cirri-ciri yang melekat padanya.
2 .Pengertian Kewirausahaan
Wirausaha adalah seseorang yang bebas dan memiliki kemampuan untuk hidup mandiri dalam menjalankan kegiatan usahanya atau bisnisnya atau hidupnya. Ia bebas merancang, menentukan mengelola,mengendalikan semua usahanya. Sedangkan kewirausahaan adalah suatusikap, jiwa dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru yang sangat bernilai dan berguna bagi dirinya dan orang lain. Kewirausahaan meruapakan sikap mental dan jiwa yang selalu aktif atau kreatif berdaya,bercipta, berkarsa dan bersaahaja dalam berusaha dalam rangka meningkatkan pendapatan dalam kegaitan usahanya atau kiprahnya.Seorang yang memiliki jiwa dan ssikap wirausaha selalu tidak puas dengan apa yang telah dicapainya. Dari waktu-ke waktu, hari demi hari,minggu demi minggi selalu mencari peluang untuk meningkatkan usaha dan kehidupannya. Ia selalu berkreasi dan berinovasi tanpa berhenti, karena dengan berkreasi dan berinovasi lah semua peluang dapat diperolehnya.



Wirausaha adalah orang yang terampil memanfaatkan peluang dalam mengembangkan usahanya dengan tujuan untuk meningkatkan kehidupannya.ada hakekatnya semua orang adalah wirausaha dalam arti mampu berdiri sendiri dalam emnjalankan usahanya dan pekerjaannya guna mencapai tujuan pribadinya, keluarganya, msaayarakat , bangsa dan negaranya, akan tetapi banyak diantara kita yang tidak berkarya dan berkarsa untuk mencapai prestasi yang lebih baik untuk masa depannya, dan ia menjadi ketergantungan pada orang lain, kelompok lain dan bahkan bangsa dan Negara lainnya. Istilah kewirausahaan, kata dasarnya berasal dari terjemahan entrepreneur, yang dalam bahasa Inggris di kenal dengan between taker atau go between. 
Pada abad pertengahan istilah entrepreneur digunakan untuk menggambarkan seseorang actor yang memimpin proyek produksi, Konsep wirausaha secara lengkap dikemukakan oleh Josep Schumpeter ,yaitu sebagai orang yang mendobrak sistem ekonomi yang ada dengan memperkenalkan barang dan jasa yang baru, dengan menciptakan bentuk organisasi baru atau mengolah bahan baku baru. Orang tersebut melakukan kegiatannya melalui organisasi bisnis yang baru atau pun yang telah ada. Dalam definisi tersebut ditekankan bahwa wirausaha adalah orang yang melihat adanya peluang kemudian menciptakan sebuah organisasi untuk memanfaatkan peluang tersebut. Sedangkan proses kewirausahaan adalah meliputi semua kegiatan fungsi dan tindakan untuk mengejar dan memanfaatkan peluang dengan menciptakan suatu organisasi. Istilah wirausaha dan wiraswasta sering digunakan secara bersamaan, walaupun memiliki substansi yang agak berbeda. Norman M. Scarborough dan Thomas W. Zimmerer (1993:5) mengemukakan definisi wirausaha sebagai berikut: “ An entrepreuneur is one who creates a new business in the face of risk and uncertainty for the perpose of achieving profit and growth by identifying opportunities and asembling the necessary resourses to capitalize on those opportunuties”. Menurut Dan Steinhoff dan John F. Burgess (1993:35) wirausaha adalah orang yang mengorganisir, mengelola dan berani menanggung resiko untuk menciptakan usaha baru dan peluang berusaha. Secara esensi pengertian entrepreneurship adalah suatu sikap mental, pandangan, wawasan serta pola pikir dan pola tindak seseorang terhadap tugas-tugas yang menjadi tanggungjawabnya dan selalu berorientasi kepada pelanggan. Atau dapat juga diartikan sebagai semua tindakan dari seseorang yang mampu memberi nilai terhadap tugas dan tanggungjawabnya. Adapun kewirausahaan merupakan sikap mental dan sifat jiwa yang selalu aktif dalam berusaha untuk memajukan karya baktinya dalam rangka upaya meningkatkan pendapatan di dalam kegiatan usahanya. Selain itu kewirausahan adalah kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar, kiat, dan sumber daya untuk mencari peluang menuju sukses. Inti dari kewirausahaan adalah kemampuan untuk menciptakan seuatu yang baru dan berbeda (create new and different) melaui berpikir kreatif dan bertindak inovatif untuk menciptakan peluang dalam menghadapi tantangan hidup. Pada hakekatnya kewirausahaan adalah sifat, ciri, dan watak seseorang yang memiliki kemauan dalam mewujudkan gag asan inovatif kedalam dunia nyata secara kreatif.
Dari beberapa konsep yang ada ada 6 hakekat penting kewirausahaan sebagai berikut ( Suryana,2003 : 13), yaitu :
1. Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan dasar sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses, dan hasil bisnis (Acmad Sanusi, 1994).
2. Kewirausahaan adalah suatu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (ability to create the new and different) (Drucker, 1959).
3. Kewirausahaan adalah suatu proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan (Zimmerer. 1996).
4. Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diperlukan untuk memulai suatu usaha (start-up phase) dan perkembangan usaha (venture growth) (Soeharto Prawiro, 1997).
5. Kewirausahaan adalah suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru (creative), dan sesuatu yang berbeda (inovative) yang bermanfaat memberi nilai lebih.
6. Kewirausahaan adalah usaha menciptakan nilai tambah dengan jalan mengkombinasikan sumber-sumber melaui cara-cara baru dan berbeda untuk memenangkan persaingan. Nilai tambah tersebut dapat diciptakan dengan cara mengembangkan teknologi baru, menemukan pengetahuan baru, menemukan cara baru untuk
menghasilkan barang dan jasa yang baru yang lebih efisien, memperbaiki produk dan jasa yang sudah ada, dan menemukan cara baru untuk memberikan kepuasan kepada konsumen. Berdasarkan keenam konsep diatas, secara ringkas kewirausahaan dapat didefinisikan sebagai sesuatu kemampuan kreatif dan inovatif (create new and different) yang dijadikan kiat, dasar, sumber daya, proses dan perjuangan untuk menciptakan nilai tambah barang dan jasa yang dilakukan dengan keberanian untuk menghadapi risiko.

Dari segi karakteristik perilaku, Wirausaha (entepreneur) adalah mereka yang mendirikan, mengelola, mengembangkan, dan melembagakan perusahaan miliknya sendiri. Wirausaha adalah mereka yang bisa menciptakan kerja bagi orang lain dengan berswadaya. Definisi ini mengandung asumsi bahwa setiap orang yang mempunyai kemampuan normal, bisa menjadi wirausaha asal mau dan mempunyai kesempatan untuk belajar dan berusaha. Berwirausaha melibatkan dua unsur pokok (1) peluang dan, (2) kemampuan menanggapi peluang, Berdasarkan hal tersebut maka def inisi kewirausahaan adalah “tanggapan terhadap peluang usaha yang terungkap dalam seperangkat tindakan serta membuahkan hasil berupa organisasi usaha yang melembaga, produktif dan inovatif.” (Pekerti, 1997)

Sejalan dengan pendapat di atas, Salim Siagian (1999) mendefinisikan: “Kewirausahaan adalah semangat, perilaku, dan kemampuan untuk memberikan tanggapan yang positif terhadap peluang memperoleh keuntungan untuk diri sendiri dan atau pelayanan yang lebih baik pada pelanggan/masyarakat; dengan selalu berusaha mencari dan melayani langganan lebih banyak dan lebih baik, serta menciptakan dan menyediakan produk yang lebih bermanfaat dan menerapkan cara kerja yang lebih efisien, melalui keberanian mengambil resiko, kreativitas dan inovasi serta kemampuan manajemen.”

3. Karakteristik Kewirausahaan

1. Motif Berprestasi Tinggi Para ahli mengemukakan bahwa seseorang memiliki minat berwirausaha karena adanya motif tertentu, yaitu motif berprestasi (achievement motive). Menurut Gede Anggan Suhanda (dalam Suryana, 2003 : 32) Motif berprestasi ialah suatu nilai sosial yang menekankan pada hasrat untuk mencapai yang terbaik guna mencapai kepuasan secara pribadi. Faktor dasarnya adalah kebutuhan yang harus dipenuhi. Seperti yang dikemukakan oleh Maslow (1934) tentang teori motivasi yang dipengaruhi oleh tingkatan kebutuhan kebutuhan, sesuai dengan tingkatan pemuasannya, yaitu kebutuhan fisik (physiological needs), kebutuhan akan keamanan (security needs), kebutuhan harga diri (esteem needs), dan kebutuhan akan aktualisasi diri (self-actualiazation needs). Menurut Teori Herzberg, ada dua faktor motivasi, yaitu: Kebutuhan berprestasi wirausaha terlihat dalam bentuk tindakan untuk melakukan sesuatu yang lebih baik dan lebih efisien dibandingkan sebelumnya. Wirausaha yang memiliki motif berprestasi pada umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut (Suryana, 2003 : 33-34)
1. Ingin mengatasi sendiri kesulitan dan persoalan-persoalan yang timbul pada dirinya.
2. Selalu memerlukan umpan balik yang segera untuk melihat keberhasilan dan kegagalan.
3. Memiliki tanggung jawab personal yang tinggi.
4. Berani menghadapi resiko dengan penuh perhitungan.
5. Menyukai tantangan dan melihat tantangan secara seimbang (fifty- fifty). Jika tugas yang diembannya sangat ringan, maka wirausaha merasa kurang tantangan, tetapi ia selalu menghindari tantangan yang paling sulit yang memungkinkan pencapaian keberhasilan sangat rendah.

Motivasi (Motivation) berasal dari bahasa latin "movere" yang berarti to move atau menggerakkan, (Steers and Porter, 1991:5), sedangkan Suriasumantri (hal.92) berpendapat, motivasi merupakan dorongan, hasrat, atau kebutuhan seseorang. Motif dan motivasi berkaitan erat dengan penghayatan suatu kebutuhan berperilaku tertentu untuk mencapai tujuan. Motif menghasilkan mobilisasi energi (semangat) dan menguatkan perilaku seseorang. Secara umum motif sama dengan drive. Beck (1990: 19), berdasarkan pendekatan regulatoris, menyatakan "drive” sama seperti sebuah kendaraan yang mempunyai suatu mekanisme untuk membawa dan mengarahkan perilaku seseorang.

Sejalan dengan itu, berdasarkan teori atribusi Weiner (Gredler, 1991: 452) ada dua penyebab seseorang berhasil atau berprestasi. penyebab instrinsik mencakup (1) kemampuan, (2) usaha, dan (3) suasana hati (mood), seperti kelelahan dan kesehatan. Penyebab ekstrinsik meliputi (1) sukar tidaknya tugas, (2) nasib baik
(keberuntungan), dan (3) pertolongan orang lain. Motivasi berprestasi mengandung dua aspek, yaitu (1) mencirikan ketahanan dan suatu ketakutan akan kegagalan dan (2) meningkatkan usaha keras yang berguna dan mengharapkan akan keberhasilan (McClelland, 1976: 74-75). Namun, Travers (1982:435) mengatakan bahwa ada dua kategori penting dalam motivasi berprestasi, yaitu mengharapkan akan sukses dan takut akan kegagalan.

Uraian di atas menunjukkan bahwa setidak-tidaknya ada dua indikator dalam motivasi berprestasi (tinggi), yaitu kemampuan dan usaha. Namun, bila dibandingkan dengan atribusi intrinsik dari Wainer, ada tiga indikator motivasi berprestasi tinggi yaitu: kemampuan, usaha, dan suasana hati (kesehatan). Berdasarkan uraian di atas, hakikat motivasi berprestasi dalam penelitian ini adalah rangsangan-rangsangan atau daya dorong yang ada dalam diri yang mendasari kita untuk belajar dan berupaya mencapai prestasi belajar yang diharapkan.

2 Selalu Perspektif
Seorang wirausahawan hendaknya seorang yang mampu menatap masa dengan dengan lebih optimis. Melihat ke depan dengan berfikir dan berusaha. Usaha memanfaatkan peluang dengan penuh perhitungan. Orang yang berorientasi ke masa depan adalah orang yang memiliki persepktif dan pandangan kemasa depan. Karena memiliki pandangan jauh ke masa depan maka ia akan sel alu berusaha untuk berkarsa dan berkarya (Suryana, 2003 : 23). Kuncinya pada kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru serta berbeda dengan yang sudah ada. Walaupun dengan risiko yang mungkin dapat terjadi, seorang yang perspektif harus tetap tabah dalam mencari peluang tantangan demi pembaharuan masa depan. Pandangan yang jauh ke depan membuat
wirausaha tidak cepat puas dengan karsa dan karya yang sudah ada. Karena itu ia harus mempersiapkannya dengan mencari suatu peluang.

3 Memiliki Kreatifitas Tinggi
Menurut Teodore Levit, kreativitas adalah kemampuan untuk berfikir yang baru dan berbeda. Menurut Levit, kreativitas adalah berfikir sesuatu yang baru (thinking new thing), oleh karena itu menurutnya kewirausahaan adalah berfikir dan bertindak sesuatu yang baru atau berfikir sesuatu yang lama dengan cara-cara baru. Menurut Zimmerer dalam buku yang ditulis Suryana (2003 : 24) dengan judul buku “Entrepreneurship And The New Venture Formation”, mengungkapkan bahwa ide-ide kreativitas sering muncul ketika wirausaha melihat sesuatu yang lama dan berfikir sesuatu yang baru dan berbeda. Oleh karena itu kreativitas adalah menciptakan sesuatu dari yang asalnya tidak ada (generating something from nothing). Inovasi adalah kemampuan untuk menerapkan kreativitas dalam rangka memecahkan persolan-persolan dan peluang untuk meningkatkan dan memperkaya kehidupan (inovation is the ability to apply creative solutions to those problems ang opportunities to enhance or to enrich people’s live). “Sometimes creativity involves generating something from nothing. However, creativity is more likely to result in colaborating on the present, in putting old things together in the new ways, or in taking something away to create something simpler or better”.
Dari definisi diatas, kreativitas mengandung pengertian, yaitu:
1. Kreativitas adalah menciptakan sesuatu yang asalnya tidak ada.
2. Hasil kerjasama masa kini untuk memperbaiki masa lalu dengan cara baru.
3. menggantikan sesuatu dengan sesuatu yang lebih sederhana dan lebih baik.
Menurut Zimmerer(1996:7), “creativity ideas often arise when entrepreuneurs look at something old and think something new or different”. Ide-ide kreativitas sering muncul ketika wirausaha melihat sesuatu yang lama dan berpikir sesuatu baru dan berbeda. Oleh karena itu kreativitas adalah nenciptakan sesuatu dari yang asalnya tidak ada (generating something from nothing). Rahasia kewirausahaan adalah dalam menciptakan nilai tambah barang dan jasa terletak pada penerapan kreativitas dan inovasi untuk memecahkan masalah dan meraih peluang yang dihadapi tiap hari (applying creativity and inovation to solve the problems and to exploit opportunities that people face every day). Berinisiatif ialah mengerjakan sesuatu tanpa menunggu perintah.
Kebiasaan berinisiatif akan melahirkan kreativitas (daya cipta) setelah itu melahirkan inovasi.
Menurut Zimmerer ada tujuh langkah proses berpikir kreatif dalam kewirausahaan, yaitu:
Tahap 1: Persiapan (Preparation)
Tahap 2: Penyelidikan (Investigation)
Tahap 3: Transformasi (Transpormation)
Tahap 4: Penetasan (Incubation)
Tahap 5: Penerangan (Illumination)
Tahap 6: Pengujian (Verification)
Tahap 7: Implementasi (Implementation)


4 Memiliki Perilaku Inovatif Tinggi
Menjadi wirausaha yang handal tidaklah mudah. Tetapi tidaklah sesulit yang dibayangkan banyak orang, karena setiap orang dalam belajar berwirausaha. Menurut Poppy King, wirausaha muda dari Australia yang terjun ke bisnis sejak berusia 18 tahun, ada tiga hal yang selalu dihadapi seorang wirausaha di bidang apapun, yakni: pertama, obstacle (hambatan); kedua, hardship (kesulitan); ketiga, very rewarding life (imbalan atau hasil bagi kehidupan yang memukau). Sesungguhnya kewirausahaan dalam batas tertentu adalah untuk semua orang. Mengapa? cukup banyak alasan untuk mengatakan hal itu. 

Pertama, setiap orang memiliki cita-cita, impian, atau sekurang-kurangnya harapan untuk meningkatkan kualitas hidupnya sebagai manusia. Hal ini merupakan semacam "intuisi" yang mendorong manusia normal untuk bekerja dan berusaha. "Intuisi" ini berkaitan dengan salah satu potensi kemanusiaan, yakni daya imajinasi kreatif. Karena manusia merupakan satu-satunya mahluk ciptaan Tuhan yang, antara lain, dianugerahi daya imajinasi kreatif, maka ia dapat menggunakannya untuk berpikir. Pikiran itu dapat diarahkan ke masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dengan berpikir, ia dapat mencari jawaban- jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan penting seperti: Dari manakah aku berasal? Dimanakah aku saat ini? Dan kemanakah aku akan pergi? Serta apakah yang akan aku wariskan kepada dunia ini? Menelusuri sejarah pribadi di masa lalu dapat memberikan gambaran mengenai kekuatan dan kelemahan seseorang. Di dalamnya terdapat sejumlah pengalaman hidup : hambatan dan kesulitan yang pernah kita hadapi dan bagaimana kita mengatasinya, kegagalan dan keberhasilan, kesenangan dan keperihan, dan lain sebagainya. Namun, karena semuanya sudah berlalu, maka tidak banyak lagi yang dapat dilakukan untuk mengubah semua itu. Kita harus menerimanya dan memberinya makna yang tepat serta meletakkannya dalam suatu perspektif masa kini dan masa depan (Harefa: Sukses Tanpa Gelar, Gramedia Pustaka Utama, 1998 : 3-7). Masa kini menceritakan situasi nyata dimana kita berada, apa yang telah kita miliki, apa yang belum kita miliki, apa yang kita nikmati dan apa yang belum dapat kita nikmati, apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita dan apa yang menjadi hak asasi kita sebagai manusia, dan lain sebagainya. Dengan menyadari keberadaan kita saat ini, kita dapat bersyukur atau mengeluh, kita dapat berpuas diri atau menentukan sasaran berikutnya, dan seterusnya. Masa depan memberikan harapan, paling tidak demikianlah seharusnya bagi mereka yang beriman berkepercayaan. Bila kita memiliki masa lalu yang tidak menyenangkan, dan masih berada pada situasi dan kondisi yang belum sesuai dengan cita-cita atau impian kita, maka adalah wajar jika kita mengharapkan masa depan yang lebih baik, lebih cerah, lebih menyenangkan. Sebab selama masih ada hari esok, segala kemungkinan masih tetap terbuka lebar (terlepas dari pesimisme atau optimisme mengenai hal itu). Jelas bahwa masa lalu, masa kini, dan masa depan bertalian langsung dengan daya imajinasi kita. Dan di dalam masa-masa itulah segala hambatan (obstacle), kesulitan (hardship), dan kesenangan atau suka cita (very rew arding life) bercampur baur jadi satu. Sehingga, jika Poppy King mengatakan bahwa ketiga hal itulah yang dihadapi oleh seorang wirausaha dalam bidang apapun, maka bukankah itu berarti bahwa kewirausahaan adalah untuk semua orang? Siapakah manusia di muka bumi ini yang tidak pernah menghadapi hambatan dan kesulitan untuk mencapai cita-cita dan impiannya?

Alasan kedua yang membuat kewirausahaan itu pada dasarnya untuk semua orang adalah karena hal itu dapat dipelajari. Peter F. Drucker, misalnya, pernah menulis dalam Innovation and Entrepreneurship bahwa, "Setiap orang yang memiliki keberanian untuk mengambil keputusan dapat belajar menjadi wirausaha, dan berperilaku seperti wirausaha. Sebab (atau maka) kewirausahaan lebih merupakan perilaku daripada gejala kepribadian, yang dasarnya terletak pada konsep dan teori, bukan pada intuisi". Dan perilaku, konsep, dan teori merupakan hal-hal yang dapat dipelajari oleh siapapun juga. Sepanjang kita bersedia membuka hati dan pikiran untuk belajar, maka kesempatan untuk menjadi wirausaha tetap terbuka. Sepanjang kita sadar bahwa belajar pada hakekatnya merupakan suatu proses yang berkelanjutan, yang tidak selalu berarti dimulai dan berakhir di sekolah atau universitas tertentu, tetapi dapat dilakukan seumur hidup, dimana saja dan kapan saja maka belajar berwirausaha dapat dilakukan oleh siapa saja, meski tak harus berarti menjadi wirausaha "besar".

Alasan yang ketiga adalah karena fakta sejarah menunjukkan kepada kita bahwa para wirausaha yang paling berhasil sekalipun pad a dasarnya adalah manusia biasa. Sabeer Bathia, seorang digital entrepreneur yang meluncurkan hotmail.com tanggal 4 Juli 1996, baru menyadari hal ini setelah ia berguru kepada orang-orang seperti Steve Jobs, penemu komputer pribadi (Apple). Dan kesadaran itu membuatnya cukup percaya diri ketika menetapkan harga penemuannya senilai 400 juta dollar AS kepada Bill Gates, pemilik Microsoft, yang juga manusia biasa. Alasan keempat adalah karena setelah mempelajari kiat-kiat sukses puluhan wirausaha kecil, menengah dan besar, dalam konteks lokal- nasional -regional sampai internasional-global-dunia, maka sampai pada kesimpulan bahwa kiat-kiat sukses mereka sangatlah sederhana. Dalam buku Berwirausaha Dari Nol telah dapat disampaikan bahwa mereka:
1. digerakkan oleh ide dan impian,
2. lebih mengandalkan kreativitas,
3. menunjukkan keberanian,
4. percaya pada hoki, tapi lebih percaya pada usaha nyata,
5. melihat masalah sebagai peluang,
6. memilih usaha sesuai hobi dan minat,
7. mulai dengan modal seadanya,
8. senang mencoba hal baru,
9. selalu bangkit dari kegagalan, dan
10. tak mengandalkan gelar akademis.
Sepuluh kiat sukses itu pada dasarnya sederhana, tidak memerlukan orang-orang yang luar biasa. Orang dengan IQ tinggi, sedang, sampai rendah dapat (belajar) melakukannya.

Alasan kelima adalah karena kewirausahaan mengarahkan orang kepada kepemimpinan. Dan kepemimpinan adalah untuk semua orang (Harefa : Berguru Pada Matahari, Gramedia Pustaka Utama, 1998; juga Harefa: Menjadi Manusia Pembelajar, Kompas, 2000). Dengan lima alasan sederhana di atas, dapat menegaskan bahwa kewirausahaan adalah untuk semua orang.

5 Selalu Komitmen dalam Pekerjaan, Memiliki Etos Kerja dan Tanggung Jawab
Seorang wirausaha harus memiliki jiwa komitmen dalam usahanya dan tekad yang bulat didalam mencurahkan semua perhatianya pada usaha yang akan digelutinya, didalam menjalankan usaha tersebut seorang wirausaha yang sukses terus memiliki tekad yang mengebu-gebu dan menyala-nyala (semangat tinggi) dalam mengembangkan usahanya, ia tidak setengah-setengah dalam berusaha, berani menanggung resiko, bekerja keras, dan tidak takut menghadapi peluang-peluang yang ada dipasar. Tanpa usaha yang sungguh-sunguh terhadap pekerjaan yang digelutinya maka wirausaha sehebat apapun pasti menemui jalan kegagalan dalam usahanya. Oleh karena itu penting sekali bagi seorang wirausaha untuk komit terhadap usaha dan pekerjaannya. Salah satu sumber bala yang menimbulkan bencana nasional akhir-akhir ini adalah karena tidak dimilikinya etos kerja yang memadai bagi bangsa kita. Belajar dari negara lain, Jerman dan Jepang yang luluh lantak di PD II. Tetapi kini, lima puluh tahun kemudian, mereka menjadi bangsa termaju di Eropa dan Asia. Mengapa? Karena etos kerja mereka tidak ikut hancur. Yang hancur hanya gedung-gedung, jalan, dan
infrastruktur fisik. Max Weber menyatakan intisari etos kerja orang Jerman adalah : rasional, disiplin tinggi, kerja keras, berorientasi pada kesuksesan material, hemat dan bersahaja, tidak mengumbar kesenangan, menabung dan investasi. Di Timur, orang Jepang menghayati “bushido” (etos para samurai) perpaduan Shintoisme dan Zen Budhism. Inilah yang disebut oleh Jansen H. Sinamo (1999) sebagai “karakter dasar budaya kerja bangsa Jepang”.
Ada 7 prinsip dalam bushido, ialah :
(1) Gi : keputusan benar diambil dengan sikap benar berdasarkan kebenaran, jika harus mati demi keputusan itu, matilah dengan gagah, terhormat,
(2) Yu : berani, ksatria, (3) Jin : murah hati, mencintai dan bersikap baik terhadap sesama,
(4) Re : bersikap santun, bertindak benar,
(5) Makoto : tulus setulus-tulusnya, sungguh-sesungguh-sungguhnya, tanpa pamrih,
(6) Melyo : menjaga kehormatan martabat, kemuliaan,
(7) Chugo : mengabdi, loyal. Jelas bahwa kemajuan Jepang karena mereka komit dalam penerapan bushido, konsisten, inten dan berkualitas.

Indonesia mempunyai falsafah Pancasila, tetapi gagal menjadi etos kerja bangsa kita karena masyarakat tidak komit, tidak inten, dan tidak bersungguh-sungguh dalam menerapkan prinsip-prinsip Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Maaf cakap “Ketuhanan Yang Maha Esa” misalnya, sering ditampilkan sebagai “Keuangan yang maha kuasa”. Kemanusiaan yang adil dan beradab, diterapkan menjadi “Kekuasaan menentukan apa yang adil dan siapa yang beradab ”, “Persatuan Indonesia” prakteknya menjadi “persatuan pejabat dan konglemerat” dsb. Inilah bukti dari ramalan Ronggowarsito dan inilah zaman edan. Dampak kondisi ini etos kerja yang berkembang adalah etos kerja asal-asalan. Beberapa pernyataan berikut adalah gambaran ungkapan yang sering muncul ke permukaan yang menggambarkan etos kerja asal - asalan, atau istilah Sinamo (1999) sebagai “etos kerja edan”, ialah : (1) bekerjalah sesuai keinginan penguasa, (2) bekerja sebisanya saja, (3) bekerja jangan sok suci, kerja adalah demi uang, (4) bekerja seadanya saja nggak usah ngoyo, tak lari gunung dikejar, (5) bekerja harus pinter- pinter, yang penting aman, (6) bekerja santai saja mengapa harus ngotot, (7) bekerja asal -asalan saja, wajar-wajar saja, kan gajinya kecil, (8) bekerja semau gue, kan di sini saya yang berkuasa. Ungkapan- ungkapan seperti tersebut di atas menggambarkan tidak adanya etos kerja yang pantas untuk dikembangkan apalagi menghadapi persaingan global. Maka dari itu wajarlah jika bangsa ini harus menerima pil pahit bencana nasional krisis yang berkepanjangan yang tak kunjung usai. Untuk mencapai kualifikasi Wirausaha Unggul maka SDM Perusahaan harus memiliki Etos Kerja Unggul. Jansen H. Sinamo (1999) mengembangkan 8 Etos Kerja Unggulan sebagai berikut :

1. Kerja itu suci, kerja adalah panggilanku, aku sanggup bekerja benar. Suci berarti diabdikan, diuntukkan atau diorientasikan pada Yang Suci. Penghayatan kerja semacam ini hanya mungkin terjadi jika seseorang merasa terpanggil. Bukan harus dari Tuhan, tapi bisa juga dari idealisme, kebenaran, keadilan, dsb. Dengan kesadaran
bahwa kerja adalah sebuah panggilan suci, terbitlah perasaan untuk melakukannya secara benar.

2. Kerja itu sehat, kerja adalah aktualisasiku, aku sanggup bekerja keras : Maksudnya adalah bekerja membuat tubuh, roh dan jiwa menjadi sehat. Aktualisasi berarti mengubah potensi menjadi kenyataan. Aktualisasi atau penggalian potensi ini terlaksana melalui pekerjaan, karena kerja adalah pengerahan energi bio-psiko-sosial. Akibatnya kita menjadi kuat, sehat lahir batin. Maka agar menjadi maksimal, kita akan sanggup bekerja keras, bukan kerja asal-asalan atau setengah setengah.

3. Kerja itu rahmat, kerja adalah terimakasihku, aku sanggup bekerja tulus : Rahmat adalah karunia yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa. Respon yang tepat adalah bersyukur dan berterima kasih. Ada dua keuntungan dari bekerja sebagai rahmat, (1) Tuhan memelihara kita, dan (2) disamping secara finansial kita mendapat upah, juga ada kesempatan belajar, menjalin relasi sosial, dsb. Pemahaman demikian akan mendorong orang untuk bekerja secara tulus.

4. Kerja itu amanah, kerja adalah tanggung jawabku, aku sanggup bekerja tuntas : Melalui kerja kita menerima amanah. Sebagai pemegang amanah, kita dipercaya, berkompeten dan wajib melaksanakannya sampai selesai. Jika terbukti mampu, akhlak terpercaya dan tanggung jawab akan makin menguat. Di pihak lain hal ini akan menjadi jaminan sukses pelaksanaan amanah yang akan menguklir prestasi kerja dan penghargaan. Maka tidak ada pekerjaan yang tidak tuntas.

5. Kerja itu seni/permainan, kerja adalah kesukaanku, aku sanggup bekerja kreatif: Apapun yang anda kerjakan pasti ada unsur keindahan, keteraturan, harmoni, artistik seperti halnya seni. Untuk mencapai tingkat penghayatan seperti itu dibutuhkan suatu kreativitas untuk mengembangkan dan menyelesaikan setiap masalah pekerjaan. Jadi bekerja bukan hanya mencari uang, tetapi lebih pada mengaktualisasikan potensi kreatif untuk mencapai kepuasan seperti halnya pekerjaan seni.

6. Kerja itu ibadah, kerja adalah pengabdianku, aku sanggup bekerja serius: Tuhan mewajibkan manusia beribadah (dalam arti ritual) dan beribadah (dalam artian kerja yang diabdikan pada Tuhan). Kerja merupakan lapangan konkrit melaksanakan kebajikan seperti: untuk pembangunan bangsa, untuk kemakmuran, keadilan, mengatasi kemiskinan, memajukan agama, dsb. Jadi bekerja harus serius dan sungguh-sungguh agar makna ibadah dapat teraktualisasikan secara nyata sebagai bentuk pengabdian pada Tuhan.

7. Kerja itu mulia, kerja adalah pelayananku, aku sanggup bekerja sempurna Secara moral kemuliaan sejati datang dari pelayanan. Orang yang melayani adalah orang yang mulia. Pekerjaan adalah wujud pelayanan nyata bagi institusi maupun orang lain. Kita ada untuk orang lain dan orang lain ada untuk kita. Kita tidak seperti hewan yang hidup untuk dirinya sendiri. Manusia moral seharusnya mampu proaktif memikirkan dan berbuat bagi orang lain dan masyarakat. Maka kuncinya ia akan sanggup bekerja secara sempurna.

8. Kerja itu kehormatan, kerja adalah kewajibanku, aku sanggup bekerja unggul: Sebagai kehormatan kerja memiliki lima dimensi :
(1) pemberi kerja menghormati kita karena memilih sebagai penerima kerja 
(2) kerja memberikan kesempatan berkarya dengan kemampuan sendiri,
(3) hasil karya yang baik memberi kita rasa hormat,
(4) pendapatan sebagai imbalan kerja memandirikan seseorang sehingga tak lagi jadi tanggungan atau beban orang lain, 
(5) pendapatan bisa menanggung hidup orang lain. Semuanya adalah kehormatan. Maka respon yang tepat adalah menjaga kehormatan itu dengan bekerja semaksimal mungkin untuk menghasilkan mutu setinggi–tingginya. Dengan unggul di segala bidang kita akan memenangkan persaingan. 

6 Mandiri atau Tidak Ketergantungan 
Sesuai dengan inti dari jiwa kewirausahaan yaitu kemampuan untuk menciptakan seuatu yang baru dan berbeda (create new and different) melaui berpikir kreatif dan bertindak inovatif untuk menciptakan peluang dalam menghadapi tantangan hidup, maka seorang wirausaha harus mempunyai kemampuan kreatif didalam mengembangkangkan ide dan pikiranya terutama didalam menciptakan peluang usaha didalam dirinya, dia dapat mandiri menjalankan usaha yang digelutinya tanpa harus bergantung pada orang lain, seorang wirausaha harus dituntut untuk selalu menciptakan hal yang baru dengan jalan mengkombinasikan sumber -sumber yang ada disekitarnya, mengembangkan teknologi baru, menemukan pengetahuan baru, menemukan cara baru untuk menghasilkan barang dan jasa yang baru yang lebih efisien, memperbaiki produk dan jasa yang sudah ada, dan menemukan cara baru untuk memberikan kepuasan kepada konsumen.

.7 Berani Menghadapi Risiko Richard Cantillon, orang pertama yang menggunakan istilah entrepreneur di awal abad ke-18, mengatakan bahwa wirausaha adalah seseorang yang menanggung risiko. Wirausaha dalam mengambil tindakan hendaknya tidak didasari oleh spekulasi, melainkan perhitungan yang matang. Ia berani mengambil risiko terhadap pekerjaannya karena sudah diperhitungkan. Oleh sebab itu, wirausaha selalu berani mengambil risiko yang moderat, artinya risiko yang diambil tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Keberanian menghadapi risiko yang didukung komitmen yang kuat, mendorong wirausaha untuk terus berjuang mencari peluang sampai memperoleh hasil. Hasil-hasil itu harus nyata/jelas dan objektif, dan merupakan umpan balik (feedback) bagi kelancaran kegiatannya (Suryana, 2003 : 14-15). Kemauan dan kemampuan untuk mengambil risiko merupakan salah satu nilai utama dalam kewirausahaan. Wirausaha yang tidak mau mengambil risiko akan sukar memulai atau berinisiatif. Menurut Angelita S. Bajaro, “seorang wirausaha yang berani menanggung risiko adalah orang yang selalu ingin jadi pemenang dan memenangkan dengan cara yang baik” (Yuyun Wirasasmita, dalam Suryana, 2003 : 21). Wirausaha adalah orang yang lebih menyukai usaha-usaha yang lebih menantang untuk lebih mencapai kesuksesan atau kegagalan daripada usaha yang kurang menantang. Oleh sebab itu, wirausaha kurang menyukai risiko yang terlalu rendah atau terlalu tinggi. Keberanian untuk menanggung risiko yang menjadi nilai kewirausahaan adalah pengambilan risiko yang penuh dengan perhitungan dan realistis. Kepuasan yang besar diperoleh apabila berhasil dalam melaksanakan tugas-tugasnya secara realistis. Wirausaha menghindari situasi risiko yang rendah karena tidak ada tantangan, dan menjauhi situasi risiko yang tinggi karena ingin berhasil. Pilihan terhadap risiko ini sangat tergantung pada :
1. daya tarik setiap alternatif
2. kesediaan untuk rugi
3. kemungkinan relatif untuk sukses atau gagal
Untuk bisa memilih, sangat ditentukan oleh kemampuan wirausaha untuk mengambil risiko antara lain :
1. keyakinan pada diri sendiri
2. kesediaan untuk menggunakan kemampuan dalam mencari peluang dan kemungkinan memperoleh keuntungan.
3. kemampuan untuk menilai situasi risiko secara realistis.
Pengambilan risiko berkaitan dengan berkaitan dengan kepercayaan diri sendiri. Artinya, semakin besar keyakinan seseorang pada kemampuan sendiri, maka semakin besar keyakinan orang tersebut akan kesanggupan mempengaruhi hasil dan keputusan, dan semakin besar pula kesediaan seseorang untuk mencoba apa yang menut orang lain sebagai risiko. Oleh karena itu, pengambil risiko ditemukan pada
orang-orang yang inovatif dan kreatif yang mer upakan bagian terpenting dari perilaku kewirausahaan (Suryana, 2003 : 22)

8 Selalu Mencari Peluang
Esensi kewirausahaan yaitu tanggapan yang positif terhadap peluang untuk memperoleh keuntungan untuk diri sendiri dan atau pelayanan yang lebih baik pada pelanggan dan masyarakat, cara yang etis dan produktif untuk mencapai tujuan, serta sikap mental untuk merealisasikan tanggapan yang positif tersebut. Pengertian itu juga menampung wirausaha yang pengusaha, yang mengejar keuntungan secara etis serta wirausaha yang bukan pengusaha, termasuk yang mengelola organisasi nirlaba yang bertujuan untuk memberikan pelayanan yang lebih baik bagi pelanggan/masyarakat. Anugerah Pekerti, mantan Direktur Utama Lembaga Manajemen
PPM, mendefinisikan kewirausahaan sebagai tanggapan terhadap peluang usaha yang terungkap dalam seperangkat tindakan serta membuahkan hasil berupa organisasi usaha yang melembaga, produktif, dan inovatif. Howard H. Stevenson, mantan Presiden Harvard Business School yang memahami kewirausahaan sebagai suatu pola tingkah laku manajerial (menyeluruh) yang terpadu dalam upaya pemanfaatan peluang-peluang yang tersedia tanpa mengabaikan sumber daya yang dimilikinya. Saya mendukung pendapat Drucker bahwa pemanfaatan peluang merupakan definisi yang tepat untuk kewirausahaan dan bahwa seorang wirausaha harus mengalokasikan sumber daya dari bidang-bidang yang memberi hasil rendah atau menurun ke bidang-bidang yang memberi hasil tinggi atau meningkat. Joseph Schumpeter mengatakan bahwa wirausaha adalah inovator produksi. Dan mengatakan bahwa wirausaha adalah seorang peniru, seperti pendapat William H. Sahlman, juga tak ada salahnya. Tetapi saya pribadi lebih suka pada pandangan Jose Carlos Jarillo-Mossi yang mengatakan bahwa wirausaha itu adalah seseorang yang merasakan adanya peluang, mengejar peluang-peluang yang sesuai dengan situasi dirinya, dan percaya bahwa kesuksesan merupakan suatu hal yang dapat dicapai.

9 Memiliki Jiwa Kepemimpinan
Seorang wirausaha yang berhasil selalu memiliki sifat kepemimpinan, kepeloporan dan keteladanan. Ia selalu ingin tampil berbeda, lebih dahulu, lebih menonjol. Debgan menggunakan kemampuan kreativitas dan inovasi, ia selalu menampilkan barang dan jasa-jasa yang dihasilkanya lebih cepat, lebih dahulu dan segera berada dipasar. Ia selalu menampilkan produk dan jasa-jasa baru dan berbeda sehingga ia menjadi pelopor yang baik dalam proses produksi maupun prmasaran. Ia selalu memamfaatkan perbedaan sebagai suatu yang menambah nilai. Karena itu, perbedaan bagi sesorang yang memiliki jiwa kewirausahaan merupakan sumber pembaharuan untuk menciptakan nilai. Ia selalu ingin bergaul untuk mencari peluang, terbuka untuk menerima kritik dan saran yang kemudian dijadikan peluang. Leadership Ability adalah kemampuan dalam kepemimpinan. Wirausaha yang berhasil memiliki kemampuan untuk menggunakan pengaruh tanpa kekuatan (power), seorang pemimpin harus memiliki taktik mediator dan negotiator daripada diktaktor. Semangat, perilaku dan kemampuan wirausaha tentunya bervariasi satu sama lain dan atas dasar itu wirausaha dikelompokkan menjadi tiga tingkatan yaitu: Wirausaha andal, Wirausaha tangguh, Wirausaha unggul. Wirausaha yang perilaku dan kemampuannya lebih menonjol dalam memobilisasi sumber daya dan dana, serta
mentransformasikannya menjadi output dan memasarkannya secara efisien lazim disebut Administrative Entrepreneur. Sebaliknya, wirausaha yang perilaku dan kemampuannya menonjol dalam kreativitas, inovasi serta mengantisipasi dan menghadapi resiko lazim disebut Innovative Entrepreneur.

10 Memiliki Kemampuan Manajerial
Salah satu jiwa kewirausahaan yang harus dimiliki seorang wirausaha adalah kemampuan untuk memanagerial usaha yang sedang digelutinya, seorang wirausaha harus memiliki kemampuan perencanaan usaha, mengorganisasikan usaha, visualisasikan usaha, mengelola usaha dan sumber daya manusia, mengontrol usaha, maupun kemampuan mengintergrasikan operasi perusahaanya yang kesemuanya itu adalah merupakan kemampuan managerial yang wajib dimiliki dari seorang wirausaha, tanpa itu semua maka bukan keberhasilan yang diperoleh tetapi kegagalan uasaha yang diperoleh.
Untuk menuju terwujudnya wawasan kewirausahaan, maka salah satu kuncinya adalah menciptakan “perusahaan” (lembaga) yang dinamis dan fleksibel, manajer bervisi ke depan, serta lingkungan kerja yang kondusif.
1. Organisasi perusahaan harus dinamis dan fleksibel.
Pengembangan organisasi perusahaan harus didasarkan atas visi, misi dan tujuan yang jelas. Ada delapan roh oganisasi (perusahaan) agar sukses dan panjang umur :
(1) roh kesucian dan kesehatan
(2) roh kebaikan dan kemurahan
(3) roh cinta dan suka cita
(4) roh keunggulan dan kesempurnaan
2. Peran manajer sangat menentukan.
Manajer harus memiliki visi ke depan agar mampu mengarahkan dan meningkatkan kinerja perusahaan. Sekurang-kurangnya ada 8 kompetensi manajer bervisi ke depan, ialah : kemampuan strategi, kemampuan sintesis, kemampuan organisasi, kemampuan komunikasi, kemampuan negosiasi, kemampuan presentasi, dinamika, dan ketangguhan.
3. Penciptaan lingkungan kerja yang kondusif.
Ada delapan persyaratan kualitas kehidupan lingkungan kerja disebut kondusif, ialah :
(1) Upah yang layak dan pantas bagi pekerjaan yang dilakukan dengan baik
(2) Kondisi kerja yang aman dan sehat
(3) Kesempatan untuk belajar dan menggunakan keterampilan- keterampilan baru
(4) Kesempatan untuk mengembangkan dan memajukan karir
(5) Integrasi sosial ke dalam organisasi
(6) Perlindungan terhadap hak-hak individu
(7) Keseimbangan antara tuntutan kerja dan bukan kerja
(8) Rasa bangga terhadap kerja itu sendiri dan terhadap organisasi

11 Memiliki Kerampilan Personal
Wirausahawan Andal . Wirausahawan andal memiliki ciri-ciri dan cara-cara sebagai berikut:
Pertama Percaya diri dan mandiri yang tinggi untuk mencari penghasilan dan keuntungan melalui usaha yang dilaksanakannya.
Kedua, mau dan mampu mencari dan menangkap peluang yang menguntungkan dan memanfaatkan peluang tersebut.
Ketiga, mau dan mampu bekerja keras dan tekun untuk menghasilkan barang dan jasa yang lebih tepat dan effisien.
Keempat, mau dan mampu berkomunikasi, tawar menawar dan musyawarah dengan berbagai pihak, terutama kepada pembeli.
Kelima, menghadapi hidup dan menangani usaha dengan terencana, jujur, hemat, dan disiplin.
Keenam, mencintai kegiatan usahanya dan perusahaannya secara lugas dan tangguh tetapi cukup luwes dalam melindunginnya.
Ketujuh, mau dan mampu meningkatkan kapasitas diri sendiri dan kapasitas perusahaan dengan memanfaatkan dan memotivasi orang lain (leadership/ managerialship) serta melakukan perluasan dan pengembangan usaha dgn resiko yang moderat.
Kedelapan, berusaha mengenal dan mengendalikan lingkungan serta menggalang kerja sama yang saling menguntungkan dengan berbagai pihak yang berkepentingan dgn perusahaan.


Menurut Murphy and Peek, ada sekitar delapan hal yang menjadi suatu anak tangga agar seorang wirausaha dapat mengembangkan profesinya. Hal tersebut adalah:
1. Mau bekerja keras (capacity for hard work)
2. Bekerja sama dengan orang lain (getting things done with and through people)
3. Penampilan yang baik (good appearance)
4. Yakin (self confident)
5. Pandai membuat keputusan (making sound decision)
6. Mau menambah ilmu pengetahuan (college education)
7. Ambisi untuk maju (ambition drive)
8. Pandai berkomunikasi (ability to communicate)

Menurut Zimmerer, karakteristik wirausaha yang sukses adalah :
1. Komitmen tinggi terhadap tugas
2. Mau bertanggungjawab
3. Mempertahankan minat kewirausahaan dalam diri
4. Peluang untuk mencapai obsesi
5. Toleransi terhadap resiko dan ketidakpastian
6. Yakin pada diri sendiri
7. Kreatif dan fleksibel
8. Ingin memperoleh balikan segera
9. Enerjik tinggi
10. Motivasi untuk lebih unggul
11. Berorientasi masa depan
12. Mau belajar dari kegagalan
13. Kemampuan memimpin

Dalam suatu penelitian tentang Standarisasi Tes Potensi Kewirausahaan Pemuda Versi Indonesia; Munawir Yusuf (1999) m enemukan adanya 11 ciri atau indikator kewirausahaan, yaitu:
1. Motivasi berprestasi
2. Kemandirian
3. Kreativitas
4. Pengambilan resiko (sedang)
5. Keuletan
6. Orientasi masa depan
7. Komunikatif dan reflektif
8. Kepemimpinan
9. Locus of Contro
10. Perilaku instrumental
11. Penghargaan terhadap uang.

Sementara itu menurut G. Meredith, et.al (1996) mengemukakan bahwa: Para wirausaha adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan yang ada; mengumpulkan sumber-sumber daya yang dibutuhkan guna mengambil keuntungan daripadanya dan mengambil tindakan yang tepat guna memastikan sukses.

3. Sifat-sifat Yang Perlu Dimiliki Wirausahawan

Demikian banyak ciri-ciri yang mesti dimiliki, akan tetapi tidak
semuanya harus dimiliki. Menurut Fadel Muhammad, ada sekitar tujuh ciri
yang merupakan identitas seorang wirausaha, yaitu :
a. Kepemimpinan
b. Inovasi
c. Cara pengambilan keputusan
d. Sikap tanggap terhadap perubahan
e. Bekerja ekonomis dan efisien
f. Visi masa depan
g. Sikap terhadap resiko

Bygrave menggambarkan wirausaha dengan konsep 10 D, yaitu :
• Dream ; mempunyai visi terhadap masa depan dan mampu mewujudkannya
• Decisiveness ; tidak bekerja lambat, membuat keputusan berdasar perhitungan yang tepat.
• Doers ; membuat keputusan dan melaksanakannya
• Determination ; melaksanakan kegiatan dengan penuh perhatian
• Dedication ; mempunyai dedikasi tinggi dalam berusaha
• Devotion ; mencintai pekerjaan yang dimiliki
• Details ; memperhatikan faktor-faktor kritis secara rinci
• Destiny ; bertanggung jawab terhadap nasib dan tujuan yanghendak dicapai

4. Faktor-faktor Yang Menyebabkan Kegagalan Wirausaha
Menurut Zimmerer (dalam Suryana, 2003 : 44-45) ada beberapa faktor yang menyebabkan wirausaha gagal dalam menjalankan usaha barunya:
1. Tidak kompeten dalam manajerial. 
Tidak kompeten atau tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan mengelola usaha merupakan faktor penyebab utama yang membuat perusahaan kurang berhasil.
2. Kurang berpengalaman baik dalam kemampuan mengkoordinasikan, keterampilan mengelola sumber daya manusia, maupun kemampuan mengintegrasikan operasi perusahaan.
3. Kurang dapat mengendalikan keuangan. Agar perusahaan dapat berhasil dengan baik, faktor yang paling utama dalam keuangan adalah memelihara aliran kas. Mengatur pengeluaran dan penerimaan secara cermat. Kekeliruan dalam memelihara aliran kas akan menghambat operasional perusahan dan mengakibatkan perusahaan tidak lancar.
4. Gagal dalam perencanaan. Perencanaan merupakan titik awal dari suatu kegiatan, sekali gagal dalam perencanaan maka akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaan.
5. Lokasi yang kurang memadai. Lokasi usaha yang strategis merupakan faktor yang menentukan keberhasilan usaha. Lokasi yang tidak strategis dapat mengakibatkan perusahaan sukar beroperasi karena kurang efisien.
6. kurangnya pengawasan peralatan. Pengawasan erat kaitannya dengan efisiensi dan efektivitas. Kurang pengawasan dapat mengakibatkan penggunaan alat tidak efisien dan tidak efektif.
7. Sikap yang kurang sungguh-sungguh dalam berusaha. Sikap yang setengah-setengah terhadap usaha akan mengakibatkan usaha yang dilakukan menjadi labil dan gagal. Dengan sikap setengah hati, kemungkinan gagal menjadi besar.
8. Ketidakmampuan dalam melakukan peralihan/transisi kewirausahaan. Wirausaha yang kurang siap menghadapi dan melakukan perubahan, tidak akan menjadi wirausaha yang berhasil.Keberhasilan dalam berwirausaha hanya bisa diperoleh apabila berani mengadakan perubahan dan mampu membuat peralihan
setiap waktu.

Keberhasilan atau kegagalan wirausaha sangat dipengaruhi juga oleh sifat dan kepribadian seseorang. Dan Steinhoff dan John F Burgess (dalam Suryana, 2003 : 16) mengemukakan bahwa kewirausahaan yang berhasil pada umumnya memiliki sifat-sifat kepribadian (entrepreunerial personality) sebagai berikut :
1. kepercayaan diri,
2. kemampuan mengorganisir,
3. kreativitas,
4. suka tantangan

Kelemahan wirausaha Indonesia menurut Heidjrachman Ranu
Pandojo yang perlu diperbaiki adalah :
• Sifat mentalitet yang meremehkan mutu
• Sifat mentalitet yang suka menerabas
• Sifat tidak percaya pada diri sendiri
• Sifat tidak berdisiplin murni
Sifat mentalitet yang suka mengabaikan tanggunjawab yang kokoh


DAFTAR PUSTAKA 

Alma, Buchari 2000. Kewirausahaan, Bandung. CV. Alfabeta. 
Anugerah Pekerti. 1997. Mitos dan Teori dalam Pengembangan Kewirausahaan, Makalah Lokakarya Kewirausahaan PT, DP3M Dikti, Puncak Bogor, 18 – 20 Agustus 1997. 

David E.Rye. 1995. Tolls for Executives: The Vest Pocket Entrepreneur. Terjemahan. Prentice Hall, Inc. Englewood Cliffs, New Jersey. 
Geoffrey G. Meredith, et.al. 1996. Kewirausahaan Teori dan Praktek. Pustaka Binaman Pressindo. Jakarta.  

Instruksi Presiden RI No. 4 Th. 1995 tentang Gerakan Nasional Memasyarakatkan dan Membudayakan Kewirausahaan. Jakarta. 
-------------------. 1999. Standarisasi Tes Kewirausahaan Versi Indonesia Sebagai Penunjang Pendidikan Kewirausahaan di Perguruan Tinggi. Laporan Pelaksanaan Penelitian. Pusbangnis UNS. Solo. 

Meredith, Geoffresy G 1996. Kewirausahaan, Jakarta, Pustaka Binaman Pressindo. 
McClelland. Memacu Masyarakat Berprestasi. Jakarta: CV Intermedia 
Salim Siagian dan Asfahani. 1995. Kewirausahaan Indonesia dengan Semangat 17.8.45. Kloang Klede Jaya PT Putra Timur bekerjasama dengan Puslatkop dan PK Depkop dan PPK. Jakarta. 

Suryana, 2003. Kewirausahaan, Pedoman Praktis, Kiat, dan Proses Menuju Sukses. Salemba Empat, Jakarta 
Tim Broad-Based Education, 2002, Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup (Life Skill) Melalui Pendekatan Broad-Based Education (BBE), Departemen Pendidikan Nasional. 
Wiratmo, Maskur 1996. Pengantar Kewirausahaan. Yogyakarta. BPFE 
Zimmerer W. Thomas Et al (1996) Entrepreneurship and The New Venture Formation, New Jersey: prentice Hall Inc.






ETIKA



Etika dan Tanggung Jawab Sosial 

Saat ini etika bisnis sangatlah penting karena perubahan-perubahan dunia yang saat ini berlangsung dengan sangat cepat memerlukan pegangan hidup yang mampu menghadapi problema-problema yang serba kompleks. Untuk meningkatkan daya saing usaha diperlukan operasi bisnis yang sehat dan etis. 
Yang dimaksud dengan etika bisnis adalah etika yang menyangkut tata pergaulan di dalam aktivitas-aktivitas bisnis. (Beny Suharsono, 1990) Perusahaan dapat disebut telah memenuhi etika dalam berbisnis apabila 
telah melaksanakan tanggung jawab sosialnya. Etik tidaknya suatu bisnis dapat dianalisis berdasarkan hukum ekonomi, peraturan yang berlaku dan etik dari masing-masing pelaku bisnis. 
Etika menurut ekonomi adalah apabila sumber daya ini dikelola secara efisien tanpa merugikan masyarakat lain. Etika menurut peraturan yang berlaku apabila masing-masing pelaku bisnis mematuhi aturan-aturan yang sudah disepakati sebelumnya. Sedangkan etika dari masing-masing individu adalah apabila masing-masing pelaku bisnis bertindak jujur dan tidak mengorbankan integritas pribadinya. 

Manajer masa kini menghadapi masalah-masalah etika sebagai berikut : 
• Etika bertanggung jawab organisasional. Yang termasuk dalam hal ini adalah tanggungjawab sebagi pemegang tugas, dan tidak menyalahgunakan wewenang yang dipegangnya. 
• Etika tanggung jawab sosial. Yang termasuk dalam hal ini adalah tanggung jawab sebagai sesama karyawan; tidak melanggar prisip “Equal Pay for Equal Work “. (Misalnya meminimumkan biaya dengan cara menekan biaya tenaga kerja sehingga upah dan kesejahteraan tenaga kerja menjadi rendah dan tidak sesuai dengan kontribusi kerja yang diberikan). Tidak menerima suap atau hadiah dari luar sehubungan dengan aktivitas bisnis tidak “mengikat” orang dengan emolumen-emolumen “palsu”. 
• Etika tanggung jawab terhadap konsumen : Melindungi kepentingan konsumen/pelanggan jujur terhadap kualitas produk, pelayanan dan kontrak yang diberikan, menjamin kualitas produk, tidak menaikkan harga produk di atas norma-norma yang wajar, selalu melakukan tes terhadap produk, melakukan perbaikan kualitas pelayanan, memelihara denagn pelanggan, tidak melakukan monopoli (misalnya melalui pengakuisisian jaringan pengecer untuk kepentingan produsen yang akhirnya dapat mematikan pedagang eceran), tidak melakukan diskriminasi terhadap pelanggan, tidak melakukan persaingan tidak jujur. 
Di dalam kehidupan bidang usaha atau dunia bisnis, seorang Wirausaha tidak berdiam diri sendiri, tetapi sangat perlu bantuan para Wirausaha lainnya, adanya bantuan dari pihak pemerintah atau badan- badan usaha terkait lainnya. Oleh karena itu, seorang Wirausaha harus menunjukan tingkah laku yang baik, sopan santun, tolong-menolong, tenggang rasa, hormat-menghormati satu sama lainnya. Masalah sopan santun, hormat- menghormati, tolong-menolong, dan tatakrama di dalam berwirausaha sehari-hari itu ad alah merupakan etika. Jika kata etika digabungkan dengan Wirausaha akan menjadi Etika Wirausaha. Dengan demikian Etika Wirausaha itu adalah prinsip-prinsip atau pandangan- pandangan dalam kegiatan bidang wirausaha dengan segala persoalannya untuk mencapai suatu tujuan serta melaksanakan nilai -nilai yang bermanfaat untuk meningkatkan kehidupan usaha sehari-hari. 

Etika Wirausaha itu, adalah sebagai berikut:
1. Wirausaha adalah tugas mulia dan kebiasaan baik, artinya wirausaha bertugas untuk mewujudkan suatu kenyataan hidup berdasarkan suatu kebiasaan yang baik di dalam berwirausaha.
2. Menempa pikiran untuk maju, artinya wirausaha melatih untuk membiasakan diri untuk berprakasa baik, bertanggungjawab, percaya diri untuk dapat mengerjakan kebaikan dan meningkatkan daya saing, serta daya juang untuk mempertahankan hidup dari prinsip-prinsip berwirausaha.
3. Kebiasaan membentuk watak, artinya wirausaha berdaya upaya untuk membiasakan diri berpikir, bersikap mental untuk berbuat maju, berpikir terbuka secara baik, bersih dan teliti.
4. Membersihkan diri dari kebiasaan berpikir negatif, artinya wirausaha harus berusaha dan berdaya upaya untuk menanggalkan dan membersihkan diri dari kebiasaan cara berpikir, sikap mental yang tidak baik, misalnya menyakiti orang lain, serta menjauhkan diri dari sikap selalu menggantungkan pada kemujuran nasib.
5. Kebiasaan berprakarsa, artinya seorang seorang wirausaha harus membiasakan diri untuk mengembangkan dalam berprakarsa dalam kegiatan pengelolaan usaha, dapat memberikan saran-saran yang baik, serta dapat menolong kepada dirinya sendiri.
6. Kepercayaan kepada diri sendiri, artinya seorang wirausaha harus percaya kepada diri sendiri, harus mempunyai keyakinan dan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta dapat meningkatkan nilai -nilai kehidupan di dalam berwirausaha.
7. Membersihkan hambatan buatan sendiri, artinya seorang wirausaha harus berusaha membebaskan dari hambatan-hambatan dari adanya produk buatan sendiri. Seorang wirausaaha jangan mempunyai pikiran ragu-ragu, merasa tukut, merasa rendah diri terhadap hasil produk buatan sendiri.
8. Mempunyai kemauan, daya upaya dan perencanaan, artinya seorang wirausaha harus mempunyai kemauan, serta daya upaya untuk mengetahui kemampuan dalam hidupnya, cara merencanakan dalam mengejar cita-cita mengembangkan usahanya yang berhasil berdasarkan prinsip-prinsip kewirausahaan.


Sesuai dengan pernyataan tersebut, Suparman Sumahadijaya dalam tulisan “Kepribadian Unggul” menyaratkan bahwa setiap Wirausaha sedikitnya dapat memenuhi 7 syarat sebagai berikut: 

a. Rasa tanggung jawab yang tebal 
Bersedia memikul tanggung jawab atau kekurangan-kekurangan dan kesalahan-kesalahan para pengikutnya. Pemimpin yang berhasil tahu bertanggung jawab kepada atasannya, rekan-rekannya di kirikanannya dan terutama di bawahnya. 
b. Rasa keadilan yang seimbang 
Pemimpin yang dihormati dan berwibawa tahu menimbang keadilan yaitu tidak melebihkan kenikmatan bagi dirinya dan tidak pula melebihkan beban kewajiban pada orang lain. 
c. Keberanian 
Tidak ada seorang pengikut pun yang mau dipimpin oleh seorang penakut, tidak mempunyai rasa percaya diri sendiri dan tidak tegas. Seorang harus berani menanggung risiko dan segala akibat keputusan yang telah diambilnya sekalipun akibat tersebut pada akhirnya tidak menguntungkan. 
d. Kemampuan 
Kemampuan yang paling diutamakan ialah mampu mengendalikan diri (swakendali). Kemampuan mengendalikan diri meliputi bagaimana harus memutuskan sesuatu, mampu membuat rencana, mampu mengendalikan orang lain. Orang yang ragu-ragu dalam mengambil keputusan membuktikan bahwa ia tidak mempunyai pendirian yang tegas, berarti tidak mampu memberikan pemimpin yang baik. 
e. Kebiasaan lebih banyak dibanding dengan imbalannya. Tidak semua orang akan berhasil memiliki kebiasaan ini. Kebanyakan, karena imbalan dianggap terlalu sedikit, ia menciptakan berbagai cara untuk memperbesar imbalan tersebut. Seorang pemimpin yang demikian jelas tidak jujur dan pada suatu ketika akan terbentur dan kAndas, ia harus berani berkorban seperti yang dituntut dari dirinya. 
f. Kepribadian yang menyenangkan 
Seorang pemimpin yang kumel, lecek, dan acuh tak acuh tidak akan berhasil. Kepemimpinan meminta kehormatan sekalipun pemimpin tersebut tidak menghendakinya. Pengikut-pengikutnya tidak akan 
menghormati bila ia tidak mewujudkan kepribadian yang menyenangkan. Dengan demikian pemimpin seharusnya menaruh simpati (adhesi) pada pengikut-pengikutnya, tahu kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. 
g. Kesediaan untuk bekerja sama 
Seorang pemimpin harus memahami dan mempergunakan prinsip kerja sama dan harus mendorong pengikut-pengikutnya untuk berbuat yang sama. Kepemimpinan perlu kekuasaan dan kekuasaan tersebut memerlukan kerja sama. 


PENTINGNYA BEKERJA PRESTATIF.

1. Pengertian perilaku bekerja prestatif 
Keinginan semua orang untuk terus maju dan berprestasi tidak dapat dihindari. Seorang wirausaha harus berbuat dan bekerja prestatif. Prestatif itu apa? Prestatif artinya seorang wirausaha selalu berambisi 
ingin maju (ambition drive). Di sini seorang wirausaha memiliki komitmen tinggi terhadap pekerjaannya atau tugasnya dan setiap saat pikirannya tidak lepas dari bisnisnya. Seorang wirausaha yang ingin berhasil di dalam usahanya janganlah loyo, pasrah diri, tidak mau berjuang, tetapi harus bersemangat tinggi, berjuang dan berambisi ingin maju dengan komitmen tinggi terhadap pekerjaannya. 
Dengan berbuat dan bekerja prestatif terhadap bisnisnya, wirausaha tersebut akan berhasil di dalam kegiatan usahanya. Berbuat dan bekerja secara prestatif merupakan modal dasar untuk keberhasilan seorang wirausaha. Seorang wirausaha yang berhasil selalu menempuh saat-saat di mana ia harus bekerja keras, membanting tulang dalam merintis bisnisnya. Seorang wirausaha yang mempunyai semangat tinggi, 
mau berjuang untuk kemajuan bisnisnya. Seorang wirausaha yang mempunyai semangat tinggi, mau berjuang untuk maju berbisnis. Ia yang berbuat dan bekerja secara prest atif dan selalu gigih dalam menghadapi pekerjaan serta tantangan yang dihadapinya biasanya selalu berhasil di dalam usahanya. 
Apapun jenis pekerjaan yang dilakukan, profesi apapun yang dijalankan, seorang wirausaha harus mampu melihat ke depan dan berjuang untuk mencapai keberhasilan dalam bisnisnya. Wirausaha yang bekerja secara prestatif, kegemeranannya atau kegila-gilaannya pada pekerjaan usahanya.

Menurut Zimmerer, karakteristik wirausaha yang berhasil karena bekerja secara prestatif adalah sebagai berikut. 
a. Memiliki komitmen tinggi terhadap tugasnya atau pekerjaannya. Boleh dikata setiap saat pikirannya tidak lepas dari perusahaannya. 
b. Mau bertanggungjawab. Apa saja tindakan yang ia lakukan selalu diikuti dengan rasa penuh tanggung jawab. 
h. Keinginan bertanggungjawab ini, erat hubungannya dengan mempertahankan internal locus of control yaitu minat kewirausahaan dalam dirinya d. Peluang untuk mencapai obsesi. Seorang wirausaha harus mempunyai obsesi untuk mencapai prestasi tinggi dan bisa diciptakannya. 
e. Toleransi untuk mencapai resiko kebimbangan dan ketidakpastian 
f. Yakin pada dirinya 
g. Kreatif dan fleksibel 
h. Ingin memperoleh balikan dengan segera. Dia mempunyai keinginan yang kuat untuk menggunakan pengetahuan dan pengalaman guna memperbaiki penampilannya. 
i. Enerjik seorang wirausaha lebih baik dibandingkan rata-rata orang lain. 
j. Motivasi untuk lebih unggul. Seorang wirausaha mempunyai motivasi untuk bekerja lebih tinggi dan lebih unggul dari apa yang sudah dikerjakan. 
k. Berorientasi ke masa depan 
l. Mau belajar dari keg agalan. Seorang wirausaha tidak takut gagal, dia memusatkan perhatiannya pada kesuksesannya di masa depan dan menggunakan kegagalannya ini sebagai guru yang berharga. 
m. Kemampuan memimpin. Seorang wirausaha harus mampu menjadi pemimpin yang baik dalam memimpin sumber daya non manusia dan harus dikelola sebaik-baiknya. 


Murpy and Peck (1980) menggambarkan ada delapan jalan menuju wirausaha yang berhasil untuk maju yaitu sebagai berikut. 
a. Kemauan bekerja keras 
b. Bekerja sama dengan pihak lain 
c. Penampilan yang baik 
d. Keyakinan diri 
e. Pandai membuat keputusan 
f. Mau menambah ilmu pengetahuan 
g. Ambisi untuk maju 
h. Pandai berkomunikasi

Stephen Covey, dalam bukunya First Thing’s First, mengungkapkan empat sisi potensial yang dimiliki manusia untuk maju yaitu: 
a. Self awareness adalah sikap mawas diri dan memiliki 
b. Couscience adalah mempertajam suara hati, supaya menjadi manusia berkehendak baik seraya memunculkan keunikan serta memiliki misi dalam hidup 
c. Independent Will adalah pandangan independen untuk bekal bertindak dan kekuatan untuk mengambil manfaat hasil 
d. Creative imagination adalah berpikir dan mengarah ke depan untuk memecahkan masalah dengan imajinasi, khayalan, serta memiliki dengan yang tepat. 

Dengan berbuat dan bekerja prestatif terhadap bisnisnya, wirausaha tersebut akan berhasil di dalam kegiatan usahanya. Untuk menjadi wirausaha yang berhasil, harus memiliki ciri-ciri karakteristik prestatif sebagai berikut :
1. Percaya diri 
• Keyakinan 
• Ketidaktergantungan 
• Individualistik 
• Optimisme 

2. Berorientasi pada dan hasil 
• Kebutuhan akan prestasi 
• Berorientasi pada laba 
• Ketekunan dan ketabahan 
• Kerja keras 
• Mempunyai dorongan kuat 
3. Pengambilan resiko 
• Energi dan inisiatif 
• Kemampuan mengambil resiko 
• Suka pada tantangan 
4. Kepemimpinan 
• Bertingkah laku sebagai pemimpin 
• Dapat bergaul dengan orang lain 
• Menanggapi saran-saran dan kritik 
5. Keorisinilan 
• Inovatif, kreatif, dan fleksibel 
• Punya banyak sumber 
• Serba bisa 
• Mengetahui banyak 
6. Berorientasi kemasa depan 
• Pandangan ke masa depan 
• Perseptif 

Jika karakteristik prestatif seorang wirausaha diterapkan di dalam bisnis maka : 
a. Ia memiliki tekad kuat berusaha tetapi bukan karena terpaksa; 
b. Ia mawas diri dan bertekad bulat untuk berusaha maju, setelah menerima umpan balik; 
c. Ia berpikir ada kemungkinan gagal, tetapi ia tidak gentar; 
d. Ia ingin maju atau mandiri, walaupun berisiko tinggi; 
e. Ia berpikir positif, karena ingin berkreatif. 

Setelah mengenali karakteristik prestatif dan kompetensinya, akhirnya seorang wirausaha akan menentukan hal-hal berikut
a. Apakah perlu kita berwirausaha ? 
b. Apakah berwirausaha menunggu petunjuk ? 
c. Apakah berwirausahaakan menunggu inspirasi ? 
d. Apakah berwirausaha datangnya modal? 
e. Apakah berwirausaha menunggu teman-teman ? 
f. Kapan akan memulai berwirausaha? 
g. Apakah berwirausaha harus melakukan survei terleb ih dahulu ? 

Di bawah ini ada beberapa falsafah bekerja prestatif para wirausaha yang perlu dihayati. 
a. Hidup harus banyak belajar tentang dirinya sendiri. 
b. Kegagalan usaha harus diterima sebagai pengalaman 
c. Kekuatan berusaha datang dari tindakannya sendiri. 
d. Resiko kegagalan selalu ada, 
e. Wirausaha harus menerima dan bertanggungjawab 
f. Ada keberhasilan berusaha, setelah kegagalan 
g. Wirausaha yang menghindari resiko rendah 
h. Menjauhi resiko tinggi karena ingin berhasil 
ii. Harta terbesar bersikap positif di dalam usaha. 
jj. Prestasi ditentukan oleh sikap dan tindakan wirausaha sendiri. 
k. Kerjarlah kemampuan dan keterampilan yang dimiliki 
ll. Terimalah apa adanya dan kurangilah kelemahan-kelemahannya. 

2. Tanamkan perilaku bekerja prestatif. 

Sebelum menguraikan lebih jauh mengenai pembinaan dalam bekerja prestatif, maka terlebih dahulu kita harus mengetahui tentang efektifitas bekerja dan efisiensi bekerja. Wirausaha yang bekerja prestatif harus memiliki efektifitas bekerja dan efisiensi bekerja, wirausaha harus bekerja terukur, terencana dan terkendali dalam setiap tindakan hasilnya. 
Efektifitas bekerja adalah suatu pekerjaan yang dapat diselesaikan tepat waktu, sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Dengan perkataan lain, efektifitas bekerja adalah sampai tingkat apakah tujuan itu 
sudah dicapai dalam arti kualitas dan kuantitas. Setiap orang memiliki kemampuan mengatur semua kegiatannya tanpa ada keterbatasan. Dan seorang wirausaha memiliki kemampuan mengatur kegiatan dengan terencana dan terukur dengan tingkah hasil tertentu. 
Efisien bekerja adalah perbandingan yang terbaik antara input dan output, antara daya usaha dan hasil usaha, atau antara pengeluaran dan pendapatan. Dengan perkataan lain, efisien bekerja adalah segala sesuatu yang dikerjakan dengan berdaya guna atau segala sesuatunya dapat diselesaikan dengan tepat, cepat, hemat dan berhasil guna. 
a. Tepat; artinya bekerja mencapai sasaran sesuai dengan yang diinginkan atau semua yang dicita-citakan tercapai. 
b. Cepat; artinya mengatur waktu dengan tepat pada tingkat tertentu. Bila pekerjaan dapat diselesai kan lebih cepat atau tepat pada waktu yang ditetapkan 
c. Hemat; artinya dengan biaya yang tertentu tanpa adanya pemborosan dalam bidang pekerjaan apapun yang menghasilkan pada tingkat tertentu pula 
d. Berhasil guna; artinya segala sesuatu sampai pada tujuan pekerjaan yang dimaksud tanpa mengalami hambatan-hambatan, sehingga meraih prestasi tertentu. 
Ingatlah bahwa menetapkan tujuan, menentukan prioritas, dan menetapkan batas waktu untuk mencapai setiap sasaran merupakan kegiatan-kegiatan produktif dan efektif. Bahwa setiap sasaran merupakan 
kegiatan produktif dan efektif harus diikuti dengan keberhasilan yang dicapai. Sebab keberhasilan suatu perusahaan sangat dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan memasarkan produknya, sehingga mampu 
mempersiapkan, memahami, medukung dan memenuhi kebutuhan pasar sasaran. Dorongan mengembangkan sumber-sumber yang dimiliki sebuah organisasi untuk memenuhi kebutuhan agar kemajuan dapat dinikmati. 
Di dalam bekerja, para wirausaha harus berorientasi pada tujuan, dalam arti harus mempunyai tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Mereka harus menangani pekerjaan-pekerjaannya yang paling utama atau paling penting dan meninggalkan pekerjaan yang kurang penting. Adapun pentingnya bekerja prestatif merupakan sesuatu yang perlu disumbangkan dalam rangka usaha bersama, tanpa adanya pemborosan waktu, biaya, 
tenaga dan sebagainya. 
Para wirausaha yang melaksanakan kegiatan dalam bidang usaha bisnis, memerlukan usaha kerja keras secara prestatif, efektif, dan efisien. Dalam menanamkan kerja keras itu, tersembunyi rasa kepuasan batin 
yang tidak dapat dinikmati oleh profesi lainnya. Para wirausaha selalu mengutamakan prestasi dahulu, baru kemudian prestise, bukan sebaliknya. Menanamkan kerja secara prestatif, dapat menggerakkan motivasi untuk bekerja dengan sungguh-sungguh. 
Orang-orang yang berhasil dalam bisnis adalah yang mau bekeja keras, tahan menderita, dan mau berjuang untuk memperbaiki nasibnya. Adapun perencanaan perilaku bekerja prestatif sebagai berikut: 
a. Masa inkubasi 
Kapanpun mengembangkan diri harus disesuaikan dengan bisnis yang cocok. Ide-ide dapat dikembangkan dan direncanakan dengan baik, sehingga perencanaan dapat dikembangkan dengan baik pula. 
b. Analisis sumber perencanaan 
Bila bekerja dilakukan dengan baik dengan menganalisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman. Artinya bekerja telah mengandung bahan-bahan yang sangat penting untuk perencanaan bekerja secara prestatif. 
c. Sasaran jelas, realitis dan menggairahkan 
d. Bekerja agar sesuai sasaran perlu direnungkan, dibayangkan, dan diidamkan semenarik mungkin, sehingga dapat menggairahkan semangat bekerja dan dapat dilakukan sesuai yang diharapkan. 
e. Hasil yang terukur 
Bekerja dengan sasaran perlu direnungkan, dibayangkan, dan diidamkan seefektif mungkin, sehingga dapat mendorong niat pelaku untuk bekerja dengan efisien. 

3. Pentingnya bekerja prestatif. 
Wirausaha berpikiran ingin maju berusaha mencari informasi yang sebanyak-banyaknya. Mereka tidak ingin ketinggalan informasi sekecil apapun bentuknya ingin selalu dimiliki. Banyak cara yang dapat ditempuh untuk mengembangkan diri wirausaha agar mampu berpikiran maju. Salah satu yang dapat dikembangkan yaitu latihan yang terus menerus. 
a. Beberapa pendapat para ahli tentang kepentingan dan manfaat latihan 
Dengan adanya latihan, karyawan akan berkembang lebih cepat dan bekerja lebih prestatif. Dengan adanya latihan, berarti wirausaha yang bersangkutan akan memperoleh karyawan yang ahli dan trampil dalam melaksanakan pekerjaannya. Dengan adanya latihan, berarti akan menjamin tersedianya tenaga kerja yang mempunyai keahlian khusus, mempunyai keterampilan dan dapat mempergunakan pikirannya secara prestatif. 
Di bawah ini dikemukakan beberapa pendapat para ahli tentang kepentingan dan manfaat latihan 
1) D. Yoder 
a) Untuk stabilitas pegawai 
b) Untuk memperbaiki cara bekerja 
2) D. Latenier : Pegawai lebih berkembang, lebih cetakan dan lebih baik. 
3) J. Tiffen 
a) Pegawai akan melaksanakan tugas lebih baik 
b) Cara bekerja lebih baik 
4) F.W. Taylor 
a) Memilih karyawan terbaik 
b) Melaksanakan pekerjaan lebih baik 

Pentingnya menanamkan bekerja prestatif melalui latihan adalah: 
1) Menghargai cita-cita dan masa depan; 
2) Meningkatkan kemampuan bekerja secara prestatif; 
3) Mengurangi pengawasan dalam bekerja; 
4) Terus menerus menambah ilmu pengetahuan; 
5) Mengembangkan rasa kesetiakawanan; 
6) Mengembangkan sikap yang positif; 
7) Mengembangkan kemampuan berprakarsa; 
8) Mengembangkan daya kreativitas; 
9) Efektif dan efisien dalam bekerja.

b. Metode latihan 
Metode latihan yang dijalankan wirausaha adalah sebagai berikut : 
1) Untuk latihan induksi 
• Kuliah 
• Magang 
• Perjalanan dinas 
• Menghadirkan dosen tamu (Ahli) 
2) Untuk latihan tugas 
• Belajar sambil bekerja 
• Sistem magang 
• Mengikuti pelajaran di luar perusahaan 

Latihan kewirausahaan merupakan bentuk ti ndakan korektif yang diperlukan untuk dapat mencapai nilai sehingga mungkin terjadi perubahan tertentu, namun mengandung resiko tertentu pula. Latihan kewirausahaan merupakan salah satu aspek yang perlu ditangani secara berencana dan berkelanjutan. A danya latihan dalam berwirausaha, diharapkan dapat meningkatkan kepribadian, pengetahuan dan kemampuan, sesuai dengan pekerjaan yang akan dilaksanakan dengan baik. Setiap wirausaha yang menyelenggarakan latihan kewirausahaan, selain harus berdasarkan pada suatu rencana, juga harus menentukan tujuan yang ingin dicapai. Termasuk juga meminimal resiko yang dihadapi. 
Menilai suatu latihan sangat penting untuk mengetahui, apakah latihan yang dilaksanakan perusahaan itu baik atau tidak, kena sasaran atau tidak, dan lain sebagainya. Apakah cara melaksanakan latihan itu efektif dan efisien atau tidak, hanya dapat diketahui jika telah diadakan penilaian terhadap latihan tersebut. 
Pembinaan efektivitas dan efisiensi kerja ke arah pengaturan secara maksimal, yaitu dengan memberikan latihan kerja yang baik, maupun dalam rangka tugasnya untuk perkembangan technical skill dan managerial skill. Prinsip pembinaan bekerja prestatif, efektif, dan efisien merupakan kunci ke arah kemajuan organisasi. Sebab efektivitas dan efisiensi kerja harus dicapai dalam rangka pencapaian tujuan. Untuk mencapai efektivitas dan efisiensi kerja yang baik, dibutuhkan teknik penggerakan dan motivasi yang sesuai dengan kebutuhan organisasi. 
Wirausaha harus melakukan pengembangan cara berpikir maju. Salah satu yang dapat dilakukan adalah pengendalian usaha yang efektif dan efisien, yaitu dengan menentukan standar kerja, menilai prestasi kerja dan mengendalikannya. 
• Prestasi bisnis ditentukan sikap dan tindakan wirausaha. 
• Efektivitas dan efisiensi wirausaha ditentukan hasil-hasil yang dicapai. 
• Wirausaha harus mampu melihat setiap aspek dari sebuah persoalan dan memahami secara keseluruhan. 
• Rancangan yang ekonomis diperlukan oleh perilaku wirausaha 

4. Merencanakan proses bekerja prestatif. 
Pada umumnya terdapat dua macam kegiatan dalam merencanakan proses kerja prestatif, yakni sebagai berikut. 
a. Pemanfaatan kegiatan-kegiatan wirausaha, seperti menggunakan waktu, seleksi penerimaan tenaga kerja, dan peralatan kerja. 
b. Aspek bisnis dari kegiatan wirausaha, seperti menyiapkan laporan keuangan bulanan, monitor, merevisi anggaran, mengelola arus produksi, serta memasarkan produk dan jasa. 
c. Pengendalian faktor-faktor eksternal wirausaha, seperti kebijakan-kebijakan pemerintah, kondisi ekonomi, iklim usaha 
Adapun proses kerja prestatif yang berkaitan dengan bidang-bidang berikut ini. 
a. Keahlian dan keterampilan 
Bidang-bidang keahlian yang dimiliki para wirausaha
Keahlian dalam bidang teknologi 
Keahlian wirausaha dalam bidang teknologi dapat menimbulkan hal berikut : 
1. Meningkatkan kesejahteraan 
2. Menimbulkan masalah-masalah baru, antara lain : 
• masalah sosial; seperti kemiskinan, kejahatan, ketertinggalan daerah tertentu 
• masalah konsumen baru 
• persaingan penguasaan teknologi. 

b) Perkembangan perekonomian 
Keahlian wirausaha dalam perkembangan perekonomian dapat menimbulkan hal -hal berikut. 
1. Persaingan bisnis 
2. Timbul bisnis baru 
3. Kebangkrutan 
4. Mencari pasar baru 
5. Produksi yang terus meningkat 

Wirausaha yang mempunyai keahlian merupakan bekal bisnis melalui pendidikan formal tertentu. Dari klasifikasi jelas bahwa diantara para wirausaha akan terdapat dan memiliki keahlian khusus. 
Masalah-masalah keahlian, sampai sekar ang dikejar orang dalam berbagai sekolah atau pendidikan. Adapun keahlian pokok yang perlu dimiliki oleh seorang wirausaha atau siapa saja adalah : 
1. Keahlian pengendalian keuangan; 
2. keahlian mengenai risiko persaingan; 
3. keahlian mengurus usaha atau manajemen usaha; 
4. keahlian menawarkan produk (salesmanship); dan 
5. Keahlian menjaga hubungan dengan pelanggan.
Lima keahlian pokok inilah yang sesungguhnya merupakan keahlian utama yang diperlukan oleh setiap wirausaha. Setelah menikmati pendidikan dan latihan, dalam keahlian pokok maupun keahlian tambahan, 
maka dalam praktek kehidupan usaha atau bisnis lambat laun cenderung akan menambah keahlian. Wirausaha berusaha meraih masa depan dengan baik, agar lingkungan bisnis yang terbentuk mampu mengembangkan keberlanjutan bisnisnya. 

2) Jenis-jenis keterampilan yang harus dimiliki oleh para wirausaha 
Keterampilan yang harus dimiliki para wirausaha, diantaranya: 
a) Akuntansi dan perpajakan; 
• Pengetahuan survai pemetaan 
• Mengetik; 
• Bahasa local dan asing; 
• Pengetahuan tentang gambar bangunan 
• Pengetahuan asuransi; 
• Pengetahuan perpajakan dan hukum; 
• Pengetahuan tentang elektronik dan computer; 
• Pengetahuan perbankan; 
• Pengetahuan tentang pariwisata 
• Pengetahuan dan pengembangan cenderamata 
• Ketrampilan dalam bidang seni tari, seni suara dan seni lukis/patung 
• Teknik dan organisasi bisnis; 
• Pengetahuan tentang jasa boga dan busana 
• Impor dan ekspor dalam bisnis 
• Teknik dan pengetahuan menembok dan plester
b. Menggunakan waktu 
Kemampuan menggunakan waktu dengan tepat, efektif, efisien, dan menguntungkan, merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksana-kan para wirausaha. Dengan adanya waktu, segala sesuatu dapat terjadi, 
tetapi tanpa waktu maka tidak ada sesuatu yang akan terjadi. Atas dasar itu, gunakanlah waktu dengan sebaik-baiknya. Agar para wirausaha dapat menggunakan waktu dengan efektif dan efisien, dibawah ini dibuat beberapa pertanyaan yang harus dijawab . 
1) Apakah telah mengadakan pembagian waktu menurut yang semestinya? 
2) Apakah pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan tepat obyek dan tepat waktu? 
3) Untuk apa waktu-waktu yang akan datang digunakan? 
4) Apakah telah menggunakan waktu yang ada? 
5) Apakah telah membuang waktu dengan sia-sia? 
6) Berapa lama waktu yang digunakan untuk hal -hal yang tidak bermanfaat? 
7) Bagaimana harus membagi waktu agar bermanfaat? 

Waktu yang kita terima, bukanlah untuk dihabiskan begitu saja atau bukan untuk dihambur-hamburkan, tetapi untuk dimanfaatkan. Berikut adalah landasan pokok konsepsi atau gagasan bekerja secara prestatif, efektif, dan efisien. 
1) Kesadaran memanfaatkan waktu yang benar jangan ditunggu sampai hari esok. 
2) Kemampuan menabung waktu unuk masa depan adalah menggunakan waktu yang ada sekarang secara efektif dan efisien. 
3) Kuasai dan aturlah waktu yang ada secara efektif dan efisien. Para wirausaha harus dapat memanfaatkan waktu yang relatif pendek itu. Kemampuan berpikir dan bekerja, hanya akan bermanfaat apabila para wirausaha dapat memanfaatkan waktu untuk menghasilkan sesuatu. 

Para wirausaha dapat memandang waktu sebagai berikut. 
1) Waktu adalah organisasi keseluruhan dari aktivitas kegiatan usaha untuk mencapai sesuatu tujuan. Waktu merupakan landasan pokok untuk membuat konsep -konsep dan gagasan-gagasan dalam organisasi bisnis. 
2) Waktu adalah sesuatu kekuasaan yang dimiliki sekarang, dan akan menentukan kejadian-kejadian pada masa yang akan datang. Menguasai waktu sekarang, akan menentukan tujuan usaha selanjutnya. Para wirausaha yang dapat memanfaatkan waktu sekarang, tanpa bermalas-malasan, akan sukses di dalam bisnisnya. 
3) Waktu adalah ukuran untuk menentukan berapa lama harus bekerja hingga menghasilkan sesuatu. 
4) Waktu adalah nilai uang untuk dapat menghasilkan sesuatu yang dapat dinilai dengan uang. 

Berikut ini adalah beberapa petunjuk untuk menggunakan dan mendayagunakan waktu secara efektif dan efisien. 

1) Buatlah perencanaan usaha atau bisnis dan kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan. Perencanaan usaha ini hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut: 
a) Merancang jenis-jenis usaha atau bisnis untuk mengisi hidup sekiranya dapat menolong kearah tercapainya tujuan. 
b) Menentukan prioritas-prioritas usaha atau bisnis dan kegiatan yang dianggap penting untuk didahulukan realisasinya. Buatlah perencanaan uasaha atau bisnis serta kegiatan-kegiatan saat sekarang dan kegiatan-kegiatan jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. 
c) Merenungkan keberhasilan-keberhasilan yang pernah dial ami, serta faktor-faktor yang menyebabkan keberhasilan dalam bisnis. 
d) Merenungi kegagalan-kegagalan yang pernah diderita, serta faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan dalam bisnis. 
e) Merenungi kegagalan-kegagalan dalam pribadi, serta cara-cara mengatasi kel emahan-kelemahan itu, dengan kekuatan sendiri di dalam menjalankan bisnis. 

2) Biasakanlah untuk membagi dan menepati waktu dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, akan efektif dan efisien apabila dapat menyusun jadwal kegiatan baik harian, mingguan, maupun bulanan. 

3) Sadarilah bahwa waktu sangat berharga untuk mengisi kehidupan dengan berkarya dan berprestasi. Pemborosan waktu akan membahas kemajuan untuk mencapai prestasi yang lebih tinggi dalam bisnisnya. 

4) Renungkanlah hal -hal yang menjadi tujuan dalam hidup. Setelah itu, coba rumuskan tujuan ini secara operasional dengan memper-timbangkan kondisi-kondisi yang memperlancar dan menghambat tercapainya tujuan perusahaan. 

5) Janganlah suka menunda-nunda pekerjaan. Hal ini akan menjadi kebiasaan yang terbuang, apalagi menghadapi pekerjaan berat. 

6) Kenalilah kondisi penyesuaian diri terhadap waktu. Ada waktu-waktu tertentu yang kurang cocok bagi fisik dan psikis untuk mengerjakan sesuatu tugas dan waktu-waktu tertentu yang sangat baik bagi kondisi 
fisik dan psikis. 

7) Melatih kedisiplinan di dalam setiap melaksanakan kegiatan yang telah dijadwalkan. Usahakanlah tugas dan kegiatan yang sedang dihadapi dapat diselesaikan tepat pada waktunya. 

8) Untuk memperkuat disiplin, usahakanlah membiasakan diri untuk bekerja dengan konsentrasi penuh. Untuk itu, carilah tempat bekerja yang tenang, bebas dari berbagai gangguan konsentrasi. 

9) Manfaatkanlah waktu-waktu senggang untuk kegiatan-kegiatan yang berguna bagi hidup ini, baik untuk belajar, untuk bisnis, untk memperkaya pengalaman maupun untuk mengerjakan kegiatan lainnya. 

10) Bekerjalah di dalam batas-batas kemampuan fisik dan psikis. Seorang wirausaha tidak memaksakan diri untuk bekerja, sehingga disamping dapat merusak fisik dan psikis, juga akan mengurangi efektivitas dan 
efisiensi pekerjaan. Oleh karena itu, selingan merupakan sesuatu yang penting untuk mengurangi ketegangan otak dan kelelahan. 

11) Manfaatkanlah jam waktu makan sebaik-baiknya. Dengan adanya waktu jam makan bersama, akan mendapatkan kesempatan berharga untuk menjalin hubungan kekeluargaan, dapat bertukar pikiran, serta dapat merancang kegiatan-kegiatan yang efektif dan bagi kepentingan bisnis. 

12) Sedapat mungkin hindarilah kesalahan-kesalahan di dalam melaksanakan tugas karena kesalahan memerlukan perbaikan dan pengerjaan ulang, sehingga akan membuang waktu. Oleh karena itu, bekerjalah secara efektif dan efisien dengan berorientasi pada tujuan bisnis.. 
• Waktu akan terus berlalu dan tidak mungkin akan kembali. Waktu merupakan daya kekuatan yang dinikmati dan harus kita kuasai (Atedja) 
• Waktu itu tidak bisa ditabung, semakin sore semakin kehilangan waktu. Kunci menggunakan waktu secara efektif dan efisien adalah melalui manajemen yang lebih baik. 
• Dalam waktu yang terbatas, kita harus dapat menghabiskan sesuatu yang berharga. Dalam waktu yang pendek itu pula kita akan menerima kerugian. 



PERAN PERILAKU BELAJAR PRESTATIF

1. Penerapan kesempatan bekerja 
Penerapan kesempatan bekerja merupakan kebutuhan yang tetap mendesak. Oleh karenanya, diperlukan berbagai kebijaksanaan yang menyeluruh, seperti pendidikan keterampilan, pendidikan kegiatan kerja, pembangunan industri, pembangunan prasarana, pemilihan teknologi, dan lain sebagainya. Di samping itu, usaha-usaha untuk memperluas kesempatan bekerja, perlu dituangkan dalam program -program kerja yang nyata sehingga mampu menghasilkan prestasi yang bermanfaat dan efisien. 
Keterampilan dan keahlian wirausaha perlu ditingkatkan, sehingga pengalihan usaha atau bisnis swasta asing dapat beralih ke tangan para wirausaha swasta Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut, sangat diperlukan semangat kerja yang tinggi prestatif. Agar dapat mencapai tujuan sikap bekerja prestatif para wirausaha diharapkan : 
a. Aktif dan kreatif serta berpikir kritis. Di sini harus menciptakan sikap bekerja prestatif, sehingga memiliki dan mengembangkan daya cipta yang positif. 
b. Kebiasaan mencari kerja harus diubah dengan menciptakan pekerjaan yaitu selalu sibuk dan menerapkan perilaku bekerja prestatif dalam setiap kesempatan yang ada. 
c. Kebiasaan menunggu harus diubah dengan memberikan pelayanan prima, agar prestasi kerja secara terus menerus dicapai 

2. Kepercayaan dan keberanian bekerja 
Menerapkan perilaku bekerja prestatif perlu dikembangkan dalam berbagai bidang atau bidang tertentu yang menjurus pada efektivitas usaha atau bisnis. Menanamkan perilaku bekerja prestatif perlu diterapkan 
dan ditingkatkan dengan jalan : 
a. Pengembangan diri dalam komitmen; 
b. Pembinaan dan pengembangan kerja; 
c. Bimbingan penyuluhan dan pengawasan bekerja; 
d. Memotivasi pekerja mau bekerja aktif, kreatif dan inovatif. 
Untuk menerapkan pekerjaan tersebut, para wirausaha harus memiliki keberanian, kepercayaan, kesempatan dan keyakinan terhadap diri sendiri, diantaranya : 
a. Percaya dan yakin pada kecerdasan sendiri; 
b. Percaya dan yakin pada kecakapan yang diperoleh dari hasil pendidikan, kursus, latihan, dan pengalaman dalam bekerja; 
c. Percaya dan yakin akan bisa bekerja secara kreatif dan inovatif; 
d. Percaya dan yakin pada kemampuan dalam menyelesaikan pekerjaan dengan baik. 
• Percaya pada diri sendiri adalah utama untuk bekerja efektif dan efisien 
• Percaya dan hidup pada tujuan hidup merupakan modal dasar untuk hidup berani dan mulai di dal am bekerja 
• Percaya setiap orang pasti akan berusaha untuk mengurangi sifat ketergantungan kepada orang lain. 

Untuk mengurangi ketergantungan tadi maka semangat dan sikap bekerja yang prestatif perlu diterapkan agar mampu menghasilkan kerja yang efektif dan efisien. Modal tersebut harus pula disertai keyakinan, kemauan dan keberanian yang sekaligus merupakan kepribadian yang harus dimiliki untuk menjalankan sikap bekerja yang produktif, yaitu : 
a. Mau bekerja keras; 
b. Hilangkan kebodohan; 
c. Hilangkan kemiskinan; 
d. Hilangkan kemalasan; 
e. Inginkan kesejahteraan yang baik. 

3. Ciri-ciri sikap bekerja baik 
Wirausaha yang ingin maju pasti akan bekerja secara efektif dan efisien. Pikiran ingin maju mem butuhkan kreativitas dari wirausaha itu sendiri. Jadi, efektifitas dan efisiensi bekerja mendorong terdapat pada 
wirausaha yang sering berada dalam kelompok kerjanya untuk terus berprestasi. Keinginan maju dalam bekerja, sangat dipengaruhi oleh berbagia aspek kompetensi wirausaha itu sendiri. Kompetensi wirausaha tergantung dalam kategori berikut ini : 
a. Dilligence (kerajinan, kerja keras) 
b. Dedication (pengabdian) 
c. Integrity (keutuhan, watak) 
d. Responsiblenness (rasa tanggungjawab) 
e. Carefullness (kehati -hatian) 
f. Versatility (keserbabisaan) 
g. Innovativeness (daya pembaharuan) 
h. Cooperativeness (semangat kerjasama) 
ii. Eageerness to learn besides skill fulness (hasrat besar untuk belajar dan kemahiran). 

Oleh karena itu wirausaha yang berpikiran ingin maju selalu memegang komitmen. Sebab bagimana mungkin wirausaha bekerja tanpa memiliki komitmen. Kalau kondisi tersebut dapat dicapai maka pekerjaan kita akan 
efektif dan efisien, sehingga pikiran-pikiran ingin maju dalam mengembangkan bisnis dapat berjalan dengan baik. Semua itu kembali kepada kompetensi wirausaha itu sendiri dalam menjalankan bisnisnya. 

4. Motivasi dalam bekerja 
Secara klasikal , seorang memandang, bekerja itu sebagai sarana untuk mendapatkan kebutuhan. Akan tetapi, dalam pandangan yang maju, bekerja itu tidaklah sekedar untuk sarana, melainkan ada dimensi-dimensi lain yang perlu dipikirkan. Salah satu dimensi itu adalah yang menganggap bahwa bekerja itu, justru sebagai suatu kebutuhan. Untuk mencapai bekerja prestatif, efektif, dan efisien, di samping adanya kesiapan mental, dan fisik, juga harus didukung oleh lingkungan. Suasana bekerja yang harmonis dan hubungan sosial yang baik, 
diantara orang-orang dalam proses bekerja, harus diterapkan secara efektif dan efisien. Ada seorang wirausaha yang telah memahami hakikat karyawan, akan tetapi dalam prakteknya masih belum mampu 
menggerakkan anak buahnya untuk bekerja lebih efektif dan efisien. Mengapa itu bisa terjadi? Masalah utama yang menjadi penyebabnya adalah wirausaha tersebut belum mampu menerapkan motivasi kepada anggotanya. Menumbuhkan dan menerapkan motivasi adalah suatu tindakan yang sangat penting. 
Untuk memperdalam tentang motivasi di dalam bekerja, hendaknya seorang wirausaha memahami hal -hal yang berhubungan dengan masalah kebutuhan hidup. Adapun kebutuhan-kebutuhan para pekerja yang berhubungan dengan masalah motivasi antara lain sebagai berikut. 
a. Kebutuhan fisiologis misalnya makan, minum, istirahat, tidur, dan lain sebagainya. 
b. Kebutuhan akan rasa aman, bebas dari ancaman fisik dan psikis. 
c. Kebutuhan akan penghargaan (penghargaan akan kemampuan, kompetensi, dan percaya diri). 
d. Kebutuhan untuk aktualisasi diri (mengembangkan potensi-potensinya semaksimal mungkin). 

T eori kebutuhan tersebut pertama kali dikemukakan oleh Abraham H. Maslow (1954), dan biasanya dikenal dengan nama teori hirarki kebutuhan A.H. Maslow. 
• Bekerja yang dilakukan secara efektif dan efisien akan dirasakan lebih nikmat dan lebih menyenangkan, ketimbang yang memandang bekerja itu sebagai beban. 
• Semangat bekerja adalah salah satu sifat kejiwaan yang sangat erat hubungannya dengan faktor kepuasan kerja, kegairahan kerja, dan keinginan mempertinggi hasil kerja. 
• Pada dasarnya kepuasan kerja itu menumbuhkan semangat kerja baru, sehingga dapat meningkatkan produktivitas dalam bekerja. 
Menurut Herzberg, orang yang menyukai pekerjaannya akan mendapatkan kepuasan tersendiri. Sebaliknya, pekerjaan yang kurang disenangi, akan mengurangi rasa kepuasan. Dengan adanya motivasi, akan mendorong orang untuk lebih prestatif, sehingga mampu menghasilkan kerja yang produktif. Orientasi bekerja akan meningkat sesuai dengan tingkat usaha dan motivasinya. Seorang wirausaha diharapkan dapat belajar dan bekerja dengan cepat untuk mendapatkan hasil prestasi yang diinginkan. 
Pengetahuan terhadap hasil kerja, akan membantu mengetahui metode kerja mana yang tidak efektif dan metode ker ja mana yang efektif. Tiada sesuatu yang lebih bermanfaat dan lebih bernilai di dunia ini, apabila tidak didahului oleh kegagalan-kegagalan di dalam usaha. Setiap kegagalan usaha, serta kesulitan yang amat besar membawa benih manfaat yang setimpal atau yang lebih besar.




DAFT AR PUSTAKA 

Bygrave, William D., 1996, The Portable MBA; Entrepreneurship, terjm. Dyah Ratna Permatasari, Binarupa Aksara, Jakarta 
Meredith, Geoffrey G., Et. Al., 2000, Kewirausahaan; Teori dan Praktek, terjm. Andre Asparsayogi, Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta 
Suryana,2003, Kewirausahaan,; Pedoman praktis, Kiat dan Proses Menuju Sukses, Salemba Empat, Bandung 
Joe Setyawan, 1994, Strategi efektif berwirausaha; mencakup studi kelayakan usaha, Gramedia, Jakarta 
M. Tohar, 2000, Membuka Usaha Kecil, Kanisius, Jakarta 
Ating Tedjasutisna, 2004, Memahami kewirausahaan, SMK; untuk semua bidang keahlian, Armico, Bandung 
Rusman Hakim, 1998, Kiat sukses berwiraswasta; mengatasi krisis etika dan krisis motivasi, Gramedia, Jakarta 
M.J.Morris, 1995, Usaha kecil yang berhasil; bagaimana mempersiapkannya, Arcan, Jakarta 
Kusmini Adiputro, Umi Nur Rochjati, Setyo Ferry Wibowo, 2001, Kewirausahaan untuk tingkat 1 SMK, Yudhistira, Jakarta 
Mas’ud Machfoedz dan Mahmud Machfoedz, 2002, Kewirausahaan; suatu pendekatan kontemporer, UPP AMP YKPN, Yogyakarta 
Kusmini Adiputro, Umi Nur Rochjati, Setyo Ferry Wibowo, 2001, Kewirausahaan untuk tingkat 3 SMK, Yudhistira, Jakarta













BAB III
PENGAMBILAN RESIKO




IA. Konsep Resiko
Semua orang menyadari bahwa dunia penuh dengan ketidakpastian, kecuali kematian, namun itupun tetap mengandung ketidakpastian yang akan mengakibatkan adanya risiko bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Apalagi dalam dunia bisnis, ketidakpastian dan risikonya adalah sesuatu yang tidak dapat diabaikan begitu saja, malahan harus diperhatikan secara serius. Sehubungan dengan kenyataan tersebut, semua orang (khususnya pengusaha) selalu harus berusaha untuk menanggulanginya, artinya berupaya untuk meminimumkan ketidakpastian agar kerugian yang ditimbulkan dapat dihilangkan. Para wirausaha menyukai tindakan pengambilan risiko nyata karena mereka ingin berhasil. Maksudnya mereka ingin mendapatkan kepuasan besar dalam melaksanakan tugas yang sukar tetapi nyata dengan menerapkan keterampilan mereka. 
Wirausaha menghindari situasi risiko rendah karena tidak ada tantangan, akan tetapi mereka juga tidak menyukai situasi dengan risiko tinggi karena para wirausaha cenderung selalu ingin berhasil. Ringkasnya,para wirausaha menyukai tantangan , namun dapat dicapai. 

B. Pengertian Risiko 
Hasil yang dicapai dari suatu kegiatan jarang sekali yang dapat diramalkan dengan hasil yang sempurna, pada umumnya terjadi penyimpangan, biarpun kecil. Risiko selalu terjadi bila keputusan yang diambil dengan memakai kriteria peluang (decision under risk) atau kriteria ketidakpastian (decision under uncertainty). Untuk menghitung risiko pada umumnya dipakai nilai yang diperkirakan (expected value) atau angka penyimpangan (variance). Risiko perlu dianalisis, yaitu dengan memakai tolok ukur untuk mengukur besarnya risiko atas suatu alternatif, dengan tujuan untuk memperoleh alternatif dengan risiko yang masih dapat ditanggung. Analisis ini sangat penting untuk menentukan modal yang dianggarkan dalam kegiatan usaha. Bermacam -macam risiko yang mungkin terjadi dalam suatu kegiatan usaha, yaitu risiko teknis (kerugian), risiko pasar, risiko kredit serta risiko di luar kemampuan manusia. Semua risiko dapat dicegah atau diperkecil, kecuali risiko alam yang probabilitasnya sangat kecil dan dapat diabaikan.
Bagi seorang Wirausaha, menghadapi risiko adalah tantangan karena mengambil risiko berkaitan dengan kreativitas dan inovasi serta merupakan bagian penting dalam mengubah ide menjadi kenyataan. Demikian pula pengambilan risiko bagi Wirausaha berkait-an dengan kepercayaan pada dirinya. Semakin besar pula keyakinan pada kemampuan dirinya, semakin besar pada kesanggupan untuk menelurkan hasil dari keputusan yang diambil. Bagi orang yang bukan Wirausaha (misalnya pegawai negeri) kegiatan tersebut merupakan risiko, tetapi bagi Wirausaha adalah tantangan dan peluang untuk memperoleh hasil. Wirausaha berprinsip biar mundur satu langkah, tetapi nanti harus maju dua langkah. Majalah Wirausaha yang berjudul “Executive” pada lembaran khusus ditulis huruf besar dengan warna yang berbeda seperti di bawah ini: 
“Jangan tinggal diam di tempat (digambar dengan kura-kura terbalik), tetapi berbuatlah yang pasti dan mantap biarpun lambat (digambarkan dengan kura-kura yang berjalan merayap)”. 

Berikut beberapa pendapat tentang pengertian risiko : 
Risiko adalah suatu variasi dari hasil-hasil yang dapat terjadi selama periode tertentu (Arthur Williams dan Richard, M. H) 
Risiko adalah ketidaktentuan (uncertainty) yang mungkin melahirkan peristiwa kerugian (loss), (A.Abas Salim) 
Risiko adalah ketidakpastian atas terjadinya suatu peristiwa (Soekarto) 
Risiko merupakan penyebaran/penyimpangan hasil aktual dari hasil yang diharapkan (Herman Darmawi) 
Risiko adalah probabilitas suatu hasil yang berbeda dengan yang diharapkan(Herman Darmawi) 
Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa risiko adalah sesuatu yang selalu dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya sesuatu yang merugikan yang tidak diduga atau tidak diinginkan. 
Sedangkan karakteristik risiko itu sendiri adalah: 
Risiko adalah suatu ketidakpastian atas terjadinya suatu peristiwa. 
Risiko adalah ketidakpastian yang bila terjadi akan menimbulkan kerugian 

C. Risiko wirausaha 
Pada saat memulai bisnis, Wirausaha biasanya menghadapi risiko bisnis yang besar. Di Amerika Serikat lebih dari 3 juta bisnis baru dimulai tiap tahunnya, dan dua pertiga dari bisnis tersebut bergerak sebagai bisnis/usaha kecil. Rata-rata kegagalan diantara bisnis baru ini cukup mengganggu. Berdasarkan penelitian, 25 sampai 33 persen usaha kecil mengalami kegagalan selama dua tahun pertama masa operasinya. 
Di samping mempertimbangkan risiko bisnis, Wirausaha juga menghadapi risiko finansial, selama mereka menginvestasikan sebagian besar atau semua kekayaannya dalam bisnis. Mereka mengambil risiko karir dengan meninggalkan pekerjaan yang aman untuk suatu pekerjaan yang mengandung risiko dengan masa depan yang penuh ketidakpastian. Mereka juga mebuat risiko keluarga dan sosial karena kebutuhan untuk memulai dan mengelola bisnis yang baru hanya menyisakan sedikit waktu untuk memperhatikan keluarga dan teman. 
Ada ti ga penyebab yang menjadi alasan kegagalan bisnis, yaitu: 
a. Mereka masuk ke dalam bisnis terlalu cepat. Mereka terjun ke dalam suatu pekerjaan baru yang mengandung risiko terlalu tergesa-gesa, tanpa melakukan perencanaan yang mendalam. Mereka tidak menganalisis kekuatan dan kelemahannya. Siapa saya ?, Apa yang saya inginkan ? Apa tujuan saya ? 
b. Mereka kehabisan uang. Jika Anda tidak dapat menyelaraskan daftar gaji/upah atau membayar rekening-rekening Anda, Anda akan ke luar dari bisnis. Perencanaan kebutuhan uang yang realisti k merupakan hal yang sangat penting. Perkiraan kebutuhan kas merupakan prioritas utama sebelum memulai bisnis ini. 
c. Kegagalan perencanaan jelas merupakan suatu kesalahan. Rencana bisnis yang terperinci mendorong Wirausaha untuk berpikir ke depan, merefleksikan, dan memutuskan bagaimana agar maju. Rencana bisnis ini harus secara tertulis.
Alasan-alasan kegagalan di atas haruslah dipertimbangkan sebelum memulai operasi suatu bisnis. Empat kategori utama (kesalahan perencanaan, rendahnya kualitas manajeman, metode bisnis yang tidak mencukupi, dan kurang dana) dapat merusak kerja keras, kreativitas yang brilian, pengambilan risiko dan kejelasan masa depan. 

D. Macam-Macam Risiko 

a. Menurut sifatnya dibedakan ke dalam : 

1) Risiko murni, risiko yang terjadi pasti akan menimbulkan kerugian dan terjadinya tanpa sengaja. Misal : kebakaran, bencana alam, pencurian, penggelapan, dan sebagainya. 
2) Risiko spekulatif, risiko yang sengaja ditimbulkan oleh yang bersangkutan agar memberikan keuntungan bagi pihak tertentu. Misal: utang piutang, perdagangan berjangka, dan sebagainya. 
3) Risiko fundamental, risiko yang penyebabnya tidak dapat dilimpahkan kepada seseorang dan yang menderita cukup banyak. Misal : banjir, angin topan, dan sebagainya. Risiko khusus, risiko yang bersumber pada peristiwa yang mandiri dan umumnya mudah diketahui penyebabnya, seperti kapal kAndas, pesawat jatuh, dan sebagainya. 
4) Risiko dinamis, risiko yang timbul karena perkembangan dan kemajuan masyarakat di bidang ekonomi, ilmu, dan teknologi, seperti risiko penerbangan luar angkasa. 
5) Dapat tidaknya risiko dialihkan kepada pihak lain, sbb: 
1) Risiko yang dapat dialihkan pada pihak lain, dengan memper-tanggungkan suatu objek yang akan terkena risiko pada perusahaan asuransi. 
2) Risiko yang tidak dialihkan pada pihak lain 

b. Menurut sumber/penyebab timbulnya :

1) Risiko intern, risiko yang berasal dari dalam perusahaan itu sendiri, seperti kerusakan aktiva karena kesalahan karyawan, kecelakaan kerja. 
2) Risiko ekstern, risiko yang berasal dari luar perusahaan, seperti pencurian, persaingan dalam bisnis, fluktuasi harga, dan sebagainya. 

Upaya penanggulangan risiko berdasar pada sifat dan objek yang terkena risiko ada beberapa cara untuk menanggulangi atau meminimumkan risiko, sebagai berikut: 
a. Mengadakan pencegahan dan pengurangan terhadap kemungkinan terjadinya peristiwa yang menimbulkan kerugian. 
b. Melakukan retensi, yakni mentolerir terjadinya kerugian. 
c. Melakukan pengendalian terhadap risiko 
d. Mengalihkan risiko kepada pihak lain (asuransi) 

Untuk garis besarnya ada bermacam-macam risiko dalam berusaha dan upaya untuk menghindari atau memperkecil risiko, yaitu :
a. Risiko teknis 
• Risiko ini terjadi akibat kekurangmampuan manajer atau Wirausaha dalam mengambil keputusan. 
• Risiko yang sering terjadi: 
• Biaya produksi yang tinggi (inefisien), 
• Pemakaian sumber sumber daya yang tidak seimbang (tenaga kerja terlalu banyak), 
• Terjadi pencurian, akibat pengawasan yang kurang baik, 
• Terjadi kebakaran, akibat keteledoran dan kurang kecermatan, 
• Terus menerus rugi karena biaya yang terus membengkak serta harga jual tak berubah, 
• Penempatan tenaga kerja yang kurang tepat sehingga produktivitas kerja menurun,
• Perencanaan dan desain yang salah, sehingga sulit dioperasionalkan, serta hal-hal yang berhubungan dengan ketatalaksana-an perusahaan. 

Untuk mengatasi hal -hal tersebut diatas dapat ditempuh upaya-upaya sebagai berikut: 
1. Manajer atau Wirausaha menambah pengetahuan tentang: 
• Keterampilan teknis (technological skill), terutama yang berkaitan dengan proses produksi yang dihasilkan. Diupayakan dengan memakai metode yang dapat menurunkan biaya produksi (efisien). Misalnya yang semula dengan teknologi tradisional diganti dengan teknologi tepat guna atau teknologi modern. 
• Keterampilan mengorganisasi (organizational skiil), yaitu kemampuan meramu yang tepat dari factor produksi dalam usaha, mencakup sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya modal. Ibarat membuat kue, bagaimana agar rasanya enak, murah, dan disenangi pembeli. 
• Keterampilan memimpin (managerial skill), yaitu kemampuan untuk mencapai tujuan usaha dan dapat dikerjakan dengan baik dan serasi oleh semua orang yang ada pada organisasi. Untuk ini, setiap pimpinan dituntut membuat konsep kerja yang baik (conceptional skill). 
2. Membuat strategi usaha yang terarah untuk masa depan, yang meliputi strategi produksi, strategi keuangan, strategi sumber daya manusia, strategi operasional, strategi pemasaran, dan strategi penelitian dan pengembangan. Tujuan strategi ada tiga, yaitu tetap memperoleh keuntungan, hari depan lebih baik dari sekarang (usaha berkembang) dan tetap bertahan (survive). Upaya yang dilakukan ialah kep Andaian menganalisis dan memprognosa keadaan di dalam dan di luar lingkup organisasi. 
3. Mengalihkan kerugian pada perusahaan asuransi, dengan konsekuensi setiap saat harus membayar premi asuransi yang merupakan pengeluaran tetap. 

b. Risiko pasar 
Risiko ini terjadi akibat produk yang dihasilkan kurang laku atau tidak laku di pasar. Produk telah menjadi kuno (absolensence) yang diperoleh terus menurun dan terjadi kerugian. Akibatnya penerimaan (revenue) yang diperoleh terus menurun dan terjadi kerugian. Hal ini akan menjadi bencana usaha yang berakibat usahanya sampai di ter minal alias gulung tikar. Upaya yang dapat ditempuh pengusaha adalah sebagai berikut: 
1) Mengadakan inovasi (product innovation), yaitu membuat desain baru dari produk yang disenangi calon pembeli. Daur hidup produksi (product life cycle) untuk barang industri adalah seperti:Dalam usaha pertanian terlihat pada budidaya kelinci, lele dumbo, asparagus, dan sebagainya. Memang relatif sulit bagi usaha pertanian mengadakan inovasi, tetapi hal ini akan dipermudah bila ada upaya ke arah argo industri. 
2) Mengadakan penelitian pasar (market research) dan memperoleh informasi pasar secara berkesinambungan. Cara ini memerlukan dana yang besar dan hanya layak untuk perusahaan besar. Contohnya pabrik mobil, tekstil, alat rumah tangga, dan hiburan. Dalam bidang pertanian antara lain ukuran berat dalam setiap komoditi yang dihasilkan yang diinginkan konsumen (ikan, udang, kubis, ternak, dan sebagainya). 

c. Risiko kredit 
Adalah risiko yang ditanggung kreditor akibat debitor tidak membayar pinjaman sesuai waktu yang telah disepakati. Sering terjadi produsen menaruh produknya lebih dulu dan dibayar kemudian. Atau debitor meminjam uang untuk usaha tetapi usahanya gagal, akibatnya timbul kredit macet. 
Upaya untuk mengatasi hal tersebut diantaranya sebagai berikut: 
1. Berikan kredit pada seseorang yang minimal memenuhi syarat sebagai berikut: 
• Dapat dipercaya (character), yaitu watak dan reputasi yang telah diketahui. 
• Kemampuan untuk membayar (capacity). Hal ini dapat dilihat dari kemampuan/hasil yang diperoleh dari usahanya. 
• Kemampuan modal sendiri yang ditempatkan dalam usaha (capital) sehingga merupakan net personal assets. 
• Keadaan usahanya selama ini (conditions) apakah menunjukkan trend naik mendatar atau menurun. 
2. Jangan memberikan pinjaman yang terlalu besar sambil mengevaluasi kredibilitas debitor. 
3. Memperhatikan pengelolaan dana debitor bila yang bersangkutan memiliki perusahaan. Yang perlu diperhatikan adalah lembaran neraca, laporan laba-rugi tahunan dan aliran dana setiap tahun. 

d. Risiko alam 
Risiko ini terjadi di luar pengetahuan manusia, misalnya gempa bumi, banjir, angin puyuh, dan kemarau panjang. Karena kemungkinan terjadi sangat kecil risiko ini dapat dianggap tidak ada. Tetapi, bila takut 
menhadapi risiko tersebut, ada perusahaan asuransi yang berani menanggung risiko tersebut. 

E. Situasi Berisiko 
Situasi yang mengandung risiko adalah situasi dimana kita dihadapkan pada dua pilihan atau lebih dan kita tidak dapat mengetahui hasil yang akan diperoleh dari setiap alternatif pilihan yang ada. Situasi risiko juga mengandung dua potensi bagi perusahaan, yaitu potensi kegagalan dan potensi sukses. Seorang Wirausaha yang harus selalu mengambil keputusan dalam berbagai situasi walaupun situasi tersebut penuh ketidakpastian. Keputusan yang harus dipilih tersebut dapat berupa alternatif yang mengandung risiko atau alternatif yang konservatif, tergantung pada daya tarik setiap alternatif, sejauh mana seo rang pengusaha bersedia untuk mengalami kerugian, prediksi atas kesuksesan dan kegagalan yang akan dialami, dan seberapa jauh seorang Wirausaha dapat meningkatkan kemungkinan untuk sukses dan mengurangi kemungkinan untuk gagal. 
Dalam pelaksanaan pengambilan keputusan ada yang berani, ada juga yang tidak berani dalam mengambil risiko atas keputusan yang dibuatnya walaupun ada kemungkinan potensi sukses atas keputusan yang dibuatnya. Ada pula yang sangat berani dalam mengambil keputusan tanpa melakukan pertimbangan terlebih dahulu, secara cepat mengambil keputusan yang dianggapnya peluang emas. Pengusaha seperti ini adalah pengusaha yang dipengaruhi oleh besarnya jumlah imbalan yang ditawar -kan, dan sangat tertarik oleh harapan muluk tentang hasil yang tinggi dengan sedikit usaha. Seorang Wirausaha sejati adalah yang tidak takut dalam mengambil risiko akan tetapi juga tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Keputusan yang diambil selalu berdasarkan pertimbangan terlebih dahulu. 
Unsur penting lainnya dari situasi yang mengandung risiko adalah kesediaan dalam menerima tanggung jawab pribadi atas akibat-akibat keputusan, baik yang menguntungkan maupun tidak. Kebanyakan ciri-ciri 
Wirausaha saling berkaitan, terutama mengenai sikap pengambilan risiko, 
ciri-ciri tersebut yaitu : 
a. Pengambilan risiko berkaitan dengan kreativitas dan inovasi serta merupakan bagian penting dalam mengubah ide menjadi realitas. 
b. Pengambilan risiko berkaitan dengan kepercayaan pada diri sendiri. Semakin besar keyakinan atas kemampuan yang dimiliki, semakin besar pula keyakinan yang dimiliki atas kesanggupan untuk mempengaruhi hasil dari keputusan-keputusan yang akan diambil serta semakin besar kesediaan untuk mengambil risiko. 
c. Pengetahuan realistik mengenai kemampuan sendiri akan membatasi kegiatan yang akan diambil sehingga tidak akan mengahsilkan suatu putusan yang tidak sanggup untuk dilaksanakan. 
Sekali lagi bahwa situasi risiko terjadi apabila seorang Wirausaha diminta membuat pilihan diantara dua alternatif atau lebih yang hasilnya tidak dapat diprediksi sebelumnya dan harus dinilai secara objektif. 
Sebagai pengambil risiko Anda harus mengambil keputusan dalam situasi penuh ketidakpastian, sambil mempertimbangkan kemungkinan sukses dan ruginya. Apakah akan memilih alternatif yang mengambil risiko 
atau alternatif konservatif tergantung kepada : 
a. daya tarik dari setiap alternatif, 
b. sejauhmana Anda bersedia rugi, 
c. kemungkinan relatif sukses dan gagal, 
d. seberapa jauh Anda dapat/mampu meningkatkan kemungkinan sukses dan mengurangi kemungkinan gagal. 
Ada beberapa ciri dari seorang wirausaha yang saling berkaitan, hal ini cenderung berlaku pada perilaku dalam pengambilan risiko. Kaitan tersebut antara lain : 
a. Pengambilan risiko berkaitan dengan kreativitas dan inovasi yang merupakan bagian penti ng dalam mengubah ide menjadi realitas. 
b. Pengambilan risiko berkaitan dengan kepercayaan terhadap diri sendiri. 
c. Pengetahuan realisti k mengenai kemampuan-kemampuan Anda sendiri juga penting. 


F. Pengambilan Risiko 
Para Wirausaha merupakan pengambil keputusan risiko yang sudah diperhitungkan. Mereka bergairah menghadapi tantangan. Wirausaha menghindari situasi risiko rendah, tidak ada tantangannya dan menjauhi situasi risiko yang tinggi, karena mereka ingin berhasil. Mereka menyukai tantangan yang dapat dicapai. Para Wirausaha menyukai mengambil risiko yang realistik karena mereka ingin berhasil. Mereka mendapat kepuasan besar dalam melaksanaan tugas-tugas yang sukar, namun realistis. Wirausaha menyukai tantangan yang sukar namun dapat dicapai. Bertambah besarnya perusahaan Anda akan bertambah banyak dan ruwetlah persoalan Anda. 
Para wirausaha menyukai mengambil risiko yang realistik karena mereka ingin berhasil. Mereka mendapat kepuasan besar dalam me-laksanakan tugas-tugas yang sukar namun realistik. Wirausaha menyukai tantangan yang sukar namun dapat dicapai. Kebanyakan orang takut mengambil risiko karena mereka ingin aman dan mengelakkan kegagalan.Namun, semua tahap pekerjaan pasti akan ada risikonya. Pengambilan risiko merupakan bagian hakiki dari seorang Wirausaha. 
Apabila kita telah mengambil suatu keputusan dari salah satu alternatif yang ada, maka ini berarti kita telah memutuskan untuk menyisihkan alternatif-alternatif lainnya untuk tidak digunakan dalam pelaksanaan. Dalam pengambilan keputusan dari alternatif terpilih didasarkan atas pertimbangan agar dalam pelaksanaannya nanti 
diharapkan ini erat hubungannya dengan keinginan yang harus diderita atau risiko. 

G. Pengambilan Risiko Pribadi 
Pengambilan risiko adalah hal yang hakiki dalam merealisasikan potensi sebagai Wirausaha. Seorang Wirausaha harus sadar bahwa pertumbuhan datang dari pengambilan peluang-peluang masa sekarang dan pengambilan risiko untuk mencapai tujuan. Beberapa risiko yang terpenting adalah risiko yang membawa kita sebagai seorang Wirausaha untuk belajar mengenai sesuatu yang baru tentang diri sendiri dan perusahaan Anda. 
Situasi-situasi yang mengandung risiko pribadi haruslah menantang kemampuan dan kapasitas Anda dengan sungguh-sungguh. Merupakan suatu hal yang sulit bagi seorang Wirausaha dalam membedakan tujuan pribadi dan tujuan bisnis karena perusahaan merupakan bagian hidupnya. Pengambilan keputusan merupakan bagian yang penting dalam pertumbuhan pribadi juga berguna dalam menjalankan kegiatan-kegiatan bisnis. Memikul tanggung jawab pribadi atas tindakan yang dilakukan akan mengurangi ketergantungan Anda pada pihak lain. Wirausaha adalah orang yang bertanggung jawab karena mereka mempunyai kekuatan dan kemampuan untuk menentyukan masa depan mereka sendiri. Risiko akan timbul ketika seorang Wirausaha menerima tanggung jawab atas keputusan dan tindakannya. Sebagai seorang Wirausaha kita tidak boleh mengambil risiko yang tidak perlu dan harus dapat menguasai emosi dalam mengambil risiko jika keuntungannya diperkirakan sama atau bahkan lebih besar daripada risiko yang terkandung. Dalam beberapa hal, kita harus menggunakan intuisi dalam menilai tindakan apa saja yang mengandung risiko karena intuisi akan dapat turut menentukan sampai sejauh mana risikonya dan hasil apa saja yang mungkin diperoleh. Dalam pengambilan risiko pribadi perlu diperhatikan hal -hal sebagai berikut: 
• Pengalaman pribadi selama ini dalam mengambil risiko yang terkait dengan orang-orang terdekat 
• Dalam beberapa hal , juga perlu menggunakan intuisi dalam menilai tindakan apa saja yang mengandung risiko. Intuisi Anda akan ikut menentukan sampai sejauh mana risikonya dan hasil -hasil yang mungkin akan diperoleh. 
• Anda bertanggung jawab atas segala sesuatu dalam hidup Anda, termasuk sukses dan kegagalan Anda sendiri. Namun sukses akan dapat diperoleh dengan lebih mudah jika Anda bersedia dan mampu meng-ambil risiko yang perlu dengan penuh perhitungan. 

H. Tipologi Pengambilan Risiko 
Pada tingkat-tingkat bawah perusahaan dibutuhkan pekerja-pekerja yang terampil dalam melaksanakan hal -hal yang rutin, yang mempunyai sedikit risiko. Agar perusahaan kita berkembang, kita maka harus mempunyai sumber daya yang termasuk dalam pengambil risiko tipe ini karena perilaku mereka akan dapat diramalkan dan membawa kestabilan perusahaan. 
Pada tingkat manajemen menengah terdapat lebih banyak kemungkinan untuk pengambilan risiko. Manajer-manager tingkat menengah harus mendapat lebih banyak kebebasan untuk berinovasi dan membuat perubahan-perubahan kecil dalam prosedur-prosedur dan fungsi-fungsi. Orang-orang yang berada di sini dianggap sebagai pengambil risiko. Sedangkan para Wirausaha berada pada tingkat atas dalam struktur prusahaan, dimana harus mempunyai kemampuan untuk me-rumuskan dan menerapkan ide-ide kreatif agar berhasil dalam bisnis dan mewujudkan ide-ide mereka menjadi kenyataan. Beberapa Wirausaha dapat disebut praktisi karena perusahaan tumbuh berdasarkan pengendalian dan pengarahan dari diri para Wirausaha sendiri. Para Wirausaha yang mengembangkan usahanya dengan praktis karena berorientasi kepada hasil dan cukup yakin akan ide-ide mereka hingga berani menerima risiko demi terlaksananya ide itu. Namun mereka juga cukup praktis untuk menyadari keterbatasan dirinya dan akan membatasi kegiatan. 
Wirausaha yang sangat kreatif dan inovatif biasanya adalah pengambil risiko yang sedang-sedang saja. Mereka bersedia menerima perubahan, mencoba berbagai alternatif dan mengembangkan inovasi untuk barang dan jasa dalam bidang–bidang bisnis baru. Para Wirausaha yang sangat inovatif bias anya menjadi tokoh dalam bisnis, mereka mempunyai ide-ide dan mampu mencari kombinasi-kombinasi orang dan sumber daya lain untuk mewujudkan idenya. 

II. Mengevaluasi Risiko Anda 
Terdapat beberapa pertanyaan bagi Wirausaha sebelum memutuskan untuk mengambil risiko, yaitu: 
a. Apakah risiko yang mungkin terjadi sepadan dengan hasil usaha tersebut? Bila usaha yang bersifat judi (gambling) keluaran (outcome) yang keluar pasti lebih besar ruginya dari pada untungnya. Untuk memulai usaha harus melalui studi kelayakan untuk memperhitungkan risiko tersebut. 
b. Bagaimana risiko dapat dikurangi? Wirausaha harus bertindak efisien dengan mengurangi pengeluaran dana yang tidak ada kaitannya langsung dengan produksi. Dalam usaha yang masih kecil tidak perlu membuat lapangan tenis dan kolam renang. Bertindak yang efektif sehingga sasaran yang dituju akan mudah dicapai. 
c. Personalia yang bagaimana yang dapat mengurangi risiko ? Setiap kegiatan memerlukan sumber daya manusia. Setiap orang dituntut memberikan produktivitas kerja sebai k mungkin. Hal ini hanya mungkin bila “the right man on the right place”. Untuk meningkatkan produtivitas kerja setiap karyawan perlu dididik, dilatih, ditatar baik formal, informal maupun nonformal. 
d. Apakah Anda takut dalam mengambil risiko ? Orang yang pesimis masih takut. Tapi, bagi Wirausaha yang berpikir positif (optimis), risiko justru menjadi tantangan. Ibarat nelayan yang ingin menangkap ikan besar, ia harus berani menghadapi gelombang di laut terbuka. Meskipun demikian, keberanian tersebut harus diperhitungkan. Bila risiko telah melampaui 50% maka kita telah memasuki gelanggang judi. 
e. Persiapan apa yang Anda lakukan sebelum mengambil risiko ? Yang utama ialah kesiapan sebagai pemimpin yang harus memiliki berbagai keterampilan (lihat risiko teknis). Selanjutnya harus memperbaiki kelemahan-kelemahan yang terjadi untuk seterusnya mengambil strategi yang tepat. 
f. Setelah kemungkinan risiko yang terjadi diperhitungkan, itu harus kita ikuti dengan semangat tidak mengenal menyerah (ausdauer), ibarat kuda menarik pedati yang menempuh jarak puluhan kilometer. Semua dengan perhitungan kuantitatif serta mempertimbangkan keterbatasan sebagai seorang Wirausaha, yaitu kesehatan, waktu, keterampilan, kelelahan, usia, dan sebagainya itulah sebabnya jiwa Wirausaha hanya dimiliki oleh sebagian kecil dari kelompok nelayan. Mereka berani berumah di pinggir pantai meskipun tahu suatu saat gelombang besar akan menghempaskan. Tetapi, mereka tahu bahwa ikan besar tidak ada di darat. 
g. Evaluasilah kebutuhan-kebutuhan sendiri sebelum memutuskan untuk mengambil risiko. Ada beberapa pertanyaan sebelum mengambil keputusan yang mengandung risiko, yaitu: 
• Apakah risiko tersebut sepadan dengan hasilnya ? 
• Bagaimana risiko dapat dikurangi ? 
• Informasi apakah yang diperlukan sebelum risiko diambil ? 
• Orang-oarng dan sumber-sumber daya manakah yang dapat membantu mengurangi risiko dan mencapai tujuan ? 
• Mengapa risiko ini penting ? 
• Apakah ketakutan Anda dalam mengambil risiko ini ? 
• Apakah Anda bersedia berusaha sekuat tenaga untuk mencapai tujuan ini ? 
• Apakah yang akan dapat Anda capai dengan mengambil risiko itu ? 
• Persiapan-persiapan apa yang perlu Anda buat sebelum mengambil risiko itu ? 
• Bagaimana Anda dapat mengetahui secara kuantitatif bahwa tujuan Anda telah tercapai ? 
• Apakah halangan-halangan terbesar dalam mencapai tujuan tersebut ? 

Dalam bisnis, seperti juga dalam hidup, jelas tidak mungkin mengelakkan risiko. Jika Anda mengambil risiko Anda akan lebih yakin pada diri sendiri dan pandangan Anda terhadap pengambilan risiko akan lebih positi f, karena Anda percaya pada kemampuan-kemampuan Anda, dan Anda menerima risiko yang terbaik dalam mencapai tujuan akhir. Data kuantitatif (angka-angka) akan membantu dalam mengevaluasi setiap risiko dan menetapkan tujuan-tujuan dan juga memungkinkan untuk menggariskan kemajuan secara sistematik. Akhirnya melalui data kuantitatif dapat diukur hasil-hasil yang dicapai dalam hubungan dengan ide-ide semula. Perlu diketahui kecermatan dan makna angka-angka tersebut. Data kuantitatif akan mendukung pengetahuan, latar belakang, dan pengalaman dalam mengambil keputusan. 
Proses pemeriksaan diri ini penting dalam proses pengambilan risiko. Daftar pertanyaan di atas merupakan contoh dari serangkaian pertanyaan yang harus dijawab sebelum memikul suatu situasi risiko. Mengambil risiko sebelum mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini mungkin akan berakibat kegagalan.


DAFTAR PUSTAKA 

Anorogo, Panji. Sudantoko, Djoko. 2002, Koperasi, Kewirausahaan, dan Usaha Kecil, Rineka Cipta, Jakarta. 
Danuhadimedjo, R Djatmiko, 1998. Kewiraswastaan Dan Pembangunan, Alfabet, Bandung. 
Davis, Ralph C. 1988. Fundamental Of Top Management , Kogakusha Compay Limited, Tokyo. 
Geoffrey G. Meredith, et al. 2000, Kewirausahaan Teori dan Praktek. Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta.  
Hakim, Rusman, 1998, Dengan Wirausaha Menepis Krisis (Konsep Membangun Masyarakat Entrepreneur Indonesia), PT Elex Media Komputindo Gramedia Jakarta. 
Hasibuan, H. Malayu. 2004. Manajemen (Dasar, Pengertian, Dan Masalah) Bumi Aksara, Jakarta. 
Purnomo, 2001. Kewirausahaan (materi Pokok), Pusat Penerbitan Universitas Terbuka, Jakarta. 
Soemanto, Wasty, 1984, Pendidikan Wirausaha (Sekuncup Ide Profesional) , Bina Aksara, Malang. 
Sumahamijaya, Suparman, 1980. Membina Sikap Mental Wiraswasta, Gunung Jati, Jakarta.




BAB IV
PELUANG, KEBUTUHAN DAN LINGKUNGAN USAHA


1. Sumber-Sumber Potensial Peluang 
Sebagai seorang wirausaha, Kita harus secara terus-menerus melakukan evaluasi terhadap peluang-peluang usaha yang ada. Hal ini dilakukan supaya ide-ide usaha yang masih potensial menjadi peluang usaha yang riil. Melalui proses penyeleksian ide-ide usaha, maka Kita diharapkan dapat mengubah ide usaha yang masih potensial menjadi suatu produk atau jasa riil. Suryana (2003:58) mengemukakan langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk menyeleksi ide usaha adalah sebagai berikut : 

1) Menciptakan Produk Baru dan Berbeda 
Pada saat ide usaha dimunculkan secara nyata dalam bentuk produk atau jasa baru, jelas produk atau jasa tersebut harus berbeda dengan produk atau jasa yang ada di pasar. Produk atau jasa tersebut harus menciptakan nilai bagi pembeli, baik sebagai pelanggan maupun konsumen potensial lainnya. Oleh karena itu, wirausaha harus benar-benar mengetahui perilaku konsumen di pasar. Dalam mengamati perilaku pasar, ada dua unsur pasar yang perlu diperhatikan. 
Pertama, permintaan terhadap barang atau jasa yang dihasilkan. 
Kedua, waktu penyerahan dan waktu permintaan barang atau jasa. 
Seorang wirausaha yang sukses perlu menciptakan produk atau jasa unggul yang memberikan nilai kepada konsumen. Misalnya, apakah produk/jasa tersebut dapat meningkatkan efisien bagi pemakainya ? Berapa besarnya ? Apakah perbaikan dalam efisiensi dapat diketahui juga oleh pembeli potensial ? Berapa persen target yang ingin dicapai dari segmentasi pasar tersebut ? pertanyaan-pertanyaan di atas penting dalam menciptakan peluang.
Apabila wirausaha baru memfokuskan pada suatu segmen pasar tertentu, maka secara khusus peluang itu akan sangat bergantung pada perilaku segmen pasar tersebut. Kemampuan untuk meperoleh peluang itu sendiri sangat bergantung pada kemampuan wirausaha untuk menganalisis pasar yang meliputi aspek-aspek : 
a) Kemampuan untuk menganalisis demografi pasar 
b) Kemampuan untuk menganalisis sifat serta tingkah laku pesaing 
c) Kemampuan untuk menganalisis keunggulan bersaing pesaing dan kevakuman pesaing yang dianggap dapat menciptakan peluang. 

2) Mengamati Pintu Peluang 
Seorang wirausaha harus selalu mengamati potensi-potensi yang dimil iki pesaing, misalnya kemungkinan pesaing mengembangkan produk baru, pengalaman keberhasilan dalam mengembangkan produk baru, dukungan keuangan dan keunggulan-keunggulan yang dimiliki pesaing di pasar. Kemampuan pesaing untuk mempertahankan posisi pasar dapat dievaluasi dengan menggunakan kelemahan-kelemahan dan risiko pesaing dalam menanamkan modal barunya. Untuk mengetahui kelemahan, kekuatan, dan peluang yang dimiliki pesaing dan peluang yang dapat diperoleh, ada beberapa pertanyaan penting yaitu 

a) Pertanyaan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan pesaing dalam pengembangan produk yang meliputi : 
Bagaimana kemampuan teknik yang dimiliki pesaing dalam pengembangan produk jika dibandingkan kemampuan teknik yang kita miliki ? 
Bagaimana track record pesaing untuk mencapai sukses dalam pengembangan produk ? 
b) Pertanyaan untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan pesaing tentang kapabilitas dan sumber -sumber yang dimiliki, meliputi : 
Sejauh mana kemampuan dan kesediaan pesaing untuk melakukan investasi dalam pengembangan produk baru dan produk lama ? Keunggulan pasar apa yang dimiliki oleh pesaing ?
c) Pertanyaan untuk menentukan apakah pintu peluang ada atau tidak, meliputi : 
Sejauh mana kecepatan perusahaan membawa produk ke pasar dapat mendahului pesaing ? 
Apakah kapabilitas dan sumber-sumber yang dimiliki perusahaan cukup untuk membawa produk ke pasar yang sedang dikuasai pesaing ? 
Apakah perusahaan memiliki kekuatan yang cukup untuk menguasai serangan pesaing ? 

3) Menganalisis Produk dan Proses Produksi Secara Mendalam 
Analisis ini sangat penti ng untuk menjamin apakah jumlah dan kualitas produk yang dihasilkan memadai atau tidak. Berapa biaya yang dikeluarkan untuk membuat produk tersebut ? Apakah biaya yang dikeluarkan oleh kita lebih efisien daripada biaya yang dikeluarkan oleh pesaing ? 

4) Menaksir Biaya Awal. 
Berapa besarnya biaya awal yang diperlukan oleh usaha baru ? Darimana sumbernya dan untuk apa digunakan ? Berapa yang diperlukan untuk operasi, untuk perluasan, dan untuk biaya lainnya ? 

5) Memperhitungkan Risiko yang Mungkin Terjadi. 
Beberapa risiko yang mungkin terjadi, misalnya risiko teknik, risiko finansial, dan risiko pesaing. Risiko teknik berhubungan dengan proses pengembangan produk yang cocok dengan yang diharapkan atau menyangkut suatu objek penentu, apakah ide secara aktual dapat ditransformasi menjadi produk yang siap dipasarkan dengan kapabilitas dan karakteristiknya. 
Risiko pesaing adalah kemampuan dan kesediaan pesaing untuk mempertahankan posisinya di pasar. Risiko pesaing meliputi pertanyaan sebagai berikut :
a) Kemungkinan kesamaan dan keunggulan produk apa yang dikembangkan pesaing ? 
b) Tingkat keberhasilan apa yang telah dicapai oleh pesaing dalam pengembangan produknya ? 
c) Seberapa besar dukungan keuangan pesaing bagi pengembangan produk baru dan produk yang diperkenalkannya ? 
d) Apakah perusahaan baru cukup kuat untuk mengatasi serangan-serangan pesaing ? 

Risiko finansial adalah risiko yang timbul sebagai akibat ketidakcukupan finansial/dana baik dalam tahap mengembangankan produk baru maupun dalam menciptakan dan mempertahankan perusahaan untuk mendukung biaya produk baru. 
Analisis SWOT yaitu analisis tentang Strength (kekuatan), Weakness (kelemahan), Opportunity (peluang), dan Threat (ancaman) sangat penting dalam menciptakan keberhasilan perusahaan baru. Usaha itu dapat diibaratkan “Seperti Perang”. Siapa lambat mengambil keputusan akan menguntungkan posisi lawan. 
Oleh karena itu, risiko usaha hanya ada dua kemungkinan, yaitu sukses atau gagal. Jika kita tidak ingin gagal, maka segala keputusan harus diperhitungkan secermat mungkin dengan memperhatikan istilah dalam Bahasa Indonesia yaitu “Kekepan” (kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman).

Kekuatan (strength) : 
- Pengetahuan tentang usaha 
- Keterampilan mengelola usaha 
- Permodalan 
- Dukungan relasi dan keluarga 
Kelemahan :
- Pengetahuan apa yang masih diperlukan
Peluang :
- Kekuatan pasar 
- Kelangsungan pengadaan 
- Produksi 
? Ancaman :
- Siapa pesaing kita 
- Seberapa jauh kekuatan mereka dsbnya 
Setelah Kita yakin bahwa kita memiliki kekuatan/kemampuan untuk memanfaatkan peluang usaha yang ada, segera ambil keputusan dengan cepat dan tepat, sehingga kita tidak menderita “risiko kerugian” 

2. Permasalahan Kebutuhan Usaha 
Dalam struktur masyarakat kita, kehidupan berusaha sendiri/berbisnis belum mendapat posisi terhormat. Sehingga, sebagian besar masyarakat kita lebih bangga menjadi pekerja/buruh atau karyawan pada orang lain 
dibandingkan dengan berusaha sendiri. Apabila ada orang bertanya, setelah lulus Kuliah Kita mau bekerja apa ? Jawabannya sudah dapat dipastikan, sebagian besar dari Kita akan melamar pekerjaan ke perusahaan-peruasahaan swasta untuk menjadi karyawan perusahaan tersebut atau melamar ke instansi pemerintah untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Mungkin hanya sebagian kecil dari Kita yang bercita-cita untuk berusaha mandiri/berwirausaha, mengapa ? 
Berdasarkan hasil analisis kebutuhan dan lingkungan usaha di masyarakat, sebagian besar wirausaha kita tidak mau mengakui kelemahan dan kegagalan usahanya. Meskipun pembangunan negara kita sudah berjalan lama, tetapi nasib wirausaha khususnya pengusaha kecil belum begitu baik dan hasilnya kurang memuaskan. Alasan tidak berkembangnya usaha mereka adalah:
1. Kurangnya modal usaha. 
2. Kurangnya bimbingan dari pemerintah. 
3. Sebagai besar usaha didominasi orang Tionghoa. 
4. Usaha adalah dominasi orang yang bermodal kuat. 
5. Usaha didominasi modal orang asing. 

Dari hasil penelitian ditemukan alasan utama kegagalan dan kelemahan dalam bidang usaha adalah 
1) latar belakang usaha yang kurang memadai. 
2) kurangnya pengalaman dalam usaha. 
3) struktur ekonomi yang belum cocok dengan kondisi ekonomi dunia modern. 
4) hambatan nilai-nilai usaha di dalam masyarakat. 
5) latar belakang pendidikan wirausaha yang kurang memadai. (Tedjasutisna, 2004:106) 

Perkembangan usaha setiap tahun banyak yang lahir dan bangkrut terutama pada perusahaan kecil. Setiap tahunnya banyak generasi muda yang menjadi wirausaha baru, baik dalam skala usaha kecil maupun dalam 
skala usaha besar. Tetapi, ada wirausaha yang tidak bertahan lama, bahkan ada usaha gagal. Kurang mapannya kebutuhan dan lingkungan usaha di dalam masyarakat akan terbukti ketika sang pelopor usaha sudah tua, sehingga perusahaan ikut mengalami proses ketuaan dan kebangkrutan. Kegagalan wirausaha disebabkan oleh kelemahan dalam bidang organisasi, keuangan, administrasi, pembukuan, dan pemasaran. 


3. Lingkungan Usaha 
Lingkungan usaha tidak bisa diabaikan dengan begitu saja. Lingkungan usaha dapat menjadi pendorong maupun penghambat jalannya perusahaan. Lingkungan yang dapat mempengaruhi jalannya usaha/perusahaan adalah lingkungan mikro dan lingkungan makro. (Suryana, 2003:75) 

a. Lingkungan Mikro 
Lingkungan mikro adalah lingkungan yang berkaitan dengan opersional perusahaan, seperti pemasok, karyawan, pemegang saham, majikan, manajer, direksi, distributor, pelanggan/konsumen dan lain-lain. Jika hal ini sejalan dengan pergeseran strategi pemasaran, yaitu dari laba perusahaan (shareholder) ke manfaat bagi stakeholder, maka lingkungan internal baik perorangan maupun kelompok yang mempunyai kepentingan pada perusahaan akan sangat berpengaruh. Yang termasuk perorangan, kelompok perorangan, kelompok yang 
berkepentingan terhadap perusahaan dan berharap kepuasan dari perusahaan (stakeholder satisfaction) di antaranya : 
a. Pemasok (supplier)
Pemasok berkepentingan dalam menyediakan bahan baku kepada perusahaan. Agar perusahaan dapat memuaskan pembeli/pelanggan, maka perusahaan tersebut harus memproduksi barang dan jasa yang bermutu tinggi. Hal ini bisa dicapai apabila bahan baku dari pemasok berkualitas, tepat waktu, dan cukup jumlahnya. 
b. Pembeli atau Pelanggan 
Pembeli atau pelanggan merupakan lingkungan yang sangat berpengaruh karena dapat memberi informasi bagi perusahaan. Konsumen yang kecewa karena tidak memperoleh manfaat dari perusahaan, misalnya akibat mutu, harga, dan waktu yang tidak memadai akan cenderung untuk pindah dan berlangganan kepada 
perusahaan lain. 
c. Karyawan 
Karyawan adalah orang pertama yang terlibat dalam perusahaan. Karyawan akan berusaha bekerja dengan baik apabila tamemperoleh manfaat dari perusahaan. Semangat kerja yang tinggi, pelayanan yang baik, dan produktivitas yang tinggi akan terjadi apabila mereka mendapat gaji yang cukup, masa depan yang terjamin dan kenaikan jenjang kepangkatan yang teratur. Jika tidak terjadi, maka karyawan akan bekerja kurang termotivasi, kurang produktif, kurang kreatif, dan akan merugikan perusahaan. 
d. Distributor 
Distributor merupakan lingkungan yang sangat penting dalam perusahaan karena dapat memperlancar penjualan. Distributor yang kurang mendapat manfaat dari perusahaan akan menghambat pengiriman barang sehingga barang akan terlambat datang ke konsumen atau pasar.

b. Lingkungan Makro 
Yang dimaksud dengan lingkungan makro adalah lingkungan di luar perusahaan yang dapat mempengaruhi daya hidup perusahaan secara keseluruhan, yang meliputi : 
a. Lingkungan Ekonomi 
Adanya kekuatan ekonomi lokal, regional, nasional, dan global akan berpengaruh terhadap peluang usaha. Hasil penjual an dan biaya perusahaan banyak dipengaruhi oleh lingkungan ekonomi. Variabel -variabel ekonomi, seperti tingkat inflasi, tingkat bunga, dan fluktuasi mata uang asing baik langsung maupun tidak akan berpengaruh pada perusahaan. Inflasi atau kenaikan harga-harga akan mempersulit para pengusaha dalam memproyeksikan usahanya. Demikian juga, kenaikan suku bunga dan fluktuasi mata uang asing akan menyulitkan perusahaan dalam mengkalkulasi keuangannya
b. Lingkungan Teknologi 
Kekuatan teknologi dan kecenderungan per ubahannya sangat berpengaruh pada perusahaan. Perubahan teknologi yang secara drastis dalam abad terakhir ini telah memperluas skala industri secara keseluruhan. Teknologi baru telah menciptakan produk-produk baru dan modifikasi produk lainnya. Demikian juga, bidang usaha jasa telah banyak dipengaruhi oleh kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi dalam menciptakan barang dan jasa telah mampu memenuhi kebutuhan dan permintaan pasar secara cepat. Oleh karena itu, kemampuan pesaing untuk menciptakan nilai tambah secara cepat melalui perubahan teknologi harus diperhatikan oleh perusahaan tersebut. 
c. Lingkungan Sosiopolitik 
Besarnya kekuatan sosial dan politik, serta kecenderungannya perlu diperhatikan untuk menentukan seberapa jauh perubahan tersebut berpengaruh pada tingkah laku masyarakat. Perubahan kekuatan politik berpengaruh terhadap perubahan pemerintahan dan secara tidak langsung berdampak pada perubahan ekonomi. Misalnya, adanya kekacauan politik dan kerusuhan yang terjadi selalu membawa sentimen pasar. Perubahan investasi pemerintah dalam bidang teknologi juga sangat berpengaruh pada kondisi ekonomi. Namun, lingkungan ini akan sangat bermanfaat apabila wirausaha pkitai memanfaatkan peluang dari lingkungan tersebut.
d. Lingkungan Demografi dan gaya Hidup 
Banyaknya produk dan jasa yang dihasilkan oleh wirausaha seringkali dipengaruhi oleh perubahan demografi dan gaya hidup. Kelompok-kelompok masyarakat, gaya hidup, kebiasaan, pendapatan, dan struktur masyarakat bisa menjadi peluang. Pada prinsipnya, semua lingkungan di atas bisa menciptakan peluang bagi wirausaha.




KEBERHASILAN USAHA, MENENTUKAN BIDANG USAHA DAN MEMULAI USAHA

1. Keberhasilan Usaha 
Pada dasarnya setiap wirausaha mempunyai peluang untuk maju. Tetapi, kenyataannya peluang usaha tersebut tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Pada dasarnya wirausaha tidak berusaha menggali peluang yang ada. Untuk menggali peluang usaha, seorang wirausaha harus berpikir secara positif dan kreatif di antaranya : 
a. harus mempunyai pilihan dan yakin bahwa usaha bisa dilaksanakan 
b. harus menerima gagasan-gagasan baru di dalam dunia usaha 
c. harus menalukan diri sendiri 
d. harus mendengarkan saran-saran orang lain 
e. harus menyemangati dan mengauli 

Peluang usaha bukanlah suatu peluang, jika Kita tidak sanggup menemukan tindakan yang mungkin untuk mewujudkannya. Peluang usaha dapat dicari pada semua jenis usaha yang Kita inginkan dan yang menguntungkan. Pembangunan Indonesia terus berjalan dan berkembang dengan pesat. Meningkatnya jumlah kota-kota besar, dapat menyebabkan terjadinya perubahan dan perkembangan dalam bidang usaha. Dengan mempelajari dinamika kehidupan masyarakat yang sudah maju, Kita harus mencari kesempatan, kira-kira usaha apa yang baik dan cocok serta memberi peluang yang menguntungkan. 
Usaha yang memberi peluang untuk memajukan dan menguntungkan adalah usaha yang mampu meraih keuntungan dengan cara menciptakan produk-produk yang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Peluang dan kesempatan yang ada dalam usaha, banyak sekali dan akan memberikan suatu keuntungan. Adapun yang menjadi modal utama untuk meraih keberhasilan, di antaranya : 
a. pola pikir yang mengarah pada sikap dan kemauan untuk sukses 
b. kepribadian yang kuat untuk sukses 
c. kecakapan dalam mengelola usaha untuk sukses 
d. menerapkan menajemen usaha yang baik 
e. berani memikul segala resiko dalam usaha 

Secara lebih terperinci, keberhasilan usaha yang dikelola seorang wirausahawan dapat diidentifikasi sebagai berikut : 
a. keyakinan dalam berusaha 
b. sikap mental yang positif dalam berusaha 
c. Keyakinan penuh terhadap diri sendiri 
d. Tingkah laku yang bertanggung jawab 
e. Kreatifitas dan inovatif 
f. Sasaran besar yang menantang dalam berusaha 
g. Keunggulan dalam berusaha 
h. Pengembangan diri 
i. Pengelolaan waktu yang efektif dan efisien 
j. Kemampuan berusaha 
Keberhasilan seorang wirausaha dalam menjalankan usahanya, tidak hanya tergantung pada tingkat pendidikan yang mereka miliki. Pada kenyataannya tidak sedikit wirausaha yang berhasil dalam mengelola usaha dari golongan pendidikan SD,SMP atau SMU

Jadi, keberhasilan seorang wirausaha di dalam mengelola usahanya dapat diidentifikasi berdasarkan pada : 
a. kemauan serta tindakan-tindakan yang nyata 
b. keberanian untuk berinisiatif 
c. kecakapan atau keahlian 
d. keaktifitasan dan percaya diri 
e. kependidikan dan pengalaman
“Bila kita takut terhadap risiko, maka tindakan tidak mau mengambil risiko akan menjadi tindakan yang justru akan penuh resiko” Peter F. Drucker

2. Kegagalan usaha 
Keberhasilan atau kegagalan wirausaha sangat bergantung pada kemampuan pribadi wirausaha. Zimmerer (1996) dalam Suryana (2003:44) mengemukan beberapa faktor yang menyebabkan wirausaha gagal dalam menjalankan usaha barunya sebagai berikut. 

1. Tidak kompeten dalam manajerial. 
Tidak kompeten atau tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan mengelola usaha merupakan faktor penyebab utama yang membuat perusahaan kurang berhasil. 
2. Kurang berpengalaman baik dalam kemampuan teknik, kemampuan memvisualisasikan usaha, kemampuan mengkoordinasikan, keterampilan mengelola sumber daya manusia, maupun kemampuan 
mengintegrasikan operasi perusahaan. 
3. Kurang dapat mengendalikan keuangan. 
Agar suatu usaha berhasil dengan baik, maka faktor yang paling utama dalam keuangan adalah memelihara aliran kas. Mengatur pengeluaran dan penerimaan secara cermat. Kekeliruan dalam memelihara aliran kas akan menghambat operasional perusahaan dan mengakibatkan perusahaan tidak lancar. 
4. Gagal dalam perencanaan. 
Perencanaan merupakan titik awal dari suatu kegiatan. Jika kita mengalami sekali kegagalan dalam perencanaan maka akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaan. 
5. Lokasi yang kurang memadai. 
Letak lokasi usaha yang strategis merupakan faktor yang menentukan keberhasilan usaha. Lokasi yang tidak strategis dapat mengakibatkan perusahaan sukar beroperasi karena kurang efisien. 
6. Kurangnya pengawasan peralatan. 
Pengawasan erat kaitannya dengan efisiensi dan efektivitas. Kurang pengawasan dapat mengakibatkan pengunaan alat tidak efisien dan tidak efektif. 
7. Sikap yang kurang sungguh-sungguh dalam berusaha! Sikap yang setengah-setengah terhadap usaha akan mengakibatkan usaha yang dilakukan menjadi labil dan gagal. Dengan sikap setengah hati, kemungkinan gagal menjadi besar. 
8. Ketidak mampuan dalam melakukan peralihan/transisi kewirausahaan. 
Wirausaha yang kurang siap menghadapi dan melakukan perubahan, tidak akan menjadi wirausaha yang berhasil. Keberhasilan dalam berwirausaha hanya bisa diperoleh dengan berani mengadakan 
perubahan dan membuat peralihan setiap waktu. Selain faktor yang membuat kegagalan wirausaha, Zimmerer (1996) dalam Suryana (2003:45) mengemukakan beberapa potensi yang membuat seseorang mundur dari usahanya, yaitu : 

1. Pendapatan yang tidak menentu, baik tahap awal maupun tahap pertumbuhan, berbisnis tidak ada jaminan untuk terus memperoleh pendapatan yang berkesinambungan. Dalam kewirausahaan, sewaktu-waktu bisa rugi dan sewaktu-waktu bisa untung. Kondisi yang tidak menentu dapat membuat seseorang mundur dari kegiatan berwirausaha. 
2. Kerugian akibat hilangnya modal investasi. Tingkat kegagalan bagi usaha baru sangatlah tinggi. Menurut Yuyun Wirasasmita (1998), tingkat mortalitas/kegagalan usaha kecil di Indonesia mencapai 78 % . 
Kegagalan investasi mengakibatkan seseorang mundur dari kegiatan berwirausaha. Bagi seorang wirausaha, kegagalan sebaiknya dipkitang sebagai pelajaran berharga. 
3. Perlu kerja keras dan waktu yang lama. Wirausaha biasanya bekerja sendiri mulai dari pembelian, pengolahan, penjualan, dan pembukuan. Waktu yang lama dan keharusan bekerja keras dalam berwirausaha 
mengakibatkan orang yang ingin menjadi wirausaha menjadi mundur. Ia kurang terbiasa dalam menghadapi tantangan. Wirausaha yang berhasil pada umumnya menjadikan tantangan sebagai peluang yang harus dihadapi dan ditekuni. 
4. Kualitas kehidupan yang tetap rendah meskipun usahanya mantap. 
Kualitas kehidupan yang tidak segera meningkat dalam usaha, akan mengakibatkan seseorang mundur dari kegiatan berwirausaha. Misalnya, pedagang yang kualitas kehidupannya tidak meningkat, ia akan mundur dari usaha dagangnya dan masuk ke usaha lain. Berdasarkan analisis lingkungan usaha, sebenarnya wirausaha tidak perlu mengalami kegagalan dalam usahanya, apabila sejak mulai usahanya dapat menganalisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman (SWOT) atau Kekepan. Meskipun risiko kegagalan dalam usaha 
selalu ada, tetapi para wirausaha mengambil risiko itu dengan jalan menerima tanggung jawab dan tindakannya. 
“Apa yang orang lihat dari kesuksesan saya cuma 1%, tapi 99% yang tidak terlihat adalah kegagalan saya.” (Soichiro Honda) 
“Setiap orang harus minimal pernah gagal sekali, paling tidak sebelum berusia 40 tahun…. Semakin parah kegagalan Kita, semakin besar peluang meraih sukses di kemudian hari … Sebagian orang tua hawatir anaknya gagal. Saya cemas justru karena anak saya sudah berumur lebih dari 30 tahun, tetapi belum pernah gagal.” (Al Neutharth, pendiri USA Today)
Dalam menghadapi era globalisasi dan liberalisasi perdagangan dunia, wirausaha harus terus meningkatkan kualitas kinerja di dalam usahanya. 
Menurut Korakaya dan Kobu dalam Ating Tedjasutisna (2004:109) mengidentifikasi tiga kelompok permasalahan yang menyebabkan kegagalan usaha, yaitu 
1. Kelompok pertama berkaitan dengan produk dan pasar, antara lain : 
a. waktu peluncuran produk yang kurang tepat; 
b. desain produk yang tidak sesuai dengan keinginan konsumen; 
c. strategi distribusi produk yang tidak tepat; 
d. tidak mampu mendefinisikan usaha yang sedang dijalankan; 
2. Kelompok kedua berkaitan dengan masalah finansial yang meliputi : 
a. terlalu rendah dalam memperhitungkan dana; 
b. terlalu dini berutang dalam jumlah besar; 
3. Kelompok ketiga berkaitan dengan masalah manajemen, yaitu 
a. terlalu bersikap nepotisme; 
b. sumber daya manusia yang rendah; 
c. tidak menggunakan konsep tim. 


Menangani ketidakpastian dan keraguan merupakan ciri-ciri penting dari seorang wirausaha. Kita haruslah mempunyai sikap positif terhadap pengambilan keputusan. Sikap positif ini akan membantu kita menggunakan pengambilan keputusan sebagai suatu kekuatan positif dalam mencapai tujuan, dan cita-cita organisasi kita. (Meredith et al., 2000:61)

3. Menentukan Bidang Usaha 
Mengambil keputusan untuk memulai usaha dan menjalankan usaha merupakan sesuatu yang mudah. Kapan pun Kita mau, Kita dapat segera memulai membuka usaha. Justru yang sulit adalah menentukan 
usaha apa yang akan Kita geluti. Oleh karena itu para wirausaha biasanya harus berpikir sendiri tentang ide usaha yang paling cocok untuk mereka sendiri. Ide usaha barang kali dapat muncul dari dua jalur, yaitu 
inspirasi dan hasil analisis. Dari inspirasi meliputi, antara lain : 
1. Ada kebutuhan pasar yang tidak dapat dipenuhi oleh pemasok (supplier ) yang sudah ada. 
2. Sebuah jalan keluar baru dari masalah yang ada, penemuan baru, dan sebuah proses atau metode baru. 

Sedangkan, hasil analisis adalah dengan menganalisis minat dan kemampuan (kompetensi) usaha yang Kita miliki. Untuk menentukan bidang usaha yang berpotensi sukses sekaligus sesuai dengan minat Kita, cara terbaik adalah melakukan Evaluasi Pribadi. Dalam hal ini terdapat banyak variabel atau ciri pribadi yang perlu 
Kita pertimbangkan sebelum menetapkan usaha yang akan kita geluti. Berikut ini adalah 15 variabel yang perlu Kita pertimbangkan dalam menentukan bidang usaha, yaitu : 

1) Pendapatan 
Dari bidang usaha yang Kita tentukan nanti, berapa besarnya pendapatan yang Kita inginkan ? Berdasarkan besarnya pendapatan yang Kita inginkan, mulailah Kita menyeleksi pilihan bidang usaha yang terpikirkan. Satu bidang usaha itu Kita perhitungkan. Sebuah cara adalah dengan menyelidiki orang-orang lain yang telah menekuni bidang usaha tersebut. Berapa pendapatanya ? Jika masih di bawah pendapatan yang Kita inginkan, maka Kita jangan memilih bidang usaha tersebut.
2) Jual Beli 
Apakah Kita menyukai kegiatan jual beli ? jika tidak, maka Kita jangan pilih bidang usaha yang mengharuskan Kita melakukan kegiatan jual beli. 
3) Manusia pagi atau manusia malam 
Apakah Kita termasuk manusia malam atau manusia pagi ? Jika Kita senang bangun pagi hari, maka pilihlah usaha yang mengharuskan Kita bangun pagi, misalnya membuka usaha restoran atau warung nasi. Sebaliknya, jika Kita merupakan manusia malam, maka pilihlah usaha bus malam, cafĂ© atau hiburan malam. 
4)) Perjalanan 
Apakah Kita termasuk orang yang suka melakukan perjalanan atau orang yang betah tinggal di rumah ? Hal ini perlu diperhatikan sebab usaha yang memerlukan perjalanan jauh, tidak akan berhasil dikelola oleh orang yang lebih senang tinggal di rumah atau sebaliknya. 
5) Karyawan 
Senangkah Kita memimpin orang ? Sebelum Kita menentukan pilihan terhadap suatu usaha, perhitungkan dengan matang apakah usaha ini nantinya akan memerlukan kepemimpinan Kita ? Jika ya, maka kiranya Kita menyukai tugas memimpin orang banyak ? 
6) Hari libur 
Jika Kita termasuk orang yang biasa menghabiskan hari-hari libur bersama keluarga atau kawan-kawan, barang kali Kita tidak cocok untuk memilih bidang usaha yang akan menyita waktu libur Kita. 
7) Status 
Pilihlah dan tentukan bidang usaha yang dapat menopang usaha Kita. Jika Kita menganggap usaha tersebut akan menjatuhkan gengsi maka janganlah Kita paksakan diri.
8) Bekerja bersama keluarga 
Sebelum menentukan usaha, Kita perlu memikirkan apakah Kita merencanakan untuk mengajak anggota keluarga Kita ikut menangani usaha ? Perlukah mereka dilibatkan agar usaha Kita nanti sukses ? 
Apakah mereka mendukung gagasan Kita untuk membuka sebuah usaha ? 
9) Latihan khusus 
Untuk menggarap usaha yang sedang Kita pertimbangkan, perlukah Kita menambah pengetahuan khusus ? Bersediakah Kita mempelajari pengetahuan atau keterampilan baru itu sekitainya memang benar-benar dibutuhkan ? Jika ya, maka biaya untuk itu masih memadai ditinjau dari sudut keuntungan yang akan didapat ? 
10.Waktu kerja lebih panjang 
Banyak pilihan bidang usaha yang menuntut jam kerja lebih panjang dibandingkan kumidian jam kerja Kita sekarang. Mampukan Kita mengatasi perubahan gaya hidup akibat bertambahnya jam kerja itu ? 
Mampukah fisik Kita menangani beban kerja yang lebih besar dibandingkan sekarang ? atau jika Kita hendak mengerjakan usaha itu sebagai penambah usaha yang telah ada, dapatkah Kita menyediakan waktu yang dituntut oleh bidang usaha baru tersebut ? Bila ya, maka Kita masih mampukah secara fisik, mental, dan sosial 
menangani kedua-duanya ? 
11.Potensi di masa depan 
Sudahkah Kita mempelajari potensi usaha yang dipertimbangkan itu ? Bagaimana kemungkinan pasarnya ? Akan Meluaskah atau ada mandeg, akan menyempit ? Jika Kita menghendaki usaha yang sedang – sedang saja, maka Kita tidak usah berkembang dengan pesat, maka analisis terhadap potensi usaha di masa depan itu memang begitu tidak perlu. Tetapi, jika kita menghendaki usaha yang berkembang pesat, tumbuh menjadi bidang usaha besar, maka potensi usaha itu sangat perlu Kita perlu mempertimbangkan. 
12.Stamina fisik 
Akankah bidang usaha yang sedang Kita mempertimbangkan hasilusaha yang menuntut ketahanan (stamina) fisik yang tinggi ? Bila ya, maka mampukah Kita memenuhinya ? 
13.Berhubungan dengan orang 
Jika Kita tidak menyukai berhubungan dengan segala macam orang-orang lain, maka Kita tidak cocok membuka usaha di bidang penjualan eceran. 
14.Mengatur Jam Kerja Kita Sendiri 
Jika Kita termasuk orang yang ingin bebas mengatur jam kerja, maka Kita tak cocok membuka usaha toko yang harus buka pada jam-jam tertentu. 
15. Campur Tangan Pemilik 
Kita akan ikut campur tangan dalam pengelolaan usaha yang sedang Kita pertimbangkan ? Bila ya, maka persoalan manajemen harus dipertimbangkan. Tetapi, bila tidak, maka apakah usaha mempertimbangkan itu menghasilkan cukup banyak uang untuk menyewa seorang manajer sebagai pengelola usaha bagi kita ? 
Mampukah kita membayar seorang manajer secara wajar dan kita sendiri masih memperoleh pendapatan yang kita inginkan ? Beberapa bidang usaha yang dapat Kita pilih, antara lain : 

1. Bidang usaha pertanian, yang meliputi usaha pertanian, kehutanan, perikanan, dan perkebunan. 
2. Bidang usaha pertambangan, meliputi usaha galian pasir, galian anah, batu, bata, dan lain-lain. 
3. Bidang usaha pabrikasi meliputi usaha industri, perakitan, dan sintetis. 
4. Bidang usaha konstruksi meliputi usaha konstruksi bangunan, jembatan, pangairan, dan jalan raya. 
5. Bidang usaha perdagangan meliputi usaha perdagangan kecil, grosir, agen, dan ekspor-impor. 
6. Bidang usaha jasa keuangan, meliputi usaha perbankan, asuransi, dan koperasi. 
7. Bidang usaha jasa perorangan, meliputi usaha potong rambut, salon, loundry dan catering. 
8. Bidang usaha jasa-jasa umum, meliputi usaha pengangkutan, pergudangan, wartel, dan distribusi. 
9. Bidang jasa wisata, meliputi tiga kelompok usaha wisata, yaitu 
a. Kelompok usaha jasa pariwisata, meliputi : 
- Jasa biro perjalanan wisata 
- Jasa agen perjalanan wisata 
- Jasa pramuwisata 
- Jasa konsultan pariwisata 
- Jasa informasi pariwisata 
b. Pengusahaan objek dan daya tarik wisata, meliputi : 
- Pengusahaan objek dan daya tarik wisata alam 
- Pengusahaan objek dan daya tarik wisata budaya 
- Pengusahaan objek dan daya tarik wisata minat khusus 
c. Usaha sarana wisata, meliputi : 
- Penyediaan akomodasi 
- Penyediaan makanan dan minuman 
- Penyediaan angkutan wisata 
- Penyediaan sarana wisata dan sebagainya
4. Memulai Usaha 
Ada beberapa cara untuk memulai suatu usaha atau memasuki dunia usaha, yaitu : 
1. Membeli bisnis yang sudah ada 
2. Membeli aset usaha yang gagal 
3. Mendirikan usaha baru 
a. Sangat mirip dengan apa yang telah ada 
b. Produk/jasa yang unik atau khusus 
4. Membeli hak kelola (francise) 
5. Memulai sebuah kerjasama 
Menurut Suryana (2003:69), ada tiga cara yang dapat dilakukan untuk memulai suatu usaha atau memasuki dunia usaha, yaitu : 
a. Merintis usaha baru (starting), yaitu membentuk dan mendirikan usaha baru dengan menggunakan modal, ide, organisasi, dan manajemen yang dirancang sendiri. Ada tiga bentuk usaha baru yang dapat dirintis : 

1) Perusahaan milik sendiri (sole proprietorship), yaitu bentuk usaha yang dimiliki dan dikelola sendiri oleh seseorang; 
2) Persekutuan (partnership), yaitu suatu kerjasama (asosiasi) dua orang atau lebih yang secara bersama-sama menjalankan usaha bersama. 
3) Perusahaan berbadan hukum (corporation), yaitu perusahaan yang didirikan atas dasar badan hukum dengan modal saham-saham. 

Untuk memulai usaha, seorang calon wirausaha harus memiliki kompetensi usaha yang diperlukan meliputi : 
1) Kemampuan teknik, yaitu kemampuan tentang bagaimana memproduksi barang dan jasa serta cara menyajikannya. 
2) Kemampuan pemasaran, yaitu kemampuan tentang bagaimana menemukan pasar dan pelanggan serta harga yang tepat. 
3) Kemampuan finansial, yaitu kemampuan tentang bagaimana memperoleh sumber dana dan cara menggunakannya. 
4) Kemampuan hubungan, yaitu kemampuan tentang bagaimana cara mencari, memelihara, mengembangkan relasi, dan kemampuan komunikasi serta negosiasi. 

b. Membeli perusahaan orang lain (buying), yaitu membeli perusahaan yang telah didirikan atau dirintis dan diorganisasikan oleh orang lain dengan nama (goodwill) dan organisasi usaha yang sudah ada. 
Memang wirausaha tidak mudah untuk membeli perusahaan yang sudah ada. Wirausaha yang akan membeli perusahaan selain harus mepertimbangkan berbagai keterampilan, kemampuan, dan kepentingan pembelian perusahaan tersebut, pembeli juga harus memperhatikan sumber-sumber potensial perusahaan yang akan 
dibeli, di antaranya : 
1) Pedagang perantara penjual perusahaan yang akan dibeli. 
2) Bank investor yang melayani perusahaan 
3) Kontak-kontak perusahaan seperti pemasok, distributor, pelanggan dan hal lainnya yang berkaitan erat dengan kepentingan perusahaan yang akan dibeli. 
4) Jaringan kerja sama usaha dan sosial perusahaan yang akan dibeli 
5) Daftar majalah dan jurnal perdagangan yang digunakan oleh perusahaan yang akan dibeli. 

c. Kerja sama manajemen (franchising), yaitu suatu kerja sama antara entrepreneur (franchisee) dengan perusahaan besar yang memberikan lisensi (franchisor/parent company) dalam mengadakan persetujuan 
jual beli hak monopoli untuk menyelenggarakan usaha (waralaba). 
Dalam franchising, perusahaan yang diberi hak monopoli untuk menyelenggarakan perusahaan seolah-olah merupakan bagian dari perusahaan pemberi lisensi yang dilengkapi dengan nama produk, merek dagang, dan prosedur penyelenggaraan secara stkitar. Perusahaan induk (franchisor) mengizinkan franchisee untuk 
menggunakan nama, tempat/daerah, bimbingan, latihan karyawan, periklanan, dan perbekalan material yang berlanjut. Kerja sama ini biasanya dengan dukungan awal, meliputi salah satu atau keseluruhan dari aspek-aspek sebagai berikut : 
a. pemilihan tempat. 
b. rencana bangunan. 
c. pembelian peralatan. 
d. pola arus kerja. 
e. pemilihan karyawan. 
f. Periklanan. 
g. Grafik 
h. Bantuan pada acara pembukaan. 

Selain dukungan awal, bantuan lain yang berlanjut dapat pula, meliputi faktor-faktor sebagai berikut : 
1) pencatatan dan akuntansi. 
2) Konsultasi. 
3) Pemeriksaan dan stkitar. 
4) Promosi. 
5) pengendalian kualitas. 
6) Riset. 
7) nasihat hukum. 
8) material lainnya. 
Dalam kerjasama franchising, perusahaan induk memberikan bantuan manajemen secara berkesinambungan. Keseluruhan citra (goodwill), pembuatan, dan teknik pemasaran diberikan kepada perusahaan 
franchisee. Tidak sedikit bentuk franchising yang dilakukan antar negara. Contohnya McDonald’s, Kentucky Fried Chicken (KFC), Fizza Hut dll. 
Di Indonesia bentuk kerjasama yang mirip franchising berbeda adalah sistem bapak angkat atau kemitraan. Dalam sistem bapak angkat atau kemitraan ini, kebanyakan hanya diberikan bantuan modal, pemasaran, dan bimbingan usaha. 

Daftar Pustaka 

Ating Tedjasutisna, 2004, Memahami Kewirausahaan SMK Tingkat 1, Berdasarkan Kurikulum 2004, Bandung, CV. Armico. 

Bernt Adelstat dan Nurhayat Indra (Ed), 1993, Pengembangan Bisnis Koperasi, Manual Pelatih, Jakarta, Kerjasama PUSLATKOP & PK Depkop dan PPK Ri dengan ILO CO - OPERATIVE PROJECT. 

Buchari Alma, 2004, Kewirausahaan, Bandung, Penerbit Alfabeta. 

Hisrich Robert D., Michael P. Peters, 1998, Entrepreneurship, New York, Irwin Mc Graw -Hill. 

Meredith, Geoffrey G. et al, 2000, Kewirausahaan : Teori dan Praktek, penerjemah : Andre Asparsayogi, Jakarta, Lembaga 
Manajemen PPM dan PT Pustaka Binaman Pressindo. 

----------------, 1996, Berani Ambil Resiko, Seri Panduan Kewirausahaan TKMT Dirjen Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja Departemen Tenaga Kerja RI 

Suryana, 2003, Kewirausahaan : Pedoman Praktis, Kiat dan Proses Menuju Sukses, Edisi Revisi, Jakarta, Penerbit Salemba Empat. 













BAB IV
PENGAMBILAN KEPUTUSAN




A. MASALAH USAHA 

1. Kemampuan pemecahan masalah (solusi) usaha 
Salah satu tanggungjawab terpenting para Wirausahawan adalah berusaha memecahkan masalah secara ilmiah dalam bisnis. Para Wirausahawan hendaknya dapat menganalisis dengan mengumpulkan data-data, mengolahnya, menganalisis, menginterpretasi dan menarik kesimpulan dari penganalisisan tersebut. Pemecahan masalah itu merupakan kegiatan yang amat penting di dalam usaha atau bisnis. Keterampilan yang diperoleh para Wirausaha, akan menjadi bekal di dalam pemecahan masalah dalam kegiatan usaha atau bisnis. Meskipun persoalan tidak mempunyai masalah yang benar, namun keputusan terakhir untuk menentukan pemecahan masalah yang paling baik terserah kepada Wirausaha sendiri. Pemecahan masalah dan cara penyelesaiannya dalam usaha atau bisnis, sebenarnya tidak begitu sukar jika seorang Wirausaha sudah banyak pengalaman di dalam lingkungan usaha atau bisnisnya. Jika persoalan-persoalan sudah ditentukan dan semua informasi serta data-data masalah sudah dikumpulkan, seorang Wirausaha harus mengidentifikasi semua cara pemecahan masalah yang dapat dilaksanakan. Seorang Wirausaha harus memandang sebuah permasalahan dari pelbagai sudut dan mencari cara baru untuk memecahkan masalahnya. Jika kelompok karyawan perusahaan mengurangi jumlah pilihan masalannya, di sini Wirausaha harus mempertimbangkan masalahnya, agar menjadi luas dan mendalam. Jika seorang Wirausaha di dalam usaha atau bisnisnya meninjau lagi semua pemecahan masalah yang mungkin terdapat di dalam daftar, maka beberapa pemecahan itu dapat digabungkan, sedangkan pemecahan masalah yang lainnya yang lainnya dapat dikesampingkan. 
Di bawah ini dikemukakan kriteria yang mungkin sangat berguna, jika seorang Wirausaha ingin mengevaluasi pemecahan masalah yang diusulkannya. 
a. Apakah ada masalah yang tidak dapat diselesaikan ? 
b. Apakah pemecahan masalah itu dapat diterapkan dengan baik? 
c. Apakah pemecahan masalah dapat didasarkan teori, logika dan pengalaman ? 
d. Apakah pemecahan masalah itu sudah logis? 
e. Apakah persoalan tambahan yang timbul dari hasil pemecahan masalah dapat diselesaikan denganbaik? 

Adapun prosedur pemecahan masalah, dengan langkah-langkahnya dilaksanakan dengan menggunakan metode ilmiah sebagai berikut: 
a. kenalilah persoalannya secara umum; 
b. rumuskan persoalan dengan tepat dan benar; 
c. identifikasikan persoalan utama yang ingin dipecahkan secara terkait; 
d. Tentukan fakta-fakta dan data-data penting yang berkaitan dengan masalah. 
e. Tentukan teori dan pendekatan pemecahan masalahnya 
f. Pertimbangkanlah pelbagai kemungkinan jalan keluar dari problem tersebut. 
g. Pilihlah jalan keluar yang dapat dilaksanakan dengan baik. 
h. Periksalah, apakah cara penyelesaian masalah tersebut sudah tepat. 

Langkah berpikir secara ilmiah dapat dilakukan dengan langkah-langkah yang sistematis, berorientasi pada tujuan, serta menggunakan metode tertentu untuk memecahkan masalah. Pada garis besarnya, pemikiran secara ilmiah dap at berlangsung di dalam memecahkan masalah dengan langkah-langkah sebagai berikut. 
a. Merumuskan tujuan, keinginan, dan kebutuhan, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. 
b. Merumuskan permasalahan yang berhubungan dengan usaha untuk mencapai tujuan. 
c. Menghimpun informasi relevan yang berhubungan dengan masalah yang dipikirkan. 
d. Menghimpun fakta-fakta obyektif yang berhubungan dengan masalah yang dipikirkan.
e. Mengolah fakta-fakta deengan pola berpikir tertentu, baik secara induktif maupun deduktif. 
f. Memilih alternatif yang dirasa paling tepat. 
g. Menguji alternatif itu dengan mempertimbangkan hukum sebab akibat. 
h. Menemukan dan meyakini gagasan. 
ii. Mencetuskan gagasan itu, baik secara lisan maupun tulisan. 

2. Ciri-ciri permasalahan usaha 
Seorang wirausaha harus kreatif terutama dalam mengambil dan menetapkan permasalahan. Permasalahan yang dihadapi oleh para Wirausaha, hendaknya berupa masalah-masalah aktual dan menarik. Permasalahan hendaknya mengandung beberapa kemungkinan alternatif tindakan di antara beberapa alternatif pilihan dalam pemecahan masalah. Pemecahan seperti itu merupakan salah satu penerapan teori Dewey tentang berpikir reflektif. Menurut Dewey, seorang Wirausaha yang berpikir reflektif itu hendaknya: 
a. Merasa bimbang, bingung, dan kesulitan. 
b. Merumuskan masalah yang ingin dipecahkan untuk mengatasi kebimbangan dan kebingungan tersebut. 
c. Menguji hipotesis dengan mengumpulkan data faktual sebagai usaha menemukan cara pemecahan masalah, sehingga ketegangan atau kebimbangan dapat diatasi. 
d. Mengembangkan ide untuk memperoleh pemecahan yang terbaik melalui penataran. 
e. Mengambil kesimpulan yang didukung oleh fakta-fakta, atau bukti-bukti eksperimental yang valid dan menolak kesimpulan yang tidak didukung oleh data yang valid. 

Kondisi yang lebih luas dari seorang wirausaha diharuskan memperhatikan perkembangan otonomi daerah di mana berada, sehingga jangkauan permasalahan lebih luas (aspek makro) yang mempengaruhi penetapan masalah dan pemecahan masalah. Seperti adanya perubahan kebijakan-kebijakan Pemerintah, perubahan moneter dan perubahan hubungan antar negara termasuk bencana-bencana alam yang mempengaruh kegiatan pembangunan nasional. 

3. Langkah-langkah pemecahan masalah usaha
Anda harus punya kepercayaan diri yang teguh dan yakin bahwa telah menetapkan pemecahan-pemecahan yang tepat. Pemecahan masalah tidak selamanya menempuh pola kerja pikir yang teratur dan tetap. Pengalaman tiap-tiap Wirausaha di dalam memecahkan masalah yang sama, kadang-kadang berbeda-beda. Berikut ini dikemukakan langkah-langkah dalam pemecahan masalah, yakni: 
a. Menyadari dan memutuskan masalah. 
b. Mengkaji masalah dan merumuskan masalah. 
c. Mengumpulkan data-data.
d. Analisis data 
e. Interpretasi dan verifikasi data. 
f. Pengambilan keputusan. 
g. Aplikasi kesimpulan. 

B. SUMBER-SUMBER INFOMASI USAHA

1. Syarat sumber-sumber informasi 
Untuk dapat mengambil keputusan yang tepat, seorang Wirausaha sangat membutuhkan sumber-sumber informasi bisnis yang lengkap dan akurat. Di samping harus lengkap, sumber -sumber informasi itu juga 
harus dapat dipercaya. Apabila sumber-sumber informasi itu datanya kurang lengkap, maka di dalam pengambilan keputusan dan kesimpulan, serta saran-saran yang akan dikemukakan kemungkinan kurang sempurna. Dalam dunia bisnis dan teknologi, informasi-informasi merupakan landasan untuk mengamati bentuk dan usaha atau bisnis pada masa mendatang. Dr. Alfred Osborne, Jr, Direktur Pusat Studi KeWirausahaan, di Universitas California, menegaskan bahwa informasi dan kebutuhan untuk menggunakan sumber-sumber informasi dapat menciptakan peluang bisnis yang amat banyak. 

a. Macam-macam informasi yang diperlukan. 
Pada era globalisasi, separuh dari pekerja-pekerja di bidang jasa, akan bergerak dalam kegiatan mengumpulkan, menganalisis, menyimpan, dan menjual informasi-informasi bisnis. Adapun macam informasi yang diperlukan di antaranya sebagai berikut.

1) Informasi kuantitatif 
Informasi kuantitatif berisi masukan nilai yang dapat dihitung, seperti masalah berat, jumlah, tekanan, temperatur, dan sebagainya.
2) Informasi kualitatif 
Informasi kualitatif berisi masukan nilai yang dapat dirasa, seperti perubahan produk, mutu produk, kecepatan, panas, dingin, dan sebagainya. 
3) Informasi kontrol 
Informasi kontrol, misalnya pemerian petunjuk: apakah suatu perubahan variabel produk, model, atau desain, dapat berjalan normal atau tidak. 
4) Informasi simbol 
Informasi simbol, misalnya petunjuk dalam rambu-rambu bisnis. Sumber-sumber informasi yang dapat dipercaya adalah yang informasinya menyeluruh dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Sumber-sumber 
informasi itu merupakan sumber yang dapat memberi keterangan jumlah data dan fakta yang berhubungan dengan kebijakan produk dan pemasarannya. Kebutuhan terhadap sumber-sumber informasi, sangat 
berkembang untuk menghasilkan banyak informasi yang berhubungan dengan pemasaran produk. Kegiatan produk memerlukan informasi tentang apa yang akan diproduksi, bagaimana sifat dan persyaratannya, 
bagaimana mutunya, dan berapa jumlah produk yang harus diproduksi. Sistem pemasaran harus dapat memberikan informasi serta menentukan bagaimana kecenderungan pasar dan konsumen. Sebaliknya, 
sistem prosuksi akan memberikan informasi kepada bagian pemasaran, tentang apa yang akan dilakukan untuk disampaikan ke pasaran. Sumber-sumber informasi yang dibutuhkan para Wirausaha itu, harus lengkap, tepat dan dapat dipercaya kebenarannya. Oleh karena itu, para Wirausaha yang memanfaatkan informasi harus dapat mengumpulkan, mengatur, mengolah, menyampaikan, dan menggunakan informasi-informasi tersebut. 
• Permasalahan hendaknya mengandung beberapa kemungkinan pemecahan, sehingga mengaktifkan pikiran dan kemauan, serta pemilihan beberapoa alternatif pemecahannya. 
• Tepat waktu, tepat mutu, dan tepat janji merupakan unsur-unsur utama menciptakan keputusan dalam bisnis. 
• Peluang bisnis bukanlah suatu peluang jika tidak ada atau tidak sanggup menemukan tindakan yang mungkin dan layak untuk mewujudkannya. 
• Persoalan-persoalan kunci dalam setiap organisasi adalah persoalan yang tidak mempunyai pengalaman masa lampau sama sekali, tapi dapat dipergunakan sebagai pedoman 

2. Informasi yang diperlukan dalam keputusan 
Informasi adalah keberhasilan pengambilan keputusan. Semakin rumit bisnis, maka sistem informasi itu semakin diperlukan oleh seorang Wirausaha. Kecepatan memperoleh dan menerima akses informasi sangat dibutuhkan oleh para wirausaha. Akan tetapi, bagaimana bentuk informasi yang dibutuhkan para Wirausaha Informasi-informasi yang dibutuhkan oleh para Wirausaha adalah sebagai berikut. 
a. Informasi atas orang, termasuk juga informasi pokok yang dituntut: gaji/upah dan jamainan keselamatan kerja dan hidup. 
b. Informasi atas keseluruhan investasi dan investasi per devisi: pandangan masa depan bisnis, kekayaan/utang, keberlanjutan bisnis. 
c. Informasi dalam operasi sehari-hari: penerimaan kas, pembayaran-pembayaran dalam usaha, neraca rugi dan laba sebenarnya, struktur modal.
d. Fakta dan data untuk pendukung bisnis dan cara yang memungkinkan Wirausaha mengambil keputusan mengenai perluasan usaha: pesaing, konstruksi, pabrik, produk, gudang, pemasaran, dan sebagainya. 
Pencarian informasi memerlukan pengamatan yang cermat dan teliti terutama berkaitan dengan hal -hal berikut. 
a. Pesaing 
b. Seluk-beluk pemasaran. 
c. Seluk-beluk manajemen yang diperlukan. 
d. Perkembangan Arsitektur dan sipil 
e. Pengelolaan dan pengendalian keuangan 
f. Pengalaman dan penelitian usaha. 
g. Sumber dan data yang dapat dipercaya. 
h. Manajemen survai pemetaan. 
ii. Perkembangan pariwisata 
jj. Perkembangan paket-paket wisata 
k. Administrasi dan pembukuan. 
ll. Perawatan peralatan produksi. 
m. Perkembangan teknologi 
n. Akuntansi dan auditing. 
o. Studi kelayakan. 
p. Informasi harga, promosi, dan distribusi. 

Adapun urutan prioritas tindakan dalam mengumpulkan informasi yang dibutuhkan adalah sebagai berikut. 
a. Mencari informasi yang dibutuhkan dan diinginkan wirausaha, tetapi tersedia. 
b. Mencari informasi tidak dibutuhkan dan tidak diinginkan wirausaha, tetapi tidak tersedia. 
c. Mencari informasi yang dibutuhkan dan diinginkan wirausaha, tetapi belum tersedia. 
d. Mencari informasi yang dibutuhkan, tetapi tak dikehendaki dan belum tersedia. 
e. Mencari informasi yang dibutuhkan dan tersedia walaupun tak dikehendaki. 

Sumber-sumber informasi yang dibutuhkan para Wirausaha, antara lain meliputi informasi mengenai konsumen, permintaan dan penawaran, pesaingan, advertensi, produk saingan, pengembangan produk, desain, dan prilaku konsumen. Sumber-sumber bisnis yang dikumpulkan dan diperlukan, persyaratannya yaitu. 
a. data-datanya yang dipercaya; 
b. data-datanya harus lengkap ; 
c. data-datanya masih berlaku; 
d. data-datanya dapat dipergunakan. 

Mencari dan mengumpulkan informasi relatif mudah apabila para Wirausaha cerdas, cekatan, terampil, berpengalaman, dan pandai berkomunikasi dan tidak mudah putus asa serta cepat tidak puas diri. Kelancaran di dalam berkomunikasi ditentukan oleh keterampilan pada ketepatan cara mengekspresikan diri. Kunci keberhasilan berwirausaha, terletak dalam memperoleh dan mengelola informasi dan bukan terletak pada banyaknya informasi. Keberhasilan wirausaha yang berhubungan dengan informasi dalam bisnisnya, diantaranya: 
a. Harapan masa depan bisnis. 
b. Sistem nilai para Wirausaha. 
c. Pengalaman Wirausaha dalam bisnis. 
d. Kekuatan dan kelemahan bisnis. 
e. Sikap dan perilaku konsumen.
f. Daya beli konsumen. 
g. Motivasi konsumen 
h. Realitas bisnis. 
ii. Peluang bisnis. 
jj. Hambatan dan rintangan bisnis. 
k. Pesaing 
ll. Pelayanan. 
m. Risiko kebutuhan konsumen 
n. Perubahan selera konsumen. 
o. Kebijakan pemerintahan. 

3. Sumber-sumber informasi yang dibutuhkan Wirausaha 
Sumber-sumber informasi yang dibutuhkan Wirausaha dalam rangka menunjang kebijakan bisnis adalah sebagai berikut. 
a. Hasil penelitian pasar 
b. Kondisi ekonomi (daya beli masyarakat) 
c. Kedudukan perusahaan di pasar. 
d. Kondisi Sumberdaya Manusia 
e. Bagian keuangan. 
f. Pembeli, konsumen, dan distributor. 
g. Para pesaing. 
h. Wilayah niaga. 
ii. Media massa. 
jj. Manager produksi, antara lain mengenai: 
• Bahan baku. 
• Tenaga kerja 
• Transfortasi 
• Kualitas produk. 
• Desain produk. 
• Model produk. 
• Jenis dan ukuran produk. 
• Warna dan merk produk. 
• Manfaat dan bungkus produk. 
• 10)Harga produk. 
k. Pemerintah dan peraturannya. 
ll. Hukum 

Dengan perkataan lain, sumber -sumber informasi tersebut dapat dibagi menjadi 2 (dua) kelompok, sebagai berikut. 
a. Sumber informasi data primer 
Sumber infomasi data primer, diantaranya: 
• Hasil riset 
• Konsumen sendiri. 
• Pedagang perantara. 
• Para penjual sendiri. 
• Sumber informasi data sekunder 
Sumber informasi data sekunder, diantaranya: 
• Hasil-hasil penelitian 
• Jurnal-jurnal 
• Perusahaan lain dalam kelompok sejenis. 
• Pemerintah. 
• Perusahaan pendukung. 
• Biro Pusat statistik. 
• Asosiasi profesi. 
• KADIN. 
• Media Massa (Majalah, Koran, Tabloid). 
• Televisi

4. Manfaat sumber-sumber informasi usaha 
Pemanfaatan teknologi informasi, akan mengarahkan perusahaan pada cara kerja perusahaan, perluasan kompetisi, pemasaran, penjualan, distribusi, promosi, dan lain-lainnya. Adanya teknologi informasi akan 
menyebabkan orang-orang dengan cepat mengetahui berita dan dengan cepat pula dapat mengirim berita. Pemakaian teknologi informasi banyak menimbulkan perubahan pada berbagai segi kegiatan dalam perusahaan. Oleh karena itu, dalam rangka memajukan dan membesarkan usaha atau bisnis, peran teknologi informasi harus dioptimalkan penggunaannya. 
• Informasi semakin sedikit yang relevan. Orang-orang politik bilang “informasi adalah kekuasaan”. Sementara orang-orang bisnis bilang “untuk mengetahui masa depan bisnis. Untuk itu kuasailah dan cari sebanyak-banyaknya informasi. 
• Keberhasilan wirausaha dalam mengelola informasi, bukan terletak pada banyaknya informasi yang ia miliki, melainkan pada relevansinya. 

Dengan adanya sumber-sumber informasi, maka para Wirausaha akan mengetahui bahwa informasi itu sangat penting untuk bahan masukan bagi pengambilan suatu keputusan dalam bisnis. Zaman sekarang dikenal abad informasi, yang mana kemampuan untuk mendapatkan dan menggunakan sumber informasi merupakan aktiva yang terbesar. Orang-orang politik bilang: “Siapa yang memiliki informasi paling banyak, dialah yang paling berkuasa”. Sementara orang-orang bisnis mengatakan:”Untuk dapat mengelola bisnis dengan baik, pasarkan sesuatu untuk masa depan; untuk mengetahui masa depan, kuasailah sebanyak-banyaknya informasi” 
Dengan memanfaatkan sumber -sumber informasi, para Wirausaha 
akan melaksanakan perubahan atau perbaikan hal-hal berikut. 
a. Perluasan kompetisi bisnis.
b. Pembuatan produk 
c. Pemasaran dan penjualan produk. 
d. Ketenagakerjaan. 
e. Cara mengelola bisnis. 
f. Memilih produk. 
Dari penjelasan uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa dengan adanya sumber-sumber informasi, maka para Wirausaha akan dapat: 
a. Memilih dan membuat produk dengan lebih cepat dan lebih murah. 
b. Memilih dan membuat produk yang bermutu laku dijual, dan harga bersaing. 
c. Memilih dan menentukan wilayah pemasaran yang menguntungkan. 
d. Memilih dan membuat desain baru atau kombinasi. 
e. Memilih dan membuat produk yang lebih baik dengan harga relatif murah.

C. PENGAMBILAN KEPUTUSAN USAHA 
Semakin wirausaha berpengalaman dalam pengambilan keputusan maka akan semakin besar kepercayaan diri dan semakin berorientasi pada tindakan-tindakan. Untuk itu, perlu memahami taksiran-taksiran atau hasil 
pengamatan kemampuan wirausaha dalam mengambil keputusan, sebagai berikut. 
1. Bagaimana wirausaha dapat menjaga kepercayaan diri dalam mengambil keputusan penting ? 
2. Tunjukkan contoh-contoh yang menggambarkan kemampuan wirausaha mengambil keputusan yang realisitk 
3. Apakah kekuatan dan kelemahan wirausaha mengambil keputusan ? 
4. Bagaimana cara mengambil keputusan kreativitas atau intuisi dalam mengambil keputusan ? 
5. Apakah hikmah dari kesalahan mengambil keputusan ? 
6. Bagaimana wirausaha menangguhkan pengambilan keputusan ? 
7. Bagaimana penyesuaian dalam perubahan-perubahan di lingkungan wirausaha setelah keputusan ditetapkan 
8. Apakah biasa dipaksakan membuat keputusan ? 
9. Apakah tindakan yang biasa diambil setelah keputusan ditetapkan ? 
10. Bagaimana cara menggunakan dan memanfaatkan sumber-sumber daya di lingkungan sekitar dalam mengambil keputusan ? 
11. Bagaimana cara memimpin agar mencapai hasil yang diinginkan ? 
12. Bagaimana cara menggunakan dan memanfaatkan kontak profesional dan pribadi wirausaha untuk memperoleh informasi yang dapat membantu penetapan keputusan ? 

Dengan kondisi-kondisi tersebut dapat digunakan sebagai acuan dalam memecahkan kendala-kendala yang berhubungan dengan pengambilan keputusan yang tidak efektif dan efisien. Oleh karena itu wirausaha harus mampu melihat penetapan pengambilan keputusan dengan melihat setiap aspek dari persoalan dan memahami secara keseluruhannya. Pengalaman masa lampau dan intuisi mampu sebagai kajian penting dalam pengambilan keputusan yang tidak dapat diabaikan begitu saja. 

1. Membuat keputusan (decision making) 

Membuat keputusan (decion making) adalah suatu proses memilih alternatif tertentu dari beberapa alternatif yang ada. Jadi, membuat keputusan adalah suatu proses memilih antara berbagai macam cara untuk melaksanakan pekerjaan. Semakin berpengalaman dalam pengambilan keputusan, semakin besar pula kepercayaan diri yang akan semakin berorientasi pula pada suatu tindakan. Jika seorang Wirausaha mampu mengambil suatu keputusan dalam batas-batas waktu yang masuk akal, mungkin ia mampu mengambil suatu keputusan yang menguntungkan sehingga sewaktu-waktu muncul peluang-peluang bisnis. 
Di sini seorang Wirausaha harus cepat mengambil suatu keputusan agar dapat menggunakan kesempatan sebaik-baiknya. Wirausaha yang ingin maju dalam bisnisnya, harus dapat memutar akal dengan mengandalkan intuisi, ide-ide yang penuh kreatif dan inovatif. Mereka juga harus memandang persoalan dalam konteks yang lebih luas, sambil mengingat bahwa keputusan-keputusan utama akan mempunyai akibat-akibat jangka panjang atas operasi bisnisnya. Seorang wirausaha diharapkan lebih aktif dalam dan lebih kreatif, karena ia harus membuat keputusan (decision making) tanpa bantuan data-data kuantitatif (data berbentuk angka-angka) atau dukungan staf yang berpengalaman. Keberhasilan seorang Wirausaha di dalam bisnis, tergantung pada kemampuan membuat keputusan yang meningkatkan kemampulabaan bisnisnya pada masa yang akan datang. Kemampuan membuat keputusan dapat diperoleh dari pengalamannya selama bertahun-tahun. Akan tetapi, dalam prakteknya pasti ada saja kesalahan-kesalahan, yang harus cepat disadari dan diambil tindakan pembetulannya. Dalam perusahaan besar, biasanya pembuatan dan pengambilan keputusan itu didasarkan atas dasar data-data dan dokumentasi perusahaan yang terdapat dalam survei, laporan usaha, dan sebagainya. Informasi ini biasanya telah dihimpun dengan cara yang sudah ditentukan, sesuai dengan teknik-teknik pemecahan masalah. Adapun pedoman untuk membuat keputusan, kuncinya adalah sebagai berikut. 
a. Terlebih dahulu, tentukan fakta-fakta dari persoalan yang sudah dikenal. 
b. Identifikasi, bidang manakah dari persoalan-persoalan yang tidak berdasarkan fakta-fakta. Di bidang yang dikenal inilah, seorang Wirausaha harus menggunakan logika, penalaran, dan institusinya untuk membuat keputusan. 
c. Keberanian dan antusiasme sangat diperlukan dalam menerapkan sebuah keputusan 
d. Bersedia untuk mengambil tindakan agresif dalam menerapkan sebuah keputusan. 
e. Ambillah risiko yang sedang-sedang saja jika terdapat ketidakpastian yang besar 
f. Dalam keadaan tertentu, mungkin lebih baik untuk meneruskan sesuatu yang telah berhasil pada masa lampau. 
g. Jauhilah keputusan-keputusan yang akan mengubah secara drastis susunan organisasi yang sekarang 
h. Keputusan perlu diuji cobakan dahulu. 

2. Seorang Wirausaha harus memulai menerapkan keputusan, semua keragu-raguan dan ketidakpastian haruslah dibuang jauh-jauh. Jika Anda dihadapkan pada alternatif harus memilih, maka buatlah pertimbangan-pertimbangan yang matang. Kumpulkan berbagai informasi dan boleh meminta pendapat orang lain. Setelah itu, ambil keputusan dan jangan ragu-ragu. Dengan berbagai alternatif yang ada dalam pikiran, para Wirausaha akan dapat mengambil keputusan yang terbaik. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi pembuatan keputusan (decision making), diantaranya motivasi, persepsi, dan proses belajar. 
Dalam proses pembuatan keputusan, kenyatannya ada Wirausaha yang mampu mengambil keputusan berdasarkan pengalaman, dan ada pula Wirausaha yang berperilaku membuat keputusan secara otomatis. Jika keputusan diambil berdasarkan pada pengalaman masa lalu, hendaknnya tergantung juga pada tempat, waktu, pendidikan Wirausaha, dan sebagainya. 
• Seorang Wirausaha yang kreatif adalah yang pandai mengambil keputusan-keputusan yang tepat dalam bisnisnya. 
• Seorang Wirausaha suksesnya tergantung pada kemampuan mengambil keputusan yang meningkatkan kemampulabaan bisnis pada masa mendatang. 
• Seorang wirausaha yang ingin maju sangat tergantung pada ekspentasi masa depan dan keberlanjutan bisnisnya 

3. Faktor dan pertimbangan membuat keputusan 
Dalam mengelola bisnisnya, para worausaha harus membuat keputusan akhir dengan memperhatikan faktor-faktor dan pertimbangan berikut. 
a. Ukuran dan kompleksitas bisnis. 
b. Harapan mengenai pertumbuhan dan perkembangan bisnis 
c. Fasilitas jasa yang tersedia di daerah untuk berbagai instalasi sistem. 
d. Kualitas dan kuantitas dari staf yang tersedia untuk pelbagai jenis sistem dan fasilitas latihan yang tersedia 
e. Jumlah transaksi yang harus diproses 
f. Faktor-faktor keuangan. 

Proses manajemen bisnis seorang Wirausaha, akan meliputi pengembangan ide dan strategi, pengelolaan orang, serta pengelolaan sistem untuk menjamin pertumbuhan usaha atau bisnis. Sukses usaha atau bisnis, tergantung pada pemanfaatan sumber daya uang, pelanggan, harta fisik, sumber daya manusia, dan waktu yang dipergunakan. Selanjutnya, kepribadian dan sikap seorang Wirausaha dalam melaksanakan keputusan dapat mempengaruhi hasil akhirnya. Sekali sebuah keputusan telah diambil, hendaknya jangan ragu-ragu didalam menerapkannya. 
Para karyawan perusahaan akan menghormati seorang Wirausaha jika dia menerapkan orientasi kepada tindakan, dan mereka akan membela keputusan yang diambil. Seorang Wirausaha di dalam kegiatan bisnisnya, harus mengetahui bagaimana informasi keuangan dan non keuangan dilaporkan kepada pembuat keputusan. Seorang Wirausaha akan mempunyai pengendalian atas adanya keputusan orang lain jika ia percaya pada prinsip bahwa : “kebanyakan keputusan dapat diubah”. 
Jika yang terkena pengaruh keputusan itu para karyawan, maka seorang Wirausaha haruslah arif bijaksana dan memberitahukan bahwa keputusan itu dapat diubah sekiranya hasil-hasil bisnisnya tidak dapat dicapai. Dengan membuat keputusan dan melaksanakannya, seorang Wirausaha harus dapat memonitornya. Memonitor secara efekti f dan efisien mengenai penerapan sebuah keputusan, akan mengungkapkan kelemahan-kelemahan di dalam bisnisnya. 
Berikut ini adalah faktor-faktor dan pertimbangan yang harus diperhatikan dalam membuat keputusan. 
a. Faktor membuat keputusan 
Membuat keputusan di dalam usaha atau bisnis adalah pekerjaan yang tidak mudah. Di dalam membuat 
keputusan, seorang wirausaha perlu memperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keputusan 
yang diambilnya. 
• Faktor orang 
Dalam membuat keputusan, perlu diperhatikan dan dipertimbang-kan orang-orang yang akan merasakan masalah, sebagai akibat dari adanya keputusan tersebut. 
• Faktor psychologis 
Dalam membuat keputusan, seorang wirausaha perlu memperhati-kan dan mempertimbangkan faktor psychologis, baik yang terasa maupun yang tidak terasa, seperti emosional, pikiran, perasaan, kekecewaan, maupun pengaruh kejiwaan lainnya. 
• Faktor fisik 
Membuat keputusan merupakan pekerjaan mental. Maka dari itu, di dalam membuat keputusan, perlu ditransferkan ke arah tindakan fisik. 
• Faktor sasa ran 
Di dalam membuat keputusan, seorang Wirausaha harus memperhatikan dan mendorong arah usaha atau bisnis dalam rangka pencapaian sasaran yang sudah ditetapkan. 
• Faktor waktu. 
Di dalam membuat keputusan, waktu yang efektif dan efisien harus cukup untuk menganalisis data-data dan permasalahannya. 
• Faktor pelaksanaan 
Faktor pelaksanaan merupakan follow-up dari setiap keputusan yang diambil. Selanjutnya, perlu diingat pula bahwa setiap keputusan akan menimbulkan suatu rangkaian tindakan di dalam membuat keputusan. 

Pembuatan keputusan dalam kehidupan bisnis, tidaklah begitu mudah. Setiap alternatif di dalam faktor pembuatan keputusan yang ditujukan agar semua pihak merasa puas, sudah tentu ada kelebihan dan kekurangannya. Namun, seorang Wirausaha yang berpengalaman harus mempunyai keberanian dalam membuat dan mengambil suatu keputusan yang tepat, cermat, dan cepat. 

b. Pertimbangan membuat keputusan usaha 
Pertimbangan-pertimbangan dalam membuat keputusan, didasarkan atas beberapa hal sebagai berikut. 
1) Keputusan yang akan diambil 
Keputusan yang akan diambil, harus dipertimbangkan masak-masak secara obyektif. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam membuat keputusan, antara lain: 
a) Manfaatnya 
b) Pelaksanaannya
c) Orang-orangnya 

2) Tindakan-tindakan 
Tindakan-tindakan dalam mengambil dan membuat keputusan yang tepat dan akurat, adalah sebagai berikut:
a) Menilai data-data 
Di dalam menilai data-data, seorang Wirausaha harus mengenal betul persoalan atau permasalahan yang hendak diputuskan, seperti : 
1. Mencari sebab pokok persoalan 
2. Memilih data-data yang benar 
3. Memilih data-data yang tepat 

b) Memilih data-data 
Memilih data-data merupakan tindakan penting dalam pembuatan keputusan. Data terpilih diterapkan ke dalam berbagai alternatif pemacahan masalah yang diharapkan dan dihadapi, seperti : 
1. Mencari sebab persoalan pokok 
2. Memikirkan kemungkinan untuk memecahkan persoalan atau mencari jalan keluarnya. 
3. Memformulasikan faktor-faktor yang berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya. 

c) Konsekuensi pilihan 
Konsekuensi pilihan dalam membuat keputusan adalah : 
1. Usaha untuk menilai tiap -tiap pilihan 
2. Usaha untuk meramalkan apa yang terjadi apabila salah satu alternatif yang dilaksanakan. 

d) Tindakan pelaksanaan 
Tindakan pelaksanaan dalam keputusan adalah usaha untuk memiliki suatu tindakan yang telah ditentukan oleh salah satu pilihan seperti: 
1. Menetapkan langkah-langkah dalam tindakan. 
2. Pemikiran langkah-langkah untuk melaksanakan keputusan yang telah diambil 
3. Membuat keputusan terakhir 
Walaupun dalam pengetahuan manajemen terdapat mata ajaran tentang “problem identification, problem solving and decision making”, namun keberanian untuk mengambil keputusan, sangat tergantung pada sifat pribadi Wirausaha masing-masing. Seorang Wirausaha harus selalu berkata pada dirinya, pasti bisa mengambil keputusan di dalam menentukan bisnisnya. Tuhan akan selalu beserta mereka selama para Wirausaha mau berusaha dengan semangat etos kerja yang tinggi. 
4. Jika Anda mampu mengambil keputusan dalam batas-batas waktu yang masuk akal, Anda akan mampu mengambil keuntungan sewaktu-waktu timbul peluang-peluang bisnis 
5. Semakin berpengalaman dalam pengambilan keputusan, semakin besar pula kepercayaan pada dirinya dan semakin berorientasi pada tindakannya. 

Pengambilan keputusan merupakan salah satu fungsi kunci keberhasilan dalam manajemen bisnis. Pada zaman sekarang, proses pengambilan keputusan baik untuk negara maupun untuk niaga atau bisnis banyak diteliti orang. Apa sebabnya? Sebab, mereka beranggapan bahwa proses keputusan itu sangat unik dan erat kaitannya dengan keberhasilan usaha atau bisnis. Suatu keputusan yang benar, tumbuh dan berkembang dari adanya pertentangan antar pendapat dan alternatif-alternatif yang saling bersaing. Dalam proses pembuatan keputusan, keragu-raguan dan ketidaksetujuan sebenarnya masih diperlukan, karena ada manfaatnya untuk : 
a. Merangsang daya imajinasi untuk mendapatkan jawaban yang benar terhadap suatu masalah. 
b. Memperkaya alternatif-alternatif untuk melahirkan keputusan yang lebih mantap. 
c. Memungkinkan penerimaan bersama, terhadap keputusan yang akan diambil. 

Keputusan-keputusan mengenai masalah-masalah yang kongkret, sebenarnya tidak begitu sulit untuk diambil. Pertimbangan yang diadakan berkisar pada masalah bertindak atau tidak bertindak dengan mem-
perhitungkan untung ruginya. Agar seorang Wirausaha mampu membuat keputusan yang efektif dan efisien, ia harus memiliki beberapa persyaratan, sebagai berikut. 
a. Keterampilan dalam kepemimpinan 
b. Keterampilan dalam manajerial 
c. Keterampilan dalam bergaul. 


C.MACAM- MACAM KEPUTUSAN 

Menurut bidangnya, dalam usaha atau bisnis ada beberapa tipe keputusan sebagai berikut. 

a. Keputusan produksi 
Keputusan produksi berhubungan dengan : 
• Luasnya perusahaan 
• Susunan (lay out) perusahaan 
• Lokasi perusahaan 
• Metode-metode produksi 
• Pembayaran gaji atau upah 
• Riset pemasaran dan teknik 
• Praktek pembelian dan penjualan
• Inspeksi supervisi 
• Jumlah inventaris 
b. Keputusan penjualan 
Keputusan penjualan berhubungan dengan : 
• Lokasi kantor-kantor penjualan 
• Riset pemasaran 
• Saluran-saluran pemasaran 
• Jenis dan luasnya reklame 
• Metode bidang penjualan 
• Pengepakan produk 
• Penggunaan merk dagang 
• Penetapan harga produk 
• Promosi dan distribusi 
c. Keputusan permodalan 
Keputusan permodalan berhubungan dengan : 
• Struktur modal 
• Usaha modal baru 
• Syarat-syarat kredit 
• Rencana permodalan kembali 
• Likuidasi 
• Pembayaran deviden 
• Jumlah tenaga kerja dan jam kerja 
• Penetapan biaya ekspolitasi. 
• Prosedur kantor. 
• Peleburan usaha atau bisnis 
Keputusan yang diambil oleh seorang Wirausaha, hendaknya tidak semata-mata didasarkan atas aklamasi. Seorang Wirausaha yang efektif dan efisien dapat mengambil keputusan dengan sebaik-baiknya apabila 
didasarkan pada berbagai pendapat yang bertentangan, serta dialog-dialog antara pandangan yang berbeda-beda. Setelah keputusan siap dibuat, dan semua alternatif telah dijajagi, serta risiko untung rug inya sudah dipertimbangkan maka selanjutnya adalah membangkitkan keberanian untuk memutuskan suatu tujuan. 

1. Keputusan yang benar dan efektif semata-mata dilandasi oleh keinginan, selera, dan sifat subyektivitas si pembuat keputusan. 
2. Kepribadian dan sikap Wirausaha dalam melaksanakan sebuah keputusan dapat mempengaruhi hasil bisnisnya. Sekali sebuah keputusan sudah diambil, hendaknya jangan ragu-ragu untuk melaksanakannya. 
3. Mengelak dalam membuat keputusan adalah lebih jelek daripada membuat keputusan yang sal ah. 

Dasar dan teknik membuat keputusan usaha 
Dasar dan teknik membuat keputusan adalah sebagai berikut : 

a. Intuisi 
Pembuatan keputusan berdasarkan intuisi adalah pembuatan keputusan berdasarkan penggunaan perasaan orang yang membuat keputusan tersebut. Hal ini biasanya dipengaruhi oleh pengetahuan, latihan-latihan, serta pengalamannya. 
Adapun keuntungan pembuatan keputusan berdasarkan intuisi adalah : 
1) Keputusan dapat diubah dengan cepat 
2) Diutamakan yang paling penting 
3) Dipergunakan kemampuan cara membuatnya 

b. Fakta 
Pembuatan keputusan berdasarkan fakta merupakan pembuatan keputusan yang paling baik dan cukup meyakinkan, sehingga orang-orang yang merasakan akibat dari keputusan tersebut tidak bisa membantah 
keputusan-keputusan yang diambil. Adapun fakta-fakta tersebut : 
1) Perlu diusahakan sebaik-baiknya 
2) Perlu diselidiki dengan teliti 
3) Perlu diklasifikasikan dengan tepat 
4) Perlu ditafsirkan dengan hati -hati 

c. Pengalaman 
Dalam membuat keputusan, perlu diperhatikan kejadian-kejadian pada masa lalu. Sebab, pengalaman akan mem berikan petunjuk bagi pembuat keputusan. Pengalaman ini merupakan guru yang akan memberikan petunjuk, serta pedoman bagaimana seorang Wirausaha harus membuat keputusan, agar ditaati dan dilaksanakan sebagai mana mestinya. Pengalaman seorang Wirausaha harus membuat keputusan, agar ditaati dan dilaksanakan sebagaimana mestinya. Pengalaman seorang Wirausaha di dalam mengelola bisnisnya, antara lain : 
1) Pengalaman berupa sikap atau nilai 
2) Pengalaman berupa pengetahuan 
3) Pengalaman berupa keterampilan 

d. Keterampilan 
Seorang Wirausaha yang terampil akan mampu mengendalikan keinginan dan kemauannya ke arah tercapainya tujuan. Tentu saja kerampilan tidak dapat diperoleh dengan sendirinya tanpa adanya usaha. Ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi dalam usaha atau bisnis, yakni akan melatih keterampilan untuk memimpin diri sendiri serta dapat membuat keputusan dengan jalan sebagai berikut. 
1) Mengenal diri sendiri 
Pengenalan diri sendiri memang pekerjaan yang sukar, karena menyangkut penilaian seseorang terhadap pribadinya. Tetapi dengan mengenal diri sendiri, akan mudah menetapkan keputusan. 
2) Melatih kemauan 
Melatih kemauan akan menghasilkan kemauan yang keras untuk berusaha mencapai tujuan hidupnya. Dengan adanya kemauan, seorang Wirausaha akan dapat menentukan keputusannya. 
3) Melatih disiplin 
Kerjas keras dan tanggung jawab melatih wirausaha untuk mampu mengembangkan diri untuk mengenal diri sendiri, sehingga mampu mengambil keputusan yang baik. Untuk itu, melatih disiplin terhadap diri sendiri, akan dapat memimpin perilaku diri sendiri. Wirausaha dalam prakteknya, akan selalu bertindak secara tertib dan bertanggung jawab di dalam menentukan masalah dan pembuatan keputusannya, yang didasarkan pada sumber-sumber informasi yang relevan dan data-data yang layak dipercaya sesuai dengan kebutuhan. 
Dengan adanya disiplin, Wirausaha akan dapat menentukan keputusan yang baik dan dapat diterima oleh semua pihak. 
4) Authority (kekuasaan) 
Keputusan yang bersifat otoritas sangat tergantung pada pihak diri pimpinan itu sendiri. Pada umumnya, kebanyakan pembuatan keputusan didasarkan atas otoritas si pembuat keputusan. Keputusan yang dibuat atas dasar otoritas, dipedomani dan dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut. 
1. Undang-undang 
2. Peraturan-peraturan 
3. Pengalaman 
4. Kekuasaan 
5. Status pengelolaan 
Adapun kebaikan dan kejelekan keputusan berdasarkan authority, adalah sebagai berikut. 
a) Kebaikan : 
• Cepat dilaksanakan 
• Tanggung jawab terbatas 
• Sangat tergantung pada pimpinan 
• Bersifat permanen 
b) Kejelekan : 
• Banyak mengabaikan staf 
• Aspek kekuasaan lebih menonjol 
• Bersifat rutin 
• Melahirkan praktek diktator 
• Sumber-sumber informasi kurang dievaluasi 
Beberapa keputusan yang dibuat dapat berubah. Banyak sumber, ahli yang dapat dipergunakan dalam mengambil suatu keputusan, pembuatan keputusan, bahwa keputusan harus bertolak dari informasi, fakta dan data. Seorang Wirausaha yang kreatif dapat mengambil keputusan dengan banyak mencari informasi mulai dari fakta-fakta dan data yang terbaik. Harapan seorang Wirausaha dalam mengambil keputusan tidak bersumber dari hasil pendapatnya sendiri saja. Meskipun pendapat itu masih bersifat hipotesis yang belum teruji manfaat dan nilainya. Hal ini tidak ada salahnya, terlebih-lebih bagi seorang Wirausaha yang sudah banyak pengalaman dalam bidang usaha atau bisnis untuk tidak berhenti mencari informasi yang relevan sebanyak-banyaknya. Jika tidak demikian, maka para karyawan perusahaan atau orang lain akan menganggap bahwa Wirausaha tersebut tidak mempunyai kemampuan di dalam membuat keputusan dalam bisnisnya.

DAFTAR PUSTAKA 

Bygrave, William D., 1996, The Portable MBA; Entrepreneurship, terjm. Dyah Ratna Permatasari, Binarupa Aksara, Jakarta 
Meredith, Geoffrey G., Et. Al., 2000, Kewirausahaan; Teori dan Praktek, terjm. Andre Asparsayogi, Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta 
Suryana,2003, Kewirausahaan,; Pedoman praktis, Kiat dan Proses Menuju Sukses, Salemba Empat, Bandung 
Joe Setyawan, 1994, Strategi efektif berwirausaha; mencakup studi kelayakan usaha, Gramedia, Jakarta 
M. Tohar, 2000, Membuka Usaha Kecil, Kanisius, Jakarta 
Ating Tedjasutisna, 2004, Memahami kewirausahaan, SMK; untuk semua bidang keahlian, Armico, Bandung 
Rusman Hakim, 1998, Kiat sukses berwiraswasta; mengatasi krisis etika dan krisis motivasi, Gramedia, Jakarta 
M.J.Morris, 1995, Usaha kecil yang berhasil; bagaimana mempersiapkannya, Arcan, Jakarta 
Kusmini Adiputro, Umi Nur Rochjati, Setyo Ferry Wibowo, 2001, 
Kewirausahaan untuk tingkat 1 SMK, Yudhistira, Jakarta 
Mas’ud Machfoedz dan Mahmud Machfoedz, 2002, Kewirausahaan; suatu pendekatan kontemporer, UPP AMP YKPN, Yogyakarta 
Kusmini Adiputro, Umi Nur Rochjati, Setyo Ferry Wibowo, 2001, Kewirausahaan untuk tingkat 3 SMK, Yudhistira, Jakarta













BAB V
MENGANALISIS POTENSI PASAR



A. PELUANG PASAR 

Salah satu faktor yang perlu dianalisis oleh setiap wirausaha atau calon pengusaha adalah kemampuannya untuk mengetahui peluang atau potensi pasar. Apabila Anda sebagai wirausaha kurang mampu dalam menganalisis potensi pasar, maka kemungkinan besar potensi yang ada akan dimanfaatkan pihak pesaing atau wirausaha yang lain. Sehingga kegiatan usaha yang dijalankan akan banyak mengalami hambatan atau bahkan kurang berhasil dalam menjalankan fungsi usahanya. 

1) Pengertian Peluang Pasar 
Sebenarnya istilah peluang pasar lebih ditujukan untuk perusahaan atau usaha kecil yang sudah berdiri dan bergerak dalam bidang usaha tertentu. Tetapi, bagaimanakah dengan usaha Anda yang baru mulai ? Peluang selalu berada dalam suatu lingkungan oleh karena itu, Anda harus selalu berusaha memperolehnya dengan cara : 
• Peluang harus terus dicari, dipertahankan, dan diperluas. 
• Dengan bantuan para ahli atau konsultan usaha, bila perlu Anda mengeluarkan biaya untuk memperoleh informasi yang baik. 

Peluang pasar dapat dianalisis melalui pendekatan permintaan dan penawaran yaitu 

a) Pendekatan Permintaan 
Pendekatan permintaan menekankan tentang kebutuhan manusia yang sampai sekarang belum sepenuhnya terpenuhi atau kemungkinan sudah terpenuhi namun kurang memuaskan. Misalnya, masyarakat di wilayah pedesaan banyak yang pergi ke kota untuk belanja pakaian. Artinya, golongan masyarakat tersebut membutuhkan pakaian sesuai dengan selera mereka yang tidak dapat diperoleh di desa atau mungkin dapat diperoleh di desa, tetapi harganya terlalu mahal. Jadi, di desa ini terdapat peluang usaha untuk menyediakan pakaian kebutuhan masyarakat desa. Melalui pendekatan permintaan Anda dapat mengetahui jumlah permintaan terhadap produk/jasa yang meliputi : 
a. Sasaran pembeli/konsumen
b. Jumlah konsumen 
c. Jumlah klebutuhan 
d. Total kebutuhan pertahun 

Kemudian dengan data-data tersebut Anda dapat membuat proyeksi permintaan selama 4 tahun mendatang. Tahun Proyeksi Permintaan (dalam unit) misalnya 2005,2006,2007,2008

b) Pendekatan Penawaran 
Pendekatan penawaran berawal dari kemampuan wirausaha dalam membuat suatu produk/barang, memberikan pelayanan jasa atau gabungan dari keduanya. Dari sini barulah mulai mencari adakah pasarnya atau orang-orang yang membutuhkannya. Misalnya, seorang wirausaha memproduksi genteng dengan kualitas yang bersaing. Dengan kualitas genteng yang bersaing tersebut, lalu apakah berarti para calon konsumen, developer, pemborong pembangunan rumah dan sebagainya kira-kira berminat membeli, sebab harga genteng produksi wirausaha ternyata lebih mahal dibandingkan genteng dengan kualitas yang sama di pasaran saat ini. Apakah konsumen mempunyai daya beli berminat untuk membeli genteng yang lebih mahal dengan kualitas sama atau membeli genteng yang harganya sama dengan kualitas yang baik. Melalui pendekatan penawaran wirausaha juga dapat mengidentifikasi banyaknya pesaing yang membuat produk/jasa yang sama. 

2) Langkah-Langkah Menganalisis Peluang Pasar 
Untuk melihat peluang pasar, maka langkah yang harus Anda lakukan adalah mengamati konsumen untuk mengetahui beberapa hal , yaitu 
a) Produk/jasa apa yang paling dibutuhkan oleh konsumen ? 
b) Berapa banyaknya produk/jasa yang dibutuhkan ? 
c) Kualitas produk/jasa mana yang paling tepat ? 
d) Berapa banyaknya produk/jasa dari tiap -tiap kualitas yang ada ? 

Langkah-langkah yang harus Anda perhatikan untuk menentukan ada atau tidak adanya peluang pasar adalah sebagai berikut. 

a) Amati kebutuhan apa yang paling banyak diperlukan oleh masyarakat sekitarnya. Misalnya, kebutuhan rutin sehari-hari yang paling sering diperlukan (seperti sabun mandi, shampo, pasta gigi, sabun cuci atau sembako). Kebutuhan yang sifatnya musiman (seperti baju untuk Idul Fitri, Natal atau hari besar lainnya), Kebutuhan sapi atau kambing untuk Idul Adha. Kebutuhan payung, jaket atau jas hujan pada waktu musim hujan dan pemenuhan kebutuhan lainnya. 
b) Kapan saja konsumen membutuhkan produk, apakah setiap saat atau sering dibutuhkan, kadang-kadang dibutuhkan atau jarang dibutuhkan. 
c) Perhatikan karakteristik konsumen berdasarkan jenis kelamin, umur, pekerjaan maupun pendidikan. Karakteristik ini sangat penting untuk menentukan jenis barang apa yang paling cocok dengan kebutuhan konsumen. Misalnya, apabila konsumennya laki-laki, maka kebutuhan laki-laki yang harus banyak disediakan. Apabila kebanyakan konsumennya petani, maka sediakan alat-alat pertanian atau pupuk. Apabila konsumennya sebagian besar pelajar atau mahasiswa, maka sediakan alat-alat tulis, buku, foto copy atau rental komputer/warnet. 
d) Bagaimana daya beli (kemampuan bayar) konsumen, apakah termasuk konsumen yang mempunyai pendapatan tinggi atau rendah. Misalnya, untuk masyarakat/konsumen yang berpendapatan rendah, maka produk yang disediakan harus dengan kualitas dan harga yang terjangkau oleh tingkat konsumen tersebut. Sedangkan, untuk konsumen yang berpendapatan tinggi dapat disediakan produk dengan kualitas dan harga sesuai dengan tingkat pendapatannya. 
e) Perhatikan, apakah di pasar ada pesaing atau tidak. Apabila ada pesaing, peluang pasar apa yang belum digarap oleh pesaing. Bagi usaha baru dan kecil lebih baik menggarap niche market. 

3) Menilai Peluang Pasar 
Suatu hal yang dapat membantu Anda dalam menilai peluang pasar adalah informasi. Informasi yang lengkap dan akurat dapat membantu Anda dalam pengambilan keputusan, adalah : 
a) menemukan pasar yang menguntungkan. 
b) memilih produk atau jasa yang dapat dijual. 
c) menentukan perubahan dalam perilaku konsumen. 
d) meningkatkan teknik-teknik pemasaran. 
e) merencanakan sasaran yang realistik. 
f) meramalkan untuk masa yang akan datang. 

Wirausaha kadang-kadang membuat kesalahan dalam usahanya karena sering mengambil keputusan berdasarkan perasaan dan pendapatnya sendiri. Sebagai seorang wirausaha, Anda harus dapat mengambil keputusan berdasarkan atas informasi terbaik yang dikumpulkan. Informasi pasar akan membantu untuk menemukan pasar baru yang dapat dimasuki dan menemukan pelanggan baru dalam pasar yang ada sekarang serta mengetahui produk-produk baru yang mempunyai potensi untuk dikembangkan pada masa yang akan datang. Melalui informasi pasar Anda harus dapat mengetahui alasan dari kesuksesan atau kegagalan usaha yang ada sekarang. Oleh karena itu, mengumpulkan informasi pasar untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut akan dapat membantu seorang wirausaha menjadi lebih berhasil. 

a) Produk/jasa apa yang merupakan kebutuhan sekarang dan potensial dari pelanggan/calon pelanggan Anda ? 
b) Pasar-pasar tambahan mana yang dapat dimasuki wirausaha yang baru ? 
c) Karakteristik khusus apa yang dapat Anda diamati dari pelanggan Misalnya jenis kelamin, umur, pekerjaan, pendapatan, status sosial, letak tempat tinggal dll. 
d) Apakah produk/jasa anda mempunyai keunikan/keistimewaan dibandingkan dengan produk/jasa serupa yang dibuat oleh orang lain/pesaing ? 

Dengan memperhatikan hal tersebut di atas, wirausaha dapat belajar banyak tentang pelanggan mengenai bagaimana mereka berpakaian ? Berapa umurnya ? Bagaimana status pernikahan mereka ? Berapa yang mempunyai anak ? Apa hobi mereka ? Bagaimana tingkat status sosial mereka ? Serta apa kebudayaan mereka ? Pertanyaan-pernyataan ini dapat meningkatkan kepekaan wirausaha tentang pelanggan mereka. Simpanlah catatan itu selama seminggu dan dari kunci-kunci yang sederhana ini, pelajarilah apa yang akan dapat anda ketahui tentang pelanggan anda! Informasi pasar juga merupakan seni, karena berkaitan dengan sikap orang yang selalu berubah-ubah. Dengan cara mengumpulkan data pemasaran secara teratur dan obyektif, anda akan mampu mengetahui lebih banyak dan lebih baik tentang pasar -pasar anda. 
Bagaimanapun besar atau kecinya usaha anda, tetap ada kebutuhan untuk menentukan sikap, pendapatan dan kepercayaan dari pelanggan anda. Selain itu, informasi pasar juga menyediakan data yang dibutuhkan pada waktunya untuk : 
a) Mengurangi risiko usaha. 
b) Mengurangi persoalan dan masalah potensial pada usaha anda saat ini. 
c) Mengenal peluang pasar yang baru. 
d) Memperoleh informasi dan fakta tentang usaha untuk dimanfaatkan dalam membuat keputusan dan rencana tindak yang lebih realisti s.


B. PENELITIAN PASAR 

Penelitian pasar adalah suatu proses sistematis yang dilakukan untuk mengumpulkan data, mencatat, mengolah, dan menganalisis data/informasi yang berkaitan dengan pemasaran produk/jasa. 
Penelitian pasar dilakukan, seperti prosedur proses penelitian ilmiah lainya, yaitu mulai mengumpulkan data, mengolah data, menganalisis, dan menarik kesimpulan. 
Tujuan penelitian pasar adalah mengumpulkan informasi untuk pengambilan keputusan. Wirausaha selalu membutuhkan informasi dan pengetahuan tentang pasar mereka. Penelitian pasar dapat membuat keputusan pemasaran yang lebih baik. Penelitian pasar dapat membantu kita untuk menemukan pasar yang menguntungkan, memilih produk yang dap at dijual, menentukan perubahan dalam perilaku konsumen, meningkatkan teknik-teknik pemasaran, dan merencanakan sasaran-sasaran yang realistis. 
Perusahaan yang sudah besar mungkin dapat mengangkat tenaga ahli pemasaran untuk melakukan penelitian pasar atau menyewa konsultan penelitian pasar. Tetapi, untuk usaha perorangan yang masih relatif kecil, wirausaha mungkin tidak dapat menggaji seorang ahli pemasaran. Meskipun demikian, wirausaha tetap harus dapat mengetahui pelanggan dan mampu mempelajari apa yang disukai dan tidak disukai serta pola konsumsi mereka yang selalu berubah-ubah. 
Penelitian pasar menyediakan data dan informasi pasar yang dibutuhkan wirausaha untuk mengurangi resiko, mengurangi persoalan dan masalah potensial pada usaha anda saat ini, mengenal peluang pasar yang baru, memperoleh informasi, dan fakta tentang usaha untuk dimanfaatkan dalam membuat keputusan serta rencana tindak yang lebih nyata. 

Melakukan Penelitian Pasar 

Dalam kegiatan rutin sehari-hari, sadar atau tidak mungkin Anda sering atau pernah terlibat dalam penelitian pasar. Misalnya, sebelum Anda membeli suatu barang, Anda keliling ke toko/pasar swalayan untuk membandingkan barang yang akan Anda beli dengan harga yang paling murah, kualitas yang paling baik dan model yang bagus. Sebagai seorang wirausaha, Anda mungkin akan memeriksa barang yang dikembalikan, untuk mengetahui alasannya mengap a barang dikembalikan pelanggan. Anda mungkin menanyakan kepada pelanggan lama, mengapa mereka berhenti membeli dari toko Anda. Anda mungkin mempelajari iklan dari koran, majalah atau televisi, untuk mengetahui bagaimana mereka menjual produk. 
Dari kegiatan-kegiatan tersebut di atas, sebenarnya Anda telah melakukan peneiitian. Penelitian pasar hanya membuat proses kegiatan tersebut menjadi lebih sistematis. Melalui penelitian pasar, Anda dapat membuat suatu kerangka yang memungkinkan Anda menilai arti informasi tentang pasar secara obyektif. Langkah-langkah dalam melakukan penelitian pasar adalah sebagai berikut : 
• Merumuskan masalah 
• Melakukan penelitian pendahuluan 
• Merencanakan penelitian 
• Menggunakan sumber daya Anda sendiri atau dari luar 
• Mengolah dan menafsirkan data 
• Membuat kesimpulan atau keputusan 
• Menerapkan keputusan dan mengkaji ulang keputusan Anda. 

1) Merumuskan Masalah 
Anda harus dapat mengidentifikasikan permasalahan umum secara jelas dulu, sebelum menentukan masalah pemasaran yang khusus ditentukan, merumuskan pertanyaan riset, dan menentukan tipe-tipe pemecahan secara umum. Sebelum melaksanakan sebuah riset, Anda haruslah mengetahui pertanyaan-pertanyaan apa yang harus diajukan. Setelah merumuskan problem utama Anda, cobalah mengenali semua faktor-faktor yang mungkin telah menyebabkan atau mempengaruhi problem itu. 

2) Melakukan Penelitian Pendahuluan 
Sebuah penelitian pendahuluan akan membantu Anda untuk merumuskan persoalan Anda. Anda dapat juga mengembangkan dan mentes pemecahan-pemecahan sementara. Pengkajian selanjutnya, mungkin dapat mengidentifikasikan pemecahan potensial lainnya. Pada fase ini, tentukanlah apakah diperlukan riset selanjutnya dan apakah hasil-hasil yang potensial sesuai dengan waktu, biaya, dan usaha yang dikeluarkan. 

3) Merencanakan P enelitian 
Menjelang Anda mulai perencanaan riset tersebut, Anda harus sudah mempunyai pemahaman yang baik atas persoalannya dan fakta yang berpengaruh, yang dapat diperoleh. Problem serta fakta yang berkaitan, akan membantu anda menentukan teknik-teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data meliputi daftar pertanyaan survai, teknik kuantitatif khusus, dan pengukuran pasar. Pelbagai jenis riset pasar mencakup analisis statistik, analisis penjualan, survai, riset observasi, dan riset eksperimental. 

4) Menggunakan Sumber Daya Anda Sendiri atau Dari Luar 
Sebelum mempertimbangkan sebuah riset pasar, perhatikan dulu informasi yang tersedia bagi Anda. Catatan dan files mengenai pelanggan akan sangat menolong. Pelajarilah catatan penjualan, penerimaan, daftar keluhan dan catatan kumulatif lainnya. Informasi ini dapat membantu dalam mengetahui di mana pelanggan tinggal dan bekerja, pola konsumsi mereka, apa yang mereka beli, bagaimana mereka membeli, kapan mereka membeli dan di mana mereka membeli. Memelihara hubungan yang baik dengan pelanggan (pasar) A nda akan membantu anda dalam menentukan kebutuhan pelanggan Anda yang berubah-ubah. Biaya untuk semua informasi ini tidak besar atau sama sekali tanpa biaya dan dapat sangat berguna bagi Anda. 
Karyawan A nda mungkin juga mempunyai informasi berharga tentang sikap -sikap dan pendapat-pendapat pelanggan Anda. Usahakan agar para karyawan Anda menyimpan catatan tertulis keluhan pelanggan, yang kehabisan persediaan, barang-barang yang diminta pelanggan, dan komentar oleh pelanggan atas pelayanan Anda. Berbicara dengan karyawan Anda tentang hubungan mereka sehari-hari dengan pelanggan dapat memberikan kepada Anda perspektif yang berbeda tentang prosedur pemasaran. 

5) Sumber Daya Dari Luar 
Sekali Anda telah memperoleh keterangan-keterangan dari sumber-sumber di dalam organisasi Anda, mungkin A nda akan memerlukan sumber -sumber di luar usaha Anda. Terdapat sejumlah terbitan mengenai penelitian pasar, termasuk artikel, publikasi survei, majalah, laporan dan buku, yang semuanya dinamakan “rujukan tak langsung”. Rujukan tak langsung dapat diperoleh dari perpustakaan, badan-badan pemerintah, lembaga pendidikan, penjual buku, dan penerbit. 
Informasi yang dikumpulkan dari rujukan tak langsung seharusnya dapat membantu dalam mengorganisasi proyek penelitian pasar yang sesungguhnya. Proyek ini dapat menghasilkan riset langsung, yang bentuknya sederhana seperti memberikan kuesioner pada semua pelanggan yang datang ke tempat Anda dan kemudian meringkaskan hasil-hasilnya. Pengkajian secara canggih dapat dirancangkan dan dilaksanakan oleh organisasai riset, namun biayanya mungkin akan tinggi. 

6) Mengolah dan Menafsirkan Data 
Meskipun mengumpulkan data adalah sebagian dari kegiatan riset pasar Anda, pemecahan yang efektif atas suatu persoalan pemasaran ditentukan oleh penafsiran datanya. Penting mengetahui arti datang, dan bagaimana data itu dapat dipakai untuk membuat keputusan yang dilandasi oleh adanya informasi. 

7) Membuat Kesimpulan atau Keputusan 
Keputusan A nda dipengaruhi oleh penafsiran Anda, namun memperhitungkan semua faktor tanpa wujud dan pendapat Anda tentang pengkajian riset tergantung pada Anda. Jika perasaan Anda sesuai dengan penafsiran data, Anda akan lebih yakin akan keputusan Anda. Jika pendapat Anda berbeda dari penafsiran data, maka diperlukan analisis lebih lanjut.

8) Menerapkan Keputusan dan Mengkaji Ulang Keputusan Anda 
Langkah terakhir dalam melaksanakan sebuah riset pasar adalah menerapkan keputusan Anda dan meninjau hasilnya. Hanya dengan cara inilah, Anda dapat secara tepat menentukan hasil keputusan 
Anda. Sebagai akibat dari keputusan Anda, mungkin Anda harus melaksanakan pengkajian selanjutnya. Data penilaian Anda dapat digunakan untuk melaksanakan pengkajian pemasaran yang lain. Dalam penelaahan riset pasar, mungkin anda ingin menanyakan pertanyaan berikut pada diri Anda sendiri : 
• Apakah sasaran-sasaran bisnis Saya ? 
• Bagaimana gambaran pelanggan Saya ? 
• Bagaimana pandangan pelanggan saya tentang bisnis Saya ? 
• Bagaimana pandangan saya tent ang pesaing Saya ? 
• Bagaimanakah strategi produk Saya ? 
• Bagaimana strategi harga Saya ? 
• Bagaimana strategi promosi Saya ? 
• Apakah lokasi bisnis saya dapat dibenarkan dalam rangka melayani pelanggan Saya ? 
Salah satu keputusan yang penting terdapat dalam pemilihan barang-barang dan jasa-jasa yang akan dijual. Usaha kecil dimulai karena adanya suatu kebutuhan yang terpenuhi. 
Untuk menganalisis potensi pasar, wirausaha terlebih dahulu harus melakukan penelitian pasar. Berdasarkan analisis dan ramalan potensi pasar tersebut dapat diketahui apakah usaha yang akan dirintis ataudikembangkan memiliki potensi pasar yang yang memadai atau tidak. 
Dalam analisis pasar, biasanya ada beberapa komponen yang harus dianalisis dan dicermati (Suryana,2003:145), diantaranya seperti di bawah ini. 

a. Kebutuhan dan Keinginan Konsumen 
Barang dan jasa apa yang banyak dibutuhkan dan diinginkan konsumen ? Berapa banyak yang mereka butuhkan ? Bagaimana daya beli mereka ? Kapan mereka membutuhkan ? Jika kebutuhan dan keinginan mereka teridentifikasi dan memungkinkan terpenuhi berarti peluang pasar bisnis kita terbuka dan layak bila dilihat dari kebutuhan/keinginan konsumen. 
b. Segmentasi pasar 
Pelanggan dikelompokkan dan diidentifikasi, misalnya berdasarkan geografi, demografi, dan sosial budaya. Jika segmentasi pasar teridentifikasi, maka pasar sasaran akan dapat terwujud dan tercapai. 
c. Target
Target pasar menyangkut banyaknya konsumen yang dapat diraih. Berapa target yang ingin dicapai ? Apakah konsumen loyal terhadap bisnis kita ? Sangat tergantung pada nilai produk dan jasa yang dipasarkan apakah memberi kepuasan atau tidak. Jika loyal, maka potensi pasar tinggi. 

d. Nilai tambah 
Wirausaha harus mengetahui nilai tambah produk dan jasa pada setiap rantai pemasaran mulai dari pemasok, agen, sampai pada konsumen akhir. Nilai tambah barang dan jasa biasanya diukur dengan harga. Misalnya, berapa harga dari pabrik pemasok, berapa harga setelah di agen, dan berapa harga setelah ke konsumen. Dengan mengetahui nilai tambah setiap rantai pemasaran, maka nilai tambah bisnis akan dapat diketahui tinggi atau rendah. 
e. Masa hidup produk 
Harus dianalisis apakah masa hidup produk dan jasa bertahan lama atau tidak. Apakah ukuran lama masa produk lebih dari waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan laba sampai modal kembali atau tidak ? jika masa produk lebih lama berarti potensi pasar tinggi. Harus dianalisis juga, apakah produk industri baru atau industri lama yang sudah mapan atau produk industri yang sedang menurun. Jika produk industri baru sedang tumbuh, maka potensi pasar tinggi. 
f. Struktur pasar 
Harus dianalisis apakah barang dan jasa yang akan dipasarkan termasuk pasar persaingan sempurna atau pasar persaingan tidak sempurna (monopoli, oligopoli atau persaingan monoplistik). Jika barang dan jasa termasuk jenis pasar persaingan tidak sempurna berarti potensi pasar tinggi, dibandingkan bila produk termasuk pasar persaingan sempurna. 
g. Persaingan dan strategi pesaing 
Harus dianalisis apakah tingkat persaingan tinggi atau rendah. Jika persaingan tinggi, berarti peluang pasar rendah. Wirausaha harus membandingkan keunggulan pesaing, dilihat dari strategi produk, strategi harga, strategi jaringan distribusi, dan strategi promosi. Apakah lebih unggul ? Bagaimana tingkat teknologinya ? Jika pesaing lebih unggul, berarti bisnis yang akan dirintis atau dikembangkan akan lemah dalam persaingan. Untuk memenangkan persaingan, tentu saja bisnis tersebut harus lebih unggul daripada pesaing. 
h. Ukuran pasar 
Ukuran pasar dapat dianalisis dari volume penjualan. Jika volume penjualan tinggi berarti pasar potensial. Misalnya, untuk volume penjualan usaha sk ala kecil sebesar Rp 5 miliar per tahun atau sebesar Rp 10 juta per hari, berarti ukuran pasar cukup besar. 
i. Pertumbuhan pasar 
Pertumbuhan pasar dapat dianalisis dari pertumbuhan volume penjualan. Jika pertumbuhan pasar tinggi (misalnya, lebih dari 20%), berarti potensi pasar tinggi. 
j. Laba kotor 
Apakah perkiraan margin laba kotor tinggi atau rendah ? Jika profit margin kotor lebih dari 20 persen, berarti pasar potensial. 
k. Pangsa pasar 
Pangsa pasar bisa dianalisis dari selisih jumlah barang dan jasa yang diminta dengan jumlah barang dan jasa yang ditawarkan. Jika pangsa pasar menurut proyeksi meningkat bahkan setelah ima tahun mencapai 40%, berarti bisnis yang akan dilakukan atau dikembangkan memiliki pangsa pasar yang tinggi.

KASUS:
TEROBOS PASAR DUNIA DENGAN KAUS 
Cerita soal kesuksesan mendobrak pasar, kepiawaian PT Caladi Lima Sembilan (C59) yang berjaya di Eropa Timur mungkin bisa disimak dan menjadi cermin kiat menerobos pasar dunia. Keputusan produsen kaus dari Bandung untuk memperluas pasar ekspor itu, antara lain dipicu oleh persaingan pasar lokal yang sesak serta peluang ekspor yang menganga. Bahkan di beberapa negara, pemain kaus tidak terlalu banyak, apalagi jarak kaus merek top dengan merek kedua sangat jauh sehingga bisa diisi oleh C59. Oleh Karena itu, C59 begitu gencar menggarap ekspor sejak tahun 2000. Sebelumnya, C59 bukan tidak pernah punya pengalaman dalam urusan ekspor kaus oblong ini. Namun, selama ini C59 hanya memasok kaus kepada pembeli di luar negeri yang kemudian menjual lagi dengan merek lain. Pembeli semacam ini biasanya adalah perusahaan multinasional yang memesan kaus untuk cabang-cabang mereka di negara lain. Keinginan kuat untuk tidak melulu menjadi ‘tukang jahit’, akhirnya datang ketika dua orang Slovakia secara tidak sengaja menemukan kaus C59 ketika berada di Sumatera dan tertarik memasarkannya di negara mereka. 
Akhirnya, pasar Eropa Timur pertama digarap di Slovakia melalui kedua mitra setempat itu dengan menyebarkan kaus C59 ke 40 toko di seluruh negeri. Di sana C59 melakukan penggarapan pasar yang intens dengan melakukan sponsorship untuk konser musik tahunan dan kompetisi snow boarding. Hasilnya, kaus C59 mampu bersaing dengan merek-merek lain yang top. Bahkan, turis asal Hungaria menjadikan C59 sebagai oleh-oleh ketika berlibur ke Slovakia. 
Setelah posisi mantap, C59 mulai mengembangkan pasarnya ke negara sekitar Slovakia, seperti Rumania dan Polandia. Untuk mendukung langkahnya menerobos pasar ekspor, C59 mengembangkan e-commerce melalui situs internet. Jadi pelanggan dari luar negeri bisa memesan kaus dengan desain yang lebih beragam 
dan lebih leluasa sesuai selera. Selain pasar Eropa, C59 juga sedang berancang-ancang menguasai pasar ASEAN dengan lebih serius. Alasannya, karena masih serumpun dan letak geografis yang lebih dekat, ukuran badan orang di negara-negara ASEAN juga relatif sama dengan orang Indonesia. Sehingga dalam urusan produksi dan promosi pun bisa selaras dan tak jauh berbeda dengan strategi pasar lokal. Apalagi ada MTV Asia yang bisa digunakan sebagai media beriklan secara regional. (Sumber: Jackie Ambadar dkk., 2004,Usaha Yang Cocok Untuk Anda, Jakarta, Yaya san Bina Karsa Mandiri) 




C. PEMILIHAN LOKASI USAHA 

Dalam merencanakan suatu usaha, Anda perlu memilih letak lokasi usaha yang strategis. Karena letak lokasi usaha akan berhubungan dengan masalah efisiensi transfortasi, sifat bahan baku atau sifat produknya, dan kemudahannya mencapai konsumen. Apabila usaha A nda dapat menekan biaya-biaya produksi dan biaya operasional lainnya, maka daya saing usaha Anda akan meningkat karena harganya menjadi lebih kompetitif. Jika tingkat persaingan tidak terlalu hebat, hal ini akan meningkatkan laba usaha Anda. Pemilihan lokasi usaha juga berhubungan dengan kebutuhan luas bangunan dan pengembangan serta perluasan usaha di masa yang akan datang. Setiap jenis usaha memerlukan penentuan lokasi yang berbeda. Usaha dalam bidang produksi atau industri membutuhkan lokasi yang berbeda dengan usaha dalam bidang perdagangan atau distribusi. Pentingnya faktor-faktor lokasi berbeda-beda sesuai dengan sifat perusahaan Anda. Umumnya lokasi perusahaan Anda akan ditentukan oleh kedekatan dengan pasar, hubungan dengan pelanggan, tersedianya staf yang mampu, dan tersedianya bahan-bahan mentah. Semakin luas daerah pasar Anda, semakin kurang penting lokasi usaha. Jika daerah pemasaran anda kecil, semakin pentinglah pilihan lokasi usaha. Namun, sebagai pedoman umum bisnis Anda haruslah terletak sedemikian rupa, sehingga Anda dekat dan mudah mencapai pelanggan Anda, dan demikian sebaliknya. Pemilihan lokasi usaha harus Anda bedakan, apakah penentuan lokasi tersebut untuk tempat kedudukan kantor perusahaan atau untuk tempat perusahaan beroperasi dan menjalankan kegiatan usahanya. Sifat-sifat dari bahan baku yang akan diolah, bahan yang akan didistribusikan ikut mempengaruhi penentuan lokasi usaha. Penentuan lokasi penting bagi usaha tertentu, seperti toko pakaian atau toko bahan makanan, tetapi tidak begitu penting bagi toko barang-barang antik atau bengkel mobil. Karna jika Anda sukar untuk memindahkan suatu usaha, maka anda harus berhati -hati dalam mengambil keputusan untuk menentukan lokasi. Pertanyanan utama yang harus ada dalam pikiran Anda untuk menentukan lokasi usaha meliputi, antara lain :
• Di bagian wilayah mana usaha tersebut akan beroperasi ? 
• Di kota mana usaha tersebut akan beroperasi ? 
• Di bagian kota manakah usaha tersebut akan beroperasi ? 
• Usaha tersebut akan beroperasi di lokasi khusus mana dari bagian kota itu ? 
Beberap a pertimbangan lain yang perlu Anda pelajari sebelum menentukan letak lokasi usaha adalah kelancaran distribusi dan adanya peraturan dan kemudahan yang mungkin disediakan oleh pemerintah. Ada tiga faktor yang dapat Anda pertimbangkan untuk memilih dan menentukan lokasi usaha, yaitu Pertama : faktor bahan baku, pasar, dan ongkos transfortasi. Kedua : Faktor Lingkungan Setempat, Ketiga : Faktor lain yang membantu proses kelancaran kinerja perusahaan. 

1) Faktor Bahan Baku, Pasar, dan Ongkos Transfortasi. 
Faktor bahan baku, seperti bahan mudah rusak, ukuran berat, dan volume bahan baku merupakan faktor utama yang harus Anda pertimbangkan karena secara langsung akan berpengaruh terhadap biaya transfortasi dan proses produksinya. Apabila Anda membuka usaha produksi yang menggunakan bahan baku yang mudah rusak, seperti ikan atau susu, maka akan lebih menguntungkan memilih lokasi dekat dengan bahan baku. Perusahaan Air Minum Mineral dalam kemasan kebanyakan memilih lokasi perusahaannya dekat sumber mata air sebagai bahan baku utamanya. Sedangkan, untuk usaha produksi yang menggunakan bahan baku tahan lama, seperti usaha produksi tahu atau tempe. K arna sifat dari tahu atau tempe yang mudah rusak, maka lebih tepat memilih lokasi dekat dengan pasar. Meskipun biaya transportasi untuk mengangkut kedelai ke tempat produksi membutuhkan biaya yang lebih tinggi. Setelah Anda mempertimbangkan dan mempelajari faktor sifat mudah rusaknya bahan baku atau hasil produksi seperti contoh di atas, Anda perlu juga mempertimbangkan biaya transportasinya. Selanjutnya Anda tinggal memilih di mana lokasi yang sesuai dan cocok dengan usaha anda. Apakah dekat dengan jalan raya untuk pembuangan limbah yang telah diolah atau dekat sumber air yang melimpah untuk bahan pembantu yang sangat dibutuhkan dalam usaha tersebut. 
Mendirikan usaha dagang seperti toko, distibutor atau agen tentu akan lebih menguntungkan untuk memilih lokasi dekat pasar, baik pasar secara fisik maupun pasar dalam arti konsumen. Faktor lain yang harus Anda pertimbangkan untuk memilih lokasi usaha perdagangan, di antaranya : jenis dan sifat industri setempat, jumlah dan tingkat sosial penduduk, kemajuan kota atau desa, kebiasaan, kesukaan berbelanja, dan tingkat persaingan usaha di daerah tersebut. Dalam memilih lokasi usaha dengan pertimbangan bahan baku dan pasar ini sekaligus mempertimbangkan biaya transfortasi, tersedianya bahan pembantu utama dan kelancaran penyediaan bahan baku.

2) Faktor Lingkungan Setempat 
Beberapa faktor lingkungan setempat yang perlu dipertimbangkan dalam memilih lokasi usaha, antara lain : 
kemungkinan pengadaan tenaga kerja yang murah dan mudah, pengaruh usaha terhadap ligkungan, jumlah dan tingkat sosial penduduk, adat istiadat, tingkat harga tanah, dan tersedianya bahan-bahan pembantu penting. Contohnya, industri pengolahan yang membutuhkan banyak air, seperti industri air minum kemasan, pembuatan sari buah, penyamakan kulit, pengolahan ikan, dan sebagainya harus memperhitungkan, apakah lingkungan mampu menyediakan sumber air yang memadai dalam jumlah maupun kualitasnya. Juga perlu dipertimbangan kemungkinan pengaruh limbah yang dibuang terhadap lingkungan setempat, sehingga tidak merusak lingkungan sekitar lokasi usaha. 


3) Faktor lain yang membantu proses kelancaran kinerja perusahaan 
Faktor-faktor lain yang dapat dijadikan bahan pertimbangan tambahan di antaranya adalah sebagai berikut : 
a) Fasilitas yang disediakan oleh pemerintah, seperti listrik, telepon, jalan, prioritas pemerintah atau keringanan-keringanan, dan bimbingan yang kerap kali dikaitkan dengan proyek-proyek pemerintah di suatu daerah tertentu. 
b) Peraturan-peraturan setempat dimana usaha akan beroperasi perlu dipertimbangkan dan wajib dipenuhi. 
c) Kebutuhan bahan bangunan, seperti semen, batu, pasir dan sebagainya merupakan pertimbangan lain yang berkaitan dengan pembangunan gedung. 
d) Faktor iklim, panas udara, dan kelembaban yang berpengaruh terhadap kondisi kerja, alat, mesin maupun manusia dapat juga menjadi bahan pertimbangan. 

Sebagaimana halnya banyak keputusan lain, dalam memilih tempat usaha ini terlibat penilaian yang bersifat siklis. Faktor satu akan berpengaruh terhadap yang lainnya dan akhirnya muncul satu atau beberapa pertimbangan yang dapat mengesampingkan faktor lain. Namun, di antara faktor-faktor tersebut yang paling menonjol adalah faktor bahan baku, pasar, dan biaya transfortasi. Dalam hal ini dibutuhkan pertimbangan dan pemikiran matang yang logis. 

Sebelum anda mengambil keputusan tentang lokasi usaha anda sebaiknya Anda berkonsultasi dengan pihak-pihak berikut,: 
• Bankir. Biasanya mereka mempunyai pengertian yang baik tentang kondisi bisnis serta latar belakang dari kebanyakan lokasi bisnis, dalam suatu masyarakat atau komunitas. 
• Kamar dagang setempat. Badan ini dapat membantu Anda merekomendasikan lokasi yang baik, tergantung kepada jenis tertentu bisnis Anda. 
• Pedagang besar, pembuat, dan pembekal . Mereka mempunyai pengetahuan yang luas mengenai lokasi-lokasi dalam daerah pasar tertentu. 
• Asosiasi dagang. Mereka mempunyai informasi tentang kondisi ekonomi dan pasar-pasar dalam suatu daerah tertentu. 
• Badan pemerintah. Badan-badan yang mempromosikan pengembangan bisnis akan mampu memberikan bantuan tambahan. 
• Sumber-sumber. Hal ini meliputi daerah pengembangan industri, perusahaan listrik, perusahaan pengangkutan kereta api, perusahaan real estate, kantor penempatan tenaga kerja, dan para wirausaha setempat. 

Dalam mengambil keputusan terakhir, mungkin Anda akan memerlukan per bandingan dari perbagai tempat lokasi. Dasar perbandingan yang dapat dipakai adalah berapa besar biaya untuk memiliki dan menjalankan usaha di lokasi tertentu. Formulir analisis biaya dalam gambar akan membantu Anda untuk meringkaskan 
informasi, yang Anda butuhkan untuk mengambil keputusan yang baik. Bentuk yang lengkap, dengan peta kota, dan daerah serta statistik mengenai populasi dan pendapatan, seharusnya membantu Anda dalam membuat keputusan yang benar. 

Daftar Pustaka 

Ating Tedjasutisna, 2004, Memahami Kewirausahaan SMK Tingkat 1, Berdasarkan Kurikulum 2004, Bandung, CV. Armico . 
Bernt Adelstat dan Nurhayat Indra (Ed), 1993, Pengembangan Bisnis Koperasi, Manual Pelatih, Jakarta, Kerjasama PUSLATKOP & PK Depkop dan PPK RI dengan ILO CO- OPERATIVE PROJECT. 
Billi P.S. Lim, 2003, Berani Gagal, Alih bahasa : Drs. Suharsono, Jakarta, PT. Pustaka Delapratasa. 
Buchari Alma, 2004, Kewirausahaan, Bandung, Penerbit Alfabeta. 
Hisrich Robert D., Michael P. Peters, 1998, Entrepreneurship, New 
York, Irwin Mc Graw -Hill. 
Jackie Ambadar, Miranty A, Yanti I, 2004, Usaha Yang Cocok Untuk Anda, Jakarta, Yayasan Bina Karsa Mandiri. 
Meredith, Geoffrey G. et al, 2000, Kewirausahaan : Teori dan Praktek, penerjemah : Andre Asparsayogi, Jakarta, Lembaga Manajemen PPM dan PT Pustaka Binaman Pressindo. 
Robert Argene, 2003, Strategi menjadi Wiraswasta Handal, Jakarta, CV. Restu Agung. 
Suryana, 2003, Kewirausahaan : Pedoman Praktis, Kiat dan Proses Menuju Sukses, Edisi Revisi, Jakarta, Penerbit Salemba Empat. 
----------------, 1996, Berani Ambil Resiko, Seri Panduan Kewirausahaan TKMT Dirjen Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja Departemen Tenaga Kerja RI 







BAB VI
RENCANA USAHA



1. Pengertian Perencanaan Usaha 
Apa perencanaan usaha (business plan) itu? Untuk memahaminya, terlebih dahulu kita pahami arti istilah usaha dan arti istilah perencanaan. Dalam pengertian ekonomi, usaha atau bisnis adalah semua kegiatan yang dilakukan oleh individu maupun kelompok individu yang dilaksanakan secara legal dengan menggunakan dan mengkombinasikan sumberdaya atau faktor-faktor produksi untuk menyediakan barang dan/atau jasa bagi masyarakat dengan tujuan untuk memperoleh manfaat finansial, yaitu laba bisnis atau laba usaha (business profit). 

Dari batasan di atas dapat kita catat bahwa, suatu usaha atau bisnis akan selal u berhubungan dengan pengharapan (expectation), yaitu harapan untuk memperoleh keuntungan di masa yang akan datang. Kita 
tahu betul, kepastian dari masa yang akan datang adalah ketidakpastian. Dengan demikian, harapan untuk memperoleh keuntungan sifatnya adalah penuh ketidak pastian. Artinya, bisa menguntungkan dan bisa juga tidak menguntungkan. Jadi suatu usaha selalu mengandung risiko. Karena itu supaya usaha yang akan dijalankan berhasil, perlu dibuat perencanaannya dulu. 

Perencanaan adalah fungsi manajemen yang berhubungan dengan pemilihan visi, misi dan tujuan, strategi, kebijakan, prosedur, aturan, program dan anggaran. Dari kedua pengertian di atas sekarang dapat didefinisikan arti perencanaan usaha yaitu sebagai proses penentuan visi, misi dan tujuan, strategi, kebijakan, prosedur, aturan, program dan anggaran yang diperlukan untuk menjalankan suatu usaha atau bisnis tertentu. Jadi dalam perencanaan usaha terkandung adanya: 
1) Visi, yaitu cita-cita masa depan perusahaan yang akan melakukan usaha tersebut. 
2) Misi adalah maksud khas atau unik dan mendasar yang membedakan perusahaan dengan perusahaan lain serta mengidentifikasikan ruang lingkup kegiatan usaha/perusahaan yang bersangkutan. 
3) Tujuan adalah hasil yang ingin dicapai dari usaha/perusahaan tersebut.
4) Strategi adalah cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan usaha dengan melibatkan semua sumberdaya atau faktor produksi yang dimiliki. 

Dalam dunia bisnis dikenal beberapa strategi yang biasa diterapkan perusahaan sebagai berikut: 
(1) Defender, strategi bisnis yang diarahkan untuk meraih dan mempertahankan pasar pada segmen sempit dari seluruh pasar potensial yang ada. 
(2) Prospector, strategi bisnis yang diarahkan secara agresif untuk meraih pasar seluas-luasnya melalui inovasi produk-produk baru. 
(3) Analyzer, strategi bisnis yang dijalankan melalui imitasi, yaitu meniru apa yang dilakukan prospektor. Strategi bisnis seperti ini bertujuan meraih keuntungan dengan meminimalkan risiko. 
(4) Kepemimpinan dalam biaya (cost-leadership strategy), strategi bisnis yang diarahkan untuk meraih pasar seluas-luasnya melalui harga produk yang semurah-murahnya. 
(5) Diferensiasi (differentiation strategy), strategi bisnis yang diarahkan untuk meraih pasar seluas-luasnya melalui keunikan produk yang dihasilkan. Keunikan tersebut bisa dicirikan oleh kualitas yang tinggi, pelayanan yang prima, maupun rancangan produk yang inovatif. 
(6) Fokus (focus strategy), strategi bisnis yang diarahkan dalam segmen pasar yang sempit yang dijalankan melalui fokus dalam kepemimpinan biaya (cost focus) atau fokus dalam diferensiasi (differentiation focus)
• Kebijakan adalah pedoman umum pembuatan keputusan. Kebijakan merupakan batas bagi keputusan, yaitu menentukan apa yang dapat dibuat dan apa yang tidak dapat dibuat. 
• Program adalah kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan dalam rangka menjalankan usaha tersebut. 
• Anggaran adalah laporan sumberdaya keuangan yang disusun untuk membiayai kegiatan-kegiatan tertentu dalam jangka waktu tertentu. Anggaran terutama digunakan sebagai peralatan pengawasan dalam mengelola usaha. 
• Prosedur adalah pedoman pelaksanaan kebijakan yang lebih rinci. Suatu prosedur memberikan sejumlah instruksi yang terperinci untuk pelaksanaan serangkaian kegiatan yang terjadi secara teratur. 
• Aturan adalah ketentuan bahwa sesuatu tindakan tertentu harus atau tidak boleh dilakukan dalam situasi tertentu. Aturan digunakan untuk mengimplementasikan kegiatan-kegiatan.

2. Sifat dan Manfaat Perencanaan Usaha 
Suatu perencanaan usaha yang baik pada umumnya memiliki sifat sebagai berikut: 
a) Fokus, artinya perencanaan usaha dibuat berdasarkan visi, misi tertentu serta tujuan yang jelas. 
b) Rasional dan faktual, artinya perencanaan usaha dibuat berdasarkan pemikiran yang masuk akal, realistik, berorientasi masa depan serta didukung dengan fakta-fakta yang ada. 
c) Berkesinambungan dan estimasi, artinya perencanaan usaha dibuat dan dipersiapkan untuk tindakan yang berkelanjutan serta perkiraan-perkiraan tentang kondisi di masa datang. 
d) Preparasi dan fleksibel, artinya perencanaan usaha dibuat sebagai persiapan, yaitu pedoman untuk tindakan-tindakan yang akan dilaksanakan yang disesuaikan dengan lingkungan bisnis yang dihadapi. 
e) Operasional, artinya perencanaan usaha dibuat sesederhana mungkin, rinci serta dapat dilaksanakan. 

Apabila suatu perencanaan usaha memiliki sifat-sifat di atas, maka dengan membuat perencanaan usaha akan diperoleh beberapa manfaat sebagai berikut: 
1. Pekerjaan atau aktivitas dapat dilakukan secara teratur dan dengan tujuan yang jelas. 
2. Menghindari pekerjaan atau aktivitas yang tidak produktif serta penggunaan sumberdaya yang lebih efisien. 
3. Menyediakan alat evaluasi untuk menentukan berhasilan usaha. 
4. Menyediakan landasan untuk pengawasan dan upaya perbaikan. Artinya, perencanaan usaha digunakan untuk menjamin bahwa tujuan yang telah ditetapkan tercapai.

3. Proses Perencanaan Usaha 
Telah dijelaskan bahwa, perencanaan usaha adalah proses. Sebagai suatu proses, maka membuat suatu perencanaan usaha dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah tertentu. 

LANGKAH 1. Mengidentifikasi peluang usaha 
Pada umumnya, suatu produk berpotensi untuk laku dijual dan menguntungkan apabila penawaran untuk produk tersebut masih lebih kecil dari permintaannya. Peluang usaha muncul ketika permintaan pasar lebih besar dari penawarannya. Jadi peluang usaha dicirikan oleh masih 
adanya permintaan pasar untuk produk tersebut.

LANGKAH 2. Menentukan jenis usaha yang akan dijalankan 
Berdasarkan langkah indentifikasi akan diperoleh berbagai alternatif jenis usaha yang mungkin dipilih. Dari sejumlah alternatif yang ada selanjutnya dilakukan penilaian awal untuk menentukan jenis usaha yang paling memungkinkan dan dipandang paling menguntungkan. Tentunya dengan mempertimbangkan berbagai faktor yang mungkin menjadi pendukung maupun penghambat usaha. Pertimbangan-pertimbangan yang perlu diperhatikan antara lain: 
a) Jumlah modal dan sumber modal yang diperlukan. 
b) Ketersediaan bahan baku baik secara kualitas, kuantitas maupun kontinuitasnya. 
c) Ketersediaan tenaga kerja yang diperlukan. 
d) Prospek pemasaran produk yang dihasilkan. 
e) Cara-cara pendistribusian. 
f) Daya beli masyarakat terhadap produk yang dihasilkan. 
g) Selera konsumen. 

LANGKAH 3. Melakukan studi kelayakan usaha 
Studi kelayakan usaha (SKU) atau feasibillity studi adalah cara yang ditempuh untuk menentukan layak tidaknya suatu gagasan usaha dilaksanakan. Maksud layak di sini dilihat dari berbagai aspek sebagai 
berikut: 

1) Aspek pasar dan pemasaran 
Kelayakan usaha dilihat dari aspek pasar dan pemasaran ditunjukkan oleh ada tidaknya peluang pasar untuk diraih. Suatu jenis usaha layak dilaksanakan apabila jenis usaha tersebut memiliki peluang pasar yang 
relatif tinggi. Peluang pasar ditunjukkan oleh ekses permintaan. Ekses permintaan terjadi jika jumlah permintaan melebihi jumlah penawarannya. Semakin tinggi ekses permintaan, semakin tinggi peluang pasar, dan karena itu semakin layak jenis usaha tersebut untuk dilaksanakan.

2) Aspek produksi 
Kelayakan usaha dilihat dari aspek produksi diantaranya berkenaan dengan lokasi usaha yang direncanakan, fasilitas dan peralatan produksi, pasokan bahan baku, serta ketersediaan tenaga kerja. Suatu proyek dikatakan layak dilihat dari aspek produksi ditandai oleh lokasi usaha yang strategis, tersedianya fasilitas dan peralatan produksi yang memadai, tersedianya pasokan bahan baku yang terus menerus, serta tersedianya tenaga kerja yang dibutuhkan. 

3) Aspek finansial 
Kelayakan usaha dilihat dari aspek finansial berkenaan dengan manfaat yang mungkin diperoleh oleh investor atau pengusaha. Manfaat ini disebut sebagai laba bisnis atau laba usaha (business profit), yaitu pendapatan yang diperoleh setelah dikurangi dengan seluruh biaya yang dikeluarkan dalam menjalankan usaha. Dilihat dari aspek finansial, suatu jenis usaha layak dilakukan apabila jenis usaha tersebut mampu memberikan laba usaha yang memadai kepada investor dan/atau kepada pengusaha yang menjalankan usaha tersebut.



4) Aspek organisasi dan manajemen 
Kelayakan usaha dilihat dari aspek organisasi dan manajemen berkenaan dengan struktur kepemilikan usaha, struktur organisasi, serta tim manajemen yang mengelola jenis usaha yang direncanakan. 

LANGKAH 4. Membuat proposal usaha 
Langkah terakhir dalam proses perencanaan usaha adalah membuat proposal usaha. Proposal usaha adalah dokumen tertulis dari perencanaan usaha.
Proposal usaha adalah dokumen tertulis tentang perencanaan usaha yang diusulkan kepada pihak investor (pemilik modal) maupun perbankan sebagai bahan pertimbangan dan penilaian untuk memperoleh dana investasi yang dibutuhkan untuk menjalankan usaha yang direncanakan. Perhatikan, dari definisi tersebut terungkap bahwa: 

a) Proposal usaha adalah sebuah dokumen tertulis tentang perencanaan usaha. Sebagai dekokumen tertulis, maka sebuah proposal usaha harus ditulis dengan benar, lengkap, rinci, akurat dan jelas. 
b) Proposal usaha dibuat dengan tujuan utama untuk memperoleh dana investasi yang dibutuhkan dalam rangka membiayai pelaksanaan usaha yang direncanakan.
c) Proposal usaha diajukan kepada penyandang dana, yaitu investor dan/atau pihak perbankan. 
d) Pihak-pihak yang Membutuhkan P roposal Usaha Sebagaimana terungkap dari pengertian proposal usaha di atas, ada beberapa pihak yang memerlukan proposal usaha sebagai berikut: 

1) Pengusaha 
Bagi pengusaha proposal usaha merupakan dokumen tertulis lengkap dan rinci tentang perencanaan usah a (business plan) yang akan dilakukan dan digunakan sebagai alat untuk mengevaluasi pelaksanaan dari usaha yang direncanakan. 
2) Investor 
Bagi investor, proposal usaha merupakan gambaran tentang prospek usaha dan kemungkinan-kemungkinan keuntungan yang dapat diperoleh. Karena itu sebuah proposal usaha bagi investor akan dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kemungkinan ikut berinvestasi dalam usaha yang direncakan dalam 
proposal usaha tersebut. 
3) Perbankan/Lembaga Keuangan 
Melalui proposal usaha pihak perbankan dapat menilai mengenai prospek kesinambungan serta kemampuan usaha yang direncanakan dalam membayar semua kewajiban finansialnya. Karena itu bagi pihak perbankan, 
proposal usaha digunakan sebagai dasar penilaian untuk menentukan penyaluran kredit bagi pendanaan usaha tersebut. 
4) Pemerintah 
Melalui proposal usaha, pemerintah dapat menilai mengenai sumbangan usaha yang akan dilaksanakan terhadap kegiatan ekonomi maupun dampak sosial yang ditimbulkan bagi masyarakat secara kesel uruhan.
5. Isi dan Sistematika Proposal Usaha 
Sebagai sebuah dokumen tertulis perencanaan usaha yang akan digunakan untuk memperoleh dana investasi, maka proposal usaha harus dibuat dengan objektif, lengkap, rinci, akurat, jelas, komunikatif dan sudah tentu menarik untuk dibaca. Isi proposal usaha pada intinya akan mengungkapkan tentang deskripsi perusahaan, aspek pasar dan pemasaran, aspek produksi, aspek keuangan, serta aspek organisasi dan manajemen. 

Bagaimana sistematika penyusunan proposal usaha? Tidak ada sistematika yang baku. Tetapi yang penting, sebuah proposal usaha harus dapat menarik minat investor menanamkan modalnya, atau pihak perbankan agar mau memberikan kredit guna membiayai investasi yang dibutuhkan untuk merealisasikan usaha yang 
direncanakan. Meskipun belum ada bentuk atau sistematika penyusunan proposal yang baku, tetapi pada umumnya sebuah proposal akan disusun dengan sistematika sebagai berikut: 

(1) Ringkasan 
Tujuan dari ringkasan adalah memberikan informasi singkat tentang keseluruhan isi proposal usaha. Dengan membaca ringkasan, dalam waktu yang relatif singkat pihak-pihak yang berkepentingan seperti investor atau pihak perbankan sudah dapat memperoleh gambaran menyeluruh mengenai keseluruhan isi proposal. Karena itu, isi ringkasan harus ditulis secara singkat, padat tetapi jelas menyentuh keseluruhan isi proposal.
(2) Diskripsi Perusahaan 
Dalam bagian ini dikemukakan segala sesuatu yang berhubungan dengan perusahaan yang akan melaksanakan usaha tersebut. Nama, visi, misi, dan tujuan perusahaan. Tidak ketinggalan dikemukakan juga riwayat perusahaan dilengkapi dengan dokumen perusahaan, jenis usaha yang dikelola serta jenis usaha yang direncanakan akan dilaksanakan. Bila diperlukan lengkapi deskripsi ini dengan gambar atau foto yang dianggap penting. 

(3) Aspek Pasar dan Pemasaran 
Bagian ini mengemukakan tiga hal, yaitu gambaran struktur industri dan lingkungan usaha, kondisi pasar serta rencana pemasaran yang akan dijalankan untuk produk yang akan dihasilkan. 

(4) Aspek Produksi 
Dalam bagian ini dikemukakan hal-hal yang berhubungan dengan aspek teknis produksi. Di dalamnya menyangkut lokasi usaha, fasilitas dan peralatan produksi yang dibutuhkan, pasokan bahan mentah, kebutuhan tenaga kerjas, serta biaya produksi. 

(5) Aspek Keuangan 
Aspek keuangan memaparkan tentang tahapan usaha, biaya prainvestai, biaya investasi, biaya pemasaran, administrasi dan umum, sumber pembiayaan dan penggunaan dana, proyeksi laba-rugi, proyeksi aliran kas 

(6) Aspek Organisasi dan Manajemen 
Dalam bagian ini diuraikan tentang struktur organisasi disertasi deskripsi pekerjaan untuk masing-masing jabatan yang terdapat dalam struktur organisasi, tim manajemen yang mengelola usaha dilengkapi dengan daftar riwayat hidup singkat. 

(7) Kesimpulan 
Bagian kesimpulan mengemukakan kesimpulan sehubungan dengan layak tidaknya suatu usaha yang direncanakan dilaksanakan, baik dilihat dari aspek pasar dan pemasaran, produksi, keuangan serta aspek organisasi dan manajemen. 

(8) Daftar Rujukan dan Lampiran 
Daftar rujukan mengemukakan berbagai referensi yang digunakan untuk membuat prposal usaha. Sedang lampiran mengemukakan berbagai informasi penting yang relevan dengan isi proposal usaha. Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, berikut dikemukakan isi dan sistematika proposal usaha sebagai berikut:

Isi dan Sistimatika Proposal Usaha 

RINGKASAN 

BAB I DESKRIPSI PERUSAHAAN 
A. Deskripsi umum perusahaan 
B. Riwayat dan dokumen perusahaan 
C. Visi, misi dan tujuan Perusahaan 
D. Jenis usaha yang dikelola 
E. Jenis usaha yang direncanakan dan poduk yang akan dihasilkan 

BAB II PASAR DAN PEMASARAN 
A. Gambaran industri dan lingkungan usaha 

B. Kondisi pasar 
1. Pasar sasaran 
2. Peluang pasar 
3. Estimasi pangsa pasar 
C. Rencana pemasaran 
1. Penetapan harga produk 
2. Strategi pemasaran 
3. Estimasi penjualan 

BAB III ASPEK PRODUKSI 
A. Analisis lokasi usaha 
B. Fasilitas dan peralatan produksi 
C. Kebutuhan bahan baku 
D. Kebutuhan tenaga kerja 
E. Proses produksi 
F. Kapasitas produksi 
G. Struktur biaya produksi 

BAB IV ASPEK KEUANGAN 
A. Tahapan pelaksanaan usaha yang direncanakan 
B. Biaya pra-investasi: biaya persiapan dan studi kelayakan 
C. Biaya investasi 
D. Biaya pemasaran, administrasi dan umum 
E. Sumber pembiayaan dan penggunaan dana 
F. Proyeksi laba-rugi 
G. Proyeksi aliran kas 

BA B V KESIMPULAN 
DAFTAR RUJUKAN 
LAMPIRAN

DAFTAR PUSTAKA 

Djamin, Zulkarnaen. (1984). Perencanaan dan Analisis Proyek. Jakarta: LP-FE Universitas Indonesia. 

Ibrahim, H.M.Yacob. (1998). Studi Kelayakan Bisnis. Jakarta: Rineka Cipta. 

Griffin, Ricky W. (1996). Management . 5th Edition. U.S.A: Houghton Mifflin Company. 

Husein Umar. (1997). Studi Kelayakan Bisnis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 

Ichsan, Moch., Kusnadi, dan M. Syaifi. (2000). Studi Kelayakan Proyek Bisnis. Malang: Universitas Brawijaya. 

Kusnendi. (2003). Studi Kelayakan Proyek Bisnis. Bandung: JPE Universitas Pendidikan Indonesia. 

Machfoedz, Mahmud & Mas’ud Machfoedz. (2004). Kewiraswastaan Suatu Pendekatan Kontemporer. Yogyakarta: UPP AMP YKPN. 

Nitisemito, Alex S. & Umar Burhan. (2004). Wawasan Studi Kelayakan dan Evaluasi Proyek. Jakarta: Bumi Aksara. 

Prawirohardjono, Sutrisno. (1988). Evaluasi Proyek. Jakarta: Karunika. 

Suad Husnan dan Suwarsono. (1994). Studi Kelayakan Proyek. Yogyakarta: UPP AMP YKPN. 

Ukas, Maman. (2004). Manajemen: Konsep, Prinsip dan Aplikasi. Bandung: Agnini.







































BAB VII
MEMBANGUN KERJA SAMA USAHA


PENGERTIAN,MAKSUD DAN TUJUAN KERJASAMA USAHA 

a) Pengertian Kerja sama 
Sebagai makhluk sosial manusia tidak dapat dipisahkan dari komunitasnya dan setiap orang di dunia ini tidak ada yang dapat berdiri sendiri melakukan segala aktivitas untuk memenuhi kebutuhannya, tanpa bantuan orang lain. Secara alamiah, manusia melakukan interaksi dengan lingkungannya, baik sesama manusia maupun dengan makhluk hidup lainnya. Begitupun Anda, dalam aktivitas usahanya setiap orang selalu membutuhkan kehadiran dan peran orang lain. Tidak seorang pengusaha atau wirausaha yang sukses karena hasil kerja atau usahanya sendiri. Karena dalam kesuksesan usahanya, pasti ada peran orang atau pihak lain. Oleh karena itu, salah satu kunci sukses usaha adalah sukses dalam kerja sama usaha. Kerja sama pada intinya menunjukkan adanya kesepakatan antara dua orang atau lebih yang saling menguntungkan, sebagaimana dua pengertian kerja sama di bawah ini: 

1. Moh. Jafar Hafsah menyebut kerja sama ini dengan istilah “kemitraan”, yang artinya adalah “suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama dengan prisip saling membutuhkan dan saling membesarkan.” 
2. H. Kusnadi mengartikan kerja sama sebagai “dua orang atau lebih untuk melakukan aktivitas bersama yang dilakukan secara terpadu yang diarahkan kepada suatu target atau tujuan tertentu.” Dari pengertian kerjasama di atas, maka ada beberapa aspek yang terkandung dalam kerja sama, yaitu: 

a. Dua orang atau lebih, artinya kerja sama akan ada kalau ada minimal dua orang/pihak yang melakukan kesepakatan. Oleh karena itu, sukses tidaknya kerjasama tersebut ditentukan oleh peran dari kedua orang atau kedua pihak yang bekerja sama tersebut. 
b. Aktivitas, menunjukkan bahwa kerja sama tersebut terjadi karena adanya aktivitas yang dikehendaki bersama, sebagai alat untuk mencapai tujuan dan ini membutuhkan strategi (bisnis/usaha). 
c. Tujuan/target, merupakan aspek yang menjadi sasaran dari kerjasama usaha tersebut, biasanya adalah keuntungan baik secara finansial maupun nonfinansial yang dirasakan atau diterima oleh kedua pihak. 
d. Jangka waktu tertentu, menunjukkan bahwa kerja sama tersebut dibatasi oleh waktu, artinya ada kesepakan kedua pihak kapan kerjasama itu berakhir. Dalam hal ini, tentu saja setelah tujuan atau target yang dikehendaki telah tercapai. 

b) Maksud dan Tujuan Kerja Sama 
Manusia diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, yang berbeda antara manusia yang satu dengan manusia yang lain. Manusia tidak ada yang sempurna, karenanya manusia selalu membutuhkan kehadiran orang lain. Sebagai seorang wirausaha dalam kegiatan usaha memerlukan kerjasama usaha dengan pihak lain, dan dalam memilih mitra kerjasama tentu memilih mitra yang memiliki kelebihan atas kekurangan yang dimiliki diri sendiri, serta memberi manfaat baik bagi diri sendiri maupun mitra kerja sama. Dengan demikian, ker ja sama tidak didorong oleh kepentingan sepihak 
saja, melainkan harus dilandasi oleh kesepakatan yang membawa kemaslahatan kedua pihak. 
Dari pengertian kerjasama dan dari uraian di atas, maka dapat dipahami apa sebenarnya maksud dari diadakannya kerja sama usaha. 

Moh. Jafar Hafsah (2000) mengatakan bahwa “pada dasarnya maksud dan tujuan dari kemitraan (kerja sama) adalah win win solution. Maksudnya adalah bahwa dalam kerja sama harus menimbulkan kesadaran dan saling menguntungkan kedua pihak. Tentu saja, saling menguntungkan bukan berarti bahwa kedua pihak yang bekerja sama tersebut harus memiliki kekuatan dan kemampuan yang sama serta memperoleh keuntungan yang sama besar. Akan tetapi, kedua pihak memberi kontribusi atau peran yang sesuai dengan kekuatan dan potensi masing-masing pihak, sehingga keuntungan atau kerugian yang dicapai atau diderita kedua pihak bersifat proporsional, artinya sesuai dengan peran dan kekuatan masing-masing. 
Sebagai contoh, Si A dan si B melakukan kesepakatan kerjasama. A memiliki sejumlah uang yang dapat dipakai untuk modal suatu usaha, namun A kurang menguasai manajemen usaha. Sementara B tidak 
memiliki uang, namun memiliki keahlian dalam pengelolaan usaha. Dalam hal ini, kekuatan dan peran dari A dan B tidak sama, namun mereka sepakat untuk melakukan kerja sama usaha dan menyepakati pula pembagian keuntungan yang bakal diperoleh, misalnya dengan pembagian 60 % untuk A dan 40 % untuk B, serta kesepakatan-kesepakatan lain. 
Dari ilustrasi contoh di atas, jelas bahwa dalam kerja sama, antara pihak yang bekerja sama tidak harus memiliki kekuatan yang sama besar, namun yang lebih utama adalah motivasi yang jelas dari kerja sama tersebut. Oleh karena itu, kesuksesan kerja sama tidak akan dicapai kalau hanya satu pihak saja yang berperan, sedangkan pihak lain hanya menuntut hasil. Oleh karena itu, sebelum kesepakatan kerja sama ditandatangani, harus jelas dulu apa saja yang disepakati beserta aturan mainnya dan sanksi-sanksi, bila salah satu pihak ingkar janji dari kerja sama. Jadi dalam kerja sama usaha harus dimunculkan rasa kesadaran “memiliki” (sense of belonging), sehingga melahirkan rasa bertanggung jawab (sense of reponsibility) atas apa yang telah disepakati dalam kerja sama. 
Kerja sama usaha baik dalam skala usaha kecil maupun skala besar pada akhirnya tidak hanya sekedar memberi keuntungan pada pihak yang bekerja sama, tetapi pula akan berdampak pada pihak-pihak lain atau masyarakat secara umum. Konkeritnya, kerja sama usaha diarahkan untuk mencapai tujuan sebagai berikut: 

A. Tujuan Secara Mikro: 
1) Meningkatkan pendapatan dan skala usaha pihak yang bekerja sama. 
2) Meningkatkan perolehan nilai tambah bagi pihak yang bekerja sama. 

B. Tujuan Secara Makro: 
1) Meningkatkan pemerataan dan pemberdayaan masyarakat serta pelaku usaha. 
2) Meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat dan negara 
3) Memperluas kesempatan kerja 
4) Meningkatkan ketahanan ekonomi nasional. 

Tujuan-tujuan di atas akan dapat dicapai, bila kerja sama tersebut berjalan “langgeng” karena tidak jarang terjadi kesepakatan kerjasama berakhir tanpa tujuan dikarenakan perpecahan atau perselisihan pihak-
pihak yang bekerja sama. Kelanggengan kerja sama yang hanya dapat dicapai, bila kedua pihak komitmen atau mentaati kesepakatan-kesepakatan yang telah dibuat bersama.

• Dilihat dari hubungan dengan tujuan organisasi/badan usaha, kerja sama dapat dibedakan atas: 
a. Kerja sama fungsional, yaitu bentuk kerja sama berbagai badan usaha dalam suatu bidang atau fungsi tertentu, misalnya kerja sama antara perusahaan dalam hal pembelian atau pengadaan bahan baku, kerja sama dalam penelitian dan pengembangan, kerja sama dalam pendidikan dan pelatihan, kerja sama dalam promosi dan penjualan, serta kerja sama fungsi lainnya. 
b. Kerja sama disfungsional: kartel, yaitu kerja sama dari kelompok perusahaan yang sama, yang dilakukan berdasarkan persetujuan pembatasan persaingan pada pasar penjualan, untuk sama-sama memperoleh kedudukan yang lebih kokoh pada pasar penjualan. Kartel juga menunjukkan hubungan kerja sama secara horizontal.

• Dilihat dari posisi pelaku yang bekerja sama, maka kerja sama dapat dibedakan atas: 
a. Kerja sama vertikal, yaitu bentuk kerja sama yang menunjukkan kerja sama antara beberapa perusahaan/wirausaha yang memiliki tahap atau tingkatan kegiatan usaha/produksi yang berurutan, dari tahap paling awal sampai tahap produksi akhir. Contoh: Kerja sama antara perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam usaha yang menghasilkan produk tas dari bahan jerami. Kerja sama yang terjadi adalah antara para pengumpul jerami, pemilik pabrik tas, para penyalur serta para pengecer produk tas tersebut.
b. Kerja sama horizontal, yaitu bentuk kerja sama dari sejumlah perusahaan/wirausaha yang memiliki kegiatan usaha atau yang menghasilkan produk sejenis. Contoh: Kerja sama antara perusahaan-perusahaan yang menghasilkan produk tas.

3. Proses Pengembangan Kerja Sama 
Pernahkah Anda membayangkan bahwa suatu saat Anda memiliki suatu usaha atau perusahaan dan Anda membutuhkan kehadiran orang atau pihak lain untuk diajak bekerja sama mengelola usaha Anda? Atau 
pernahkah Anda membayangkan suatu saat ada teman lama yang mengajak Anda untuk membantu usahanya atau mengajak bekerja sama mengelola suatu usaha? Andai saja yang terbayangkan oleh Anda adalah keadaan yang pertama, siapakah yang akan Anda ajak untuk bekerja sama, kemudian apa yang Anda persiapkan untuk kerja sama tersebut? Sedangkan, andai saja yang terbayangkan oleh Anda adalah Anda diajak kerja sama usaha oleh teman Anda, siapakah Anda, apakah Anda akan langsung menerima ajakan atau tawaran kerja sama tersebut? Untuk menjawab dua kemungkinan di atas, tentu tidak dapat dijawab begitu saja atau seketika. Karena memutuskan untuk mengajak orang lain bekerja sama atau memutuskan untuk bergabung dengan orang lain yang mengajak bekerja sama, sama-sama membutuhkan pertimbangan yang matang. Hal ini sebagaimana yang diuraikan pada bagian sebelumnya bahwa kerjasama pada dasarnya, memiliki maksud dan tujuan “win-win solution” atau saling menguntungkan kedua pihak. 

Oleh karena itu, memutuskan seketika tanpa pertimbangan yang matang dikhawatirkan akan menimbulkan kekecewaan pada pihak yang bekerja sama. Sebelum memutuskan siapa atau pihak mana yang akan diajak bekerja sama atau dijadikan mitra usaha, maka perlu diperhatikan rangkaian proses pengembangan kerja sama agar dari kerja sama tersebut memperoleh hasil yang optimal. Moh. Jafar Hafsah (2000), menjelaskan rangkaian urutan proses kerja sama tersebut sebagai berikut: 

1) Memulai membangun hubungan dengan calon mitra. 
Hal ini dimaksudkan agar kita dapat mengenal pihak atau orang yang akan dijadikan calon mitra dengan baik dan tepat. Jangan sampai kita salah memilih, yang kata peribahasa ibarat “membeli kucing dalam karung”. Artinya, jangan sampai kita memilih calon mitra yang tidak ketahui karakternya, kebiasaannya, track recordnya, latar belakangnya, dan sebagainya. Untuk mendapatkan informasi yang lengkap mengenai calon mitra ini membutuhkan waktu yang lama dan perlu per an pihak lain yang dapat membantu kita memberi informasi mengenai calon mitra kita. 

2) Mengerti kondisi bisnis pihak yang bermitra atau bekerja sama. 
Apabila calon mitra kita adalah orang yang telah punya pengalamam berbisnis, maka kita harus mengetahui bagaimana kemampuan manajemennya, teknologinya, sumber daya manusianya dan sumber daya finansialnya. Sedangkan, bila calon mitra kita adalah orang yang tidak atau belum memiliki pengalaman usaha, maka kita pun patut untuk mengetahui keahlian atau keterampilan serta modal apa yang dimilikinya, sehingga kita layak mempertimbangkannya sebagai calon mitra usaha kita. 
Hal di atas penting, karena kerja sama usaha merupakan kesepakatan yang harus dijalankan bersama dan menjadi tanggung jawab bersama sesuai dengan potensi atau kemampuan masing-masing yang diberikan dalam kerja sama tersebut. Bila kita melihat bahwa calon mitra kita tidak memiliki kemampuan atau potensi 
sebagaimana yang kita harapkan, maka kita dapat mencari calon mitra lainnya. Namun, bila kita melihat calon mitra tersebut telah memenuhi persyaratan yang kita inginkan, maka kita dapat memutuskan bahwa inilah calon mitra kita yang tepat. 

3) Mengembangkan strategi dan mengenal detail bisnis. 
Bila telah ditetapkan calon mitra, maka langkah selanjutnya adalah bagaimana mengembangkan strategi usaha. Hal ini dapat dilakukan dengan cara membagi tugas dengan pihak yang bermitra sesuai dengan informasi dan kemampuan yang dimiliki masing-masing. Dengan strategi dan mengenal detail bisnis yang tepat, maka kita akan dapat mengembangkan usaha secara tepat pula, sehingga akan mendatangkan keuntungan kedua pihak (win-win solution). 

4) Mengembangkan program. 
Pengembangan program merupakan langkah yang dilakukan setelah mengembangkan stategi bisnis dan merupakan rencana taktis yang akan dilaksanakan. Hal ini kemudian perlu diinformasikan kepada semua pihak yang akan terlibat dalam kerja sama tersebut, sehingga semua pihak siap untuk melaksanakannya. 

5) Memulai pelaksanaan. 
Setelah semua siap, barulah usaha dalam bentuk kerja sama atau kemitraan tersebut dilaksanakan. Dalam awal pelaksanaan perlu dicek kesiapan-kesiapan serta memprediksi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. 

6) Memonitoring dan mengevaluasi perkembangan 
Selama proses pelaksanaan perlu ada monitoring, sehingga dapat di evaluasi kekurangan-kekurangan atau hambatan-hambatan yang dihadapi. Dengan melakukan monitoring dan evaluasi, maka selanjutnya dapat dilakukan penyesuaian atau perbaikan-perbaikan sebagaimana yang diperlukan.


ASPEK-ASPEK DALAM MEMBANGUN KERJA SAMA

1. Aspek-aspek yang Harus Diperhatikan Dalam Membangun Kerja Sama 
Kerja sama usaha bukan kerja sama yang bersifat instant atau sekali jadi, melainkan melalui proses panjang yang harus dipertimbangkan secara matang dengan memperhatikan berbagai aspek atau faktor. 

1) Etika Bisnis Dalam Kerja Sama

Seorang wirausaha dengan segala kelebihan dan kekurangannya memerlukan kerja sama dengan pihak lain, yang pada gilirannya tercapai Win-win Solution. Kerja sama yang baik akan tercipta, bila kerjasama tersebut dilandasi nilai -nilai kerja sama yang disepakati bersama. Salah satu yang harus diperhatikan dalam masalah kerja sama usaha ini adalah “Etika Bisnis dalam Bekerja sama”. John L. Mariotti (1993) mengungkapkan ada 6 dasar etika bisnis yang harus diperhatikan, yaitu: 

a) Karakter, integritas, dan kejujuran 
Setiap orang pada hakekatnya memiliki karakter yang berbeda antara yang satu dengan yang lain, sehingga karakter menunjukkan personality atau kepribadian seseorang yang menunjukkan kualitas yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok komunitas tertentu. Seorang yang memiliki karakter yang baik, biasanya memiliki integritas diri yang tinggi. Jadi, yang dimaksud dengan integritas adalah sifat atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh, sehingga dapat memancarkan kewibawaan. Oleh karena itu, seseorang yang berintegritas tinggi biasanya memiliki kejujuran lebih dari mereka yang integritas dirinya kurang. Dengan demikian, kejujuran menunjukkan ketulusan hati dan sikap dasar yang dimiliki setiap manusia. Sudah seharusnya seorang wirausaha memilih mitra kerja yang selain jujur juga potensial. Ia juga memiliki karakter dan integritas yang tinggi. Karakter, integritas, dan kejujuran merupakan tiga hal yang saling terkait atau merupakan satu kesatuan yang membentuk “pribadi tangguh”.
Wachyu Suparyanto (2004) dalam bukunya yang berjudul “Petunjuk Untuk Memulai Berwirausaha” mengatakan “Mitra kerja yang sempurna adalah yang mempunyai kemampuan dalam berbagai hal melebihi kemampuan kita serta jujur karena jika kemampuannya sangat tinggi, tapi tidak jujur dia akan membohongi 
kita atau dengan kata lain pagar makan tanaman. Di sisi lain jika mitra kita jujur tetapi kemampuannya rendah, dia akan membuat kita lelah.” 

b) Kepercayaan. 
Kepercayaan adalah keyakinan atau anggapan bahwa sesuatu yang dipercaya itu benar atau nyata. Kepercayaan merupakan modal dalam berbisnis yang tidak muncul begitu saja atau dadakan, kepercayaan 
lahir dan dibangun dari pengalaman. Oleh karena itu, kepercayaan dimunculkan dari proses yang mungkin dalam waktu singkat, bahkan bisa pula dalam waktu yang lama. Seorang wirausaha yang akan berkerja sama dengan pihak atau orang lain akan memilih mitra yang ia percaya, yang telah melalui proses uji kelayakan sebagai mitra. Proses pengujian ini dapat dilakukan baik melalui pengamatan maupun membaca track record 
calon mitra, baik secara langsung maupun melalui pihak lain yang dipercaya. Sudah selayaknya mitra yang diajak berkerja sama adalah orang atau pihak yang benar -benar dapat dipercaya, karena sekali salah memilih mitra maka akan sulit membangun kembali kepercayaan. 

c) Komunikasi yang terbuka. 
Dikarenakan kerja sama didasarkan atas kepentingan kedua pihak, maka dalam kerja sama usaha harus ada komunikasi yang terbuka antara keduanya. Komunikasi kedua pihak penting, mengingat dalam usaha atau bisnis memerlukan banyak informasi untuk menunjang kepentingan usaha. Pertukaran informasi dan diskusi kedua pihak mengenai usaha bersama yang dijalankan tidak mungkin terjadi jika salah satu pihak menutup diri atau kurang terbuka. Oleh karena itu, komunikasi yang terbuka merupakan salah satu dasar bermitra yang 
harus dibangun. 

d) A d i l 
Telah diungkapkan pada uraian terdahulu bahwa maksud dan tujuan dari kerja sama adalah “Win-win Solution”, yang bermakna bahwa dalam kerja sama harus ada keadilan di antara kedua pihak. Artinya bahwa bila usaha yang dijalankan mengalami kerugian, maka bukan hanya salah satu pihak saja yang harus menanggung kerugian tersebut, melainkan harus ditanggung bersama. Begitu pula sebaliknya, bila mendapatkan keuntungan, keduanya pun memperoleh keuntungan. Besarnya kerugian dan keuntungan bagian masing-masing ditentukan berdasarkan kesepakatan bersama pada awal kontrak kerja sama ditandatangani, yang biasanya didasarkan pada sumbangan masing-masing pihak dalam kerja sama tersebut. Dengan demikian, adil menunjukkan sikap tidak berat sebelah atau menguntungkan/merugikan pihak lain. Adil memang mudah untuk diucapkan, namun berat untuk dilaksanakan oleh manusia karena hanya Allah yang maha adil. 

e) Keinginan pribadi dari pihak yang bermitra. 
Seorang wirausaha yang melakukan kerjasama usaha dengan pihak lain memiliki motivasi tertentu, yang dibentuk oleh keinginan-keinginan tertentu yang akan diraihnya dari kerja sama tersebut. Dapat dikatakan bahwa hampir tidak ada kerja sama yang tidak didasari keinginan-keinginan tertentu dari pihak yang bermitra tersebut. Keinginan-keinginan dari kedua pihak dapat keinginan yang bersifat ekonomi, seperti keinginan untuk lebih maju dan berkembang, keinginan memperluas pasar dan sebagainya, maupun keinginan nonekonomi, seperti peningkatkan kemampuan dan pengalaman serta pergaulan usaha yang lebih luas. Keinginan-keinginan tersebut akan menjadi penggerak atau motivator uantuk menjalankan kerja sama 
secara harmonis.

f) Keseimbangan antara insentif dan resiko. 
Sebagaimana dalam aspek “adil’ yang diuraikan sebelumnya, aspek keseimbangan antara insentif dan resiko dapat pula bermakna adil. Artinya, dalam berbisnis, pasti akan ada resiko yang harus dipikul masing-masing pihak dan ada insentif yang diterima masing-masing sebagai hasil atau dampak dari resiko yang ditanggung tersebut. Keseimbangan antara insentif dan resiko senantiasa ada selama kerja sama usaha tersebut ada dan kedua pihak sepakat untuk tetap mempertahankannya. Bila salah satu pihak sudah tidak sanggup untuk menjalankan resiko, maka otomatis insentif berupa keuntungan pun tidak akan diraihnya dan tentu saja ini akan menganggu kontinuitas kerja sama usaha.

2) Pedoman Kerja sama yang Efektif dan Efisien 
Uraian di atas diketahui bahwa tujuan kerjasama secara mikro, adalah untuk: a) Meningkatkan pendapatan dan sk ala usaha pihak yang berkerja sama dan b) Meningkatkan perolehan nilai tambah bagi pihak yang berkerja sama. Tujuan ini tidak akan tercapai, bila kerja sama yang terjalin tidak berjalan secara efektif dan efisien. Oleh karena itu diperlukan pedoman bagi setiap wirausaha atau siapa pun yang akan melakukan kerja sama. 

H. Kusnadi (2003) dalam bukunya “Masalah, Kerja sama, Konflik, dan Kinerja” menguraikan bahwa dalam membangun kerja sama yang efektif dan efisien terdapat beberapa pedoman yang harus dipatuhi, yaitu: 

a) Kesadaran diri. 
Kedua pihak yang bermitra harus menyadari bahwa kerja sama yang dibangun tidak akan mencapai tujuan bila hanya dijalankan oleh seseorang, melainkan harus disadari bahwa kerja sama tersebut merupakan tanggung jawab bersama untuk mencap ai tujuan bersama. 

1) Memahami konsep persamaan dan perbedaan manusia. 
Harus disadari bahwa setiap manusia memiliki perbedaan yang ditandai dari kekurangan, kelebihan, dan potensi masing-masing. Perbedaan inilah yang justru menjadi pendorong untuk melakukan kerja sama. 
2) Adanya tujuan dan target yang jelas. 
Hal ini penting dan ditetapkan secara jelas serta disepakati secara bersama, sehingga akan mempermudah untuk mencapainya. 
3) Adanya ilmu dan teknologi yang relevan 
Ilmu dan teknologi merupakan faktor yang membantu proses kerja sama berjalan secara baik dan berhasil. Oleh karena itu tanpa kedua aspek tersebut kerja sama usaha belum tentu akan mendatangkan kesuksesan. Hal ini mengingat kemajuan zaman yang ditandai dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang demikian cepat, sehingga menuntut para wirausaha yang untuk memilki dan menyesuaikan diri dengan ilmu dan teknologi yang relevan dengan usahanya. 
4) Serius, santai, dan tidak tegang. 
Ketiga hal ini akan menjadikan kerja sama yang dibina menjadi sesuatu yang menyenangkan. Dengan kondisi demikian, maka kerjasama diharapkan dapat dijalankan dengan baik dan berhasil karena dapat melahirkan cara berpikir yang jernih dan rasional. 
5) Komunikasi yang baik. 
Hal ini telah diuraikan pada salah satu point dari etika bisnis dalam kerjasama. Yang pada intinya, komunikasi yang baik akan menciptakan kondisi kerja yang kondusif untuk tercapainya tujuan atau target kerjasama. 
6) Dukungan yang menyeluruh. 
Seorang Wirausaha tidak berdiri sendiri, ia dibantu oleh pihak lain khususnya yang secara struktural memiliki ikatan dalam organisasi usaha yang dipimpinnya. Oleh karena itu, kerja sama usaha yang dijalan harus melibatkan pula seluruh pihak yang ada atau dengan perkataan lain kerja sama tersebut harus mendapat dukungan secara menyeluruh. Dengan dukungan tersebut, maka target yang ingin dicapai dari kerjasama dapat dengan mudah diraih. 
7) Adanya perhatian. 
Perhatian di sini dalam konteks yang luas, yaitu baik dari sesama kalangan usaha, pihak keluarga maupun pemerintah dan pihak terkait. Kerja sama akan tercipta dengan baik bila ada perhatian dari semua pihak. 
8) Adanya kewajaran. 
Kerja sama tidak dapat dipaksakan dan menyeluruh karena tidak semua hal memerlukan kerja sama. Dalam kerja sama usaha, masing-masing pihak memberi kontribusi yang wajar sesuai dengan potensi dan kapasitas masing-masing pihak. 
9) Adanya keterbukaan. 
Hal ini hampir mirip dengan masalah komunikasi yang baik. Keterbukaan merupakan kunci dari komunikasi yang baik, karena tanpa keterbukaan komunikasi menjadi terhambat. Oleh karena itu, agar kerja sama dapat berjalan dengan baik diperlukan keterbukaan dari semua pihak. 
10) Dapat meramalkan masa depan. 
Kerja sama bukan hanya untuk kepentingan saat ini dan sesaat, melainkan untuk jangka waktu panjang dan jauh ke depan. Kerja sama yang baik diperlukan agar dapat meramalkan kondisi usaha yang akan dihadapi pada masa depan, seperti dapat mengetahui keadaan pesaing, kondisi ekonomi, serta kemungkinan perluasan pasar. 
11) Adanya kompetensi. 
Kerja sama selalu diarahkan untuk mencapai sasaran tertentu. Kerja sama tidak dilaksanakan tanpa arah, karena tanpa arah, atau kompetensi tertentu, maka kerja sama akan menjadi sia-sia. 
12) Adanya keeratan semua pihak yang terlibat dalam kerja sama. 
Semua pihak yang terlibat dalam ikatan kerja sama usaha merupakan satu tim kerja (team work) yang harus berkerja secara sinergi atau saling menunjang dan melengkapi sebagai satu kesatuan. Hal ini perlu karena tidak mungkin kerja sama hanya dijalankan oleh salah satu pihak atau seorang diri.

3) Dua Hal Penting yang Harus Diperhatikan Dalam Kerja sama 
Pietra Saroja (2004) dalam bukunya yang berjudul “Langkah Awal Menjadi Entrepreneur Sukses”, mengatakan bahwa dalam kerja sama ada dua hal penting yang harus diperhatikan, yaitu: 

a) Pemilihan rekan bisnis yang tepat. 
Sebagaimana dalam uraian sebelumnya, bahwa kepercayaan diperlukan dalam kerja sama. Namun, kepercayaan dihasilkan dari proses yang panjang. Memilih rekan bisnis tidak dapat dilakukan secara sembarangan karena mitra bisnis haruslah yang dapat dipercaya. Kesalahan dalam memilih rekan bisnis akan berakibat fatal karena akan mengancam hubungan harmonis kedua pihak. Agar tidak salah dalam memilih mitra yang akan diajak kerja sama, maka harus diperhatikan hal -hal sebagai berikut: 

1) Jangan jadikan uang sebagai pertimbangan utama. Modal dari kerja sama tidak semata-mata masalah uang, uang hanyalah salah satu aspek dari kerjasama. Oleh karena itu, untuk membangun kerja sama yang baik jangan menjadikan uang sebagai satu-satunya faktor atau aspek yang harus dipertimbangkan, karena sebagaimana pada uraian sebelumnya ada motivasi ekonomi dan nonekonomi yang mendorong kerja sama. 
2) Kenali calon rekan bisnis Anda. 
Pihak yang diajak berkerja sama dapat berasal dari berbagai kalangan yang mungkin sekali kita belum mengetahui asal usulnya serta perjalanan kariernya dalam berbisnis (track record). Untuk menjalin kerja sama yang baik, jangan memilih rekan bisnis hanya melihat dari kulitnya saja, kenalilah dia kalau dapat sampai ke tulang sumsumnya atau keadaan yang sebenarnya. Semua ini diperlukan, agar kita tidak kecewa dikemudian hari yang akan menghancurkan usaha kita. 
3) Lakukan pendekatan-pendekatan di luar bisnis. 
Agar dapat mengenal calon mitra yang akan diajak kerja sama lakukan pendekatan-pendekatan, yang tidak harus dalam konteks bisnis. Lakukan pendekatan di luar bisnis, misalnya pada acara syukuran calon mitra, hari ulang tahunnya atau pada acara moment-moment penting yang kebetulan dapat bertemu. 
4) Minta penilaian dari orang yang bisa dipercaya. 
Sebelum memutuskan siapa yang akan di ajak berkerja sama, cobalah untuk meminta pendapat atau penilaian orang lain mengenai calon mitra kita. Orang yang diminta menilai haruslah orang berkompeten dan dapat dipercaya yang dapat menilai secara obyektif, bisa saja orang tersebut adalah konsumen, tenaga lapangan, pesaing atau lembaga terkait. Penilaian sendiri biasanya bersifat subyektif karena dipengaruhi faktor-faktor yang bersifat emosional. Padukan penilaian Anda dan penilaian dari pihak yang diminta untuk menilai, sehingga diperoleh kesimpulan yang akurat mengenai calon mitra yang akan di ajak kerja sama. 

b) Adanya Perjanjian yang Berkekuatan Hukum. 
Pada awal uraian modul ini dikemukakan bahwa kerja sama sebaiknya disepakati dalam suatu “kontrak kerja sama”. Kontrak kerja sama yang memuat tentang berbagai hal yang disepakati sebaiknya dibuat secara tertulis. Hal ini dimaksudkan bila terjadi sesuatu, misalnya pengingkaran kesepakatan oleh salah satu pihak, maka ada bukti yang kuat untuk menuntut. Akan tetapi, lebih baik lagi bila perjanjian kesepakatan yang dibuat memiliki kekuatan hukum.Ada beberapa upaya yang bisa dilakukan dalam membuat perjanjian yang berkekuatan hukum, yaitu: 

1) Buat perjanjian hitam di atas putih. 
Perjanjian yang hanya dilakukan secara lisan tidak memiliki kekuatan hukum dan dalam waktu yang singkat sudah dapat dilupakan atau berubah. Oleh karena itu, perjanjian secara tertulis akan lebih menjamin dan mengikat kedua pihak. Untuk memperkuat secara hukum, maka perjanjian dibuat di atas kertas segel atau bermaterai. Sebelum perjanjian ditandatangani kedua pihak, maka kedua pihak harus terlebih dahulu membaca dengan seksama isi dari perjanjian tersebut. Setelah semua setuju atau sudah direvisi (bila sebelumnya ada sesuatu yang kurang atau tidak disepakati), maka barulah kedua pihak menandatanganinya. Masing-masing pihak yang bermitra harus memiliki salinan dari perjanjian tertulis tersebut. 
2) Carilah saksi dalam penandatangan perjanjian. 
Perjanjian hendaknya dibuat dengan disaksikan oleh beberapa orang atau pihak sebagai saksi, sebaiknya ada saksi yang mewakili kedua pihak yang mengikat perjanjian kerja sama. Agar isi perjanjian mengikat kedua pihak dan kedua pihak tersebut berusaha semaksimal mungkin untuk mentaati isi perjanjian, maka perjanjian tersebut harus ditandatangani pula para saksi. Saksi inilah yang nanti akan bicara seandainya ada salah satu pihak yang mengingkari isi perjanjian. 
3) Materaikan perjanjian. 
Sebagaimana uraian sebelumnya, agar perjanjian yang dibuat memiliki kekuatan hukum harus dibuat di atas kertas segel atau bermaterai. 
4) Pergi ke notaris. 
Agar lebih memiliki kekuatan hukum, maka perjanjian sebaiknya dilakukan di depan notaris. Selain memberi kekuatan hukum, notaris dapat pula berperan sebagai saksi. 
5) Jangan lanjutkan kerja sama bila ada pihak yang tidak mau menandatangani. 
Kerja sama baru dapat dikatakan terjadi apabila pihak-pihak terkait, khususnya kedua pihak yang bermitra telah menandatangi surat perjanjian. Bila ada salah satu pihak tidak mau menandatangi, berarti perjanjian kerja sama tersebut tidak dapat dilanjutkan. 

2. Manfaat Kerja Sama 
Sebagaimana diuraikan sebelumnya, bahwa salah satu aspek dari kerja sama adalah target atau tujuan yang akan di capai. Melihat hal ini, maka sudah jelas bahwa dengan adanya kerja sama diharapkan diperoleh manfaat dari pihak-pihak yang bekerja sama tersebut. Manfaat kerja sama dilihat dari target tersebut adalah baik bersifat finansial maupun nonfinansial. Bila ditanya 1 + 1 pasti Anda akan menjawab 2, tetapi dalam konsep kerja sama atau kemitraan, 1 + 1 harus lebih besar dari 2 ( 1 + 1 > 2). Mengapa demikian ? 
bahwa pihak-pihak yang bekerja sama masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Oleh karena itu, keduanya berusaha menutupi kekurangan masing-masing dengan kelebihan yang dimiliki oleh pihak lain atau pihak yang bermitra. Dengan demikian, diharapkan hasil yang dicapai dari kerja sama usaha harus lebih baik atau lebih besar dibandingkan jika dikelola sendiri tanpa kerja sama dengan pihak lain. Jikahasil yang diperoleh dari kerja sama tidak lebih baik bila seandainya tanpa kerjasama, berarti kerja sama tersebut gagal. H. Kusnadi (2003) mengatakan bahwa berdasarkan penelitian kerja sama mempunyai beberapa manfaat, yaitu sebagai berikut: 

a) Kerja sama mendorong persaingan di dalam pencapaian tujuan dan peningkatan produktivitas. 
b) Kerja sama mendorong berbagai upaya individu agar dapat bekerja lebih produktif, efektif, dan efisien. 
c) Kerja sama mendorong terciptanya sinergi sehingga biaya operasionalisasi akan menjadi semakin rendah yang menyebabkan kemampuan bersaing meningkat. 
d) Kerja sama mendorong terciptanya hubungan yang harmonis antarpihak terkait serta meningkatkan rasa kesetiakawanan. 
e) Kerja sama menciptakan praktek yang sehat serta meningkatkan semangat kelompok. 
f) Kerja sama mendorong ikut serta memiliki situasi dan keadaan yang terjadi dilingkungannya, sehingga secara otomatis akan ikut menjaga dan melestarikan situasi dan kondisi yang telah baik. 

Moh. Jafar Hafsah (2000) melihat manfaat kerjasama, antara lain dibedakan atas: 

1) Manfaat produktivitas 
Anda masih ingat mengenai produktivitas kan, bagaimana rumusnya ? Produktivitas adalah suatu model ekonomi yang diperolah dari membagi output dengan input. 
Produktivitas = output : input 
Dengan formulasi di atas dan sesuai dengan rumus 1 + 1 > 2 sebelumnya, maka produktivitas dikatakan meningkat bila dengan input yang tetap diperoleh output yang semakin besar .Selain itu, produktivitas yang tinggi dapat diperoleh dengan cara mengurangi penggunaan input (dengan syarat tidak mengurangi kualitas), sehingga dengan output yang tetap dengan penggunaan input yang sedikit menunjukkan adanya peningkatan produktivitas. 

2) Manfaat efisiensi 
Manfaat efisiensi dapat diartikan sebagai dicapainya cara kerja yang hemat, tidak terjadi pemborosan, dan menunjukkan keadaan menguntungkan, baik dilihat dari segi waktu, tenaga maupun biaya. 
Ini dapat dicapai karena dalam kerja sama mengikat pihak-pihak yang bekerja sama untuk mentaati segala kesepakatan, serta terjadi spesialisasi tugas dan tanggung jawab sesuai dengan kemampuan yang dimiliki masing-masing. 
Contoh: 
Ada dua perusahaan atau dua wirausaha yang bekerja sama (mis. A dan B). Perusahaan atau wirausaha A memiliki kelebihan dalam modal berupa teknologi dan sarana produksi, namun tidak memiliki tenaga kerja yang cukup. Sedangkan, perusahaan atau wirausaha B memiliki tenaga kerja, namun kurang memiliki sarana produksi (modal) yang cukup. Oleh karena itu, dengan menggabungkan dua kelebihan dari perusahaan A dan B tersebut akan dapat dicapai penghematan tenaga maupun sarana produksi yang merupakan kekurangan atau kelemahan yang dimiliki kedua perusahaan. Tanpa kerja sama, maka perusahaan A tidak dapat mengoptimalkan modalnya karena tidak ada tenaga kerja yang mengoperasikannya dan perusahaan B tidak dapat mempekerjakan tenaga kerjanya karena tidak adanya modal dan sarana produksi. 

3) Manfaat jaminan kualitas, kuantitas, dan kontinuitas.
Sebagai akibat adanya manfaat produktivitas dan efisiensi, maka dengan kerja sama akan dicapai pula manfaat kualitas, kuantitas, dan kontinuitas. Dengan adanya penggabungan dua potensi dan kekuatan untuk menutupi kelemahan dari masing-masing pihak yang bekerja sama (bermitra), maka akan dihasilkan tingkat produktivitas yang tinggi dan efisiensi serta efektivitas. Produktivitas menunjukkan manfaat kuantitas dan efisiensi serta efektivitas menunjukkan manfaat kualitas. Dengan kualitas dan kuantitas yang dapat diterima oleh pasar, maka akan dapat menjamin kontinuitas usaha. 

4) Manfaat dalam risiko 
Kerja sama pada intinya menunjukkan adanya kesepakatan antara dua orang atau lebih yang saling menguntungkan dan kedua pihak memberi kontribusi atau peran yang sesuai dengan kekuatan dan potensi masing-masing pihak, sehingga keuntungan atau kerugian yang dicapai atau diderita kedua pihak bersifat proporsional, artinya sesuai dengan peran dan kekuatan masing-masing. Hal ini menggambarkan bahwa dalam kerja sama, ada rasa senasib sepenanggungan antara pihak yang bermitra. Dalam hal ini risiko yang dihadapi termasuk resiko menderita kerugian dalam pengelolaan usaha ditanggung bersama antara pihak yang bermitra, sehingga resiko yang ditanggung masing-masing pihak menjadi berkurang. 

3. Menyusun Proyek Kerja Sama Usaha 
Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa kerja sama usaha bukan merupakan proyek yang bersifat instant, melainkan melalui proses yang panjang. Hal ini membawa konsekuensi bahwa setiap wirausaha atau siapa pun yang akan melakukan kerja sama usaha harus benar-benar memperhatikan dan mempertimbangkan berbagai aspek atau faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya proyek kerja sama, seperti memperhatikan etika bisnis pada umumnya, serta pedoman kerja sama yang efektif dan efisien. 
sangat berguna bagi para wirausaha yang akan mengadakan kerja sama usaha, yaitu sebagai pedoman dalam menyusun proyek atau program kerja sama usaha. Dikarenakan kerjasama sudah menjadi kebutuhan mutlak bagi perusahaan dan bagi mereka yang terjun dalam dunia usaha, maka wirausaha atau perusahaan yang akan melakukan kerja sama usaha perlu terlebih dahulu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: 
1) Apakah Anda akan membuka usaha dengan cara bekerja sama dengan 
pihak lain ( Ya / tidak ) ? 
Alasannya: 
a. ………………………………………………. 
b. ……………………………………………… 
c. ……………………………………………… 
2) Apakah Anda bersedia melakukan kerja sama dengan pihak lain yang 
meminta Anda untuk menjadi mitranya ( ya / tidak ) ? 
Alasannya: 
a. ……………………………………………… 
b. ……………………………………………… 
c. ……………………………………………… 
3) Potensi dan kemampuan apakah yang dimiliki oleh Anda atau 
perusahaan Anda saat ini ? 
a. ……………………………………………… 
b. ……………………………………………… 
c. ……………………………………………… 
4) Kelemahan atau kekurangan apa yang dimiliki Anda atau perusahaan 
Anda saat ini, sehingga Anda memerlukan kerja sama dengan pihak 
lain ? 
a. ………………………………………………… 
b. ……………………………………………… 
c. ……………………………………………… 
5) Buatlah daftar pihak-pihak yang akan Anda pertimbangkan untuk 
dijadikan mitra kerja sama ! 
a. ……………………………………………… 
b. ……………………………………………… 
c. ……………………………………………… 
6) Kemukakan alasan-alasan mengapa Anda memilih pihak-pihak tersebut 
(No. 5) untuk bekerja sama usaha dengan Anda ? 
a. ……………………………………………… 
b. ……………………………………………….. 
c. ……………………………………………….. 
7) Sudahkah Anda membicarakan rencana kerja sama usaha ini dengan 
staf Anda atau pihak-pihak yang mendukung Anda ( sudah / belum ) ? 

8) Kemukakan respon atau tanggapan dari staf Anda tersebut (no 7) ! 
a. ……………………………………………… 
b. ………………………………………………… 
c. ……………………………………………… 
9) Jika seandainya rencana kerja sama tersebut tidak mendapat 
dukungan dari staf Anda, maka yang akan Anda lakukan ? 
a. ……………………………………………… 
b. ……………………………………………… 
c. ………………………………………………… 
10) Sudahkan Anda mempersiapkan keperluan administratif dari rencana 
kerja sama tersebut ? 
a. Membuat perjanjian hitam di atas putih atau tertulis ? (sudah / belum ) 
b. Mempersiapkan materai bila perjanjian tidak ditulis di atas kertas segel ? ( sudah / belum ) 
c. Menunjuk orang/pihak yang akan dijadikan sebagai saksi dalam penandatanganan perjanjian kerja sama tersebut ? (sudah/ belum ) 
d. Notaris yang akan mengesahkan perjanjian kerjasama usaha tersebut ? (sudah / belum ) 
11)Bentuk kerja sama yang bagaimanakah yang Anda inginkan ? 
………………………………………………… 
denganalasan: 
…………………………………………............... 
………………………………………………….. 

Pertanyaan-pertanyaan di atas harus perlu dijawab terlebih dahulu, sehingga Anda dapat memutuskan bahwa Anda betul-betul siap untuk menjalankan proyek kerja sama usaha dengan pihak lain. Namun, tentu saja semua jawaban atas pertanyaan di atas harus pula dikomunikasikan dengan pihak yang akan diajak bekerja sama (khususnya untuk pertanyaan no. 6, 10, dan 11). Karena pertanyaan tersebut memerlukan jawaban yang tidak seluruh jawabannya ada pada diri Anda. Yang perlu diingat dalam menentukan bentuk kerja sama adalah perlu diperhatikan kelebihan dan kekurangan dari masing-masing bentuk kerja sama. Selain itu, apakah bentuk usaha tersebut cocok dengan jenis usaha dan potensi serta kelemahan yang dimiliki usaha Anda. 






IJIN USAHA

Surat perijinan usaha yang perlu dimiliki oleh perusahaan tergantung pada jenis usahanya. Untuk usaha-usaha yang bergerak dalam bidang iindustri dan perdagangan pada prinsipnya diperlukan ijin-ijin sebagai 
berikut : 

a) Ijin Prinsip 
Ijin prinsip merupakan sebuah persetujuan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah (PEMDA) setempat untuk mendirikan perusahaan industri atau Persetujuan Prinsip Mendirikan Perusahaan Industri. 

b) Ijin Penggunaan Tanah 
Ijin penggunaan tanah dikeluarkan oleh Kantor Agraria Pemda setempat setelah ijin pembebasan tanah dimiliki. Ijin pembebasan dapat berbentuk Sertifikat Hal Guna Bangunan (SHGB) yang berlaku 20-30 tahun. 

c) Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) 
Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) dikeluarkan oleh Dinas Pengawasan Pembangunan Tata Kota Pemda setempat. Syarat pengajuan IMB diantaranya, bangunan yang didirikan sesuai dengan pengajuan gambar yang telah disyahkan oleh Kepala Dinas Pengawasan Pembangunan Tata Kota, pelaksanaan pembangunan tidak mengganggu tempat sekitar bangunan yang didirikan dan lain sebagainya. 

d) Ijin Gangguan 
Sebelum mengajukan permohonan ijin gangguan, perusahaan wajib memiliki ijin dari RT, RW dan Kantor Desa/Kelurahan setempat dan mendapat persetujuan tidak berkeberatan dari tetangga terdekat. Izin gangguan dikeluarkan oleh Bagian Undang-undang Gangguan Pemda setempat yang wajib dimiliki oleh perusahaan. Ijin gangguan wajib diperbaharui oleh perusahaan setiap 3 tahun sekali apabila usahanya masih berjalan. Syarat – syarat yang harus dipenuhi untuk membuat ijin gangguan diantara adalah 

(a) Tempat usaha dan halaman harus terpelihara kebersihannya. 
1. Tidak mengganggu daerah sekitarnya dan hanya buka pada waktu tertentu. 
2. Perusahaan harus menyediakan sarana pengaman seperti pemadam kebakaran, obat-obatan, dan alat keselamatan kerja lainnya. 
3. Peralatan mesin, generator dan alat lainnya tidak menimbulkan kebisingan. Fondasi bangunan harus kuat menahan getaran dan lain sebagainya. 

e) Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP) 
Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP) dikeluarkan oleh Departemen Perdagangan melalui Kantor Dinas Perdagangan Kota/Kabupaten dan harus diperbaharui setiap 5 tahun sekali. Jika disetujui untuk melakukan usaha, wirausaha menerima 3 buah surat yaitu SK Menteri tentang Pemberian SIUP, SIUP dan Surat Keterangan Identitas Pemilik SIUP. 

f) Wajib Daftar Perusahaan 
Wajib Daftar Perusahaan dikeluarkan oleh Departemen Perdagangan melalui Dinas Perdagangan Kota/Kabupaten. Pendaftaran perusahaan dilakukan paling lambat 3 bulan setelah perusahaan menjalankan 
operasinya. Apabila perusahaan akan meneruskan usahanya, maka wajib didaftarkan kembali setiap 5 tahun sekali.

g) Ijin Departemen 
Ijin departemen dikeluarkan oleh setiap departemen yang membawahi bidang usaha yang dijalankan. Contohnya untuk usaha jasa perjalanan/biro travel, tempat rekreasi harus mendapat ijin dari Departemen Pariwisata. Usaha yang bergerak dalam bidang pertanian atau penglolahan hasil pertanian harus mendapat ijin dari Departemen Pertanian. Usaha yang berhubungan dengan makanan dan minuman serta obat-obatan harus mendapat ijin usaha dari Departemen Kesehatan. Masing-masing ijin usaha tersebut diajukan melalui Kantor Dinas Kota/Kabupaten dimana usaha tersebut beroperasi. 

3) Proses Perijinan 
Untuk membuat dan memproses surat-surat ijin usaha sebenarnya tidaklah terlalu sulit. Setelah persyaratan dipenuhi, anda dapat langsung menghubungi instansi atau lembaga yang berwenang (Pemda, Dinas Perdagangan, Dinas Perindustrian, Dinas Pertanian, dan Dinas Pariwisata Propinsi) untuk mendapatkan informasi sekaligus mengurusnya. Selain itu apabila anda tidak mempunyai cukup waktu luang, maka anda dapat menggunakan bantuan biro jasa pengurusan dokumen. Dalam mengurus dan memproses surat perijinan, anda akan menerima formulir untuk diisi. Informasi yang diperlukan untuk mengisi formulir itu 
terdiri dari : 

a. Nama perusahaan 
b. Bentuk perusahaan 
c. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) 
d. Alamat kantor 
e. Identitas pemilik dan pengurus 
f. Jenis Usaha 
g. Ketenagakerjaan/Personalia 
h. Mesin peralatan permodalan 
i. Akta pendirian

DAFTAR PUSTAKA 

Kusuma, Hendra. (2001). Manajemen Produksi, Perencanaan. dan Pengendalian Produksi. Yogyakarta: ANDI. 
Kusnadi, H. (2003). Masalah, Kerjasama, Konflik, dan Kinerja. Malang: Taroda. 
Mas’ud Machfoedz dan Mahmud Machfoedz (2002), Kewirausahaan, Suatu Pendekatan Kontemporer , UPP AMP YKPN Yogyakarta. 
Mohammad jafar Hafsah (2000), Kemitraan Usaha, Kosepsi dan Strategi, Pustakan Sinar harapan Jakarta. 
Pietra Sarosa (2004), Kiat Praktis Membuka Usaha - Langkah Awal Menjadi Entrepreneur Sukses, PT Elekmedia Komputindo Jakarta. 
Soesarsono Wijanti (2000), Pengantar Kewiraswastaan , Sinar Baru Algensindo, Bogor. 
Wachyu Suparyanto, (2004), Petunjuk untuk memulai Berwirausaha, Afabeta Bandung.

BAB VIII
PENGELOLAAN PROSES PRODUKSI/JASA



1. Pengertian Produksi, Produk dan Jasa 

Produksi dapat diartikan secara sempit maupun secara luas. Dalam arti sempit, produksi merupakan usaha manusia yang mengolah atau mengubah sumber -sumber ekonomi (bahan-bahan) menjadi produk baru. Sedangkan dalam arti luas, produksi adalah setiap kegiatan yang ditujukan untuk menciptakan atau menambah nilai guna (manfaat) suatu barang/jasa yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan. Jadi, inti dari kegiatan produksi adalah menambah atau menciptakan nilai guna atau manfaat dari suatu barang/jasa. Manfaat (utility) yang diciptakan terdiri dari manfaat bentuk, manfaat tempat maupun manfaat waktu. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut: 

a. Manfaat bentuk (form utility) 
Seorang wirausahawan membuka usaha pengolahan limbah plastik menjadi berbagai pot bunga plastik, mengolah sampah rumah tangga menjadi makanan ternak, mengolah singkong menjadi kripik, dan sebagainya. 
b. Manfaat tempat (place utility) 
Seorang wirausahawan membuka usaha penjualan batu-batu kali di daerah perkotaan, yang diambil dari sungai/kali di desa atau seorang petani membawa hasil kebun kelapanya untuk dijual ke pasar di kota. 
c. Manfaat waktu (time utility) 
Seorang wirausahawan melakukan kegiatan menyimpan sebagian padi hasil panennya untuk dijual atau dimanfaatkan pada musim paceklik, seseorang yang membuka usaha pembuatan jas hujan untuk dijual menjelang atau pada saat musim hujan. Setiap kegiatan produksi menghasilkan output/produk berupa barang atau jasa. 
Jadi, produk adalah hasil yang diperoleh dari kegiatan produksi. Namun, pengertian produk sebagai hasil produksi sering kali diartikan sebagai barang, atau seringkali barang yang merupakan produk dari kegiatan produksi disebut dengan produk. Oleh karena itu agar tidak rancu, maka yang dimaksud dengan “produk” dalam materi ini adalah barang, sebagaimana halnya jasa yang merupakan hasil dari kegiatan produksi. 

Produk/barang adalah hasil dari kegiatan produksi yang mempunyai sifat-sifat fisik dan kimia, serta ada jangka waktu antara saat diproduksi dengan saat produk tersebut dikonsumsi atau digunakan. Sedangkan, jasa adalah hasil dari kegiatan produksi yang tidak mempunyai sifat-sifat baik fisik maupun kimia serta tidak ada jarak waktu antara saat diproduksi dengan saat dikonsumsi. Dari pengertian produk dan jasa tersebut, tentunya Anda dapat membedakan secara jelas antara produk dan jasa. Selain itu ada pula istilah lain yang selalu terkait dengan kegiatan produksi, yaitu produktivitas dan produsen. 

Produktivitas adalah nilai output dalam hubungannya dengan kesatuan input tertentu, serta umumnya dinyatakan sebagai imbangan daripada hasil kerja rata-rata dalam hubungannya dengan jam orang rata-rata dari tenaga kerja yang diberikan dalam proses tersebut. 

Sedangkan yang dimaksud Produsen adalah orang, badan atau lembaga yang 
menghasilkan produk atau yang menyelenggarakan proses produksi. Proses produksi menunjukkan cara/metode ataupun teknik bagaimana menciptakan atau menambah faedah atau guna barang/jasa dengan 
mempergunakan sumber-sumber ekonomi (faktor-faktor produksi)

2. Perencanaan Produk dan Perencanaan Produksi Sebelum seorang pengusaha melakukan kegiatan atau proses produksi, terlebih dahulu harus membuat rencana produk dan rencana produksinya, terkait dengan persoalan mendasar yang harus dijawab, yaitu “What” atau barang apa yang akan dihasilkan serta “How” atau bagaimana cara memproduksinya dan berapa banyak yang akan dihasilkan. Perencanaan produk bersifat lebih luas dari perencanaan produksi, karena perencanaan produk menunjukkan kebijakan perusahaan yangbersifat jangka panjang dan umum, sedangkan perencanaan produksi bersifat taktis dan jangka pendek.
Perencanaan produk dan perencanaan produksi tidak sama antara perusahaan yang baru dengan perusahaan yang telah ada dan memiliki pengalaman. Per usahaan/wirausaha baru, yaitu perusahaan/wirausaha yang baru pertama kali melakukan proses produksi dan belum memiliki pengalaman mengenai produk/jasa yang dihasilkannya. Sukses tidaknya seorang pengusaha dalam kegiatan produksinya sangat bergantung pada pemahamannya mengenai pengendalian produksi mulai dari perencanaan produksi (pra produksi), proses produksi hingga setelah kegiatan produksi selesai (pasca produksi)

3. Aspek-aspek Perencanaan Produk 
Aspek perencanaan produk dan produksi terkait dengan dua pertanyaan mendasar, yaitu “what” dan “how”. Oleh karena itu, ada tiga aspek dari perencanaan produk, yaitu: 

1. Aspek produk apa yang akan dibuat (what). 
Aspek ini menuntut perusahaan atau wirausaha untuk dapat memilih salah satu dari dua cara: 
a) Market-pull, yaitu memproduksi dan menjual prod uk atas dasar pertimbangan “membuat apa yang dapat dijual”. Jenis produk yang akan dihasilkan ditentukan berdasarkan permintaan pasar. Dengan kata lain cara ini dilandasi filosofi untuk “memenuhi kebutuhan masyarakat”. 
Contoh: 
Perusahaan A melakukan riset pasar untuk mengetahui produk yang saat ini dan beberapa waktu kedepan banyak diminta masyarakat. Produk X ternyata banyak diminta konsumen dan belum ada perusahaan yang dapat memenuhi seluruh permintaan pasar, oleh karena itu perusahaan A memutuskan untuk memproduksi produk X tersebut, walaupun perusahaan terpaksa harus menyesuaikan teknologi yang dimiliki dan dikuasainya dengan produk X yang akan dihasilkannya tersebut. 

b) Technology-push, yaitu memproduksi dan menjual produk atas dasar 
pertimbangan “menjual apa yang dapat dibuat”. Jenis produk yang akan dihasilkan ditentukan berdasarkan teknologi yang dimiliki dan dikuasai perusahaan. Dengan perkataan lain, cara ini dilandasi filosofi 
untuk “menciptakan kebutuhan masyarakat”. 
Contoh: 
Perusahaan X dengan sumber dayanya menguasai teknologi produksi pengolahan limbah plastik menjadi berbagai pot bunga plastik. Oleh karena itu, perusahaan ini akan memproduksi berbagai macam pot 
bunga plastik, tanpa mempertimbangkan bagaimana permintaan pasar terhadap produk tersebut. 

2. Aspek volume produk (How) 
Aspek ini adalah aspek yang berhubungan dengan jumlah produk yang akan dihasilkan/diproduksi. Umumnya dikenal dua cara atau teknik untuk menentukan jumlah produk yang akan diproduksi, yaitu: 

a) Teknik nonstatistika atau teknik pertimbangan. 
Yaitu penentuan volume atau jumlah produk yang harus dibuat dan dijual yang didasarkan atas pendapat/pertimbangan seseorang atau sekelompok orang, baik dari manajemen perusahaan maupun dari luar perusahaan. Teknik yang banyak digunakan antara lain: 

1) Pertimbangan tenaga penjual. 
Tenaga penjual merupakan pihak yang paling mengetahui bagaimana kondisi pasar dan permintaan konsumen. Oleh karena itu, tenaga penjual dapat menjadi salah satu sumber informasi yang tepat dalam menentukan volume produksi. Misalnya, si A adalah tenaga penjual dari produk suatu perusahaan menginformasikan bahwa saat ini dan untuk beberapa waktu ke depan permintaan konsumen akan produk tersebut masih tetap 
banyak dan bahkan akan meningkat, hal ini dikarenakan tidak adanya perusahaan pesaing yang mampu memenuhi permintaan pasar. Oleh karena itu, atas dasar informasi ini perusahaan akan memproduksi setidaknya sama dengan jumlah produksi yang lalu atau dapat menambah jumlah produksi. 

2) Pertimbangan eksekutif 
Pihak eksekutif dalam hal ini adalah pihak manajemen perusahaan. Pihak eksekutif adalah wirausaha yang berwawasan luas, termasuk tentang kondisi pasar atau permintaan masyarakat. Oleh karena itu, pertimbangan dari pihak manajemen dalam menentukan volume produksi patut untuk dipertimbangkan. Hal ini tidak jauh berbeda dari pertimbangan tenaga penjual, dengan wawasan yang dimilikinya pihak eksekutif membuat 
perkiraan jumlah produk yang akan dihasilkan. 

3) Pertimbangan ekspert. 
Ekspert merupakan pihak yang memang memiliki tugas meramal volume penjualan, sehingga dari hasil ekspertnya tersebut dapat ditentukan berapa volume produksi yang tepat. Ekspert merupakan pihak yang memang diserahi tugas untuk membuat peramalan mengenai jumlah produk yang akan diproduksi. Oleh karena itu pihak ekspert akan melakukan berbagai hal yang ada kaitannya dengan usahanya untuk memprediksi produksi, misalnya melakukan survey ke konsumen atau pasar, mencatat fluktuasi penjualan dan sebagainya. Data-data yang diperoleh kemudian dianalisis dan selanjutnya dijadikan pedoman untuk menentukan jumlah produksi.


4. Proses Perencanaan Produksi. 
a. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan produksi 
Sebelum menetapkan langkah-langkah perencanaan produksi, setiap perusahaan dalam hal ini manajer produksi selayaknya mempertimbangkan hal -hal yang berkenaan dengan perencanaan produksi, yaitu antara lain: 
1) Jumlah kebutuhan produksi per produk selama periode tertentu. 
2) Kebijakan persediaan terhadap jumlah persedian bahan baku/penolong, bahan setengah jadi dan barang jadi. 
3) Kebijakan kapasitas mesin atau kapasitas poduksi. 
4) Tersedianya fasilitas produksi, seandainya terjadi penambahan atau pengurangan kapasitas produksi. 
5) Tersedianya bahan baku dan bahan penolong serta tenaga kerja. 
6) Jumlah produksi atau lot produksi yang ekonomis 
7) Jadwal produksi dalam satu periode anggaran tertentu. 
8) Skala produksi dan karakteristik proses produksi. 
9) Dan lain-lain, termasuk dampak dari lamanya proses produksi. 

b. Langkah-langkah perencanaan produksi. 
Setiap wirausaha atau manajer produksi suatu perusahaan melakukan langkah – langkah perencanaan produksi sebagai berikut:

1. Penelitian dan Pengembangan Produk 
Bagi perusahaan/wirausaha penelitian produk yang dilakukan dibedakan atas penelitian terhadap proses produksi maupun pada produk yang dihasilkan. 

a) Penelitian proses produksi 
Penelitian proses produksi dimaksudkan untuk perbaikan terhadap proses produksi yang sedang berjalan baik produk yang sedang berjalan maupun untuk terciptanya produk baru tertentu. 
Contoh: 
Terhadap proses produksi produk dodol, dimaksudkan agar dodol yang dihasilkan memenuhi standar produk yang telah ditetapkan atau dapat menciptakan produk lain selain dodol dengan menggunakan bahan 
yang hampir sama dengan dodol. 

b) Penelitian Produk. 
Penelitian produk ditujukan untuk perubahan/perbaikan produk yang sudah ada disesuaikan dengan selera konsumen. 
Contoh: 
Penelitian terhadap produk dodol yang sudah ada. Misalnya dari segi rasa dodol tersebut akan divariasikan dengan buah-buahan tertentu (misalnya dodol rasa starwberry, rasa nangka dan sebagainya), mengubah ukurannya, kemasannya, dan sebagainya sesuai dengan selera atau permintaan konsumen.

2. Mencari gagasan dan seleksi produk. 
Dari penelitian yang dilakukan baik terhadap proses produksi maupun terhadap produk, maka langkah selanjutnya adalah pelaksanaan dari penelitian dan pengembangan tersebut, yaitu dengan tahapan : 

a) Mencari gagasan, yaitu tahapan dalam mencari gagasan-gagaan dalam rangka pengembangan produk. Gagasan ini dapat berasal dari pasar/konsumen, teknologi yang ada atau digunakan dan dari pihak ketiga atau biasanya pihak ahli. 
b) Seleksi produk, yaitu tahapan untuk memilih gagasan-gagasan yang masuk atau yang terbaik berkaitan dengan pengembangan produk, sehingga gagasan yang dimanfaatkan adalah gagasan-gagasan yang tidak 
akan mengakibatkan perusahaan mengalami kerugian.

2) Kesesuaian operasi. 
Khusus bagi perusahaan yang telah berproduksi, suatu gagasan yang memiliki kelayakan finansial bukan berarti dapat langsung dikembangkan. Apabila operasi dari produk yang akan dikembangkan berbeda dengan produk yang sudah ada, akan berdampak pada aspek lain, misalnya akan mengubah layout, menambah biaya dan sebagainya. Oleh karena, itu pengembangan suatu gagasan tidak hanya ditentukan oleh kelayakan finansial melainkan pula oleh kesesuaian operasi. 

3) Potensi pasar. 
Pengembangan suatu gagasan mengenai produk harus ditentukan pula oleh potensi pasar dari produk tersebut. Oleh karena bila potensi pasarnya belum jelas maka pengembangan produk tersebut perlu dipertimbangkan kembali sampai potensi pasarnya jelas atau menguntungkan perusahaan. Untuk kepentingan pengembangan produk tersebut, maka harus diperhatikan beberapa faktor, antara lain: 

(a) Persaingan. 
Apakah perusahaan pesaing juga telah melakukan pengembangan produknya ? Kalau ya, bagaimana bentuk pengembangan produknya ? 
(b) Persediaan bahan, baik bahan baku maupun bahan penolong. 
Apakah bahan baku dan bahan penolong tersedia dalam jumlah yang cukup untuk jangka panjang atau justru sebaliknya ? 
(c) Kualitas produksi yang diinginkan. 
Apakah perusahaan akanmempertahankan kualitas produk ataukah akan ada perbaikan kualitas ? 
(d) Resiko teknik. 
Apakah dengan pengembangan produk yang direncanakan berakibat pada proses secara teknis, misalnya perlunya mesin atau peralatan yang baru atau tenaga ahli yang baru ? 
(e) Volume penjualan yang diharapkan. 
Apakah dengan pengembangan produk dapat meningkatkan volume penjualan atau apakah perusahaan sudah puas dengan volume penjualan yang telah dicapai ? 
(f) Strategi perusahaan. 
Apakah perusahaan telah siap dengan strategi tertentu dalam upaya pengembagan produk dan mempromosikannya, dalam bentuk yang bagaimana ? 

Faktor-faktor di atas harus mendapat perhatian dari pihak perusahaan (pengusaha/wirausaha), agar rencana pengembangan produk benar -benar mendatangkan keuntungan sesuai dengan diharapkan, bukan sebaliknya yang justru berakibat perusahaan mengalami kerugian. Dengan demikian, pengembangan produk harus dilakukan dengan pertimbangan dan perhitungan rasional – ekonomis (motif ekonomis), 
bukan hanya sekedar didorong oleh keinginan agar dianggap sebagai perusahaan yang maju atau karena faktor prestise (motif psikologis) 

c) Desain Produk pendahuluan. 
Sebelum ditetapkan desain produk/jasa yang akan dikembangkan, maka ada beberapa hal yang harus dilakukan perusahaan/wirausaha yaitu: 
1) Penentuan bentuk serta fungsi produk baru yang akan diproduksi 
2) Pemilihan bahan yang akan digunakan dengan mempertimbangkan: 
• Kebutuhan jenis (spesifikasi) produk atau bagian dari produk 
• Harga dari bahan yang akan digunakan 
• Biaya pemrosesan bahan atau biaya proses produksi. 
3) Kesempatan diversifikasi.
Yaitu peluang untuk menambah atau memperbanyak jenis produk yang akan dihasilkan. 
Misalnya: Dari hanya menghasilkan produk jasa angkutan, ditambah dengan produk jasa cuci mobil/motor. 
Dari hanya menghasilkan mesin pemotong rumput, ditambah dengan menghasilkan pula mesin penggiling rumput untuk makanan ternak. Dan sebagainya. 
Bila telah diputuskan produk mana yang akan dikembangkan atau dihasilkan, maka tahap berikutnya adalah membuat desain produk pendahuluan, yaitu desain dari produk-produk yang terpilih untuk dikembangkan atau diproduksi. Desain produk pendahuluan yang kemudian dikembangkan ke dalam prototypenya diperlukan agar sebelum produk tersebut diproduksi, selain benar-benar sudah memenuhi standar yang ditetapkan (baik standar bahan maupun standar kualitas), juga harus sesuai dengan permintaan pasar/konsumen. Ada tiga faktor yang harus dicantumkan dalam desain produk pendahuluan ini, yaitu: 
1) frekuensi kerusakan komponen (reabilitas), 
2) kemudahan untuk pemeliharaan dan perbaikan (maintainability), 
3) umur produk. 

d) Pengujian, yaitu dimaksudkan untuk menguji apakah produk layak dikembangkan atau tidak, baik dilihat dari potensi pasar atau konsumen maupun secara teknik dari produk tersebut. 

e) Desain akhir. 
Apabila hasil pengujian produk tersebut layak untuk dikembangkan, maka dibuatlah disain akhir. Bila dari pengujian ada perbaikan-perbaikan, maka sebelum diproduksi, perlu dibuat prototype baru untuk diuji kembali 
sampai produk tersebut lolos uji secara teknik maupun potensi pasar. 

3. Menetapkan skala produksi. 
Apabila telah ditetapkan jenis produk yang akan dihasilkan, maka langkah selanjutnya adalah menetapkan skala produksi, yaitu meliputi: 
a) Penetapan waktu, yaitu kapan kegiatan proses produksi akan dilakukan 
b) Penetapan kuantitas produk, yaitu berupa jumlah (volume) produk yang akan dihasilkan. 
c) Menghitung keperluan biaya, yaitu berapa besar jumlah biaya yang dibutuhkan 
d) Penetapan jumlah tenaga kerja yang diperkerjakan. 
e) Penetapan peralatan apa saja yang akan digunakan. 
f) Penetapan persediaan bahan baku yang optimal yang sesuai dengan kebutuhan. 


1) Tahap-tahap penetapan skala produksi 
Ada beberapa tahapan yang harus dilakukan dalam menetapkan skala produksi, yaitu: 

a) Routing, yaitu tahap menetapkan dan menentukan urutan-urutan proses produksi dari hahan baku sampai menjadi barang jadi, termasuk di dalam tahap ini adalah penyusunan alat-alat/fasilitas yang diperlukan dalam proses produksi. 
b) Scheduling, yaitu tahap menetapkan dan menentukan jadwal kegiatan operasi proses produksi, sebagai satu kesatuan dari keseluruhan kegiatan produksi. 
c) Dispaching, yaitu tahap menetapkan dan menentukan proses pemberian perintah untuk mulai melakukan kegiatan proses produksi sesuai dengan routing dan scheduling. 
d) Follow – up, yaitu tahap menetapkan dan menentukan berbagai kegiatan agar tidak terjadi penundaan dan mengkoordinasi seluruh perencanaan kegiatan proses produksi. 

2) Prinsip-prinsip yang harus dipertimbangkan dalam menetapkan skala produksi : 
Dalam menetapkan skala produksi, seorang wirausaha atau manajer produksi harus memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut: 
a) Skala produksi harus sesuai dengan tujuan perusahaan atau tujuan usaha, artinya jangan sampai tujuan perusahaan harus diubah disesuaikan dengan skala produksi yang terlanjur telah ditetapkan. 
b) Memperhatikan prinsip praktis dan kesederhanaan, artinya skala produksi harus mudah dilaksanakan oleh siapa pun dan bersifat sederhana. 
c) Skala usaha bermanfaat dalam memberikan analisis dan klasifikasi mengenai kegiatan proses produksi. 

3) Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam skala produksi. 
Dalam menetapkan skala produksi, perusahaan harus mempertimbangkan faktor-faktor berikut: 
1. Sifat proses produksi 
Telah diuraikan sebelumnya mengenai perencanaan produksi. Apabila berbicara mengenai perencanaan produksi, maka sekaligus juga membicarakan masalah pemilihan proses produksi, yaitu pemilihan proses produksi antara proses produksi atas dasar pesanan (job order) dan produksi massal (mass production). 
a) Produksi atas dasar pesanan (job order) 
Jika perusahaan menggunakan proses produksi atas dasar pesanan, maka baik spesifikasi (jenis) maupun jumlah (kuantitas) produk didasarkan atas pesanan yang masuk sesuai dengan permintaan pihak pemesan. 
Produksi atas dasar pesanan memiliki ciri utama: 
• Produk tidak dijual secara bebas di pasar (given market) Produk hanya diproduksi dalam jumlah terbatas atau sejumlah pesanan, sehingga tidak dijual secara bebas di pasar-pasar. 
• Perusahaan tidak perlu mengadakan persediaan (zero inventory) Karena memproduksi sebanyak yang dipesan, maka jumlah produksi selalu habis terjual. Oleh karena itu, perusahaan tidak perlu memiliki persediaan, perusahaan baru akan memproduksi bila ada pesanan dari pelanggan/konsumen. 

b) Produksi massa (mass production) 
Jika perusahaan menggunakan proses produksi massa, maka baik jenis maupun jumlah produksi tidak didasarkan atas pesanan, melainkan atas apa yang diputuskan perusahaan. Biasanya didasarkan atas pertimbangan volume produksi dan volume penjualan sebelumnya atau atas dasar pertimbangan pihak-pihak tertentu (misalnya tenaga penjual, manajemen perusahaan, ekspert atau pihak lainnya). 
Produksi massa memiliki ciri utama: 
1) Produk dihasilkan dalam jumlah besar (produksi besar-besaran) 
2) Tujuan produksi ad alah untuk menguasai pasar 
3) Produk dijual di pasar bebas (free market) 
4) Variasi produk kecil. 
5) Harus ada persediaan untuk memenuhi permintaan pada masa tunggu (lead time) 
Keputusan untuk memilih apakah perusahaan akan melakukan proses produksi pesanan atau produksi massa, sangat tergantung pada kemungkinan keuntungan yang akan diraih perusahaan, khususnya dilihat dari penguasaan pasar. Untuk memilih proses produksi massa, maka perusahaan terlebih dahulu perlu melakukan analisis pasar tentang situasi dan kondisi pasar khususnya untuk melihat pesaing. Hal ini diperlukan untuk menyusun peramalan penjualan, yaitu perkiraan tentang penjualan barang hasil produksi pada masa yang akan datang. Perusahaan dapat memilih salah satu atau kombinasi dari kedua proses produksi tersebut, yaitu disamping menjalankan proses produksi massa pada suatu lini produk tertentu perusahaan juga menerima 
pesanan khusus (job order) untuk lini produk lainnya, khususnya bagi perusahaan yang telah lama berkiprah atau telah memiliki pengalaman produksi dan penjualan. Sedangkan, bagi perusahaan yang baru atau 
wirausaha baru melakukan produksi atas dasar pesanan masih sulit dilakukan karena belum dikenal. 
Contoh: 
Perusahaan memproduksi secara massa kemeja pria dewasa dengan ukuran umum S, M, dan L. Namun, perusahaan juga memproduksi kemeja atas dasar pesanan, misalnya kemeja dengan desain khusus sesuai 
permintaan konsumen, kemeja dengan ukuran extra, dan sebagainya. 

2. Jenis dan mutu produk yang akan diproduksi 
Perusahaan perlu mempertimbangkan jenis dan mutu produk yang akan 
diproduksi, yaitu: 
(a) Sifat produk, apakah termasuk barang habis pakai (undurable goods) atau apakah barang tahan lama (durable goods). 
(b) Kegunaan produk, apakah termasuk barang konsumsi (consumer’s goods) atau barang produksi (producer’s goods). 
(c) Pembiayaan, apakah produk tersebut tergantung pada biaya satuan atau biaya total. 
(d) Sifat permintaan, apakah produk tersebut diproduksi atas permintaan musiman atau rutin. 

3. Pola/Kebijakan Produksi 
Pola produksi menyangkut masalah mengenai pendistribusian produksi untuk masa produksi tertentu (biasanya satu tahun) ke dalam periode yang lebih kecil (misalnya tengah tahunan, triwulan atau bulanan). 
Pola produksi diperlukan perusahaan yang sering kali mengalami fluktuasi penjualan produk yang berakibat berfluktuasinya persediaan awal dan persediaan akhir produk. 
Ada tiga macam pola/kebijakan produksi yang dikenal, yaitu: 

a) Pola produksi konstan. 
Yaitu distribusi produk dari tahunan ke bulanan yang relatif sama besar (konstan) setiap bulannya. Dengan pola seperti ini, maka akan terdapat atau terjadi persediaan. Dengan adanya persediaan, maka kekurangan dan kelebihan penjualan akan diseimbangkan oleh kelebihan dan kekurangan persediaan yang dimiliki. 
Contoh: 
- Jumlah produksi setiap bulan sebanyak 1.500 unit. 
- Misalnya, Bulan Juni terjual sebanyak 1.350 unit, berarti perusahaan memiliki persediaan sebanyak 150 unit. 
- Bulan Juli perusahaan mampu menjual sebanyak 1.600 unit, padahal perusahaan hanya memproduksi sebanyak 1.500 unit. Kekurangan barang produksi ditutupi atau diseimbangkan dari persediaan bulan 
sebelumnya (150 unit), berarti perusahaan masih memiliki persediaan sebanyak 50 unit. 
- Dan seterusnya, kekurangan atau kelebihan barang penjualan diseimbangkan oleh kelebihan atau kekurangan persediaan, kecuali untuk keadaan tertentu, misalnya saat terjadi permintaan besar -besaran.

b) Pola produksi bergelombang. 
Yaitu distribusi produk tahunan ke bulanan, dengan jumlah produksi dari bulan ke bulan tidak sama besar tergantung pada besar kecilnya penjualan. Dengan pola produksi demikian, maka di samping jumlah produk yang diproduksi akan naik turun, juga berakibat pada kondisi persediaan relatif stabil. Bila penjualan naik maka produksi akan naik pula. Sedangkan, bila penjualan turun maka produksi akan turun pula. 
Contoh: 
- Misalnya jumlah produksi suatu perusahaan sebanyak 1.500 unit dengan persediaan sebanyak 100 unit. 
- Bulan Juni diperkirakan penjualan sebanyak 1.800 unit, maka perusahaan akan memproduksi sebanyak 1.800 unit. 
- Bulan Juli diperkirakan penjualan seb anyak 1.600 unit, maka perusahaan akan memproduksi sebanyak 1.600 unit. 
- Dengan demikian, maka persediaan akan relatif stabil ? 100 unit. 

c) Pola produksi moderat. 
Yaitu distrubusi produk tahunan ke bulanan, dengan jumlah produksi dan persediaan yang berubah-ubah tergantung pada naik turunnya penjualan. Artinya, naik turunnya penjualan akan berakibat langsung pada naik 
turunnya baik produksi maupun persediaan. 
Contoh: 
- Misalnya, jumlah produksi suatu perusahaan sebanyak 1.500 unit dengan persediaan sebanyak 100 unit. 
- Bulan Juni produksi sebanyak 1.600 unit dan penjualan sebanyak 1.400 unit, maka persediaan menjadi 300 unit. (1.600 + 100 – 1.400 = 300 unit) 
- Bulan Juli produksi sebanyak 1.300 unit dan penjualan sebanyak 1.000 unit, maka persediaan menjadi 600 unit. (1.300 + 300 – 1.000 = 600 unit). - Dan seterusnya, seperti di atas. Jumlah produksi dan persediaan tidak stabil atau berfluktuasi seiring dengan fluktuasi penjualan. 

Dari ketiga pola atau kebijakan produksi di atas, kebijakan atau pola produksi konstan memiliki keunggulan karena pola produksi konstan atau stabil ini memiliki 3 keuntungan, yaitu: 
(a) Penggunaan fasilitas pabrik yang lebih baik: 
- Mengurangi kapasitas yang diperlukan untuk musim ramai 
- Menghindari kapasitas menganggur pada saat musim sepi 
(b) Stabilitas tenaga kerja: 
- Memperbaiki moral dan meningkatkan efisiensi tenaga kerja 
- Mengurangi perputaran tenaga kerja 
- Menarik tenaga kerja yang lebih terampil dan berpengalaman 
- Mengurangi biaya latihan tenaga kerja baru 
(c) Pembelian bahan baku yang lebih ekonomis sebagai akibat: 
- Tersedianya bahan baku secara merata 
- Diperolehnya potongan pembelian 
- Kebutuhan modal yang merata 
- Penyederhanaan masalah penyimpanan 
- Mengurangi risiko persediaan. 


1. Standardisasi dan Kualitas Produk 
Yang dimaksud dengan standarisasi adalah penentuan dasar atau spesifikasi baik produk, bahan maupun proses. Spesifikasi ini pada akhirnya akan menentukan kualitas dari produk tersebut. Kualitas menunjukkan atribut yang melekat pada suatu produk, sehingga produk tersebut dikenal dan memiliki nilai. Atribut atau sifat yang melekat tersebut, misalnya berupa bentuk, rasa, warna, desain, kenyamanan produk, dan sebagainya. Standar dan kualitas suatu produk merupakan dua hal yang selalu terkait, karena penyesuaian produk dengan standar yang telah ditetapkan merupakan bagian dari pengendalian kualitas, yang memiliki tujuan selain untuk memuaskan konsumen juga sekaligus untuk menekan biaya (efisiensi). Pengendalian kualitas bertujuan untuk mencegah terjadinya penyimpangan-penyimpangan, baik bahan, tenaga, waktu maupun kualitas barang jadi serta untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah terjadi baik sebelum, pada saat maupun setelah proses produksi berlangsung. Oleh karena itu, agar pengendalian kualitas produk dapat dilakukan dengan baik, maka pihak perusahaan perlu menyediakan: 
1. Petugas pengawas kualitas input, proses, dan output. 
2. Alat-alat pengukur kualitas dan pedoman kualitas 
3. Tempat pengawasan yang refressentatif, sehingga pengawasan dapat berjalan sempurna 
4. Batas waktu penyimpanan, baik bahan baku/penolong, bahan setengah jadi maupun barang jadi. 
5. Jika memungkinkan, insentif bagi pekerja yang dapat memenuhi standar kerja yang disyaratkan. 

Standar dari kualitas suatu produk ditetapkan dengan mempertimbangkan antara lain: 
a) Kualitas produk pesaing. 
Minimal perusahaan menghasilkan produk dengan kualitas yang sama dengan pesaing, sedapat mungkin lebih baik dari pesaing. 
b) Manfaat/guna akhir dari produk tersebut . Apakah produk tersebut sebagai produk akhir (consumer goods) atau barang perantara untuk diproduksi lebih lanjut (producer goods). 
c) Keseimbangan antara harga dan kualitas. 
Perusahaan harus menyesuaikan harga jual dengan kualitas produk, atau dengan kualitas tertentu perusahaan hanya dapat menjual dengan harga tertentu pula. Konsumen tidak akan segan membeli dengan harga tinggi, bila kualitas dari produk yang dibelinya memang terjamin atau berkualitas super. Pertimbangan tersebut tentu saja akan melibatkan pihak atau bagian lain yang ada dalam suatu perusahaan, seperti bagian pemasaran, bagian teknik, bagian keuangan dan personalia, serta bagian lainnya. Dalam setiap rangkaian proses produksi standardisasi sangat diperlukan, hal ini dikarenakan standardisasi memiliki keuntungan sebagai berikut:
a) Jumlah bahan (baku dan penolong) yang dibutuhkan sudah dapat diperhitungkan, sehingga perusahaan dapat menentukan jumlah persediaan bahan baku yang optimal.
b) Memudahkan proses produksi dan pengawasan jalannya proses produksi 
c) Mendorong semangat kerja para pekerja. Hal ini dikarenakan mereka tahu berapa banyak yang akan mereka kerjakan, sehingga mengetahui berapa pendapatan yang akan mereka terima 
d) Adanya efisiensi, baik bahan, waktu maupun tenaga, selama proses produksi maupun setelah proses produksi atau untuk pemasaran. 

2. Pengendalian Kualitas 
Pengendalian kualitas umumnya dilakukan dengan menggunakan tiga pendekatan, yaitu pendekatan masukan, pendekatan proses, dan pendekatan keluaran. 

a. Pendekatan Masukan 
Kualitas suatu produk akhir sangat ditentukan oleh kualitas masukan (input) produksi, baik bahan (baku dan penolong), tenaga kerja maupun fasilitas/peralatan produksi yang digunakan. Oleh karena itu, pengendalian 
kualitas masukan sangat penting. Pengendalian kualitas berdasarkan pendekatan masukan adalah pengendalian dengan cara menetapkan standar yang sangat ketat terhadap spesifikasi masukan proses produksi. Spesifikasi bahan baku diperiksa secara cermat, tenaga kerja yang digunakan diseleksi secara ketat, serta fasilitas atau perlengkapan produksi dipilih secara cermat pula.

1) Pengendalian kualitas bahan baku 
Salah satu masukan (input) proses produksi yang sangat menentukan kualitas produk adalah input bahan baku dan penolong. Pengendalian kualitas bahan akan menentukan bagus tidaknya kualitas hasil (output). 
Untuk itu langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam pengendalian kualitas bahan adalah sebagai berikut: 
1. Seleksi sumber -sumber bahan, yang meliputi hal-hal berikut: 
• Kualitas dari bahan yang akan digunakan 
• Kemampuan pengadaan dari pihak supplier/leveransir 
• Harga bahan 
Dengan mempertimbangkan ketiga hal tersebut, maka memungkinkan perusahaan terhindar dari mengalami kerugian dan kontinuitas produksi akan terjamin. Keberhasilan dalam melakukan seleksi terhadap ketiga hal di atas dapat dilakukan dengan cara: 
(a) Meneliti pengalaman masa lalu. 
Pengalaman masa lalu tentu hanya dimiliki oleh perusahaan/wirausaha yang sudah berjalan dan berpengalaman melakukan hubungan dengan berbagai pihak, khususnya pihak supllier. Dalam hal ini, perusahaan atau wirausaha harus dapat memilih supplier yang tidak merugikan. Hal ini dapat diamati dari pengalaman perusahaan berhubungan dengan pihak supplir selama ini, seperti: 
• Tabiat dan watak serta kebiasaan supplier dalam pengiriman pesanan. Dalam hal ini, carilah supplier yang memiliki watak atau tabiat yang jujur dan dapat dipercaya. 
• Kualitas bahan yang ditawarkan. 
Antara kualitas barang yang diterima harus sama dengan kualitas bahan yang ditawarkan yang biasanya dalam bentuk contoh atau sampel. Carilah supplier yang dapat memenuhi hal tersebut. 
• Ketepatan waktu pengiriman. 
Kebiasaan supllier dalam hal pengiriman pesanan juga menjadi pertimbangan, carilah supplier yang selama ini selalu tepat waktu dalam mengirim barang pesanan. 
• Kerusakan bahan. 
Apakah kerusakan bahan selalu ditanggung oleh supplier atau oleh pihak pemesan ? Carilah supplier yang selalu bertanggung jawab dan menjamin kerusakan bahan. 


(b) Evaluasi 
Bagi perusahaan atau wirausaha baru biasanya belum memiliki pengalaman masa lalu dalam berhubungan dengan pihak supplier. Oleh karena itu bagi pengusaha atau wirausaha baru seleksi bahan dapat dilakukandengan melakukan kegiatan evaluasi. Sedangkan bagi pengusaha atau wirausaha yang sudah memiliki pengalaman akan melakukan kegiatan evaluasi apabila terdapat beberapa supplier baru yang belum dikenal perusahaan. Kegiatan evaluasi ini dapat dilakukan dengan cara melalukan survey dan wawancara dengan pihak supplier dimaksud, sehingga diperoleh gambaran bagaimana keadaan yang sesungguhnya dari supplier tersebut. Dengan demikian perusahaan akan dapat menentukan supplier mana yang akan dijadikan mitra dalam pengadaan bahan keperluan produksi. 

2. Pemeriksaan dokumen pengadaan dan pemeriksaan penerimaan bahan. 
Kepentingan agar pada saat penerimaan bahan yang dipesan tidak terjadi kesalahan, maka perlu ada kontrak pembelian atau order pembelian. Segala yang tertulis dalam surat order tersebut harus diteliti benar sebagai dokumen yang nantinya akan menjelaskan bila 
terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di kemudian hari, misalnya bila terjadi pengingkaran dari pihak supplier pada saat penerimaan pesanan, kualitas tidak sesuai dengan contoh atau jadwal pengiriman yang terlambat, dan sebagainya. Oleh karena itu, dalam surat order tersebut dicantumkan secara tegas hal-hal yang berkaitan dengan: 
• kualitas barang yang diinginkan perusahaan sebagai pihak pemesan atau pembeli. 
• Harga yang disepakati beserta jumlah yang dipesan. 
• Jadwal pengiriman. 
• Kesepakatan lain, apabila ada penyimpangan yang mungkin terjadi. 

3. Penyimpanan bahan. 
Setelah barang yang dipesan diterima perusahaan dan sesuai dengan dokumen kontrak pembelian, selanjutnya barang disimpan di gudang untuk sementara sampai digunakan dalam proses produksi. Agar pada saat penggunaan tidak terjadi kesalahan, maka terhadap barang yang masuk ke gudang perlu dilakukan: 
• Pemberian tanda yang mudah dibaca atau dilihat pada bahan/barang yang disimpan terseb ut. 
• Pengepakan dan penataan bahan yang disimpan secara baik dan teratur, sehingga kualitas barang tetap terjaga. 
• Pemberian tanda batas waktu pemakaian (kadaluarsa) khususnya untuk bahan yang memiliki batas waktu pemakaian. 
• Perlu menetapkan sistem pengambilan bahan digudang sesuai dengan karakteristik masing-masing bahan. Ada dua metode yang dapat dipilih, yaitu: 
(a) Metode FIFO (First in First out), artinya bahan yang masuk ke gudang lebih dulu maka diambil atau dikeluarkan untuk digunakan duluan.
(b) Metode LIFO (Least in First out), artinya bahan yang masuk ke gudang belakangan, diambil atau dikeluarkan untuk digunakan duluan. 


2) Pengendalian kualitas bahan setengah jadi. 
Pengendalian ini dimaksudkan untuk mengetahui adakah bahan setengah jadi yang mengalami kerusakan. Ada dua jenis kerusakan yang mungkin terjadi dan perlu penanganan tersendiri, agar tidak mengecewakan konsumen serta dapat mengurangi biaya produksi lebih lanjut, yaitu: 
a) Kerusakan berat. 
Bila terjadi kerusakan berat pada bahan setengah jadi, maka bahan tersebut harus dikeluarkan dari proses produksi berikutnya. Hal ini dimaksudkan agar tidak mengganggu proses dan kualitas dari bahan lainnya. 
b) Bila mengalami kerusakan, namun masih bisa diperbaiki, maka bahan setengah jadi tersebut harus segera diperbai ki. Dengan demikian, selain dapat mengurangi biaya produksi juga untuk memenuhi permintaan yang segera harus dipenuhi setelah bahan setengah jadi tersebut diperbaiki terlebih dahulu. 

3) Pengendalian kualitas barang jadi. 
Pengendalian kualitas barang jadi harus dilakukan secara teliti dan cermat. Hal ini dikarenakan kualitas barang jadi hampir menunjukkan kualitas produk secara keseluruhan. Dengan demikian, bila telah dilakukan pengendalian kualitas pada bahan baku dan penolong serta pengendalian kualitas proses, maka kualitas barang jadi dengan sendirinya telah terkendali. Dengan perkataan lain, bila output atau barang jadi telah sesuai dengan standar kualitas, berarti tidak ada masalah pada pengendalian bahan baku dan bahan setengah jadi.



b. Pendekatan Proses. 
Pengendalian kualitas dengan pendekatan proses dilakukan melalui pengendalian yang ketat terhadap standar proses produksi yang dijalankan. Setiap pekerja yang menjalankan proses produksi berkerja atau menjalankan 
kegiatan sesuai dengan yang tercantum dalam pedoman yang telah ditetapkan. Di samping itu setiap pekerja berusaha untuk meminimalisasi penyimpangan, dan setiap kerusakan fasilitas diperbaiki dengan segera. 
Sebelum melakukan proses produksi, setiap perkerja terlebih dahulu diberi pedoman pelaksanaan proses produksi dan harus betul-betul memahaminya sampai perkerja tahu apa yang harus dilakukannya dan 
berusaha optimal melakukan sesuai dengan pedoman. 

c. Pendekatan Keluaran. 
Pengendalian kualitas dengan menggunakan pendekatan keluaran dilakukan dengan melihat kesesuaian produk akhir dengan pesanan atau standar yang ditetapkan, yaitu dilakukan dengan melihat dan memeriksa sampel produk. Di samping itu, pengendalian dengan pendekatan keluaran juga dilakukan terhadap fasilitas penyimpanan produk akhir. Dengan demikian, setiap produk akhir (keluaran) akan diperiksa untuk dilihat kesesuaiannya dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, yaitu yang disebut dengan sampel produk.  

3. Manfaat Pengendalian Kualitas 
Sebagaimana diketahui bahwa setiap perusahaan atau wirausaha berusaha untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar -besarnya dan setiap konsumen pun demikian. Konsumen akan mencari barang dengan harga yang terjangkau dan kualitas barang yang sesuai atau kalau mungkin kualitas yang baik. Untuk mencapai tujuan kedua pihak tersebut diperlukan suatu usaha, dalam hal ini adalah berupa pengendalian kualitas produk. Pengendalian kualitas produksi diperlukan agar produk yang dihasilkan sesuai dengan rencana produksi. Oleh karena itu, dengan terkendalinya kualitas produksi, baik pengendalian kualitas dengan pendekatan masukan, proses maupun keluaran, maka akan memberi beberapa manfaat, baik bagi perusahaan maupun bagi konsumen. 
1) Manfaat bagi perusahaan: 
a) Tercapainya efisiensi, dikarenakan: 
• Tidak ada pemborosan bahan baku/penolong 
• Tidak ada pemborosan waktu maupu tenaga. 
b) Menekan biaya, sehingga biaya rata-rata dan harga jual menjadi rendah. 
c) Meningkatkan penjualan, di samping karena harga jual relatif rendah juga karena kualitas barang yang terjamin. 
2) Manfaat bagi konsumen adalah konsumen merasa puas, karena dapat memperoleh barang yang berkualitas dengan harga yang bersaing. 

DAFTAR PUSTAKA 

Hendra Kusuma (2001), Manajemen Produksi, Perencanaan dan Pengendalian Produksi, ANDI Yogyakarta. 
Lili Asdjudiredja dan Kusmana Permana (1990), Manajemen Produksi, Armico Bandung. 
Mas’ud Machfoedz dan Mahmud Machfoedz (2002), Kewirausahaan, Suatu Pendekatan Kontemporer, UPP AMP YKPN Yogyakarta. 
Mohammad jafar Hafsah (2000), Kemitraan Usaha, Kosepsi dan Strategi, Pustakan Sinar harapan Jakarta. 
Pengestu Subagyo (2000), Manajemen Operasi, BPFE Yogyakarta. 
Pietra Sarosa (2004), Kiat Praktis Membuka Usaha - Langkah Awal Menjadi Entrepreneur Sukses, PT Elekmedia Komputindo Jakarta. 
Soesarsono Wijanti (2000), Pengantar Kewiraswastaan , Sinar Baru Algensindo, Bogor





BAB IX
MENGELOLA TENAGA KERJA





A. ARTI PENTING PENGELOLAAN TENAGA KERJA 
Tenaga kerja merupakan istilah yang identik dengan istilah personalia atau sumber day a manusia. Oleh karena itu, pengertian tenaga kerja dapat dilihat secara makro maupun mikro. Secara makro, tenaga kerja atau manpower adalah kelompok yang menduduki usia kerja. Secara mikro, tenaga kerja adalah karyawan atau employee yang mampu memberikan jasa dalam proses produksi. Jadi, secara makro pengertian tenaga kerja bersifat kuantitas, yaitu jumlah penduduk yang mampu bekerja. Mampu bekerja di sini bercirikan batas usia kerja minimal, misalnya 10 tahun atau 15 tahun. Sedang secara mikro, pengerti an tenaga kerja bersifat kualitas, yaitu sebagai jasa yang diberikan atau dicurahkan dalam proses produksi. Dalam konteks pengertian ini, maka tenaga kerja sering dipandang sebagai human atau intelectual capital perusahaan. Pada prakteknya, khususnya di Indonesia, istilah tenaga kerja meliputi buruh, karyawan, dan pegawai (Siswanto, 2002). 

1. Buruh adalah mereka yang bekerja pada usaha perorangan dan diberikan imbalan atau jasa kerja secara harian maupun borongan sesuai dengan kesepakatan antara kedua belah pihak, baik secara 
lisan maupun tertulis. Biasanya imbalan kerja tersebut disebut upah dan diberikan secara harian. 
2. Karyawan adalah mereka yang bekerja pada suatu perusahaan, baik swasta maupun pemerintah. Mereka diberi imbalan kerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Biasanya imbalan kerjanya disebut upah dan/atau gaji dan diberikan secara mingguan atau bulanan. 
3. Pegawai adalah pegawai negeri yang telah memenuhi syarat sesuai perundang-undangan yang berlaku. Mereka diangkat oleh pejabat negara yang berwenang untuk dikaryakan atau ditugaskan dalam pekerjaan tertentu di lembaga pemerintahan. Mereka diberi imbalan kerja menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Biasanya imbalan kerjanya disebut gaji dan diberikan secara bulanan. 
Memasuki abad ke -21 atau disebut era milenium ketiga, kehidupan dunia bisnis ditandai berbagai perubahan. Beberapa pakar telah mengidentifikasi perubahan tersebut. Naisbitt dan Aburdence (1985) mencatat berbagai perubahan tersebut ditandai oleh: 
1. Pergeseran dari masyarakat industri ke arah masyarakat informasi. 
2. Pergeseran dari teknologi yang mengunakan banyak tenaga kerja (forced technology ) menjadi teknologi tinggi dan teknologi tekan tombol (high tech and high touch). 
3. Pergeseran dari ekonomi nasional menjadi perekonomian dunia. 
4. Pergeseran dari perencanaan jangka pendek ke arah perencanaan jangka panjang. 
5. Pergeseran dari organisasi yang bersifat sentralisasi ke organisasi yang bersifat desentralisasi. 

Sejalan dengan pandangan kedua pakar di atas, Alvin Troffler (1980) 
lebih rinci mencatat berbagai perubahan tersebut sebagai berikut: 
a) Sifat organisasi berubah dari hierarki menjadi jejaring kerja (networking). 
b) Keluaran perusahaan berubah dari pangsa pasar (market share) menjadi penciptaan pasar (market creation) dengan produk baru yang diminati pasar. 
c) Peran sumberdaya manusia semakin meningkat dengan upaya pemberdayaan (empowerment). 
d) Gaya kerja organisasi semakin fleksibel. 
e) Kekuatan perusahaan yang dilihat dari tolok ukur stabilitas bergeser dengan tolok ukur adaptabilitas, yaitu kemampuan perusahaan untuk selalu dapat beradaptasi terhadap tuntutan perubahan lingkungan yang dihadapi. 
Adanya berbagai perubahan tersebut telah membawa dampak nyata terhadap lingkungan bisnis yang dihadapi. Perubahan itu ditandai dengan tingkat persaingan yang semakin tajam yang cenderung menjadi sesuatu yang konstan. Artinya, persaingan itu tidak akan pernah berhenti bahkan akan dirasakan semakin tajam. Jadi, persaingan yang semakin tajam adalah fakta yang harus dihadapi oleh setiap perusahaan. Oleh karena itu, jika ingin maju, persaingan itu harus ditanggapi sebagai suatu tantangan yang harus 
ditaklukan, bukan untuk dihindari. 
Sekait dengan paparan di atas, Michael E. Porter (1985) mengemukakan lima kekuatan persaingan yang harus dihadapi oleh setiap perusahaan. Lima kekuatan itu adalah: 1) persaingan yang terjadi antara perusahaan yang ada, 2) persaingan yang timbul dari perusahaan baru, 3) persaingan yang timbul dari kekuatan pemasok, 4) persaingan yang timbul dari kekuatan pembeli, serta 5) persaingan yang timbul dari produk subtitusi.
Dengan demikian, faktor tenaga kerja tidak semata-mata dipandang sebagai faktor produksi sebagaimana halnya faktor-faktor produksi lainnya, tetapi merupakan aset atau kekayaan perusahaan utama yang “tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan”. Karena itu, dalam upaya untuk memenangkan persaingan, maka faktor tenaga kerja sebagai asset perusahaan utama perlu dikelola dengan benar. Mengelola tenaga kerja dengan benar berarti mewujudkan tenaga kerja yang mampu bekerja dengan produktivitas kerja tinggi melalui 
pelaksanaan fungsi administratif dan fungsi operasional. Fungsi administratif dan fungsi operasional adalah dua hal yang terdapat dalam pengelolaan tenaga kerja, sedangkan produktivitas kerja yang tinggi adalah tujuan yang ingin dicapai dalam pengelolaan tenaga kerja. 
Produktivitas kerja dapat diartikan sebagai proses dan juga sebagai hasil. Sebagai proses, pengertianproduktivitas kerja mengandung makna “the will” (keinginan) dan “effort” (upaya) manusia untuk selalu meningkatkan kualitas kehidupan dan penghidupannya di segala bidang. Oleh karena itu, makna utama pengertian produktivitas kerja adalah sikap mental yang selalu memandang bahwa kehidupan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Kaitannya dengan pekerjaan, produktivitas berarti cara kerja hari ini harus lebih baik dari cara kerja kemarin, hasil yang dicapai hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hasil dicapai besok harus lebih banyak atau lebih baik dari yang diperoleh hari ini. Sebagai hasil, produktivitas telah dimaknai sebagai kinerja yang mencakup efektivitas dan efisiensi. Efektivitas berhubungan dengan sejauhmana tujuan dapat dicapai, sedangkan efisiensi berhubungan dengan 
sejauhmana sumber daya yang dimiliki dapat digunakan secara tepat dan benar. Hubungan antara efektivitas dan efisiensi dijelaskan sebagai berikut: 
1) Efisiensi dan efektivitas tinggi menghasilkan produktivitas tinggi (produktif). 
2) Efisiensi dan efektivitas rendah, menunjukkan kemungkinan terjadinya salah pengelolaannya atau mis management. 
3) Efektivitas tinggi tetapi efisiensi rendah, berati terjadi pemborosan. 
4) Efisiensi tinggi tetapi efektivitas rendah, berarti tidak tercapai sasaran. 



B. CARA MENGELOLA TENAGA KERJA
Istilah pengelolaan tenaga kerja adalah kata lain untuk manajemen personalia, manajemen sumber daya manusia, atau manajemen tenaga kerja. Untuk memahami apa yang dimaksud dengan pengelolaan tenaga 
kerja, perhatikan pendapat pakar berikut ini. 

1) Edwin B. Flippo (1984) memberi batasan manajemen personalia sebagai berikut: 
Manajemen personalia adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian atas pengadaan tenaga kerja, pengembangan, kompensasi, integrasi, pemeliharaan, dan pemutusan hubungan kerja dengan sumberdaya manusia untuk mencapai sasaran perorangan, organisasi, dan masyarakat. 
2) Syafaruddin Alwi (2001) mendefinisikan manajemen sumberdaya manusia sebagai: cara pengelolaan sumberdaya insani dalam organisasi dan lingkungan yang mempengaruhinya agar mampu memberikan konstribusi secara optimal bagi pencapaian tujuan organisasi. 
3) Siswanto (2002) memberi batasan manajemen tenaga kerja tenaga sebagai berikut: 
Manajemen tenaga kerja dapat didefinisikan sebagai seni dan ilmu dalam fungsi pokok manajemen dalam hubungannya dengan pelaksanaan fungsi administratif dan fungsi operasional terhadap tenaga kerja dalam rangka mencapai daya guna dan hasil guna sebesar-besarnya. 

Berdasarkan ketiga definisi di atas, dapat dikemukakan batasan pengelolaan tenaga kerja sebagai berikut: pengelolaan tenaga kerja adalah upaya untuk meningkatkan konstribusi produktif tenaga kerja terhadap perusahaan yang dilakukan dengan berpegang pada prinsip dan melaksanakan fungsi administratif serta fungsi 
operasional. Dari definisi tersebut, teridentifikasi tujuan, prinsip dan fungsi utama pengelolaan tenaga kerja. 

1. Tujuan Pengelolaan Tenaga Kerja 
Telah diutarakan sebelumnya bahwa tujuan pengelolaan tenaga kerja adalah meningkatkan konstribusi atau sumbangan produktifnya terhadap perusahaan. Konstribusi yang dimaksud meliputi hal -hal sebagai berikut: 

(1) Meningkatkan komitmen, yaitu kesetiaan dan ketaatan terhadap perusahaan. Kesetiaan adalah tekad dan kesangggupan menaati, melaksanakan, dan mengamalkan sesuatu yang ditaati dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Tekad dan kesanggupan ini ditunjukkan oleh sikap, perilaku sehari-hari dan perbuatan dalam melaksanakan tugas sebagaimana diharapkan perusahaan. Ketaatan menunjukkan kesanggupan individu untuk menaati peraturan , baik secara tertulis maupun tidak tertulis sesuai dengan serta kesanggupan untuk tidak melanggar. 
(2) Menghasilkan tenaga kerja yang berproduktivitas tinggi. 
(3) Meningkatkan kompetensi, yaitu motivasi, kepercayaan diri, pengetahuan, dan keterampilan tenaga kerja. 
(4) Mewujudkan iklim kerja yang kondusif. Iklim kerja adalah kondisi, situasi, dan keadaan lingkungan kerja di perusahaan. Iklim kerja bersama-sama dengan motivasi dan kompetensi adalah penentu kinerja individu tenaga kerja. Iklim kerja yang kondusif adalah faktor pendukung atau pendorong yang menyediakan peluang bagi setiap individu tenaga kerja untuk mewujudkan semua potensi yang dimilikinya secara optimal. Iklim kerja yang kondusif ditandai oleh terciptanya semangat dan gairah kerja yang tinggi dari tenaga kerja. 

2. Prinsip Pengelolaan Tenaga Kerja 
Agar pengelolaan tenaga kerja mencapai tujuannya, maka ada beberapa prinsip pengelolaan tenaga kerja yang harus dipegang. 
(1) Tenaga kerja dikelola bukan sebagai biaya tetapi sebagai aset atau kekayaan perusahaan yang utama. 
(2) Tenaga kerja dikelola sebagai individu yang memiliki integritas dan keinginan untuk berbakti pada perusahaan dan masyarakat lingkungannya . 
(3) Tenaga kerja dikelola dalam rangka peningkatan kompetensi dan komitmennya pada pekerjaan dan pada perusahaannya.
(4) Tenaga kerja dikelola dengan orientasi pada pencapaian hasil yang dapat dipertanggungjawabkan. 
(5) Tenaga kerja dikelola dengan fokus peningkatan kerjasama sebagai suatu tim kerja untuk mencapai kepentingan bersama. 
(6) Tenaga kerja dikelola dalam rangka penciptaan dan/atau peningkatan jaringan kerja (networking). 
(7) Tenaga kerja dikelola dalam rangka memacu terciptanya inovator-inovator yang mampu memberikan nilai tambah bagi kemajuan perusahaan. 

3. Fungsi Administratif Pengelolaan Tenaga Kerja 
Fungsi administratif merupakan serangkaian kegiatan dalam pengelolaan tenaga kerja yang sejalan dengan sistem administrasi ketenagakerjaan yang berlaku di Indonesia. Fungsi ini meliputi beberapa hal, 
yaitu: 1) sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja, 2) penyelenggaraan pemeliharaan kesehatan tenaga kerja, 3) pendirian organisasi pekerja dan hubungan industrial, 4) pelaporan dan pemeriksaan 
kecelakaan, serta 5) penyelenggaraan jaminan sosial tenaga kerja (Siswanto, 2002).


d. Fungsi Operasional Pengelolaan Tenaga Kerja 
Fungsi operasional merupakan cara pengelolaan tenaga kerja yang diwujudkan dalam serangkaian aktivitas atau tindakan-tindakan tertentu. Sebagaimana pendapat Flippo, fungsi operasional pengelolaan tenaga kerja 
meliputi pengembangan, kompensasi, integrasi, pemeliharaan, dan pemutusan hubungan kerja. Maka dengan mempertimbangkan fenomena ketenagakerjaan di Indonesia (Siswanto, 2002), berikut akan dikemukakan 
fungsi-fungsi operasional pengelolaan tenaga kerja. 

(1) Analisis Pekerjaan 
Analisis pekerjaan atau analisis jabatan berkaitan dengan proses identifikasi tugas-tugas yang harus dilaksanakan dalam perusahaan serta identifikasi tentang karakteristik keahlian, keterampilan dan pengalaman 
tenaga kerja yang diperlukan untuk menjalankan tugas-tugas yang terurai dalam deskripsi pekerjaan atau jabatan tersebut. Untuk memperjelas, perhatikan contoh berikut: 

CONTOH 1: DESKRIPSI JABATAN SEKRETARIS PERUSAHAAN 
Mengatur lalu lintas informasi internal perusahaan. 
Melakukan kegiatan administrasi perkantoran, dokumentasi dan publikasi. 
Mengoordinasikan proses penyusunan laporan bulanan dan tahunan perusahaan bagi kepentingan internal maupun eksternal. 
Mengatur jadwal kegiatan direktur dan kepentingan administrasi direktur. dan seterusnya 

CONTOH 2: SPESIFIKASI JABATAN SEKRETARIS PERUSAHAAN 
Memiliki kemampuan mengoperasikan komputer. 
Memiliki pengetahuan tentang administrasi perkantoran. 
Memiliki keterampilan menyusun konsep surat dan laporan. 
Memiliki kemampuan berbahasa asing, terutama bahasa Inggris 
Memiliki sikap kreatif, inovatif, dan ramah tamah. 
Pendidikan minimal D-3 jurusan kesekretarisan atau yang setara. 
Pengalaman minimal 3 tahun di bidang kesekretarisan. 

(2) Perekrutan Tenaga Kerja 
Perekrutan tenaga kerja adalah untuk pengadaan dan penarikan tenaga untuk guna mengisi posisi dan formasi yang belum terisi maupun bagian atau tugas baru yang diciptakan dalam perusahaan. Perekrutan ini bisa di lakukan dari dalam perusahaan maupun dari luar perusahaan. Perekrutan dari dalam dilakukan melalui promosi dan/atau mutasi. Promosi adalah memindahkan tenaga kerja dari suatu jabatan ke jenjang jabatan yang lebih tinggi dari pada jabatan sebelumnya, dengan disertai wewenang, tanggung jawab dan kompensasi yang lebih besar dibandingkan dengan jabatan sebelumnya. Kebalikan dari promosi adalah demosi, yaitu 
penurunan jabatan dan tanggung jawab yang disertai dengan pengurangan kompensasi. 
Mutasi atau rotasi adalah memindahkan tenaga kerja dari suatu unit atau bidang atau bagian pekerjaan lain dalam satu perusahaan yang dianggap setingkat atau sejajar dengan pekerjaan sebelumnya. Mutasi di 
samping bertujuan untuk mengisi pekerjaan yang kosong, juga dilakukan karena beberapa tujuan sebagai berikut: 
a) Mengembangkan pengalaman kerja individu tenaga kerja tetap ada. 
b) Memberikan kesempatan kepada individu tenaga kerja untuk mengembangkan kemampuan, keahlian dan keterampilan dengan pekerjaan yang lebih sesuai. 
c) Menghindari dan/atau mengatasi konflik yang mungkin atau sedang terjadi di antara individu tenaga kerja. 
(3) Seleksi Tenaga Kerja 
Seleksi tenaga kerja adalah kegiatan suatu perusahaan untuk menentukan dan memilih tenaga kerja yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan oleh perusahaan. Seleksi ini juga memperhitungkan kemungkinan 
keberhasilan atau kegagalan individu tenaga kerja dalam pekerjaan yang akan diberikan kepadanya. Proses seleksi ten aga kerja meliputi: 
1) Penyaringan awal, yaitu merupakan tahap seleksi awal yang meliputi seleksi terhadap kelengkapan persyaratan yang diminta.
2) Tes pekerjaan, yaitu tes yang diadakan dengan tujuan untuk mengukur tingkat kecerdasan, pengetahuan, keahlian, dan keterampilan yang dibutuhkan untuk memangku pekerjaan yang dilamar. 
3) Tes wawancara, yaitu tes yang diadakan dengan tujuan untuk melihat minat, motivasi pelamar terhadap pekerjaan, serta kepribadian. 
(4) Penempatan, Induksi dan Orientasi Tenaga Kerja 
Kegiat an penempatan kerja dimaksudkan untuk menempatkan tenaga kerja sebagai unsur pelaksana pekerjaan pada posisi. Sesuai dengan kemampuan, keahlian dan keterampilannya. Kegiatan induksi dan orientasi dimaksudkan untuk memberikan informasi kepada tenaga kerja baru yang akan mulai bekerja, tentang bagaimana suatu pekerjaan harus diselesaikan dan pengenalan ruang lingkup perusahaan serta kebijakan ketenagakerjaan yang berlaku dalam perusahaan. Selain itu, diharapkan tenaga kerja baru 
selain tidak merasa asing tehadap pekerjaannya dan mulai terampil menghadapi pekerjaan seperti halnya tenaga kerja yang lain.
(5) Kompensasi Tenaga Kerja 
Kegiatan kompensasi dimaksudkan untuk memberikan balas jasa atau imbalan kepada tenaga kerja, karena tenaga kerja tesebut telah memberikan kontribusinya dalam mencapai tujuan perusahaan. Kompensasi tidak terbatas pada imbalan tertentu, tetapi meliputi gaji, upah, perumahan, pakaian, tunjangan keluarga, tunjangan kesehatan, tunjangan pangan, dan tunjangan lainnya. Melalui pemberian kompensasi diharapkan motivasi tenaga kerja semakin meningkat. 
Sistem pembayaran kompensasi pada umumnya berdasarkan durasi waktu kerja, volume hasil atau produktivitas kerja, atau perpaduan antara waktu dan hasil kerja. Tenaga kerja yang mengerjakan pekerjaan yang bersifat teknis seperti operator mesin, atau pembungkus produk diberi upah perjam, sedangkan tenaga kerja yang menangani pekerjaan manajerial dan profesional diberi gaji bulanan.
(6) Penilaian Kinerja 
Penilaian kinerja adalah kegiatan untuk menentukan keberhasilan pelaksanaan pekerjaan tenaga kerja dengan tujuan untuk meningkatkan prestasi kerja setiap individu tenaga kerja. Hasil dari penilaian kinerja digunakan sebag ai dasar keputusan untuk pelatihan dan pengembangan, promosi, mutasi, pemberian kompensasi, atau pemutusan hubungan kerja. 
Ada beberapa pendekatan yang bisa dilakukan dalam penilaian kinerja, yaitu pendekatan perilaku, pendekatan hasil, pendekatan komparatif, dan pendekatan berorientasi ke depan. 
1. Pendekatan perilaku. Pendekatan perilaku memfokuskan penilaian terhadap kinerja setiap tenaga kerja dilihat menurut deskripsi jabatannya. 
2. Pendekatan atribusi. Pendekatan ini memfokuskan penilaian kinerja berdasarkan karakteristik atau sifat-sifat yang harus dimiliki individu tenaga kerja, bukan pada kinerjanya. Alasan penilaian adalah sifat-sifat yang dimiliki harus relevan dengan pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya, sehingga, akan mendorong prestasi indivi du menjadi lebih baik. Contoh sifat yang harus dimiliki misalnya tanggung jawab, kedisiplinan, ketegasan, komitmen dan sebagainya. 
3. Pendekatan hasil. Pendekatan ini dikenal sebagai MBO 
(Management by Objective). Pendekatan ini memfokuskan penilaian kinerja berdasarkan pada tujuan atau hasil yang telah ditetapkan. 
4. Pendekatan berorientasi ke depan. Pendekatan ini merupakan pendekatan terbaru dalam sistem penilaian kinerja. Pendekatan ini memfokuskan penilain kinerja berdasarkan prinsip pengembangan. Implementasi dari pendekatan ini pada dasarnya merupakan pengintegrasian ketiga pendekatan di atas.

(7) Pelatihan dan Pengembangan Tenaga Kerja 
Pelatihan selalu dikaitkan dengan pengembangan. Kedua istilah tersebut seringkali digunakan silih berganti untuk menjelaskan maksud yang sama. Padahal dalam konteks pengelolaan tenaga kerja, kedua istilah itu 
tidak sama pengertiannya. Pelatihan terutama berorientasi pada upaya untuk meningkatkan 
keterampilan dan keahlian tenaga kerja yang berkaitan dengan jabatan atau pekerjaan saat ini (current job oriented ). Sasaran yang ingin dicapai melalui pelatihan ini adalah peningkatan kinerja individu tenaga kerja dalam jabatan atau pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya saat ini. 
Berbeda dengan pelatihan, pengembangan berorientasi pada upaya peningkatan kemampuan dan keahlian individu tenaga kerja yang harus dipersiapkan untuk kepentingan jabatan atau pekerjaan di masa datang. Jadi 
pengembangan lebih bersifat jangka panjang. Oleh karena itu, program pengembangan sering dilakukan melalui penugasan untuk mengikuti pendidikan yang lebih tinggi.

(8) Pemutusan Hubungan Kerja 
Pemutusan hubungan kerja dimaksudkan untuk memberhentikan tenaga kerja dari jabatan/pekerjaan semula, baik atas prakarsa tenaga kerja yang bersangkutan maupun perusahaan. Pemutusan hubungan kerja pada prinsipnya dapat terjadi karena salah satu atau kedua belah pihak merasa rugi apabila hubungan kerjanya dilanjutkan. Pemutusan hubungan kerja dapat terjadi karena pengunduran diri secara sukarela. Penghentian yaitu pemutusan hubungan kerja sementara karena perusahaan mengalami kemunduran, pemecatan, dan pensiun.

DAFTAR PUSTAKA 

Alwi, Syafaruddin. (2001). Manajemen Sumberdaya Manusia. Yogyakarta: BP -FE. 

Anthony, William P., Pamela L. Perrewe, & K. Michele Kacmar. (1993). Strategy Human Resources Management. Harcourt Brace Javanovich Colleg Publisher. 

Atmosoeprapto, Kisdarto. (001). Produktivitas Aktualisasi Budaya Perusahaan Mewujudkan Organisasi yang Efektif dan Efisien melalui SDM Berdaya. Jakarta: Elex Media Komputindo. 

Bernardin, John., Joyce Russell. (1998). Strategic of Human Resource Management. New York: McGraw-Hill, Inc. 

Carrell, Michele R., Nortbert F. Elbert. & Robert D. Hatfield. (1995). Human Resource Management: Global Strategies for Managing A Diverse Work Force. New Jersey: Prentice Hall International Inc. 

Cascio, Wayne F. (1992). Managing Human Resource: Productivity and Quality Work of Life. Singapore: McGraw -Hill International Edition. 

D’ Aveni, A.R. (1994). Hypercompetition: Managing The Dynamics of Strategy Maneuvering. New york: The Free Press. 

Dessler, Gary. (2000). Human Resource Management. New Jersey: Prentice Hall International Inc. 

Flippo, Edwin B. (1997). Manajemen Personalia. Jakarta: Erlangga. 

Gomez, Luiz R. Mejia., David B. Balkin & Robert L Cardy. (1998). Managing Human Resources. USA: Prentice Hall, Inc., A Simon & Schuster Co. 

Goetsch, D.L. & S. Davis. (1994). Introduction to Total Quality: Quality, Productivity, Competitiveness. New Jersey: Englewood, Cliffs Prentice Hall International, Inc.

Hadari Nawawi. (2000). Manajemen Sumberdaya Manusia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 

Harris, Michael. (2000). Human Resource Management. USA; The Dryden Press. 

Harvey, Don., & Bruce R. Bowin. (1996). Human Resource Management A n Experiental Approach. USA: Prentice Hall, Inc., A Simon & Schuster Co. 

Hasibuan, Malayu S.P. (1995). Manajemen Sumberdaya Manusia. Jakarta: Gunung Agung. 

Ivancevich, John M. (1995). Human Resource Management. 6 th Edition. USA: Richard D. Irwin. 

McKenna, Eugene., Nic Beech. (2000). The Essence of Manajemen Sumberdaya Manusia. Edisi Bahasa Indonesia. Jogyakarta: Penerbit Andi-Pearson Education Asia Pte. Ltd. 

Noe, Raymond A., John Hollenback, Barry Gerhart, & Patrick Wright. (2000). Human Resource Management. New York: McGraw Hill Co. Ltd. 

Porter, M.E. (1983). Competitive Advantage. New York: The Free Press. 

Simamora, Henry. (1995). Manajemen Sumberdaya Manusia. Yogyakarta: Bagian Penerbit STIE YKPN. 

Siswanto, B. (2002). Manajemen Tenaga Kerja Indonesia Pendekatan Administratif dan Operasional . Bandung: Bumi Aksara.
















BAB X
PEMASARAN DAN PELAYANAN PELANGGAN




A. Seni Menjual dan Teknik Promosi 
Tujuan dasar program pejualan suatu perusahaan adalah melakukan penjualan yang menguntungkan atas nama perusahaan. Strategi dan rencana penjualan diimplementasikan untuk membantu tercapainya tujuan penjualan, misalnya program periklanan dapat diimplementasikan untuk membantu meningkatkan volume penjualan produk atau jasa tertentu. Teknik penjualan merupakan cara-cara atau kiat-kiat yang dilakukan oleh penjual dalam rangka meraih konsumen. Ada empat langkah dalam melakukan teknik penjualan, yaitu: 

(1)Tentukan Kebutuhan dan Keinginan Pelanggan 
Untuk menentukan kebutuhan konsumen haruslah terlebih dahulu diadakan semacam pengamatan atau penelitian sederhana terhadap kebutuhan konsumen, misalnya barang atau jasa apa yang dibutuhkan dan diinginkan konsumen? Berapa jumlahnya, siapa yang membutuhkan dan kapan mereka memerlukan? 

(2) Pilihlah Pasar sasaran Khusus 
Ada tiga jenis pasar sasaran khusus, yaitu: 
a) Pasar individual, adalah pasar yang memberikan layanan kepada individu-individu tertentu untuk memenuhi kebutuhan secara individual. Jenis pasar ini sangat cocok untuk perusahaan kecil dan menengah. 
b) Pasar khusus, yaitu pasar yang memberikan pelayanan khusus untuk konsumen tertentu, misalnya petani, pegawai negeri, pedagang dan sebagainya. Jenis pasar khusus sangat cocok untuk perusahan kecil. 
c) Pasar tersegmentasi, yaitu pasar yeng menyediakan pelayanan bagi kelas konsumen tertentu, misalnya untuk pelanggan kelas berpendapatan tinggi, kelas pelanggan berpendapatan sedang dan kelas pelanggan berpendapatan rendah. Konsumen dikelompokan berdasarkan geografis (desa, kota), demografis (jenis kelaamin, usia, pendaptan, tingkat pendidikan) dan kelas sosial (tingkat sosial, gaya hidup), serta faktor perilaku.

(3)Tetapkan Posisi Pasar 
Setelah menentukan segmentasi pasar, perusahaan harus menentukan “posisi’ yang ingin diduduki segmen tersebut. Menetapkan posisi pasar ialah menyusun produk di tempat yang lebih jelas, khas, sehingga menimbulkan hasrat terhadap produk tersebut dalam pikiran konsumen daripada produk sejenis yang lain. 

(4)Tempatkan Strategi Penjualan dalam Persaingan 
Perusahaan harus lebih siap untuk melakukan bauran pemasaran sebagai strategi dalam pengelolaan perusahaan. Bauran pemasaran adalah kombinasi penawaran produk, penetapan harga, metode promosi, dan sistem distribusi untuk menjangkau kelompok konsumen tertentu. 

(5)Pilih Strategi penjualan yang paling Tepat. 
Memilih strategi dengan menempatkan keempat bauran pemasaran, produk, harga, promosi, dan distribusi tadi. Untuk melakukan program penjulan harus dilakukan tahapan-tahapan sebagai berikut. 
(1) Persiapan sebelum penjualan 
Kegiatan pada tahap ini adalah mempersiapkan tenaga penjualan dengan memberikan pengertian tentang barang yang akan dijual, pasar yang akan dituju, dan teknik penjualannya. 
(2) Penentuan Lokasi Pembeli Potensial 
Tahap kedua adalah menentukan lokasi dari segmen pasar yang menjadi sasarannya. Dari lokasi inilah dapat disusun daftar calon pembeli atau pembeli potensial.
(3) Pendekatan Pendahuluan 
Sebelum melakukan penjualan, penjual harus mempelajari semua masalah tentang calon pembelinya. Selain itu, perlu juga mengetahui tentang produk atau merk apa yang sedang digunakan dan bagaimana reaksi pembeli? Beberapa informasi perlu dkumpulkan untuk mendukung penawaran produk kepada pembeli, misalnya tentang kebiasaan membeli, kegemaran dan kesukaan konsumen. Semuanya merupakan pendekatan pendahuluan terhadap pasarnya. 
(4) Melakukan Penjualan 
Penjualan permulaan dilakukan untuk memikat calon konsumen, kemudian diusahakan untuk mengetahui daya tarik mereka, dan pada akhirnya penjual melakukan penjualan kepada pembeli. 
(5) Pelayanan Sesudah penjualan (Purna jual) 
Sebenarnya kegiatan penjualan tidak berakhir pada saat pembeli membeli dan membayar barang yang dibelinya, tetapi perlu dilanjutkan dengan memberikan pelayanan purna jual. Pelayanan purna jual diberikan untuk barang-barang tahan lama seperti elektornika, lemari es, kendaraan bermotor, televisi. Pelayanan purna jual ini banyak macamnya, seperti garansi, reparasi dan pengantaran barang. Contohnya: dalam kendaraan bermotor adalah “ Pembelian Mobil Toyota Kijang, diberikan service gratis dan oli gratis sampai dengan 30.000 km. Untuk membantu penjualan, wiraniaga perlu memperhatikan tahapan-tahapan penting sebagai berikut. 
a. Prospecting 
b. Perencanaan pra penjualan 
c. Presentasi Penjualan 
d. Mengatasi keberatan prospek 
e. Menutup penjualan 
Prospecting adalah langkah awal dalam proses penjualan. Prospek adalah orang yang memiliki kemampuan untuk membeli, yang telah menunjukkan rasa tertarik pada produk atau jasa yang ditawarkan. Kehadiran mereka merupakan basis konsumen. Tanpa basis konsumen yang kuat, perusahaan akan menghadapi kegagalan. 
Ada dua alasan yang kuat yang mendorong perusahaan harus terus menerus mencari prospek baru: 
(1) untuk meningkatkan penjualan; dan 
(2) untuk menggantikan konsumen yang tidak lagi membeli produk atau jasa perusahaan. 

Untuk mengetahui apakah prospek memenuhi syarat sebagai calon konsumen potensial dapat diketahui melalui enam pertanyaan yang harus dijawab sebagai berikut. 
a. Apakah prospek membutuhkan produk atau jasa yang ditawarkan? 
b. Apakah prospek menyadari kebutuhan atau masalah yang dapat diatasi dengan produk atau jasa yang ditawarkan? 
c. Apakah prospek mempunyai hasrat yang kuat untuk memenuhi kebutuhan atau mengatasi per masalahan tersebut? 
d. Apakah prospek memiliki wewenang untuk mengambil keputusan membeli? 
e. Apakah pembelian cukup besar untuk menjadikannya lebih menguntungkan? 
Tentu saja untuk menjawab pertanyaan tersebut, wiraniaga akan melakukan metode prospecting sebagai berikut. 

1) Metode Pusat Pengaruh 
Yaitu menggunakan orang yang berpengaruh seperti pejabat pemerintah atau ketua organisasi profesi, yang menjadi pusatpengaruh yang dapat dimanfaatkan oleh wiraniaga dalam menjual produk atau jasa. Mereka dapat menjadi pusat informasi tentang orang-orang yang berada dalam lingkup pengaruhnya, karena mereka sebagai tokoh sentral baik secara formal maupun informal. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan prospek, wiraniaga perlu bergabung dengan berbagai organisasi informal agar dapat berhubungan dengan berbagai tokoh yang meruapakan pusat pengaruh, misalnya klub olahraga, organisasi sosial, dan kelembagaan lainnya. Dengan metode ini, wiraniaga dapat memberikan penjelasan 
tentang produk dengan menekankan pada kualitas dan manfaat produk yang ditawarkan tanpa melakukan pemaksaan keinginannya. Jika tokoh yang dipandang sebagai pusat pengaruh tersebut membeli, karena sikap wiraniaga dalam menjelaskan produk yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan pembeli, hal ini 
merupakan kondisi yang paling ideal. Seandainya produk tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan, maka tokoh yang memiliki pusat pengaruh mungkin akan merekomendasikan produk kepada orang lain yang ada di bawah pengaruhnya. 

2) Metode Spotteer (Hubungan Antar Teman) 
Spotteer adalah orang yang mengenal orang lain sebagai teman namun tidak begitu akrab. Mereka sebagai sumber informasi meskipun bukan sebagai pusat pengaruh. Spotter dapat terdiri dari berbagai kalangan seperti sopir taksi,bengkel kerja, tukang cukur, wiraniaga produk lain, pelayan toko, pengemudi bis kota dan orang –orang yang berada di sekitar pusat informasi.

3) Metode Mata Rantai 
Metode ini menerapkan petunjuk dari pembeli yang puas dengan produk atau jasa yang dibeli dari suatu perusahaan melalui pelayanan wiraniaga. Untuk menjangkau prospek lain, wiraniaga dapat meminta nota pengantar dari pembeli tersebut yang berisi pengakuan kualitas atau pujian atas produk yang telah dibelinya. Pembeli memiliki peran psikologis dalam hal pengakuan kualitas. 

4) Metode Observasi 
Wiraniaga dapat memperoleh prospek melalui metode observasi. Metode ini dapat dilakukan dengan mengadakan pengamatan pada surat kabar lokal. Misalnya, wiraniaga asuransi secara sistemaatis dapat menelusuri informasi dalam surat kabar. Wiraniaga asuransi kecelakaan memperhatikan informasi kecelakaan, wiraniaga keperluan rumah tangga memperhatikan perkembangan kebutuhan alat rumah tangga masyarakat. 

5) Metode Prosfekting Melalui Telpon 
Metode telepon merupakan metode yang lebih bersifat pribadi dan langsung. Metode telepon biasanya apabila perlu banyak prospek yang dikunjungi. Lebih cocok metode ini untuk menawarkan investasi dan jasa. 

6) Metode Kunjungan 
Metode ini merupakan metode penjualan yang dilakukan dengan cara melakukan kunjungan dari pintu ke pintu. Metode ini langsung diterapkan untuk berbagai jenis produk, seperti peralatan rumah tangga, produk elektronik, buku dan sebagainya. Persainganpenjualan dengan metode ini sangat kecil. Wiraniaga yang melakukan kunjungan harus baik, meyakinkan dan mengesankan. Ia harus menyiapkan diri untuk bersifat baik dan mengesankan dengan mengenalkan produk yang ditawarkannya dan menunjukkan manfaat produk yang ditawarkannya itu. Wiraniaga harus mengetahui informasi tentang unsur-unsur pra penjualan seperti objek penjualan, profil konsumen, dan manfaat barang bagi konsumen. 

Selain melalui metode-metode di atas, penjualan juga dapat dilakukan dengan presentasi penjualan. Setiap kunjungan merupakan presentasi. Wiraniaga menguraikan dan menjelaskan tentang fungsi dan manfat produk. Presentasi yang disampaikan dengan cermat dan terlatih dengan mendemonstratifkan manfaat produk adalah sarana penting untuk menggerakan pikiran konsumen, membangkitkan perhatian dan minat, hasrat, keyakinan dan tindakan yang menyebab kan terjadinya penjualan. Ada beberpa pendekatan dalam melakukan presentasi bagi wiraniaga:

a) Pendekatan Melalui perkenalan 
Wiraniaga memulai dengan melakukan perkenalan untuk memberikan penjelasannya tentang manfaat barang, berikanlah kartu nama, wiraniaga berbuat sopan dan jangan memaksakan membeli. 
b) Pendekatan Melalui Referensi 
Kunjungan penjualan dapat diawali dengan menggunakan referensi nama teman atau famili prospek dalam awal pembicaraan dengan menyebutkan beberapa nama konsumen yang telah membeli produknya, sehingga ia akan tertarik dan terpikat oleh informasi pembeli tadi.
c) Pendekatan Melalui Pemberian atau contoh gratis. 
Dilakukan dengan memberikan contoh gratis untuk mendapatkan kesempatan presentasi. Disamping melalui teknik dan pendekatan seperi di atas, seeorang penjual dalam menarik konsumennya harus melakukan promosi penjualan, dengan menggunakan alat-alat seperti peragaan, pameran, demontrasi, hadiah, contoh barang dan lain sebagainya. 

B. Harga Jual 
Harga jual adalah harga pokok ditambah seluruh biaya penjualan yang akan diterima oleh konsumen. Konsumen akan maksimum kepuasannya apabila barang atau jasa yang dibelinya cocok atau sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Sesuatu yang dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen adalah manfaat (utility) dari barang dan jasa itu. Barang atau jasa yang bermanfaat bagi kosumen akan bernilai, dan barang dan jasa yang bernilai itulah memiliki harga. Harga sering diukur dan dinyatakan dalam bentuk uang. Dengan demikian, seorang konsumen akan merasa puas apabila barangnya bermanfaat dan memiliki nilai, serta harganya pas atau cocok dengan kondisi keuangan pelanggan. Harga yang terlalu tinggi atau tidak terjangkau atau tidak sesuai dengan daya beli konsumen tidak akan menarik bagi konsumen dan tidak akan memberikan kepuasan kepada konsumen sehingga tidak akan menimbulkan transaksi atau pertukaran. Demikian pula harga yang terlalu rendah kurang menguntungkanbagi penjual, karena akan menimbulkan kerugian, mengapa? Karena harga sangat menentukan pendapatan dan laba bersih. Harga juga berhubungan dengan kualitas suatu produk. Konsumen memandang harga sebagai indikator kualitas produk, terutama jika mereka harus mengambil keputusan membeli dengan informasi yang tidak lengkap. Persepsi konsumen tentang kualitas sangat berhubungan dengan harga-harga produk yang sangat bervariatif. Sehingga produk-produk yang harganyalebih mahal dianggap kualitasnya lebih baik. Namun demikian, periklanan dan reputasi perusahaan pun seringkali mempengaruhi persepsi konsumen tentang kualitas. Oleh sebab itu, penjual hendaknya hati -hati dalam menentukan harga jual, dan bukan menentukan harga yang terlalu tinggi dan terlalu rendah tetapi harga yang menarik konsumen. 

a. Tujuan Menetukan Harga Jual 
Sebelum menentukan harga jual, perusahaan harus menetapkan tujuan dahulu. Tujuan penetapan harga jual meliputi: 
(1) Tujuan yang berorientasi pada laba, 
(2) Tujuan yang berorientasi pada volume penjualan. 
Perusahaan dapat memilih salah satu dari dua tujuan penetapan harga, yaitu ada perusahaan yang berorientasi pada pencapaian laba dan ada perusahaan yang berorientasi pada peningkatan dan pertahanan volume penjualan. Penetapan harga penjualan yang berorientasi pada laba ada dua 
macam, yakni: 

a. Jangka pendek, yaitu untuk mecapai target laba. Sebuah perusahaan dapat menetapkan harga produknya untuk mencapai prosentase tertentu dari hasil penjualannya atau dari investasinya. Tujuan pencapaian ini bisanya diterapkan oleh perantara atau produsen. Banyak pengusaha dan pedagang besar maupun kecil seperti eceran dan grosir yang menggunakan target laba pada penjualan netto sebagai penetapan harga. Contoh: Perusahaan kerajinan Sepatu Cibaduyut menghendaki laba 20% dari harga pokok produk sebesar Rp 100.000, per unit. Maka harga pokok penjualan (Rp 100.000, - + ( 20 % Rp 100.000,-) =Rp 120.000,- perunit.
b. Jangka panjang, yaitu untuk meningkatkan penjualan. Untuk meningkatkan penjualan biasanya perusahaan meningkatkan harga secara perlahan-lahan atau dengan melakukan monopoli. Tujuan untuk mencapai laba jangka pendek sebaiknya digunakan untuk meningkatkan laba jangka panjang. Penentuan harga penjualan yang berorientasi pada penjualan ada dua tujuan utama, yaitu: 
(1) Meningkatkan Volume Penjualan 
Pada beberpa perusahaan besar maupun kecil, penetapan harga seringkali difokuskan pada volume penjualan dalam suatu periode tertentu, misalnya selama satu tahun pertama atau tiga tahun pertama. Untuk meningkatkan penjualan, perusahaan bisanya memberikan diskon selama periode tertentu untuk memikat pelanggan meskipun hal ini dalam jangka pendek masih rugi. Akan tetapi dalam jangka panjang, bila konsumen telah tertarik dan loyal kepada produk-produk perusahaan, akan meningkatkan volume penjualan. 
(2) Mempertahankan dan Meningkatkan Pangsa Pasar 
Tidak sedikit pula perusahaan kecil, menengah dan besar yang menetapkan harga penjualan dengan tujuan untuk mempertahankan dan meningkatkan pangsa pasar perusahaan. Misalnya, ketika terjadi inflasi di Indonesia, beberapa perusahaan menerima margin laba yang lebih kecil. Hal ini dilakukan hanya untuk mempertahankan pangsa pasar. Untuk mempertahankan pangsa pasar, biasanya perusahaan menjual harga produk di bawah harga jual yang seharusnya. 

b. Pertimbangan Dalam Menetapkan Harga Penjualan 
Selain tujuan penetapan harga jual, ada beberapa pertimbangan untuk menentukan harga jual. Penetapan harga suatu produk harus dipertimbangkan berdasarkan: 

(1) Tujuan pemasarannnya 
(2) Peran harga dalam bauran pemasaran 
(3) Biaya pembelian dari pemassok 
(4) Biaya Pengiriman 
(5) Biaya penyimpanan 
(6) Pengadaan 
(7) Persediaan penjualan 
(8) Biaya pelaayanan pada konsumen. 
Jadi, penetapan harga penjualan harus menutupi semua biaya tersebut ditambah dengan laba yang diinginkan oleh perusahaan. Sebagai contoh: Perusahaan kain songket di Palembang ingin menjual kainnya seharga Rp 120.000,- maka untuk menetapkan harga sebesar itu, perusahaan mempertimbangkan dulu tujuan pemasarannya, apakah untuk mempertahankan pangsa pasar, atau peningkatan laba. Dipertimbangkan pula bauran pemasarannya, apakah perubahan harga (elastisitas harga) membawa implikasi pada penjualan? Bila tidak, maka perusahaan tidak akan mempertimbangkan hal itu. Semua biaya termasuk macam-macam pajak atau subsidi akan berpengaruh pada penentuan harga penjualan. 
Penetapan harga suatu produk juga harus dipertimbangkan berdasarkan pemahaman hubungan antara harga dan permintaan dengan persepsi konsumen terhadap nilai barang dan jasa. Jika suatu produk dijual berdasarkan persepsi konsumen, penjulan akan berjalan lamban. Sebaliknya, bila harga jual ditetapkan di bawah persepsi nilai konsumen, maka akan cepat laku dan penjual akan memperoleh laba (Machfoedz, 2004: 179). Hal lain yang harus dipertimbangkan adalah kualitas dan harga pesai ng. Harga yang lebih tinggi dan kualitas yang relatif rendah daripada pesaing menjadi pertimbangan penentuan harga penjualan. Bila kualitas pesaing lebih baik, maka harga penjualan harus lebih rendah. Kesalahan yang perlu diperhatikan adalah bila harga yang terlalu berorientasi pada biaya. Bila hal ini terjadi maka, harga jual akan lebih tinggi daripada pesaing. 

c. Faktor-faktor Yang Menetukan Harga Jual 
Selain pertimbangan-pertimbangan di atas, penentuan harga juga dipengaruhi oleh faktor-faktor internal perusahaan, yang meliputi: 
(1) Tujuan Pemasaran 
(2) Strategi Bauran Pemasaran 
(3) Biaya 
Sebelum menetapkan harga, biasanya perusahaan menetapkan strategi untuk produk. Bila perusahaan telah memilih pasar yang akan dijadikan pasar sasarannya dan menetapkan posisi produknya di pasar, maka dilakukan strategi bauran pemasaran yaitu strategi harga. Misalnya, perusahan pakaian jadi dari Bandung menempatkan kain sutra untuk dipersaingkan dengan kain wol dari Inggris pada segmen pasar penghasilan tinggi dan harus menetapkan harga yang mahal untuk kelas konsumen seperti itu. Atau perusahaan jasa kereta api harus menyediakan tempat duduk atau gerbong kereta api untuk penumpang kelas menengah misalnya kelas bisnis dengan harga yang cukup untuk kelas tersebut. Kereta api untuk kelas tinggi, misalnya eksekutif dengan harga lebih tinggi dan untuk kelas pendapatan rendah disediakan kelas ekonomi dengan harga relatif murah. 
Selain faktor tujuan pemasaran, penentuan harga pun dipengaruhi oleh faktor strategi bauran pemasaran. Pola dan disain produk, distribusi, tempat, dan promosi sangat berpengaruh pada penentuan harga jual. Disain produk yang menarik dibutuhkan teknik yang baik dan akan menentukan harga penjualan. Kualitas produk yang lebih baik akan mempengaruhi harga penjualan yang lebih tinggi karena untuk membuat kualitas barang dan jasa yang lebih baik diperlukan biaya yang lebih besar. Misal, kain batik dari Malaysia karena disain dan teknik produksinya lebih baik maka dijual dengan harga yang tinggi. Bauran pemasaran lain adalah distribusi. Distribusi yang melalui saluran pemasaran yang panjang akan mempengaruhi harga penjualan. Misalnya, harga produk yang dijual oleh Perusahaan CNI yang terkenal dengan multilevel marketing, menentukan harga yang tinggi. Tempat yang lebih menarik akan menentukan juga harga jual. Ekspektasi atau harapan produsen juga sangat berpengaruh pada penentuan harga. Misalnya, pedagang perantara atau konsumen yang akan menjual kembali barang yang dibelinya akan diberi margin penjualan yang lebih besar agar mempromosikan barang-barang yang dijualnya. 
Faktor ketiga yang menentukan harga penjualan adalah biaya. 
Biaya seringkali oleh perusahaan kecil, menengah dan besar dijadikan dasar untuk menetapkan harga suatu produk. Biasanya perusahaan menetapkan harga untuk seluruh biaya produksi, distribusi, promosi, biaya perpajakan, biaya penjualan, dan biaya biaya lain yang membebani perusahaan dari mulai produksi sampai pada purna jual. Misalnya, PT Toyota Astra menjual mobil dengan harga Rp 150 juta, maka disamping biaya produksi sampai penjualan dibebankan pula biaya service sampai purna jual, misalnya service gratis sampai 30.000 km. Perusahaan dengan strategi pelayanan purna jual bisa meningkatkan hasil penjualan dan meningkatkan laba perusahaan. 

d. Metode Penetapan Harga 
Ada dua pendekatan pokok dalam penetapan harga jual, yaitu: 
(1) Pendekatan Biaya, yang terdiri dari penetapan harga biaya plus, penetapan harga mark-up, dan penetapan harga break even. 
(2) Pendekatan pasar atau persaingan. 

(1) Metode Penetapan Harga Dengan Pendekatan Biaya: 
a. Penetapan Harga Biaya Plus (Cost Push Pricing Method) 
Dengan metode ini, harga jual per unit ditentukan dengan menghitung jumlah seluruh biaya per unit ditambah jumlah tertentu untuk menutupi laba yang dikehendaki pada unit tersebut (disebut margin) Dengan demikian, harga jual produk dapat dihitung dengan rumus: 

BIAYA TOTAL + MARGIN = HARGA JUAL 

Contoh: Seorang pengusaha kecil untuk memenuhi pelanggannya telah mem produksi sepatu 10 pasang. Biaya yang akan dikeluarkan diperkirakan sebesar Rp 800.000,- Bila perusahaan menginginkan laba 10 % dari biaya total, maka harga jual sepatu itu adalah : Rp 800.000 + 10% (Rp 800.000) = Rp 880.000,-. 

b. Penetapan Harga Mark-Up 
Yaitu dimana para pedagang membeli barang-barang dagangannya untuk dijual kembali dan harga jualnya dengan menambahkan mark-up tertentu terhadap harga beli. Rumus yang digunakan adalah: 

HARGA BELI + MARK-UP = HARGA JUAL 

Jadi, mark-up merupakan kelebihan harga jual di atas harga belinya. Keuntungan diperoleh dari mark-up tersebut. 

c. Penetapan harga Break–Even 
Yaitu penetapan harga yang didasarkan pada permintaan pasar dan masih mempertimbangkan biaya. Perusahaan dikatakan break-even apabila penerimaan sama dengan biaya yang dikeluarkannya, dengan anggapan bahwa harga jualnya sudah tertentu.

Biaya Tetap Total 
Titik Break Even (dlm unit) = --------------------------------------------------- 
Harga Jual Perunit – Biaya Variabel Per unit 

Biaya Tetap Total 
Titik Break Even (dlm Rp) = -------------------------------------------------- 
1 - BVR/H 
dimana : H = harga jula perunit 
BVR = Biaya Variabel Rata-rata 

Contoh: Sebuah perusahaan akan mengeluarkan biaya tetap sebesar Rp 250.000,- biaya variabel = Rp 30.000,- per unit. Jika dikehendaki harga jual per unit Rp 80.000,- maka : 250 
Titik Break-Even (dlm unit) = ------------------ = 5 unit 
80 -30 

250 
Titik Break-Even (dlm Rp) = ------------------ = Rp 400.- 
1 – 30/80 

(2) Metode Penetapan Harga Untuk Menghadapi Pasar/Pesaing 
Untuk menarik dan meraih para konsumen dan para pelanggan, perusahaan biasanya menggunakan strategi harga. Penerapan strategi harga jual juga bisa digunakan untuk mensiasati para pesaingnya, misalkan dengan cara menetapkan harga di bawah harga pasar dengan maksud untuk meraih pangsa pasar. Sebagai contoh: Produk motor Cina menetapkan harga motor di bawah harga motor buatan Jepang dengan maksud untuk meraih pangsa pasar. Bila pangsa pasar sudah diraihnya dan dikuasainya maka loyalitas konsumen akan beralih ke motor China. Dan ada juga yang menetapkan harga di atas harga pasar yang tinggi. Ini dilakukan bagi produk-produk baru dengan penemuan-penemuan teknik rekayasa baru. Pada mulanya ditetapkan harga yang tinggi kemudiaan bila pasar sudah tergantung pada produk penemuan baru tersebut harga tahap demi tahap dikurangi sesuai dengan masa dari hidup produk. Mungkin saja produk-produk tersebut sudah mulai jenuh di pasar. 
Perusahan-perusahaan yang memiliki produk inovasi tinggi biasanya memiliki hak paten dan akan memilih salah satu strategi dari dua strategi sebagai berikut. 

1) Strategi Harga Skimming Strategi harga skimming biasanya diterapkan pada produk-produk temuan baru pada saat diluncurkan ke pasar. Pada saat diluncurkan ke pasar, pada awalnya ditetapkan harga yang tinggi, dengan maksud untuk menutupi biaya investasi (riset dan pengembangan) yang tinggi. Selanjutnya, harga dikurangi secara bertahap agar dapat bersaing. Tentu saja, tujuan strategi ini adalah untuk memaksimumkan keuntungan jangka pendek dalam rangka menutupi biaya investasi. Harga skimming hanya dapat dilakukan pada suatu kondisi tertentu, yaitu: 

(a) Kualitas dan citra produk harus mendukung harganya yang mahal, dan jumlah pembeli yang menginginkan produk pada harga tersebut memadai. 
(b) Biaya produksi dalam jumlah kecil tidak terlalu tinggi, sehingga pembeli menunda memanfaatkan penerapan h arga yang mahal. 
(c) Pesaing tidak akan dapat masuk ke pasar tersebut dengan mudah dan menjual produknya dengan harga yang relatif rendah. Bila persyaratan-persyaratan di atas tidak dipenuhi, maka penerapan harga skimming tidak dapat dilakukan, bahkan akan menimbulkan kerugian. 

2) Strategi Harga Penetrasi 
Strategi penetapan harga penetrasi merupakan penetapan harga suatu produk standar. Metode ini dilakukan dengan cara menetapkan harga awal harga perdana yang rendah, dengan tujuan agar dapat diterima pasar secara luas. Salah satu tujuan dengan menetapkan metode ini adalah untuk mendapatkan loyalitas pelanggan. Penetapan harga yang rendah lebih disukai oleh pasar karena beberapa kondisi, diantaranya: a. Pasar harus sangat peka terhadap harga, sehingga harga rendah bisa membuka pasar yang lebih luas. 

b. Biaya produksi dan distribusi harus turun pada saat volume penjualan meningkat. 
c. Harga rendah harus membantu persaingan. 

3) Strategi Penyesuaian Harga 
Harga hendaknya harus disesuaikan dengan variasi konsumen, situsi dan kondisi. Pernahkan anda membeli barang dengan didiskon atau diberi potongan harga? Atau mungkin anda pernah menerima harga promosi yang lebih murah? Atau mungkin anda pernah berbelanja suatu barang yang jenisnya sama di suatu tempat dengan harga yang berbeda di tempat lain ? 
Dalam penyesuaian harga, ada beberapa strategi, yang meliputi: 
a) Penetapan Harga Diskon dan Potongan Harga 
b) Penetapan Harga Psikologis 
c) Penetapan Harga Promosi. 
Penetapan harga diskon dilakukan dengan mendiskon dari harga penjualan tertentu. Misalnya, karena pembelian awal didiskon sebesar 20%. Atau karena kontan didiskon 10% dari harga jual rata-rata. Atau karena membeli banyak, diberi diskon 15%. Bisa dalam bentuk prosentase tertentu bisa juga dalam bentuk jumlah tertentu. Penetapan Psikologis dilakukan untuk menarik konsumen, misalnya penetapan harga alat dapur Rp 399.999,- lebih menarik daripada Rp 400.000,-. Harga kaos kaki dua pasang Rp 10.000,- lebih menarik dari pada harga kaos kaki per pasang Rp 5.000,-. Penetapan harga promosi dilakukan dengan menetapkan harga yang lebih rendah daripada yang tertera dalam daftar harga. Hal ini dilakukan untuk waktu-waktu tertentu saja. Misalnya, penjual pakaian menjelang hari raya memberikan potongan harga dengan potongan harga yang bervariasi. Supermarket menetapkan harga murah untuk beberapa produk tertentu, dengan harapan konsumen juga membeli produk lain dengan harga yang relatif tinggi atau dinaikan. Perusahaan mobil dan perumahan menawarkan pembayaran dengan tingkat bunga rendah, garansi lebih lama, atau perawatan gratis untuk mengurangi harga konsumen. 

3. Kepuasan Pelanggan 
Kunci utama yang menetukan pemasaran adalah menentukan kebutuhan dan keinginan konsumen dengan memberikan kepuasan yang maksimum dibandingkan dengan para pesaing. Hal inidapat dilakukan dengan berbagai cara, sebagai berikut. 
1) Temukan keinginan pasar/konsumen/pelanggan dan penuhilah 
2) Buatlah apa yang dapat dijual dan jangan berusaha menjual apa yng Anda buat. 
3) Cintailah pelanggan dan bukan produk anda. 
4) Lakukanlah menurut cara anda 
5) Andalah yang menetukan 
6) Melakukan segalanya dalam batas kemampuan anda untuk menghargai uang pelanggan yang syarat dengan nilai, mutu, dan kepuasan. 
Jadi, konsep pemasaran ada empat yaitu : 
(1) fokuskan pada pelanggan; 
(2) orientasikan pada kepuasan pelanggan; 
(3) lakukan pemasaran yang terkoordinasi; 
(4) kemampuan dalam memperoleh laba atau kemampulabaan. 
Jadi, kunci untuk mempertahankan pelanggan adalah kepuasan pelanggan. Kepuasan pelanggan dapat dilihat dari: 
(1) membeli lagi atau berlangganan lagi; 
(2) mengatakan hal -hal yang baik tentang perusahaan kita kepada orang lain; 
(3) kurang memperhatikan merk dan iklan dari produk-produk pesaing; dan 
(4) membeli produk lain dari perusahaan yang sama, misalnya pelanggan akan membeli produk lain yang diproduk oleh perusahaan kita juga, meski produknya berbeda-beda. 

3.1 Pelayanan Pada Pelanggan 
Pernahkan anda merasakan pelayanan yang memuaskan misalnya di Bank, di Kantor Pemerintah, di Tempat pembayaran Listrik, atau Telepon atau mungkin di supermarket? Apa yang anda rasakan dan anda lihat? Apakah pelayanan yang disediakannya lebih cepat, lebih tepat, lebih hemat, lebih sehat, sehingga memberikan kenikmatan dan kepuasan tertentu? Fasilitas apa yang dapat anda nikmati? Bila semua pelayanan yang diberikan memuaskan pelanggan maka disebut pelayanan prima. Pelayanan prima muncul apabila kualitas pelayanan memenuhi kepuasan konsumen. Peta persaingan global dan komitmen tehadap pelanggan akhir-akhir ini sangat populer. Untuk memenuhi pelayanan prima, perusahaan harus memberikan pelayanan secara berkelanjutan. 

3.2 Harapan Pelanggan 
Ada 4 harapan pelanggan, yaitu: 
(1) Kegunaan, yaitu kebutuhan dan manfaat produk barang dan jasa.
(2) Kinerja, yaitu seberapa besar produk atau jasa dapat memenuhi kegunaan produk itu sendiri. 
(3) Harga , yaitu besaarnya uang dan pengorbanan yang harus dibayar konsumen untuk produk tersebut. 
(4) Penyajian produk barang dan jasa . 

3.3 Faktor-faktor yang Menciptakan Nilai Bagai Pelanggan 
Ada empat faktor penciptaan nilai bagi pelanggan: 
1. Nilai kenyamanan dan kemudahan yang diberikan suatu produk atau jasa sehingga dapat dinikmati oleh pelanggan, yang meliputi: 
a. Kemudahan dan kenyaman yang diberikan kepada pelanggan dengan memberikan waktu layanan yang lebih fleksibel (lama) kepada pel anggan. 
b. Kemudahan yang diberikan berkaitan dengan tempat yang mudah dijangkau dengan tidak merepotkan pelanggan seperti diantar sampai ke kendaraan atau diantar sampai ke rumah. 
c. Kemudahan yang diberikan dengan faslitas transaksi yang diberikan dan mengenakan pelanggan, misalnya pembayaran dapat dilakukan dengan kartu kredit atau pembayaran di akhir bulan atau mencicil. 
d. Kemudahan yang diberikan perusahaan dalam membantu mengambil keputusan dari problema pelanggan dalam mengambil keputusan pembelian. 

2. Kualitas Hidup Suatu Perusahaan 
Perusahaan harus peduli terhadap kesehatan lingkungan perusahaan dan kebiasaan bekerja. Semua itu akan meningkatkan reputasi atau pamor perusahaan di mata masyarakat. 
3. Kepentingan diri Pelanggan 
Layanan kepada pelanggan harus mampu menyentuh hati nurani pelanggan, artinya harus memberikan hal yang penting bagi diri pelanggan. 
4. Selingan 
Perusahaan harus memberikan selingan di kala pelanggannya menunggu layanan, misalnya ada musik, radio, majalah , surat kabar dan lain sebagainya. 

3.4 Unsur-unsur Pelayanan 
1. Fasilitas Fisik 
Indikator-indikatornya: 
a. Peralatan dan fasilitas yang lengkap dan nyaman. 
b. Gedung/kantor yang memadai dan nyaman. 
c. Profil Petugas yang ramah dan Rapih. 

2. Keandalan/Konsistensi 
Indikatornya meliputi: 
a. Ketepatan pelaksanaan layanan; 
b. Kesesuai pelaksanaan dengan prosedur; 
c. Konsisten tidak pilih kasih. 

3. Kesiapan pelayanan dan Kecepatan 
Indikatornya meliputi: 
a. Kecekatan petugas dalam pelayanan; 
b. Hemat waktu dan tenaga. 

4. Kepastian Pelayanan 
Indikatornya meliputi: 
a. Kemampuan petugas; 
b. Keramahan petugas; 
c. Kepercayaan pelanggan; 
d. Keamanan pelanggan. 

5. Kemudahan 
Indikatornya, mencakup: 
a. Kemudahan memperoleh pelayanan; 
b. Kejelasan Informasi; 
c. Pemahaman pelanggan.

4. Promosi 
Agar barang yang kita produksi cepat dikenal, diketahui, dibutuhkan dan diminta oleh konsumen, maka seorang pengusaha harus segera melakukan usaha-usaha sebagai berikut. 
(1) Informasikan barang dan jasa yang dihasilkan itu kepada konsumen. 
(2) Bujuk konsumen agar mau membeli barang dan jasa yang dihasilkan. 
(3) Pengaruhi konsumen agar membeli barang dan jasa yang kita hasilkan. 
Kegiatan-kegiatan di atas dapat dilakukan dengan periklanan dan promosi. Dengan demikian, promosi merupakan cara mengkomunikasikan barang dan jasa yang akan ditawarkan supaya konsumen mengenal dan membeli. Adapun fungsi promosi adalah: 
(1) Menginformasikan; 
(2) Membujuk; 
(3) Mengingatkan; dan 
(4) Mempengaruhi. 
Melalui promosi, barang dan jasa mudah dikenal oleh konsumen. 

Ada beberapa jenis promosi: 
(1) Iklan, bisanya dilakukan melalui media cetak (surat kabar, majalah, buletin) dan media elektronika seperti TV, Radio, Internet dan lain sebagainya. 
(2) Promosi penjualan, biasanya dilakukan melalui pameran dagang, kuis berhadiah, hiburan, dan kegiatan atau even lainya. 
(3) Wiraniaga, yaitu dengan mempromosikan langsung barang ke konsumen sasaran dengan membawa produk contoh.
(4) Pemasaran langsung, yaitu dengan langsung menghubungi konsumen. 
(5) Humas, yaitu mempublikasikan barang-barang dan jasa melalui bilboard, pamlet, dan lain sebagainya. 
Barang dan jasa yang telah diperkenalkan dengan promosi tersebut perlu dipertahankan agar konsumen tetap membutuhkan. Oleh sebab itu, tugas wiraniaga adalah: 
a. Mempertahankan pangsa pasar dan volume penjualan 
b. Mengembangkan pangsa pasar dan volume penjualan. 

Untuk mempertahankan dan mengembangkan pangsa pasar volume 
penjualan tentu saja seorang wirausaha perlu: 
(a) Menghargai dan memperhatikan keinginan dan kebutuhan konsumen. 
(b) Menganalisis kelebihan dan kekurangan kemampuan pemasaran yang kita miliki maupun yang dimiliki pesaing. 
(c) Mencari strategi lain untuk memasuki dan menguasai pangsa pasar. 
Wirausaha dapat memilih alat promosi yang tersedia, tergantung pada kemapuan dana dan jenis produk yang ditawarkan. 

5. Saluran dan Jaringan Distribusi 
Semua perusahaan perlu melakukan distribusi. Saluran distribusi adalah saluran yang digunakan oleh produsen untuk menyalurkan barang tersebut dari produsen ke konsumen atau 
pemakai industri. Lembaga-lembaga yang ikut mengambil bagian dalam penyaluran barang ini adalah: produsen, perantara, konsumen akhir atau pemakai industri. Ada beberapa saluran distribusi yang dapat digunakan untuk menyalurkan barang-barang baik melalui perantara maupun tidak, yaitu: 
(1) Perantara adalah individu atau lembaga bisnis yang beroperasi diantara produsen dan konsumen atau pembeli industri, mereka melakukan beberap fungsi pemasaran, yaitu penjual, pengangkutan, penyimpanan, dan membantu kegiatan penyaluran. 
(2) Pedagang besar yaitu yang menjual barang kepada pengecer, pedagang besar lain, atau pemakai industri. 
(3) Pengecer yang menjual barang kepada konsumen/ pembeli akhir. 
(4) Agen yang memiliki fungsi hampir sama dengan pedagang besar 
meskipun tidak berhak memiliki barang atau jasa yang dipasarkannya. 

Perhatikan Jaringan dan Saluran Distribusi berikut ini: 
(1) Saluran Distribusi Untuk Barang Konsumsi 

PRODUSEN ---------------------------------------------- KONSUMEN 

PRODUSEN ------------------------- PENGECER ----- KONSUMEN 

PRODUSEN ------ PEDAG BESAR - PENGECER-- KONSUMEN 

PRODUSEN----- AGEN- PED.BESAR- PENGECER->KONSUMEN 

PRODUSEN---- AGEN----------------.>PENGECER--- KONSUMEN 


(2) Saluran Distribusi Untuk Barang Industri 
PRODUSEN------------------------------------------------ PEMAKAI 
(INDUSTRI) 
PRODUSEN ----------> DISTRIBUTOR------------------> PEMAKAI 
(INDUSTRI) 
PRODUSEN ------ AGEN ------- DISTRIBUTOR-------- PEMAKAI 
(INDUSTRI) 
PRODUSEN ----- AGEN ---------------------------------- PEMAKAI 
(INDUSTRI) 


DAFTAR PUSTAKA 

Basu Swasta (1995) Pengantar Bisnis Modern, Yogyakarta: Liberty. 
David E.Rye. 1995. Tolls for Executives: The Vest Pocket Entrepreneur. Terjemahan. Prentice Hall, Inc. Englewood Cliffs, New Jersey. 
Kotler Philip (2000) Manajemen Pemasaran : Analisis, Perencanaan, Implementasi dan Pengendalian. 
Terjemahan. Jakarata: Erlangga 
Lambing Peggy (2000) Entrepreneurship. Upper Sadle River, Prentice Hall 
Mas’ud Machfoedz (2004) Kewirausahaan :Suatu Pendekatan Kontemporee. Yogyakarta: UPP AMP YKN. 
Meredith, Geoffresy G 1996. Kewirausahaan, Jakarta, Pustaka Binaman Pressindo. 
Meredith, Geoffresy et.al. 1996. Kewirausahaan Teori dan Praktek. Pustaka Binaman Pressindo. Jakarta. 
Musselman Vernon A (1994) Pengantar Ekonomi Perusahaan. Erlaangga: Jakarta. 
Geoffrey G. Meredith, et.al. 1996. Kewirausahaan Teori dan Praktek. Pustaka Binaman Pressindo. Jakarta.  
Suryana, 2003. Kewirausahaan, Pedoman Praktis, Kiat, dan Proses Menuju Sukses. Salemba Empat, Jakarta. 
Zimmerer W. Thomas Et al (1996) Entrepreneurship and The New Venture Formation, New Jersey: prentice Hall Inc.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar